Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS49. Minder


__ADS_3

"Pupil mata kau membesar itu!" ucap Givan, saat mendapati adiknya tengah mencuri pandang ke arah kekasihnya.


Ghifar terkekeh, kemudian langsung mengambil ciuman kecil di pipi ibunya.


"Mak… siapin aku makan." ujar Ghifar mengalihkan perhatian.


"Minta barang bawaan kau aja suruh siapin. Dibilangin susah betul, mana beneran dibawa balik pulak itu perempuan!' sahut Adinda dengan menjauhkan kepala anaknya.


"Apa sih, Mak? Cuma kawan aja. Ayo sih Mak, siapin makan aku. Pengen dimanja-manja aku." balas Ghifar dengan bangkit dari duduknya, kemudian ia menarik tangan ibunya untuk segera bangkit.


Adinda menghela nafasnya, lalu mengikuti tarikan tangan anaknya. Adi memperhatikan istrinya, sampai tak terlihat lagi dari pandangannya.


"Ghifar bawa perempuan? Perempuan yang di Bali itu kah? Masih kecil betul dia." ucap Givan, yang membuat Adi mengerutkan keningnya.


"Kok tau Ghifar dari Bali? Kok tau perempuan Ghifar kecil betul? Kan belum ketemu." sahut Adi heran.


Givan memejamkan matanya sejenak, menyadari kebodohannya sendiri.


"Iya, sempet telponan Pah." balasnya dengan tersenyum lebar. Ia terpaksa berbohong agar orang tuanya tak mengetahui, bahwa sebelumnya ia membawa Ai ke Bali untuk berlibur. Dengan ia memiliki tujuan lain, untuk menengok keadaan Fira.


Adi hanya mengangguk, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ai… Papah cuma minta, tolong biasakan pakek hijab ya nanti. Karena di sana, wajib berhijab." ungkap Adi, dengan mata yang masih memperhatikan arah lain.


Ai melemparkan pandangan ke arah Givan. Givan pun langsung memberikan anggukan kecil, pada kekasihnya tersebut.


"Ya, Pah. Nanti dibiasakan." jawab Ai kemudian.


Adi hanya mengangguk, kemudian berlalu pergi menuju ke sumber suara istrinya.


~


Malam harinya, Ghifar tengah mendapat nasehat dari beberapa orang terdekatnya. Ia terlihat tengah menundukkan kepalanya, sembari menganggukkan kepalanya setelah menyimak petuah untuk kehidupannya tersebut.

__ADS_1


"Ikut Abang aja kah, ke pulau K? Kalau kau tak mau kerja di lapangan, nanti Abang tempatkan kau di posisi kantor aja." ucap Givan, dengan menepuk bahu adiknya.


"Posisi yang kosong apa, De?" lanjut Givan, dengan menoleh ke arah kekasihnya.


"Yang kosong lagi staf teknisi aja, A." sahut Ai, yang langsung mendapat anggukan dari Givan.


"Aku tak mau, Bang. Aku pengennya yang pagi pergi, pulang sore. Mirip-mirip di ladang kek gitu, kerja semau kita." ungkap Ghifar, yang membuat Givan geleng-geleng.


"Abang nekunin ini kan, awalnya jadi supir yang ngangkut pekerja ke tempat tambangnya dulu." balas Givan kemudian.


"Aku tak minat, Bang. Kek mana aku jelasinnya?!" ketus Ghifar dengan pandangan tidak sukanya.


Givan menghela nafas beratnya, "Ya udah sekolah lagi aja. Kau ikut Abang, biar Abang yang biayain. Sambil di sana kerja apa gitu, nyambi-nyambi paruh waktu. Tak kasian kah sama si kecil mungil itu? Udah pengen dia dihalalin." ujar Givan, dengan menunjuk pada Canda yang tengah duduk di sofa ruang keluarga bersama Giska.


Ghifar mengacak rambutnya, "Apalah Abang ini! Cuma kawan aja." elak Ghifar kemudian.


"Ahya kawan, Canda kawan. Mamah sama papah pun, awalnya berkawan dulu mereka. Kau ingat di fakta itu!" tegas Givan dengan mengacungkan jari telunjuknya.


"Tau lah, Bang!" tukas Ghifar dengan berlalu pergi begitu saja.


Givan dewasa mencoba memahami, bahwa dirinya memang bukan bagian dari keluarga besar ayahnya. Mau tidak mau, ia harus merubah nasibnya untuk masa depannya. Ia menyadari, dirinya tak condong ke arah bisnis perkebunan kopi.


Maka saat datang ayah kandungnya, mengajaknya untuk berbisnis pertambangan. Dirinya langsung menyanggupi, karena pendidikannya pun menyongsong bisnis tersebut.


"Manis ya Ghifar itu, A. Kalau Aa kan lebih condong ke ganteng." ungkap Ai, yang membuat Givan menoleh ke arahnya.


"Ghava Ghavi kau bilang macho, lirikannya maut betul. Ghifar kau bilang manis. Papah Adi kau bilang awet muda, juga berkarisma. Heran deh gue! Keluarga Adi's bird kau puji terus!" sahut Givan membuat Ai terkekeh geli.


