
"Mungkin bisa dibilang kek gitu. Papah juga tak tau pasti, tapi kata mamah kandungan formaldehida bisa memicu kanker." sahut Adi, dengan bergabung dengan Kenandra dan Givan.
"Jadi kapan kau meukawen sama Riska?" tanya Adi, dengan memperhatikan Kenandra yang masih meratakan kartunya.
"Tahun depan, kalau langgeng. Aku ada niat, buat ambil spesialis. Biar pendapatan aku lebih besar, macam abi." terang Kenandra kemudian.
"Terus…….
Obrolan mereka berlanjut, dengan Ghifar yang ikut berbaur dengan mereka. Pembahasan demi pembahasan, kian terdengar santai dengan memainkan putaran kartu tersebut. Hingga malam semakin larut, Adinda turun untuk meminta mereka semua beristirahat.
~
~
~
Satu bulan kemudian, mereka sudah melewati rutinitas mereka masing-masing. Adi dan Adinda, juga anak-anaknya yang sudah berada di daerahnya kembali. Icut dan Ghava yang stay di rumah omahnya, kini sudah semakin terbiasa menikmati aktivitasnya.
Ghifar yang sekarang bekerja di rumah sakit sebagai OB, tempat Haris dan Kenandra bekerja. Sekarang telah menerima gaji pertamanya.
"Senyum kau macam kuda." ucap Haris, saat melihat Ghifar berada di dalam ruangannya dengan menghitung uang.
Ghifar menoleh ke arah Haris, yang tengah melepaskan jas putihnya.
"Aku makan sama Abi terus, baiknya aku kasih berapa ke bunda?" tanya Ghifar kemudian.
"Tak usah. Kan kemarin kau tak ada uang, makanya Abi kasih makan. Sekarang kan kau udah ada uang, kau pakek lah buat biaya makan kau sendiri. Bukan tak boleh makan di rumah Abi lagi, tapi biar kau mandiri. Bayar air, beli pulsa listrik, isi kuota kau, beli beras, atau makanan kaleng, buat kau di rumah mamah kau. Beli tabung gas satu lagi, biar kalau yang di rumah habis kau punya stoknya. Ngerti tak?" jawab Haris, dengan duduk di kursi nyaman miliknya.
"Ya, Bi. Mak aku pun udah ada bilang kek gitu. Tapi seenggaknya, aku harus ngasih ke bunda." sahut Ghifar yang diangguki Haris.
"Dapat gaji berapa?" balas Haris, setelah meneguk air mineral dalam kemasan.
"2,2 juta, Bi. UMR kota ini." ujar Ghifar jujur.
"Bagus, dong. Bisa langsung UMR. Ya… kasih bunda 100 atau 200 ribu aja, bilang makasih. Udah kau jangan banyak basa-basi apa, nanti bunda malah tak mau nerima." tutur Haris yang diangguki Ghifar.
"Ya, Bi. Ayo pulang, Bi. Apa masih ada pasien lagi?" tukas Ghifar dengan menyimpan uangnya dalam dompetnya.
__ADS_1
"Tak ada. Kau ke rumah abi dulu? Apa langsung balik ke rumah mamah kau?" tanya Haris, dengan membenahi barang-barang miliknya.
"Ke rumah Abi dulu, ngasih buat bunda. Nanti aku numpang mandi di sana, terus mau jalan-jalan sama kak Kin mau ke swalayan." jawab Ghifar dengan meriah jaketnya yang tergolek.
"Sendiri aja, jangan sama Kin. Nanti yang ada Kin minta ini itu, uang segitu masih kurang buat dia." balas Haris dengan menenteng tas miliknya.
"Ya, Bi." sahut Ghifar, dengan mengikuti langkah kaki Haris.
~
Kini Ghifar tengah mendorong troli belanja, dengan beberapa kali berhenti untuk memilih produk yang ia butuhkan.
"Coba mak, cuma tengok experied aja. Langsung lempar-lempar ke troli 3 sampek 5 produk yang sama. Tanpa tengok harga, tanpa tengok berapa mili. Yang penting ekperied masih lama, sama bungkus yang paling besar." ucap Ghifar seorang diri, dengan membaca bagian belakang bungkus sabun pembersih piring tersebut.
Dug, jreng….
Troli belanja Ghifar tertabrak dengan troli belanja lainnya, yang berada di depan troli belanja Ghifar yang tengah berhenti tersebut.
"Ugghhh…." Ghifar langsung memegangi intinya, karena terbentur dengan gagang troli belanjanya.
