
"Jangan ngomong kek gitu lagi, aku sedih." ucap Giska, dengan mengeratkan pelukannya pada lengan ayahnya.
Canda yang memperhatikan interaksi Giska dan Adi sedari tadi, merasa iri karena dirinya tak pernah seperti itu dengan ayahnya. Pasti bahagia sekali memiliki keluarga yang utuh, benak Canda terus mengatakan hal demikian.
"ADA TAMU, BI. BNN." teriak Kinasya, yang rupanya masih berada di depan rumah Haris.
"Mau jemput keknya." sahut Haris dengan beranjak dari duduknya.
"Cepet makannya selesaiin." pinta Adi dengan menoleh ke arah Givan, yang duduk berdampingan dengan Canda.
Givan mengangguk, kemudian segera menyelesaikan sesi sarapannya.
"Enak tumis brokolinya. Sering-sering masakin nanti ya?" puji Givan lirih, dengan senyum rupawannya yang mengarah pada istrinya.
Canda hanya mengangguk, ia sedikit tersipu mendengar pujian kecil dari suaminya. Waktu terasa berputar kembali, saat kenangannya bersama Ghifar kian menghantam pikirannya.
"Gimana, Mas? Enak gak?" tanya Canda kesekian kalinya, setiap mengantarkan hasil masakannya pada Ghifar.
Ghifar terdiam sejenak, mencoba menyelami rasa yang terjejak di lidahnya.
"Terlalu banyak pakek mecin. Aku toleransi sama mecin, karena dari kecil udah biasa makan masakan pakek mecin. Tapi ini kau, terlalu kuat betul pakek mecinnya. Memang mecin aman, selagi tak dikonsumsi dengan bungkusnya. Macam garam aja, garam terlalu berlebih bikin tak enak dimakan juga pasti timbul akibat di tubuh kita." jawab Ghifar panjang lebar, membuat Canda menghela nafasnya. Karena masakannya, belum memuaskan selera Ghifar.
"Jadi gimana?" tanya Canda dengan raut sedihnya.
Ghifar mengambil alih wadah kedap udara, yang masih berada di tangan Canda tersebut. Karena sebelumnya Canda yang menyuapkan hasil masakannya, ke mulut Ghifar.
"Tetap aku makan, biar hemat." jawab Ghifar dengan senyum yang memikat tersebut.
Canda amat bahagia, lalu ia memeluk lengan Ghifar dengan senyum riangnya.
"Gih balik. Aku mau makan, ngerokok, sholat, terus lanjut kerja." ujar Ghifar, dengan menikmati hasil masakan wanita yang tergila-gila padanya tersebut.
Ghifar melupakan nasehat ayahnya. Tentang laki-laki akan luluh, jika lidah dan perutnya dibiasakan dengan masakan seseorang.
"Kenapa kau? Sakit gigi kah?" tanya ibu mertuanya, saat Canda mengusap air matanya yang merembes tersebut.
"Gak, Mah." jawabnya dengan menundukkan kepalanya karena malu.
"Ayo anter dulu." ajak Givan, dengan dirinya menggenggam tangan Canda.
__ADS_1
Canda mendongak, lalu segera bangkit mengikuti tarikan tangan suaminya.
"Ayo, Mah." ujar Canda dengan menoleh ke arah ibu mertuanya.
Adinda masih melanjutkan makanannya, "Udah kau aja. Mamah bukan ibunya lagi." celetuk Adinda dengan nada menurun.
Semua orang yang mendengarnya, langsung terarah ke arah wanita 43 tahun tersebut.
Givan mengurungkan niatnya, untuk menemui pihak yang menjemputnya tersebut. Ia melepaskan genggaman tangannya pada Canda, lalu berbalik ke arah ibunya.
Givan duduk di sebelah ibunya, dengan Adinda yang masih cuek saja dengan kehadiran Givan.
"Maafin aku, Mah. Mamah tetep ibu aku dong. Aku tetep jadi anak Mamah dong. Jangan ngomong macam itu, omongan Mamah tuh langsung diijabah loh." ungkap Givan, kemudian ia memeluk erat ibunya.
"Awas!!! Risih betul!" ketus Adinda, dengan melepaskan pelukan anaknya.
Givan segera melepaskan pelukan untuk ibunya. Helaan nafas panjangnya terdengar begitu berat, "Ya udah, aku nitip Canda ya Mah. Tolong anggap dia macam anak sendiri. Jaminin dulu kebutuhan hidupnya, nanti aku ganti Mah." ucap Givan kemudian.
"He'em, udah sana berangkat!" sahut Adinda dengan melirik sekilas anaknya dengan malas.
