Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS54. Pilihan untuk Haikal


__ADS_3

Haikal dan Rashi beradu pandang. Sejujurnya Haikal ingin meminta bantuan dari seseorang yang ia panggil papah tersebut, untuk masalah biaya pernikahan. Tetapi, mulutnya seolah tak bisa mengucapkan hal itu.


"Menurut Papah kek mana baiknya?" ucap Haikal, yang membuat Adi mengerutkan keningnya.


"Dari awal, Papah udah bilang biar kau kerja sama Papah aja. Tak usah ikut ayah, kasian bunda di gampong sendirian. Papah tau maksud kau. Dengan gaji 3,4 juta, dengan gaya hidup Rashi. Itu pasti tak bisa mencukupi, meskipun Rashinya ridho. Jadi kek mana? Tetap mau lanjut nikah muda?" ungkap Adi, yang ternyata mengerti maksud anak muda tersebut.


"Kata mommy Seila… yang penting nikah aja dulu. Takutnya… malah nanti kita berzina, Pah. Mommy takut, Rashi hamil duluan sebelum nikah. Padahal, sampek saat ini aku belum pernah nyentuh dia. Tapi mommy udah punya khawatir tentang itu. Apa lagi, mommy ngerasa bersalah sama bunda. Takut malah Rashi yang dapat karma, atas kelakuan mommy di belakang bunda dulu. Terang-terangan mommy bilang kek gitu, pas tau aku sama Rashi jalin hubungan." jelas Haikal perlahan, dengan mengamati perubahan wajah pada Adi dan Adinda.


"Memang mommy sama bunda ada masalah apa dulu? Sekarang akur-akur aja kok, setau aku." timpal Ghifar, yang berdiri di ambang pintu sembari menyimak obrolan mereka semua.


Semua orang menoleh ke arah Ghifar. Kemudian Ghifar berjalan menuju ke jejeran sofa, lalu duduk di antara mereka.


"Bunda kan dulu tunangannya Papah, tapi Papah jalin hubungan tanpa status sama mommy." jelas Rashi, yang membuat Ghifar melongo. Ia baru mengetahui fakta ini, yang tentu sangat membuatnya terkejut.


Kenapa bisa mereka sekarang terlihat akur? Juga sangat akrab, jika tengah temu kangen? Pertanyaan yang berputar di kepala Ghifar.


"Itu kan dulu sebelum kenal Mak kau ini." timpal Adi santai, dengan menyandarkan punggungnya pada sofa.


"Sebelum atau sesudah kenal Mak, kan nyatanya jorok juga mainnya." sahut Ghifar dengan lirikan tajam.


'Pengen sih punya anak-anak good boy, good girl. Tapi masa lalunya ngeri betul.' gumam Ghifar yang tak mampu ia ucapkan di mulutnya.


"Baru tau ya?" ucap Adinda dengan suara mengejek pada Ghifar, yang masih terlihat terkejut tersebut.


"Pantesan kemarin aku dimainin cewek." sahut Ghifar dengan menyugar rambutnya ke belakang.


Adinda terkekeh kecil, melihat wajah syok anaknya tersebut.

__ADS_1


"Ya udah, kau balik aja ke gampong. Cek Samsol kan sekarang ngelola ladang punya Ghifar, nah kau bantuin dia aja. Maksudnya… macam jadi asistennya gitu. Soalnya, cek Samsol juga kan ngelola ladang punya Givan juga. Takut keteteran gitu." ungkap Adi, mengembalikan pembahasan mereka.


"Memang siapa yang jaga ladang yang lain, Pah? Maksudnya kalau aku bisa ngelola milik salah satunya kan, jadi aku tak perlu jadi asisten." terang Haikal, yang membuat Adi berpikir ulang.


"Cek Nawi, ngelola ladang Giska. Cek Nasrol, ngelola ladang Icut. Yang baru nih, anak pertamanya nya tante Zuhra. Si Ikram, ngelola punya Ghava. Soalnya Ghava pindah ke sini sih, pendidikannya juga." jelas Adi kemudian.


"Ladang punya Papah sama Mamah siapa yang ngelola? Memang Ghavi ngelola sendiri, Pah? Kan dia kuliah kan? Sambil ngelola kedai kopi itu?" tanya Haikal, dengan mengingat siapa pengelola ladang masing-masing juragan tersebut.


"Papah pegang sendiri, sama om Jefri. Ghavi sama Ghava kalau sabtu minggu, berladang juga." jawab Adi yang diangguki oleh Haikal.


"Jadi aku tak punya pilihan lain ya, Pah?" ucap Haikal jelas, Adi pun langsung mengerti maksud Haikal.


