Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS72. Rumah tangga Adinda dan Mahendra


__ADS_3

"Tak… masih baik-baik aja. Cuma mamah kau, udah kek setengah hati ngejalanin rumah tangga. Masalah ekonomi juga ngaruh, mau tak mau Papah merantau, demi nyukupin kebutuhan kau sama mamah kau. Mamah kau sampek kurus betul, kurang jajan, kurang makan. Tak tega kan Papah, jadi ya udahlah merantau aja. Beberapa bulan itu, masih baik-baik aja. Mamah kau juga udah tercukupi, udah agak berisi badannya. Terus embah minta kiriman dari Papah, karena embah masih punya anak sekolah, si adik bungsu itu nah Bang." jelas Mahendra, yang beralih menatap Haris.


Kemudian Haris mengangguk, menanggapi cerita mantan suami dari sahabatnya tersebut.


"Mamah kau kek tak ikhlas, padahal cuma tiga ratus ribuan aja perbulan. Terus datang perempuan, yang sok peduli betul ke keluarga Papah. Ngirimin ke embah kau, karena dia sebelumnya memang udah dikenal di keluarga Papah. Diminta keluarga, buat ceraikan mamah kau. Perempuan itu segala ngehasut bahwa kau bukan anak Papah. Udah kek gitu, mamah kau ternyata punya bakat terpendam. Terkenal dia, minta izin buat ngembangin bakatnya. Fokusnya mamah kau ke karya-karyanya, kadang kau sampek ditinggal sama nenek aja, kalau mamah kau ada peluncuran bukunya di luar kota. Pulang dari rantau orang, istri cuek, tak mau diajak ke rumah mertua. Dia kata sakit hati sama keluarga Papah, dia kata Papah lebih mihak ke mereka. Terus Papah berangkat lagi ke pulau K. Ternyata, perempuan itu yang notabene mantan pacar Papah. Betul-betul pengen balik sama Papah, segala cara dilakuinnya. Terus, namanya laki-laki jauh sama istri. Ya kejadian kan kek gitu, dipancing berulang kali, siapa laki-lakinya yang tahan. Tapi Papah sadar, Papah punya istri. Mamah kau begitu pun, pasti ada alasan yang jelas. Terus Papah pulang, karena dapat kabar mamah kau hamil. Udah tuh Papah stop merantaunya, karena takut kejadian lagi sama mantan itu. Tapi ternyata, mamah kau udah denger bahwa Papah memang sempat ngeladenin itu perempuan. Awalnya mamah kau mohon buat dipertahankan. Tapi entah kabar apa lagi yang dia dengar, dia langsung mutusin buat ayo pindah ke provinsi A aja. Papah yang udah terikat kerja, di salah satu perusahaan di kota C. Ya tak bisa kabur gitu aja, mana belum nerima gaji. Terus mamah kau nekat, alasannya novelnya difilmkan. Tak lama, datang mantan Papah ngaku hamil. Barulah paham Papah, kenapa mamah kau ngajak pindah tiba-tiba. Mana jauh lagi daerahnya. Jadi sampek beberapa bulan, perceraian Papah sama mamah kau ngegantung. Karena mamah kau sama kau di provinsi A, dia tak pulang-pulang meski filmnya udah selesai proses. Sampek, dia pulang. Prosesnya terhambat lagi, karena mamah kau keguguran. Terus Papah nikahin mantan, karena cuma untuk tanggung jawab ke itu janin aja. Terus lahiran tuh, bayinya udah meninggal. Papah kejer balik mamah kau, dia udah tak mau. Udah sombong, soalnya uangnya udah kelebihan." Mahendra bercerita panjang lebar, membuatnya lebih diperhatikan dari pada siaran televisi yang menyala tersebut.


"Bang Jefri yang dulu mondar-mandir nolongin nyawa mamah kau, karena mamah kau udah mandi darah karena keguguran. Bang Haris juga, donorin darah ya Bang? Sama temen-temennya, donorin darah ke mamah. Waktu mamah kau di rumah sakit, karena keguguran itu." lanjut Mahendra, yang mendapat anggukan dari Haris.


"Karena perempuan, bisa ngehasilin uang sendiri itu sombong. Sukma juga kek gitu, jadi janda, hasilin uang sendiri, malah sombong betul. Ajarannya Dinda kan apa lagi, tak bujang, ya ditendang." sahut Haris, yang mengingat saat dirinya mengejar-ngejar mantan istrinya.

