
"Gini aja deh, Bang. Kau datang ke rumah. Kita obrolin berempat, berlima sama kau." Zuhdi mengerutkan keningnya, ia tidak tahu siapa saja berlima yang Ghifar maksud.
"Maksudnya kek mana? Aku disuruh apa, Far?" tanya Zuhdi kemudian.
"Gini...." namun, ucapan Ghifar tersela cepat.
"Aku udah ngumpul tiga puluh sembilan mayam. Uang udah sampek tiga puluh juta, empat puluh lima jutaaan sama uang punya Giska. Kain-kain udah setengahnya. Isi kamar udah jadi, dibantu dana dari orang tua. Uang juga dikasih beberapa juta dari orang tua." tandas Zuhdi, ia menyangka Ghifar akan menanyakan perihal kesungguhannya.
"Masih jauh betul uangnya. Itu kira-kira berapa, uang dari campur tangan orang tua?" Ghifar malah melupakan perkataannya, yang ingin ia ungkapkan.
"Sepuluh jutaan keknya, sama buat nambahin isi kamar. Ipar aku, sampek nyumbang TV 42 inc sama alat buat gantungin TV." Zuhdi dan keluarganya bersungguh-sungguh untuk memuliakan anak juragan tersebut.
Ghifar terdiam sejenak, ia teringat akan ladangnya yang lama tak pernah ia tengok.
"Ini sih baru ngomong aja. Gimana kalau nanti aku tambahin, biar bisa nyampek ke angka yang dimau. Biar papah seneng anaknya dimuliakan betul-betul. Tapi syaratnya, kau nikahin Giska secepatnya." ungkap Ghifar menimbulkan hal mencurigakan bagi Zuhdi.
Zuhdi menaikkan sebelah alisnya, "Giska udah hamil kah?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Namun, Ghifar malah sibuk dengan ponselnya yang berbunyi.
"Heh?" Ghifar sempat tersentak mendengar penuturan Zuhdi.
Namun, ia kembali fokus pada ponselnya.
"Bentar-bentar." ujarnya untuk mendahului mengangkat panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
"Ya, Pah." Zuhdi memahami, bahwa si penelepon adalah panutan Ghifar. Sampai laki-laki tersebut, menjeda pembahasan mereka terlebih dahulu.
"Mulai kapan, Pah? Aku ngapain?" Ghifar seperti tidak percaya, mendengar ungkapan Adi di seberang telepon.
"Ya, Pah. Nanti aku ke cek Samsol sama ke Ikram." Zuhdi memalingkan wajahnya, ia baru saja membahas Ikram dengan Ahya. Namun, nama Ikram kini didengarnya kembali.
Ghifar menyudahi panggilan teleponnya, kemudian ia memasukkan kembali ponselnya dalam saku. Terlihat sekilas dari pandangan Zuhdi, tentang lensa kamera Ghifar yang tidak sama dengan milik Giska.
"Kau pakek android?" Zuhdi merasa aneh dengan hal itu.
Zuhdi sudah hafal dengan ponsel-ponsel milik keluarga Giska, semuanya berlogo buah apel. Dengan ciri khas tiga lensa kamera dan satu flash.
"Ya... Aku tak mampu beli iP*one. Yang iP*one dari ma dulu, sempat kejual, karena aku di Bali pernah bener-bener krisis. Sampek nekat utang di warung, buat ngisi perut." Ghifar tertawa sumbang, saat mengingat masa itu.
"Aku kira, anak juragan dienakin semua." Ghifar menoleh ke arah Zuhdi, ia seperti keberatan dengan pertanyaan itu.
"Nah... Sekiranya Abang kelak nanti nikahin adik aku. Bisa tak rubah dia jadi lebih baik lagi? Berhenti chip, berhenti bisnis haram yang lain." lanjut Ghifar kemudian.
Zuhdi membuang nafasnya, hawa dingin ia rasakan kembali. Ia mengambil kain sarungnya yang tergeletak, kemudian menutupi tubuhnya dengan kain itu.
"Giska udah hamil kah? Sampek aku yang ditarik, karena aku mantan tunangannya?" ujar Zuhdi perlahan.
"Ya kau ngerasa hamilin tak, Bang?" Ghifar malah membalikkan pertanyaan pada Zuhdi, membuat Zuhdi merasa bahwa ada apa-apa dengan Giska.
