
"Terus Abang mesti gimana? Apa Abang jemput paksa dia kah?" tanya Haris dengan suara pasrahnya.
"Jangan. Dia udah dewasa, nanti pun bakal ikut suaminya." jawab Adinda, yang teringat akan menantunya yang tak pernah pulang kampung.
"Nah, itulah. Masa dia nikah, pasti dia tau kalau nashabnya ikut ibunya. Yang artinya, dia anak ibunya, anak hasil di luar nikah." ucap Haris bertambah frustasi. Ia baru teringat, saat Adinda mengatakan hal yang berkaitan dengan pasangan hidup.
"Yaa... Makanya Gimana? Kalau Abang datang ke rumah Dinda aja. Aku sama Abang, jelasin perihal itu sama Kin. Entah kenapa, aku yakinnya Kin bakal tetap minta ikut papah Adi. Dia udah takut sama kau, pasti pun dia bakal ngerasa kalau aku ini orang lain. Ketimbang aku, keknya dia lebih berat sama papah Adi dan Mamah Dinda." tandas Sukma, mengutarakan akan pilihan yang nanti Kinasya pilih.
"Iyalah, pastinya keknya. Kin tak mungkin punya ongkos, buat nemuin Shalwa. Tapi dia punya papah Adi, yang jangankan ngasih ongkos buat nemuin Shalwa. Dari sepeda roda tiga, boneka Teddy bear, sampek tas yang harganya jutaan pun, dipenuhinya sama papah Adi dan Mamah Dinda seorang. Aku coba didik anak hidup prihatin, jadi pribadi kuat, bukan mental manja. Tapi... Sekalinya ngerengek ke Adi sama Dinda, organ manusia pun dibelikannya." ungkap Haris membuat Adinda terkekeh, dengan Sukma yang melongo di akhir kalimat mantan suaminya.
"Buat apa organ manusia?" tanya Sukma kemudian.
"Praktek. Bedah kadaver, bedah tubuh manusia, kalau anak kedokteran kan? Waktu Kin, dia betul-betul tak nyimak, pas bagian limpa tubuh manusia. Aku tak mau belikan dia organ betulan, apa lagi dia minta praktek ulang sama aku. Ehh, ngerengek dia ke Adi. Entah Adi beli dari mana, datang organ manusia satu itu, dari tempat legal buat prakteknya dokter begitu. Selain kistanya Alvi dulu, ternyata ada limpa seseorang yang aku kuburin di area rumah. Bukan horor lagi, malah aku tak mau deket tempat penguburan limpa itu." Haris bercerita yang membuat bulu kuduk Adinda dan Sukma berdiri.
__ADS_1
"Kan katanya bisa dipakek praktek ulang, kenapa kau kubur?" Sukma yang selalu menemani Haris sejak SMA, tentu memahami sedikit tentang ilmu yang mantan suaminya pelajari dulu.
"Kan ada perawatannya. Cara kita memperlakukan organ tersebut, cara kita menghormatinya mesti macam kita hormatin guru kita. Ada batas jam juga, seberapa lama kita pegang itu, terus cepat harus balik ke tempat pendingin lagi. Mana kan, harus pakek formalin ulang, biar tak busuk. Nah itu si Kin, tak tau batas dia. Aku mau pintar, kalau aku makan itu terus aku jadi pintar, aku bakal lakuin. Ucapnya gitu, bodohnya anak Shalwa. Anak sulung kau sampek mual-mual hebat, pas adiknya bilang macam itu. Aku curiga dia bisa nyerap bulu paket dengan sempurna, jangan-jangan adiknya Ken itu makan buku paket itu pulak." gurauan yang diciptakan Haris, tak sia-sia membuat Adinda dan Sukma tertawa bersama.
"Dokter beneran Kin di sana? Maksudnya, lepas dia punya gelar, dia tak bodoh macam Jefri kan?" tanya Sukma, yang teringat akan teman satu perguruan dengan mantan suaminya.
"Dokter IGD dia. Tapi kalau ada operasi bedah, kadang dia Abang tarik buat ikut juga. Ken pulang nanti, mau ambil spesialis paru katanya. Kin, lepas dapat pengalaman nanti, mau ambil spesialis bedah juga." jawab Haris, Adinda tiba-tiba merasa miris dengan anak-anaknya yang mendapat gelar tetapi tetap berada di rumah.
