
Tok, tok, tok….
"Far… katanya mau balik? Jadi tak?" tanya Kenandra di balik pintu kamar hotel Ghifar.
"Abang mau ongkosin aku kah?" sahut Ghifar dengan seruan.
"Tak lah… buka dulu coba pintunya!" balas Kenandra, dengan beberapa saat kemudian pintu kamar hotel Ghifar terbuka dari dalam.
"Ya udah cepet siap-siap!" pinta Kenandra, dengan memperhatikan sekeliling kamar Ghifar.
"Kek mana sih, Bang?" tanya Ghifar dengan wajah bingungnya.
"Yaa… dari pada liburan, tapi kau ngurung diri terus. Dini hari minggu, baru sampek di sini. Istirahat, siangin baru keluar kau sama Canda. Terus, kemarin sampek malam itu. Kau balik-balik pakek blazernya Canda, terus langsung masuk kamar. Sampek dua hari kemudian, kau di kamar terus. Diajak kau tak mau, makan kalau dianterin." ungkap Kenandra, mencurahkan yang mengganjal di hatinya.
"Terus kenapa? Tanggung tuh, Bang. Besok malam habis masa liburan. Kan empat hari, kalau sekarang baru tiga hari." sahut Ghifar, dengan merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur.
"Ya kau kenapa ngurung terus?" tanya Kenandra memperjelas, dengan memperhatikan gerak-gerik Ghifar.
Terdengar helaan nafas panjang dari Ghifar, "Tak apa, Bang. Aku tak ada uang, pusing mau keluar jalan-jalan juga. Apa lagi mak udah di kota J, tambah bikin tak sabar pengen ketemu. Udah kangen sama baunya mak, kangen masakan mak." jawab Ghifar, dengan sekilas memandang ke arah Kenandra. Lalu, ia memalingkan pandangannya lagi ke arah lain.
"Ya kau tinggal ajak Canda, Canda tak kurang-kurang masalah uang. Dia pun tak pelit, makanan kita tiap hari dibelikannya terus." balas Kenandra dengan melompat ke atas tempat tidur Ghifar.
Ghifar merasa amat terganggu, dengan tingkah Kenandra. Ia langsung melemparkan bantal pada Kenandra, dengan memberikannya pelototan tajam.
Lalu Kenandra memberikan Ghifar senyum sepuluh centinya, dengan langsung merebahkan tubuhnya asal di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Males kali aku sama dia. Rese, keras kepala juga dikasih pahamnya. Kesel sendiri aku, Bang." ungkap Ghifar, dengan pandangan kosong.
"Abang pun dulu kek gitu ke Riska, males aja bawaannya. Tapi begitu tau rasanya, malah jadi hobi berduaan sama dia." ujar Kenandra, dengan menatap kosong plafon kamar tersebut.
Ghifar tertawa sumbang, "Kau satu dua sama bang Givan." timpal Ghifar kemudian.
Helaan nafas Kenandra terdengar mengusik, "Mungkin kek gitu, cara pacaran jaman sekarang." tutur Kenandra, dengan memainkan ponselnya.
"Tak tau juga, Bang. Tapi aku tak pengen zina, aku mau berkahnya aja." tukas Ghifar, yang mengakhiri pembicaraan mereka.
Hingga beberapa saat mereka terdiam, Kenandra langsung bangkit dengan langsung mengantongi ponselnya.
"Cepet siap-siap! Canda udah ngontek lagi, katanya penerbangan udah siap."
Ghifar menoleh ke arah Kenandra, "Mak bilang, suruh pada mampir dulu ke omah."
"Kek mana ya reaksi mak, tengok Canda nyempil di antara kami?" tanya Ghifar seorang diri, dengan menyunggingkan senyum manisnya.
"Cepet ah siap-siap, aku udah laper pengen makan masakan mak." lanjut Ghifar, dengan memunguti baju kotornya. Yang baru dibelinya, saat berjalan-jalan dengan Canda.
~
Ghifar tengah menikmati penerbangannya, dengan memandang jendela yang menampilkan barisan awan menawan. Terkadang senyumnya terukir, saat terlintas bahagianya dirinya di kelilingi oleh keluarganya.
"Mas…" Ghifar merasa colekan di pinggangnya, dengan suara yang sangat ia kenali.
__ADS_1
"Hmmm." Ghifar hanya memberi gumaman saja pada Canda.
