
"Hallo, Dek. Gimana?" tanya Haris, dengan suara uapan lebar.
"Ish.... Bau mulut Abang, tercium sampek ke sini." gurau Adinda, mencoba merilekskan suasana hati sahabatnya. Agar saat mereka membicarakan hal serius, Haris tak terbawa dengan emosinya sendiri.
Kekehan kecil terdengar, kemudian suara air hidung yang tertarik terdengar lewat panggilan telepon tersebut.
"Masih di kota J Abang, Dek. Mau langsung balik ke kota C, lepas dari bandara buat ngecek nama Kin. Tapi udah ngantuk kali, jadi ambil kamar di sekitar bandara." sahut Haris, dengan suara khas bangun tidur.
"Terus jajan juga ya, Bang?" timpal Sukma, suaranya terdengar seperti meledek.
"Ehh.... Mantan kekasihku." suara Haris begitu semangat, saat mengetahui ternyata seseorang yang menjadi pasangannya dulu ada di seberang telepon juga.
Adinda dan Sukma tertawa bersama, ia merasa geli mendengar pernyataan Haris.
"Kin udah cerita, Bang. Tadi aku berangkat ke rumah Sukma, dia udah bikin pulau di bantal." ucap Adinda kemudian.
"Hmm, dulu yang kau panggil kak berubah kau sebut namanya aja. Sepupu tua tuh memang beda sekarang." sindir Haris, saat mendengar Adinda menyebutkan nama Sukma tanpa imbuhan kakak seperti dulu.
"Ya, Lah. Aku diajarin bang Adi, suruh manggil namanya aja. Sukma suruh manggil aku sama bang Adi, kakak sama abang, dia tak mau." jelas Adinda seperti mengadu.
"Iya lah, keenakan betul Adi dipanggil abang. Tambah sombong dia, tambah naik dagunya." timpal Sukma membela dirinya.
Haris terkekeh kecil, "Dinda juga kalau dipanggil kak, pasti lebih suka nyuruh-nyuruh kau Dek. Mentang-mentang tua, dia kira nanti halal memerintah kau." Haris memanas-manasi suasana.
Tawa Adinda begitu renyah, kemudian ia menutup mulutnya.
__ADS_1
"Iya ya, kenapa ya manusia kok begitu?" tanyanya kemudian.
"Tak tau lah, mungkin memang sifat dasar manusia yang suka memerintah tapi ogah gerak sendiri." tandas Haris, kemudian suasana hening kembali.
"Jadi... Kin gimana sekarang, Dek?" lanjut Haris, memecahkan keheningan.
"Kin udah tak apa-apa. Dia syok, dia takut sama sifat asli kau itu Bang. Tapi... Jangankan Kin, aku pun takut kali waktu kau cengkram rahang aku, pas di ruangan kau itu." ucap Adinda, kembali pada topik pembicaraan mereka.
"Ya kau tak ada otak! Adi tak ngasih status sama kau, mau aja dicumbuin Adi. Firasat Abang udah jelek, jangan-jangan kalau kau hamil nanti, kau malah minta tanggung jawab sama Abang, karena Adi kabur ke daerahnya." sahut Haris, yang teringat akan masalah sampai bertindak kasar pada teman wanita, yang ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Tapi kan enak, Bang." balas Adinda tanpa dosa, menciptakan tawa menggema dari Sukma.
"Enak! Enak! Enak dihamili berkali-kali? Melahirkan berkali-kali? Dimadu enak juga? Jadi pelampiasan ***** Adi, setiap kali dia tergiur sama perempuan yang dia liat di luar rumah, enak juga?" tandas Haris beruntun.
Adinda mengernyitkan dahinya, "Iya ya, kok begitu nasib aku nikah sama juragan?" Adinda malah mengeluarkan satu pertanyaan konyol tersebut.
"Soalnya pas waktu pertama godain dia, dia nunjukin tongkolnya tau. Live ngocok dia di atas aku, sambil mulut aktif nyumbuin aku. Tambah-tambah gila aku sama bujang satu itu, liar betul padahal tampangnya cuek." ungkap Adinda, membuat Sukma dan Haris melebarkan kelopak matanya.
Bukan hal aneh sebenarnya untuk mereka, tentang Adinda yang memang sering curhat jujur tentang pengalamannya. Namun, yang membuat hal itu cukup mengagetkan. Adinda menceritakan tentang aibnya sendiri, padahal Tuhannya sudah menutup-nutupi hal tersebut sebaik mungkin.