Givan bisa mengembangkan bisnis tambangnya, tetapi Mahendra dan anak-anaknya malah menguasai bisnis tersebut. Mendepak Givan secara halus, dengan alasan Givan tersandung kasus. Untungnya, ibu dari Givan, bisa mengambil alih saham lebih banyak, dengan alasan sumber keuangan tambang tersebut berasal dari suaminya dan almarhum ayah mertuanya.
"Aku tengok, biasanya dokter IGD tua-tua." timpal Sukma, seseorang yang beberapa kali mengantar ibu mertuanya ke rumah sakit.
"Tak juga. Dokter IGD biasanya yang pertolongan pertamanya cakap, lincah geraknya. Kin kan bukan lincah lagi, dia udah kek capung di musim transisi. Apa lagi gelutin gym terus, sampek bikin member sendiri. Kalau lagi di rumah, sehari sampek dua kali ke tempat gym. Rutin-rutinnya dia, 5 kali seminggu ke tempat gym." terang Haris. Adinda baru tersadar dengan tubuh proporsional, yang membuat pandangan mata Givan langsung buas saat di rumah tadi.
__ADS_1
"Jadi punya sertifikat penunjang lainnya si Kin ini? Banyak juga ya biaya yang kau keluarin, Bang?" tanya Sukma kembali, setelah mendengar penjelasan Haris.
"Punya sertifikat ATLS, sama ACLS. Yaa... Bisa dikalkulasi sendiri aja. Pendidikan dasar kedokteran, dua semester. Ditambah tahap pendidikan kompetensi teknik, lima semester. Lepas itu coass, terus UKMPPD. Itu tuh belum apa-apa, dia belum bisa disebut dokter umum. Ada prosesnya lagi, kau kan tau sendiri kan? Kau yang nemenin Abang berjuang sampek bisa dipanggil pak dokter." jawab Haris membuat Sukma manggut-manggut beberapa kali.
"Kenapa anak kalian bisa berprestasi, sedangkan anak aku banyak kasus?" celetuk Adinda dalam panggilan telepon tersebut, yang cukup menarik perhatian mereka.
Dekheman Haris terdengar, ia seperti ingin menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar.
"Jangan tersinggung! Tapi coba raba pribadi kalian masing-masing, saat masih muda. Hal terburuk yang pernah Abang lakukan itu, perceraian. Abang tak pernah zina, sebelum ngenal Alvi. Pacaran sehat, terus nikah sama Sukma. Selama pernikahan pun, lurus aja, tak pernah neko-neko. Pendidikan lancar, intinya hidup tanpa maksiat. Perceraian pun Abang sadar, itu karena sifat dan watak diri Abang sendiri. Bukannya menuduh atau menghakimi. Jaman sekarang, kita tak tau ada apa di balik tabir. Berhijab tapi hamil duluan, bersarung terus tapi suka sesama jenis. Udah jamannya kek gitu, kau sama Adi aja mudanya kek mana? Kalau Ken bisa dibilang keturunan baik-baik, tapi alkohol sama selang*angan udah jadi aktivitasnya, bisa jadi itu karena faktor jaman sekarang ini." ungkap Haris, yang membuat Adinda melamun.
"Bukan hal aneh, Adi bonceng perempuan pulang pergi sekolah. Bukan hal aneh, Adi kuras isi dompetnya demi judi. Bukan hal aneh, Adi kerja keras buat menuhin keinginan pasangannya, dengan jaminan dia pun terpuaskan. Itu Adi SMA, anak IPA, si bocah cungkring, nampak macam kurang gizi, yang kelebihan gizi cuma hidungnya aja." Haris membuang nafasnya gusar.
Kemudian ia melanjutkan kalimatnya, "Sejak Abang kenal kau. Sisi baik kau itu cuma sholat, sama bisa ngaji. Sisanya, kau cerminan Adi yang Abang kenal. Bukan membandingkan diri sendiri, dengan si pezina, atau si penjudi. Tapi anak itu, cerminan diri kita sendiri. Bahkan... Ada loh Dek, anaknya kyai, tapi hamil di luar nikah. Ada loh anaknya guru, tapi dia bodoh luar biasa. Ada juga yang anaknya petani, tapi dia bisa jadi TNI. Ikuti garis takdir, kau yang mulai, semestinya kau tau cara nanganin anak-anak kau." lanjut Haris, membuat Adinda semakin merasa bahwa orang tuanya begitu menyesal telah melahirkannya.
__ADS_1
"Dengerin Abang, Dek. Saran Abang.....
......................