"Kau bantu cek Samsol dulu, kalau kau udah bisa pegang sendiri. Kau lepas megang punya Ghifar, biar cek Samsol balik ngelola ladang Givan aja." jelas Adi yang membuat senyum Haikal mengembang.


"Jadi kau resign nanti di pabrik aja, Kal. Nikah, terus boyong Rashi ke gampong." ucap Adinda, yang membuat Rashi kembali menoleh ke laki-lakinya.


"Ada modal nikahnya?" tanya Ghifar yang membuat Adi terkekeh geli. Ghifar seolah tengah menawari hutang pada Haikal, padahal dirinya sendiri tengah tak memiliki uang.


"Kok kek gitu? Keseriusan kau diukur dari besar mas kawinnya. Mending nanti lagi nikahnya, nunggu kau betul-betul siap dulu." ujar Adi yang menarik perhatian mereka.


"Kenapa sih, Pah? Mesti kek gitu? Kenapa mesti segala sesuatunya terukur dari besar mas kawin? Kenapa mesti kita mapan dulu juga? Dalam Islam kan, tak dituntut mapan untuk menikah." tutur Ghifar, yang membuat Adi mengerutkan keningnya. Kenapa anaknya tersebut seolah tengah kebelet menikah?


"Karena ekonomi kau nanti, ngaruh ke anak orang yang kau persunting. Misal, anak orang yang kau nikahin dia orang berkecukupan. Terus tiba-tiba harus ikut sama kau, yang ekonominya serba kurang. Ya dia bakal kabur, Far. Dia bakal nangis, ngebatin, kurus kering gara-gara kau nikahin. Memang mapan bukan patokan untuk boleh menikah. Tapi kau pikirkan ke arah situnya. Karena kau pun pasti capek, berada di posisi serba kekurangan. Belum lagi misal udah ada anak. Penghasilan segitu-gitu aja, tapi pengeluaran nambah. Yang ngerti, Far. Yang ada pikiran buat kedepannya. Karena nikah itu, pasti punya anak. Kebutuhan pasti nambah, tanggung jawab pasti nambah juga." tukas Adi dengan perhatian penuh pada anaknya.


"Tuh dengerin!" timpal Givan, yang berjalan melewati mereka semua.


Semua orang menoleh ke arah Givan, yang tengah cengengesan tersebut.

__ADS_1


"Jadi aku mesti kek mana, Pah?" tanya Haikal kembali, pada seseorang yang sangat berpengaruh dalam masa pertumbuhannya tersebut.


"Mesti musyawarah dulu sama bunda, sama mommy, sama Rashi juga. Pikirin resiko ke depannya, karena nikah tanggung jawabnya besar." jawab Adi mantap.


"Ya udah, Pah. Aku pamit pulang dulu, nanti aku kabarin lagi. Papah di sini sampek kapan?" sahut Haikal, dengan merogoh kunci motornya.


"Mungkin seminggu di sini. Ya udah ati-ati, Kal. Pastiin Rashi sampek rumah." balas Adi, dengan bangkit dari duduknya. Saat Haikal dan Rashi bangkit, untuk mencium tangannya.


"Ya, Pah. Assalamu'alaikum." ujar Haikal dengan berlalu pergi.


"Wa'alaikum salam." sahut Adi dan Adinda, dengan mengantar mereka sampai ke depan pintu rumah.


Adinda dan Adi mengerutkan keningnya, saat melihat ternyata Kenandra dan dua gadis sudah berada di teras rumah dengan Givan dan kembar. Rumah yang kebanyakan berisi anak muda tersebut, terlihat begitu ramai dengan kepungan asap rokok.


"Kin… ikut Mamah." ajak Adinda, yang melihat Kinasya tengah menikmati asap yang berasal dari kotak kecil tersebut.


"Ya, Mah." sahut Kinasya, dengan menghampiri ibunya.


"Gadis kau suruh masuk, Ken. Suruh bersih-bersih istirahat." pinta Adi, saat melihat Riska terlihat menguap beberapa kali.


"Dek, masuk sana!" ucap Kenandra, dengan mengusap kepala wanitanya.


Riska mengangguk, kemudian berjalan memasuki rumah.


"Ken… adik kau calon dokter, kau biarkan ngisep asap dari vape. Mending tembakau aja, dari pada kek gitu." ujar Adi dengan berjalan menuju anak muda tersebut.


"Udah dari SMA dia sih, Pah. Udah pernah ketahuan abi juga. Abi biarkan aja, lepas Kin susah dikasih pahamnya." sahut Kenandra, dengan mengocok kartu yang akan dimainkannya.

__ADS_1


"Memang lebih bahaya vape kah, Pah? Ketimbang sama tembakau?" tanya Givan, dengan duduk bersila di depan Kenandra.


......................


__ADS_2