"Kok bisa dia live ngocok di atas kau? Maksudnya... Tak mungkin dia dadakan turn on, terus ngajakin kau ngocok. Adi itu... Laki-laki yang harga dirinya tinggi, dia jual mahal sama perempuan, meski dulu dia masih cungkring dan nampak tak beruang." ujar Sukma, merasa tindakan Adi saat itu sangat tidak masuk akal. Lebih-lebih, ia menyangka bahwa Adinda tengah mengarang cerita.
"Aku isengin dia. Waktu itu, dia bilang kalau mau peluk atau cium, mesti bayar dulu. Aku ciumin wajah dia habis-habisan, bibirnya juga aku sesapi juga. Dia ingetin aku berkali-kali, tapi aku tak mau dengar. Terus langsung diangkatnya aku, langsung dibawa masuk ke kamar." jelas Adinda tanpa segan.
"Kok kau tak begitu sama Abang, Dek? Padahal kau sering nginep di rumah, kau sering masuk-masuk kamar Abang." tutur Haris, membuat Sukma tertawa geli.
__ADS_1
"Tongkol kau, tak begitu memikat seperti milik Adi." tukas Sukma menciptakan tawa renyah mereka kembali.
"Kenapa kita jadi ngomongin tongkol sih? Kan lagi bahas Kin." ucap Adinda, menginginkan topik obrolan mereka.
Tawa mereka semua mereda, "Keputusan Kin apa, Dek?" sahut Haris kemudian.
"Kin minta tinggal sama aku, dia mau cari kerja di sekitar sini juga katanya Bang." balas Adinda, setelah berpikir kembali tentang keputusan Kinasya waktu di rumah.
"Terus apa lagi, Dek?" ujar Haris dengan suara sesuatu yang mengericik.
"Heh, Abang buang air?" tanya Sukma tiba-tiba.
"He'em, masih hafal aja ya Dek suara kencing Abang?" jawab Haris, membuat Sukma dirundung malu.
Adinda tertawa samar, dengan menggelengkan kepalanya.
"Terus Kin nanya tentang dia anak siapa. Sebetulnya aku bisa aja ngasih tau, tapi kek tak punya hak gitu loh Bang." ujar Adinda setelah candaan selingan antara Haris dan Sukma.
"Aku takut dia malah kabur ke Shalwa. Shalwa sengaja aku suruh pindah, biar Kin tak kenal baik sama dia. Aku yang ngurus dia dari kecil, biayain hidup dia, belajarin dia segala hal. Aku tak ikhlas, kalau pas besar, Kin malah balik ke orang tua kandungnya." tutur Haris, yang ternyata satu pemikiran dengan Adinda.
"Waktu Icut sih, Bang. Dia yang tetep milih buat ikut aku. Entah karena materi aku sama bang Adi menunjang kehidupannya sama anaknya, atau karena memang tulus dari hatinya pengen ikut aku. Yang jelas, aku tak masalah sebetulnya. Kalau Icut balik ke orang tuanya, karena aku paham darah lebih kental dari pada air. Givan yang kita urus dari kecil aja, pernah dia milih buat ikut ayah kandungnya. Aku tak masalah, karena dia udah dewasa, udah punya pilihan sendiri buat hidupnya. Bukan karena anak-anak aku banyak, terus aku ngerasa beban aku ringan kalau mereka ikut orang tua kandung masing-masing. Tapi aku sadar, suami, anak, harta itu cuma titipan buat aku. Masalah ikhlas ridho dan semacamnya, kau yang yakin kalau rejeki tak bakal kemana. Yang penting kan, anak yang kau didik dengan baik itu, masih menganut ajaran dan akhlak baik yang kau tanamkan. Kau percaya atau tak? Di jaman yang udah kacau balau macam ini, anak gadis kau masih perawan. Dia bisa jaga itu, dari kehidupan kota yang udah amat bebas." ungkap Adinda panjang lebar.
Mulut Haris mengaga seperti orang bodoh, Sukma pun melebarkan matanya tak percaya. Sukma sudah mengetahui tentang anak satu-satunya dengan mantan suaminya yang selalu pulang dini hari, bahkan esok sore saat merayakan weekend dengan kekasihnya. Pada pikiran orang tua yang memiliki banyak pengalaman tersebut, rasanya tak mungkin seorang bujang normal seperti Kenandra tak melakukan apa-apa dengan kekasihnya. Namun, malah anak angkat mereka yang mampu menjaga mahkotanya sampai sekarang.
......................
__ADS_1
Masih ada sangkut pautnya sama season 1 nih..