"Maaf, Mas. Aku sengaja." ucapnya dengan masih tertawa geli.
Ghifar meluruskan pandangannya, "Sialan kau, Canda!" makinya dengan mencoba melupakan rasa nyeri di intinya.
Canda cengengesan tanpa dosa, lalu berjalan menghampiri Ghifar. Tiba-tiba tangannya terulur, dengan langsung menggapai tangan Ghifar. Lalu dengan cepat ia menempelkan tangan Ghifar, pada hidung dan bibirnya.
Dengan cepat Ghifar menarik tangannya kembali, "Sialan memang kau! Macam aku orang tua kau aja! Segala cium tangan lah." ujar Ghifar dengan mengusap-usap punggung tangannya, pada kaos yang ia kenakan.
Canda memamerkan giginya kembali, "Kan Mas lebih tua dari aku." balasnya enteng, lalu pindah di belakang Ghifar. Karena ada seseorang yang tengah mendorong troli, untuk melewati lorong rak susun tersebut.
Tanpa diduga, Canda memeluk pinggang Ghifar. Yang membuat Ghifar terhenyak keget, dengan menghempaskan tangan Canda yang melingkar di perutnya.
"Is, kau ini! Macam apa kali aku ini." ucapnya dengan menoleh ke belakang.
Canda memanyunkan bibirnya, "Rewel!" sahutnya dengan berpindah ke sebelah troli belanja Ghifar.
"Hmmm, cuma berapa biji. Sok gaya, pakai troli segala. Sini satuin aja, jangan malu-maluin coba." ujar Canda, dengan memindahkan belanjaan Ghifar ke troli belanja miliknya.
__ADS_1
Ghifar melongo, dengan pandangan bodohnya. Saat mendengar ucapan frontal Canda, juga tindakannya yang memindahkan belanjaan miliknya.
"Udah ini tinggal di sini aja, nanti juga ada petugas yang ambilin troli. Yuk jalan, Mas butuh apa lagi. Biar aku yang bayar." ajak Canda, dengan menaik turunkan kedua alisnya pada Ghifar.
Ghifar meraup wajah menyebalkan Canda, dengan telapak tangan lebarnya.
"Sayang kau anak orang! Kalau anak kucing, udah aku karungin, aku buang di deket kuburan." ucap Ghifar dengan berjalan beriringan bersama Canda.
"Mas butuh apa lagi?" tanya Canda, dengan menoleh ke kiri dan ke kanan. Memperhatikan merek-merek produk, yang berjejeran di susunan rak.
"Garam, mecin, penyedap rasa, kecap, gula, kopi, teh, roti tawar, sama susu krimer. Carikan yang paling kecil aja, paling murah." jawab Ghifar, dengan berhenti di jejeran rak susu bubuk.
Canda memperhatikan Ghifar, yang tengah membaca kemasan susu khusus laki-laki tersebut.
"Biasa minum yang itu, Mas?" tanya Canda, yang reflek diangguki oleh Ghifar.
"Mau, ambil. Mau, ambil. Aja digawe pusing." balas Canda dengan mengambil satu susu tinggi protein tersebut, lalu menaruhnya di troli belanjanya.
Ghifar melongo saja, melihat Canda berbicara dengan bahasa daerah. Tentu ia pun langsung memikirkan, tentang harga susu yang berkisar ratusan ribu tersebut.
"Taruh lagi aja, uang aku tak banyak." tutur Ghifar dengan menepuk pundak Canda. Ia memikirkan biaya hidupnya, sampai bertemu di gajian berikutnya lagi tentunya.
"Mas ada berapa uangnya?" tukas Canda yang membuat Ghifar enggan menjawab. Entah apa yang Ghifar pikirkan, tetapi dirinya merasa malu untuk menjawab pertanyaan Canda.
Canda menoleh ke arah Ghifar, saat dirinya tak mendapat jawaban dari Ghifar.
"Maksud aku, ada budget berapa buat belanja ini?" jelas Canda kemudian.
Ghifar mengusap tengkuknya, sebelum menjawab pertanyaan Canda.
"Rencananya belanja cuma 200 ribu aja, plus beras yang karung 10 kilo itu." jawab Ghifar, dengan menunjuk tumpukan beras yang diatasnya terdapat kertas yang bertuliskan hanya 89 ribu.
Canda mengangguk, kemudian memberikan senyum terbaiknya pada Ghifar.
......................
*Aja digawe pusing : Jangan dibikin pusing
__ADS_1