"Heh! Kek mana caranya dia hamil? Hal paling parah yang pernah aku lakuin ke Giska itu, cuma ngecup bibirnya aja. Sesensitif itu kah rahimnya, sampek bisa hamil gara-gara adu bibir aja?" Ghifar malah terkekeh geli, mendengar pengakuan Zuhdi tersebut.
__ADS_1
"Ya berarti dia tak hamil. Gitu aja kau permasalahkan, Bang." tutur Ghifar santai.
"Serius loh aku." tegas Zuhdi, ia masih tidak percaya mendengar ungkapan Ghifar barusan.
"Ya makanya Abang mesti ke rumah, buat mastiin itu sendiri. Kapan sembuhnya? Udah diangetin Ahya juga, belum sembuh juga nampaknya." sindir Ghifar kembali, ia masih merasa janggal pada kehadiran Ahya di rumah Zuhdi.
Zuhdi meraup wajahnya sendiri, ia merasa dipojokkan oleh seorang Ghifar.
"Ahya ke sini, buat ngobrol sama aku. Entah kek mana ceritanya, lepas aku batal tunangan, Ahya mulai hubungi aku lagi. Tapi aku udah tau tuh, kalau memang Ahya ada hubungan sama anaknya adiknya papah itu." Zuhdi menjeda ucapannya, ia mengambil nafas lebih untuk menceritakan perihal Ahya.
"Dari aku gagal tunangan, aku langsung merantau. Tapi Ahya sering chat tuh, nanya-nanya gimana keadaan aku di rantau orang. Aku udah ingetin juga, kasian sama Ikram, kau jangan isengan begini sama laki-laki. Tapi dia berlagak, seolah-olah aku sama dia memang tak ada apa-apa. Yang namanya mantanan, Far. Pasti ada aja ser-sernya, tapi dia pura-pura mati rasa soal itu." Zuhdi menjeda kembali tutur katanya. Ghifar sesekali mengangguk, mengiyakan apa yang Zuhdi mintai pendapat.
"Intinya... Ahya lagi coba ambil posisinya di hati aku lagi. Coba nyisihin Ikram di tempat yang nyaman buat Ikram. Makanya dia kek bebasin Ikram betul-betul. Kau coba aja perhatiin Ikram, udah tak pernah dia bonceng-bonceng Ahya." Zuhdi mengakhiri ceritanya.
Ghifar baru mengerti sekarang, Ahya masih berambisi mendapatkan Zuhdi. Pantas saja Ahya tak pernah menemuinya, sejak dirinya berada di sini. Hanya sekali Ghifar menemui Ahya, itu pun ia langsung kembali ke rumah tanpa obrolan.
"Terus kau kek mana, Bang? Kau disandingkan bentuk Ahya, kau tak doyan kah?" pertanyaan Ghifar seakan menyekik leher Zuhdi.
Ia terdiam sejenak, "Aku bukan tak doyan. Sifat laki-laki itu rakus, Far. Masalahnya... Aku butuh waktu buat sembuh. Aku tak bisa langsung pindah ke Ahya, sedangkan aku masih peduli sama Giska. Waktu aku pindah hati ke Giska, aku bahkan tak pernah nyapa Ahya lagi. Bukan karena aku sombong, atau aku masih sakit hati sama keluarga Ahya. Tapi aku orangnya begitu, Far. Kalau aku bener-bener udah bisa move on. Sama orang yang bersangkutannya pun, aku memang bisa dibilang kelewat cuek." ungkap Zuhdi kemudian.
"Yaaa... Memang body Ahya tak kalah bagusnya kek Giska. Giska menang part belakang, Ahya menang gunung kembar. Cuma kan... Tak pakek hati, rasanya hambar Far." lanjutnya menjurus ke hal yang disukai laki-laki.
"Memang, Bang. Hambar rasanya." Ghifar sependapat dengan Zuhdi.
Lamunannya kembali pada seseorang yang bergelar kakak iparnya. Terlintas di pikirannya, apa Canda tidak bahagia menjadi istri seorang sulung di keluarga itu? Dari pancaran mata yang bisa Ghifar artikan, Canda seperti masih memperhatikannya diam-diam.
__ADS_1
......................