Givan mengangguk, lalu mencium pipi kiri ibunya. Kemudian ia mengarahkan pandangannya pada Canda, yang masih berdiri dan memperhatikan dirinya.
"Ya, Bi." sahut Givan.
Lalu Givan berpamitan pada anggota keluarganya, tak luput juga dengan istrinya.
"Jaga diri ya? Yang nurut sama mamah sama papah." ucap Givan, dengan mengusap kepala istrinya yang terbungkus hijab instan masa kini.
Canda mengangguk, lalu tangannya terulur untuk mencium tangan suaminya. Setelahnya Givan membingkai wajah arabian istrinya, lalu mendaratkan kecupan kecil di seluruh wajah istrinya untuk pertama kalinya tanpa dosa.
"Assalamu'alaikum…" ujar Givan dengan melangkah pergi, untuk memenuhi kewajibannya sebagai warga negara yang baik.
"Wa'alaikum salam." sahut Canda lirih, dengan menatap kepergian Givan.
~
~
Satu minggu kemudian
__ADS_1
Mereka kini disibukkan dengan aktivitas seperti biasa. Setelah cukup mengistirahatkan tubuhnya, Adinda kembali berkutat dengan beberapa bahan makanan.
Canda berjalan menghampiri ibu mertuanya, yang tengah membuat bumbu masakan.
"Canda bantu apa, Mah?" tanya Canda kemudian.
Adinda menoleh sekilas, lalu fokus kembali pada pekerjaannya.
"Mandi aja sana, yang lama. 2 jam bila perlu. Coba rubah tampilan kau, semampu kau. Kalau masih tak ada rubahnya, nanti besok ikut Mamah." celetuk Adinda, yang membuat Canda merasa dirinya tengah direndahkan.
"Tak usah tersinggung! Kau istri orang, istri Givan. Kau harus bisa memperindah tampilan kau buat Givan, buat kepuasan hati kau juga. Sekalipun Givan nerima kau apa adanya, tapi takutnya dia bosan sama penampilan kau yang gitu-gitu aja. Maksud Mamah ini baik loh, tak usah murung gitu." lanjut Adinda, dengan memperhatikan Canda yang masih tertunduk saja.
Canda mencoba memahami, akan maksud baik dari mertuanya. Meski cara penyampaian Adinda kurang tepat menurut Canda.
"Ya, Mah. Aku harus apa? Aku mulai dari mana dulu?" sahut Canda setelah dirinya terdiam beberapa saat.
Adinda mencuci tangannya, lalu menghadap Canda dengan memperhatikan penampilan Canda.
"Mamah juga sering pakek rok, tapi… apa ya? Kek ada yang beda gitu? Model kek gini juga Mamah punya." ucap Adinda, dengan mengibaskan rok panjang yang Canda kenakan.
"Bentuk part belakangnya, Dek." timpal Adi yang berjalan ke arah lemari pendingin.
Adinda melirik sekilas ke arah suaminya, yang mengambil air dingin dalam lemari pendingin tersebut.
Kemudian Adinda manggut-manggut dan kembali fokus pada Canda, "Nabung fat, makanan Mamah yang atur. Biar kek Giska tuh, kurus juga part belakangnya ngisi. Tak tepos, meski dadanya kecil juga." ujar Adinda, yang membuat Canda merasa malu.
"Minta 50 ribu, Dek. Buat pegangan, Abang mau ke ladang." tutur Adi, yang berjalan menghampiri istri dan menantunya.
"Ke ladang, macam ada warung aja. Mesti aja sangu. Lagian… udah sore juga, udah setengah tiga. Mau ngapain ke ladang?" tukas Adinda terdengar tidak suka, dengan suaminya yang hendak pergi bekerja itu.
"Ngecek, Dinda!!! Mau ngobrol sama yang kerja, biar tau perkembangannya." jelas Adi, yang merasa istrinya tak mengizinkannya untuk pergi tersebut.
"Udah sore, besok lagi. Tadi dari pagi tidur aja, main PS aja. Giliran sore, malah mau kerja. Nanti sampek malam, lupa waktu. Awas aja, kalau jam sembilan tak balik. Abang tak dapat masuk rumah." ujar Adinda, dengan mencari dompet sakunya. Yang ia taruh, di sebelah kompor tanamnya tadi.
Adi mengisyaratkan dagunya pada Canda. Lalu telapak tangannya membentuk seperti mulut, yang tengah berbicara.
"Tuh… Mak mertua kau. Ka lage….
......................
__ADS_1
*Ka lage : Udah seperti