__ADS_1


"Makanya… lepas aku nikah baru lagi ini, Bang. Aku tak izinkan istri aku kerja. Usahanya aku ambil alih, aku percayakan ke tangan kanan aku. Karena begitu perempuan kalau pandai cari uang, ke laki-laki itu sombong. Apa lagi kalau dia pernah ditinggal merantau, yang jelas-jelas di rumah dipaksa mandiri. Beda kan kalau ada suami di rumah, apa-apa pasti… abang tolong angkatin ember jemuran, abang tolong standarin motor. Karena tak ada suami di rumah, dia apa-apa ngelakuin sendiri. Jadi pas suami balik, mereka udah terbiasa sendiri gitu Bang." lanjut Haris, yang begitu nyambung diajak ngobrol.


"Iya, ibunya anak-anak yang sekarang aja. Aku bawa-bawa terus ke perantauan orang. Belajar dari kegagalan dulu, tak mau kejadian lagi, udah cukup dijadikan pelajaran." balas Mahendra, yang ternyata menjadikan perceraiannya dengan Adinda sebagai pelajaran yang berharga untuk kehidupannya.


"Pantes ya, mamah sensitif betul kalau udah masalah papah sama perempuan lain. Ternyata dirinya punya pengalaman kek gitu." timpal Ghavi, yang tanpa sadar sudah menghabiskan mie instannya.


"Oh, namanya Malgi Pah? Mantan istri Papah setelah mamah?" tanya Givan, yang diangguki oleh ayah kandungnya.


"Ngomong apa memang dia, Bang?" tanya Haris begitu penasaran.

__ADS_1


"Awalnya itu, dia main ke saudara sepupu aku. Jadi… Dinda kan dulu suka iklanin dagangan orang, macam itu kan? Terus dia juga punya toko pakaian sendiri, yang ternyata usahanya sama dengan usaha sepupu aku. Mereka akrab memang dari dulu juga. Tapi tak nyangka, kalau Dinda sukses bareng sepupu aku itu. Rumah sepupu aku itu, persis di sebelah rumah orang tua aku. Aku sekeluarga lagi kumpul di luar, sambil ngeteh, ngemil gorengan gitu. Terus Dinda baru keluar dari rumah sepupu aku, dia senyum sambil nyapa kita semua. Terus dia bilang……


"Ohh… kau ya yang jadi istrinya Mahendra? Yang hamil besar, baru nikah itu kan? Wah… kau sekarang jadi jelek kali. Dekil, jerawat, kucel, kurus kering, macam kau maki aku dulu kek gitu kan? Ternyata sama juga ya kau, sekarang jadi macam aku dulu. Makasih ya, udah gantiin posisi aku." celetuk Adinda, yang membuat semua keluarga Mahendra memandangnya dengan mata bulat sempurna.


"Wahhh, Rohmah. Hebat kali, lulus sekolah kau ternyata jadi janda juga. Macam kakak ipar yang kau maki dulu itu. Tengok, anak kau itu. Kau ingat tak punggung anak aku, kau pukul pakek panci stainless berat. Sampek ngebiru, sampek dia mimpi buruk terus, karena sikap kasar kau itu. Tengok anak kau, babak belur, dianiaya bapak kandungnya sendiri. Kasian betul si kecil, sampek diperban kek gitu dahinya. Katanya… kau diusir juga ya sama mertua? Mana jauh lagi, sampek jadi gelandangan kau sama anak kau di kota orang. Untungnya dulu waktu aku sama anak aku kau usir macam usir kucing minta tulang, dengan cara kau siram-siram pakek air kek gitu. Aku bisa pulang ke orang tua dengan selamat, mana kan suami aku dulu yang katanya nikahin terpaksa ikut pulang ke aku. Setimpal bukan? Apa mau aku lebihkan?" lanjut Adinda dengan beralih menatap mantan adik iparnya tersebut. Mahendra amat terkejut, saat mendengar bahwa keturunannya ternyata dianiaya oleh adik kandungnya.


"Mulutnya dijaga ya? Yang jelas, aku gak nikah karena terpaksa. Aku sama suami aku sama-sama cin….." sahut Rohmah membela dirinya, tetapi terpangkas dengan ucapan Adinda kembali.


......................

__ADS_1


__ADS_2