
"Jangan bercanda lah, Bang." Adinda memukul pelan dada suaminya.
Mereka terkekeh bersama, kala mata mereka bertemu kembali.
"Ya udah, ya udah." Adi mencoba memahami istrinya.
"Malam ya?" lanjutnya dengan berguling kembali ke posisinya.
Adinda mengangguk, kemudian dirinya memeluk suaminya yang sudah ada di sampingnya kembali.
"Eeeh, Adek kok tau Ghifar ada main sama Kin?" tanya Adi tiba-tiba.
"Ghifar cerita sama aku, Bang. Menurut aku... Anak kita tak lagi bohong. Dia juga ngomong kok sama aku, bahwa punyanya cuma bisa berdiri sama Kin." ungkap Adinda dengan mengeratkan pelukannya.
"Tapi... Mustahil rasanya, Dek. Abang aja... Bisa berdiri biarpun tak sama Adek."
Pluk...
Adinda menepuk mulut suaminya. Lalu ia menghadiahkan pelototan tajam untuk suaminya.
Adi terkekeh kecil, lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
"Laki-laki memang kek gitu, normalnya. Tapi kan Abang tak main sama orang lain juga, biarpun orang lain yang bangkitin selera Abang." jelas Adi dengan senyum yang memikat.
"Tau lah! Udah kesel duluan aku."
Pembahasan Ghifar di atas tempat tidur ini. Membuat mereka berdua lebih rileks, dengan bumbu drama kecil.
"Iya, iya. Ngacengnya sama Adek aja." Adi selalu berpikir, kenapa istrinya harus diberi kalimat penenang sederhana yang berbau kebusukan?
__ADS_1
Busuk karena Adi tak sungguh-sungguh mengatakannya, itu hanya bujuk rayu belaka. Agar istrinya tidak melanjutkan dramanya.
"Ya lah, harus. Kan aku istri Abang." pelukan Adinda cukup membuat Adi gerah.
Tapi tak apa untuknya, ia tak akan mengatakan kegerahannya.
"Ok siap." Adi melirik pada istrinya, dengan senyum menawan yang ia pamerkan.
Adinda mendongak menatap wajah suaminya, lalu ia menutup wajahnya dengan tangannya.
"Jangan kek gitu lah, aku malu."
Adi tertawa puas. Ia tidak mengerti dengan senyumannya. Padahal hanya senyum, tapi bisa membuat istrinya tersipu dengan rona merah di wajahnya.
"Kek mana kalau Abang di atas Adek, terus sambil senyum kek gini." Adi membingkai wajah istrinya, agar Adinda bisa melihat senyumannya.
"Jangan kek orang gila lah!"
"Aturan Abang lagi merem melek, nafas ngos-ngosan, mulut sedikit terbuka, erangannya keluar. Masa malah nyengir? Kan malah nakutin."
Adi makin terbahak-bahak saja. Ia tidak mengerti, hanya dengan obrolan yang biasa saja. Namun, bisa membuatnya tertawa serenyah ini. Dirinya selalu seperti itu, sejak mereka baru mengenal. Hal kecil bersama istrinya, mampu membuat sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Kek Ghifar kemarin nikahannya si Giska. Mata merem, mulut sedikit terbuka sambil ngerang halus, nafas ngos-ngosan, tangannya ngusap-ngusap kepala Kin."
Adinda tak menampik rasa penasarannya. Ia lalu bangkit, kemudian duduk bersila di atas kasur tersebut. Sambil memperhatikan wajah suaminya, yang terlihat seperti mengingat sesuatu.
"Kek kita dulu, pas nikahan Edi. Cuma... Lebih parah Ghifar, karena celana dia nih udah kebuka resletingnya. Udah keluar itu warisan dari Abang, tangan Kin aktif ngurut itu barang. Mulutnya lagi nyesepin dadanya Ghifar." tambah Adi kemudian.
"Betul-betul Abang kek lagi nonton Abang sama Adek dulu. Mana kan, di samping mereka ini ada Key yang lagi tidur. Persis kek Givan dulu. Kan dia lagi tidur di samping kita, pas kita mesum di kamar waktu Edi nikahan itu." Adi masih teringat akan posisi anaknya kemarin hari.