"Belum lagi nanti dikenalin sama keluarga papah Hendra." lanjut Givan kemudian.


"Jadi berapa hari kita di sini? Abis ini, pulang dulu yuk ke M*jalengka." tanya Ai mengalihkan pembahasan mereka berdua.


"Satu minggu paling. Biar mamah kenal lebih sama kau. Biar mamah sama papah juga ngasih restu juga. Soalnya semalam Aa nanya masalah restu, mereka masih diam aja." jawab Givan yang membuat hati Ai was-was.

__ADS_1


"Kalau gak direstui, kita gimana A?" sahut Ai lirih.


"Gimana ya…." balas Givan menggantung, dengan tersenyum samar. Muncul di pikirannya, untuk mengerjai Ai.


"Gimana, A?" ujar Ai, dengan menggenggam erat tangan laki-laki yang berjanji menikahinya itu.


"Ya udah, tak jadi nikah. Biar Ai tak laku sampek tua, soalnya udah tak virgin sih." tutur Givan yang membuat Ai melebarkan matanya.


"Gak mau aku, A." tukas Ai dengan nada suara yang menurun.


Givan memperhatikan reaksi wajah Ai, lalu ia tertawa begitu puas.


"Kalau mamah sama papah tak restui, ya kau yang pandai ambil hatinya. Yang terbuka, yang akrab. Bangun pagi-pagi, bantu buatin sarapan. Mamah, Giska, Icut lagi ngobrol. Kau ikut nimbrung sana! Tuh macam calonnya Ghifar, udah ketawa-ketawa aja bareng Giska sama mamah. Jangan ikutin aja Aa, Aa tak mungkin ninggalin kau di sini sendirian." ungkap Givan, karena merasa Ai tak bisa berbaur dengan keluarganya.


"Sekali ditanya sama papah atau mamah, kau udah langsung tegang aja. Mamah papah itu kekeluargaannya kuat, kalau kau terlalu nutup diri, nanti kau malah terlewatkan dari perhatian mereka. Apa lagi jumlah anaknya banyak, tak mungkin dia cuma ngurusin kau satu yang ngurung diri terus, kalau kau sengaja tak berbaur bareng."


"Apa lagi… kelak nanti Aa punya rumah sendiri, yang sengaja bangun di lingkungan sekitar rumah mamah papah. Mau tak mau, kau harus ngabdi betul-betul ke mereka. Karena mau bagaimana pun juga, Aa tetap milik mamah sekalipun udah nikah sama Ai." lanjut Givan dengan beberapa kali menghela nafasnya.


"Ai malu, A." sahut Ai lirih.


"Makanya pakek hijab, biar tak malu, biar percaya diri. Tengok omah, udah sepuh juga penutup kepala tak pernah lepas. Mamah juga sama, biarpun rambutnya nampak ke mana-mana, tapi kain hijabnya nyangkut terus di kepala. Giska sama Icut, biarpun rambutnya bagus, warnanya ngetrend, tapi tetap berhijab." balas Givan, dengan menyibakkan rambut Ai ke samping telinga.


"Biar apa rambut diwarnai bagus, tapi pakai hijab juga A? Kan orang-orang jadi gak tau, bahwa warna rambut kita gak kalah di jaman sekarang." ujar Ai, yang membuat Givan mengerutkan keningnya.


"Buat kepuasan diri mereka, bukan buat orang lain. Karena mau bagaimana pun rambut diganti warna, tapi tetap tak merubah bahwa rambut itu aurat wanita. Ai make up aja, memang buat siapa coba? Aa kan tak nuntut Ai, tak minta Ai buat moles wajahnya. Sama kan jawabnya? Buat kepuasan diri Ai sendiri juga kan? Ya gitulah mamah, Giska sama Icut. Mereka diajarkan dari kecil, buat tak berlebihan moles warna di wajah. Tapi skincare, mereka haus kali. Liat Icut, 3 jam sekali usap balik sunscreen biarpun cuma di rumah. Karena kulitnya putih, bisa kemerahan gara-gara paparan sinar matahari. Giska skincare rutin tak lupa, meski lagi sakit sekalipun. Masih berharap bisa seputih Icut, karena warna kulit aslinya satu dua sama papah. Mamah langganan ke dokter kecantikan, dari totok wajah, laser, setrika wajah, DNA salmon, ini itulah. Banyak lagi yang tak Aa tau, karena mamah cuma hebohnya sama papah." jelas Givan yang membuat Ai semakin minder pada keluarga Givan. Karena ia pun mampu membeli produk kosmetik, dari jerih payahnya sendiri bekerja pada Givan.


"A… Ai dari keluarga kurang mampu. Rumah aja setengah tembok, setengah pakai papan. Apa mungkin mamah Dinda sama papah Adi nerima menantu kaya Ai? Yang orang gak punya begini?" pertanyaan yang muncul begitu saja dari mulut Ai.


Givan menoleh ke arah Ai, tangannya terulur untuk menyentuh rahang Ai.


"Mamah….


......................

__ADS_1


Gimana perasaan kalian kalau jadi Ai?


__ADS_2