"Kita mampir dulu ya katanya?" tanya Canda kemudian.
Ghifar menoleh ke arah Canda, "Ya, Dek." jawabnya begitu lembut. Membuat senyum bahagia Canda terukir indah, pada wajah arabiannya.
"Kenapa mesti dek? Di Jawa biasanya dik, ndok juga biasanya sering dipakai buat panggilan sayang." nada cerewet Canda membuat Ghifar menghela nafasnya.
"Sekali lagi… aku dari sebrang. Abang-adek udah biasa disebutin di sana, mesti tak kenal sekalipun. Panggilan sayang, panggilan sayang… memang kau siapa?" balas Ghifar dengan tersenyum samar, jangan lupakan suaranya pun masih terdengar menyejukkan telinga Canda. Meski pada akhir kalimat, terdengar seperti tengah mengingatkan posisi dirinya.
"Aku seneng Mas Ghifar ngomongnya lembut begini. Tumben banget, ada angin apa sih?" ujar Canda, berpangku tangan sembari memperhatikan wajah seseorang yang menarik dunianya.
"Memang aslinya kek gini kali. Cuma kau sering bikin kesel, jadi ya ngegas terus aku." tutur Ghifar yang membuat Canda menahan tawanya.
"Masa sih aku bikin kesel? Tapi waktu itu, kita sampai ketawa bareng, seneng-seneng bareng." tukas Canda, yang membuat Ghifar terdiam kembali.
"Fokuslah ke pendidikan kau dulu. Jangan terlalu ngejar laki-laki, kau macam tak punya harga diri. Maaf-maaf, kalau ucapan aku kasar. Cuma tak baik perempuan bersikap kek kau, itu terlalu mengancam marwah kau."
"Aku minta maaf, kemarin hari aku udah ngelecehin kau. Tapi… kalau kau tak kek kemarin hari, mungkin tak bakal kejadian kek gitu." Ghifar menghirup udara lebih banyak, sebelum melanjutkan ucapannya lagi.
"Aku ngerti, tentang perasaan yang kau punya. Tapi masalahnya, aku tak bisa balas perasaan kau. Bukan karena aku udah punya pasangan, tapi masalah ekonomi. Kemarin aku nekat, jalani hubungan sama perempuan. Alhasil, aku kelaparan karena uang jajan dari orang tua malah aku pakek buat jajanin dia. Tabungan, celengan, aku tak punya. Karena selalu aja ngeluarin uang, tiap kali ketemu dia. Terus sekarang… aku pengen fokus ke ekonomi aku dulu. Aku mau ngehasilin uang, juga orang tua aku ngerasain jerih payah dari keringat aku. Makasih, udah sudi ngajak aku jalan-jalan. Makasih, udah percaya sama aku sejauh ini. Bukan aku nolak berteman dengan kau, aku orangnya welcome. Aku berteman sama siapa aja, selagi ada mudhorotnya buat aku. Tapi yang buat aku keberatan, sikap kau sama aku. Aku tak biasa dipeluk, digandeng selalu kek gitu. Aku punya kawan dari kecil, dia juga perempuan. Dia tak pernah bersikap kek kau sama aku, cuma adik perempuan aku, mak aku, yang bebas peluk cium aku. Namanya Ahya, si kawan perempuan aku dari kecil itu. Kita berteman biasa, jalan-jalan dan rutin pasar malem berdua. Aku juga sering anter jemput dia, bahkan aku sering minta uang bensin dari dia. Biar uang jajan aku tetep utuh, buat pegangan kalau pacar aku waktu itu ngajak jalan. Jadi sekarang, aku mau fokus hasilin uang dulu. Kirim-kirimin uang buat orang tua aku, buat adik perempuan aku, buat dua bungsu juga. Buat Ahya juga, karena aku selalu mintain uang dia, tanpa alasan dan tanpa aku bilang pinjam. Aku pengen balas, semua orang-orang terdekat aku, yang kemarin selalu ada buat bantu aku." ungkap Ghifar lirih, dengan mendapatkan perhatian penuh dari Ghifar.
"Jadi… lebih baik kita….
......................
__ADS_1
Ndo' gitu loh ngucapinnya.. soalnya kalau di kota C, ndok ini pengucapannya mirip Endog. yang artinya telur. Sedangkan Ndok sendiri, dalam bahasa Jawa. memiliki arti neng, nok. Intinya sejenis panggilan untuk anak perempuan.