__ADS_1
"Terus, mereka udah kek gitu. Abang masih tetep pengen halangin mereka? Aku nih, Bang. Aku yang awalnya tak pengen anak kandung sama anak angkat aku punya hubungan khusus, malah aku sekarang coba cari jalan terbaik buat mereka. Karena ini masalah psikis anak kita. Feeling aku, Ghifar sembuh nih karena Kin. Sampek Ghifar berani bilang ke aku, bahwa dia cuma bisa berdiri karena Kin. Berartikan... Ada sentuhan khusus, atau ucapan khusus yang Kin tanamkan ke Ghifar. Ilmunya, Bang. DE itu, perlu stimulasi dari wanita buat nyembuhinnya. Bukan aku asal ngomong aja, sedikit banyaknya aku paham tentang suatu penyakit gitu-gitu. Hobi aku baca, informasi tentang gitu-gitu, tak luput dari bacaan aku." jelas Adinda begitu serius.
"Kalau mereka sampek dipisahkan. Bukan tak mungkin, psikis anak kita yang terganggu terus kambuh lagi DE-nya. Aku nih sering ngobrol sama Kin, sering nebak-nebak kejadian yang bikin Ghifar DE. Menurut aku sih, karena pemer*osaan Canda. Nah menurut Kin, psikis Ghifar terganggu karena luka batin yang Canda kasih. Tak mudah buat Ghifar, nerima Canda yang diper*osa abangnya sendiri. Dia udah nerima itu, malah Candanya milih Givan. Untung anak kita tak gila itu, Bang."
Sering kali Adi tak berpikir sejauh itu.
Pantas saja Adinda menerima kebenaran Kinasya yang memiliki hubungan dengan Ghifar. Karena resiko Ghifar begitu banyak, jika harus ditinggalkan Kinasya.
"Kalau Kin, dia diminta ninggalin Ghifar. Dia tak bakal gila, Bang. Dia masih tetap montok, dia masih tetap cantik. Masalah putus cinta, untuk gadis kota ini udah biasa. Itu udah jadi latihan batin buat mereka. Kalau gadis kampung macam Giska. Sekalinya kenal laki-laki langsung minta nikah. Kasarnya... Giska waktu diputusin Zuhdi ini. Kek ayam baru lepas dari kandang. Sekalinya dia ngerasa ada celah di kandangnya, dia lepas sampek jadi pengedar. Kin mana ada begitu-begitu." asumsi Adinda bukan tidak berdasar. Karena Adinda sering bertukar kabar dengan Haris, maupun Kinasya sendiri.
"Yang kasian sama anak kita. Kalau mau jelasnya, kita ajak ngobrol Kin sama Ghifar juga."
Adi bangun dari posisinya, lalu ia bersandar pada kepala ranjang.
Ia seperti melamun, pandangannya kosong ke depan.
"Bang..." Adinda mengguncangkan lengan suaminya.
"Ya udah, Abang mau kita ngobrol sama Kin dan Ghifarnya. Abang belum bisa mutusin sekarang. Banyak alasan yang ada di pikiran Abang. Salah satunya tentang Ghifar yang bohong, atau Kin yang memang ngincar bagian Ghifar. Kin ini tau, Dek. Kalau Ghifar ini CEO muda penuh ga*rah." Adi baru mengeluarkan suaranya setelah beberapa saat kemudian.
"Keknya, Kin bukan perempuan matre Bang." itu adalah pengamatan Adinda, selaku ibu angkat Kinasya.
"Matre atau taknya tergantung keadaan. Gaji dia di sini, tak sebesar gajinya di rumah sakit dulu. Kau tengok aja, dia tanpa malu sering mintain uang ke Ghifar." diam-diam, rupanya Adi memperhatikan interaksi Kinasya pada Ghifar.
"Dia minta uang ke Ghifar, karena dia nganggap Ghifar adiknya sendiri. Tak cuma Ghifar, ke aku, ke Abang, dia ini sering minta ini itu. Itu wajar, karena dia nganggap kita orang terdekatnya, nganggap kita orang tuanya. Abang tengok aja kalau dia gajian, dia tak tanggung-tanggung tuh beli bahan makanan. Makan besar, meski olahan dari seafood kesukaannya terus tiap dia gajian. Abang cuma tengoknya, pas Kin tak ada uang aja. Tak pernah nampak di mata rupanya, kalau Kin hidangin berbagai macam makanan di rumah. Tak jarang itu pakek uangnya sendiri, Bang." jelas Adinda kemudian.
Adi terdiam kembali, intinya dirinya memang belum meyakini tentang Kinasya. Karena, Kinasya belum pernah ia ajak berbicara tentang keseriusannya seperti Zuhdi dulu.
......................
__ADS_1
Adi butuh ngobrol dengan orang bersangkutan 🤔