
"Yang penting aku balik ke sini, buat nemuin kau. Kau berisik betul! Jangan terlalu jauh campuri kehidupan aku. Karena kau cuma bagian dari hidup aku, bukan acuan hidup aku! Jangan berani buka-buka HP aku lagi! Juga kau tak perlu, beresin tas kerja aku macam ini." sahut Givan, dengan mengambil alih tasnya yang berada di tangan Fira.
"Bang… Abang kenapa? Kenapa berubah sekarang?" tanya Fira dengan mencekal lengan Givan.
"Perasaan seseorang bisa berubah. Titik jenuh seseorang, bisa berubah jadi bosan. Terus… aku lagi ada di titik ini. Kau paham?" jawab Givan dengan nada suara yang meninggi.
"Abang tak boleh macam itu. Aku tak mau Abang bosan sama aku. Abang tak boleh jenuh sama aku." ujar Fira yang sudah sesenggukan dengan memeluk tubuh Givan.
Ucapan dari ayah sambungnya berputar berulang kali di pikirannya. Ia tak memungkiri, segala petuah dan nasehat dari seseorang yang ibunya cintai ada benarnya juga. Sampai dirinya merasakan sendiri, tentang apa yang ia rasakan sekarang.
Givan baru menyesali, telah mempertahankan Fira dan memilih tinggal bersama Fira sekarang. Hubungan yang ia lakukan malam tadi dengan Fira, membuatnya amat merasa bersalah dengan Ai. Karena tanpa sepengetahuan Fira, Givan telah mendua bersama Ai.
"Hallo, Mah." ucap Givan, setelah panggilan teleponnya tersambung.
"Apa sulungku? Uang kau tak muat di rekening lagi kah? Coba kirim ke Mamah, buat ngasih makan adik-adik kau itu. Kesel betul sama Ghava, pulang pergi mintain aja uang bensin." sahut Adinda, yang membuat Givan terkekeh geli di seberang telepon.
"Tak, Mah. Mau nanya sunting adat Sunda, mahal tak ya mereka buat aku?" tanya Givan, yang membuat Adinda berteriak antusias.
"Mamah tak bilang mereka mahal, karena sederhana pun mereka terima. Tak bilang juga mereka murah, karena pernah tengok di tiktik. Ada yang maharin perempuan sunda pakek rumah gedong, mobil mewah, juga modal usaha." jawab Adinda kemudian.
"Aku udah mantap Mah, sama Ai. Nanti kalau kerjaan di sini beres, aku bawa Ai buat dikenalin." ungkap Givan yang membuat Adinda heboh kembali.
"Pue, Dek? Pue, Dek?" suara ayah sambungnya, yang terdengar sampai ke telinga Givan.
"Givan mau kenalin perempuan lagi, dari Sunda." jawab Adinda pada suaminya.
"Oh… yang kalau lewat suka punten-punten macam itu ya Dek." sahut Adi, yang membuat Givan mengangguk. Meski dirinya tak diajak berbicara oleh ayah sambungnya.
"Betul, Van? Hajar Van!" ujar Adi, yang membuat Givan terkekeh seorang diri.
"Perawan, Van?" tanya Adi kembali.
__ADS_1
"Udah, Pah." jawab Givan yang membuat Adinda mengerutkan keningnya, karena merasa jawaban anaknya tidak tepat.
Berbeda dengan Adi, yang langsung membentuk bibirnya dengan huruf O.
"Gila memang anak e Dinda." sahut Adi, yang membuat Adinda mencubit perut berototnya.
"Pue, Bang?" tanya Adinda bingung.
Adi memahami, istrinya tengah lapar sekarang. Ia pun memahami, kebiasaan istrinya yang tidak bisa berpikir jika tengah lapar. Namun, Adi pun tak berniat menjelaskan pada istrinya. Karena ia paham, Adinda yang sudah berumur ini suka sekali memarahi seseorang.
"Tak, Dek. Tadi Abang lagi nyuapin Gibran di depan, sana gantiin dulu. Abang mau ngobrol sama Givan dulu." ucap Adi yang membuat Adinda mengerutkan keningnya.
"Paa….." suara bungsu, yang membuat Adinda mengurungkan ucapannya.
"Ya, Dek…." sahut Adinda dengan berlalu pergi.
"Van…" panggil Adi, dengan menempelkan ponsel istrinya ke telinganya.
"Orang mana pacarnya, Van?" tanya Adi serius.
"M*jalengka. Tak pacaran, Pah. Dia… kerja sama aku. Rencananya aku ngerequrt asisten lagi, karena aku mau liburan dulu di Bali. Tapi malah… aku yang asik betul kerja sama dia. Malah tak jadi aku liburannya." jawab Givan bercerita.
"Sih, bisa udah diper*wanin? Macam mana sih kau, Van?" balas Adi yang masih penasaran dengan pengakuan Givan, saat ada istrinya tadi.
"Ninjau perusahaan vendor, Pah. Eh, malah ambil satu kamar. Dia tak minta sih buat dinikahin, tapi aku yang kasian sama dia. Tak ngomong-ngomong, diemin aku, nangis di pojokan. Kan kasian aku, Pah." jelas Givan tanpa ragu.
Sudah bukan rahasia lagi, jika anak-anak Adi akan jujur saat ditanya oleh kedua orang tuanya. Berbeda dengan Adi, yang mengerti tentang anak laki-laki mereka. Adinda terkadang terlalu kolot, jika sudah menyangkut dengan para wanita yang menarik perhatian anak-anaknya. Meski demikian, Adi tetap memberikan nasehat. Agar anak-anaknya mengerti, tentang perbuatan dosa tersebut.
"Ya udah, kalau udah kejadian. Tak hamil kan sekarang dia?" ujar Adi kemudian.
"Tak, Pah. Pas malam itu tak sengaja aku campuri, besoknya dia haid. Bulan berikutnya pun, dia haid normal. Sempet deg-degan juga, takut hamil. Karena aku tak sengaja malah buang di dalam." aku Givan yang membuat Adi merasa sedikit sedih.
__ADS_1
Ia tak mengerti dosa apa yang ia dan istrinya lakukan. Dirinya dan istrinya pun, dulu hanya sebatas bercumbu tanpa melakukan hal itu. Namun, saat mendapat cerita jujur anaknya. Adi merasa Givan terlalu jauh, tak seperti dirinya dan istrinya dulu.
"Jadi kapan nikah?" tanya Adi, setelah tersadar dari lamunannya.
"Nanti nunggu Icut lahiran dulu. Biar mamah sama Papah tak terlalu pusing mikirin juga ngurus-ngurusnya. Tapi kalau dikenalin, mungkin dekat-dekat ini Pah. Nanti gampang aku kabarin lagi." jawab Givan yang langsung diiyakan oleh Adi.
"Bang… masih ada kah perasaan Abang buat aku?" tanya Fira dengan enggan melepaskan pelukannya.
"Masih." jawab Givan ringkas.
"Tolong pertahankan aku." pinta Fira, yang membuat Givan memperhatikan wajah sedih Fira.
"Liat nanti aja, Fir. Masalahnya mamah sama papah kemarin-kemarin, tetap pengen aku tak sama kau." sahut Givan yang begitu menikam hati Fira.
"Apa gara-gara perempuan baru itu?" balas Fira berapi-api.
"Tak juga. Sebelum ada dia pun, masalah kita tetap sama. Kau tak bisa jaga nama baik kau, dengan tanpa belas kasih kau duakan saudara satu ibu. Macam mana orang tua aku bisa setuju, dengan kelakuan kau yang macam itu." Givan mengungkit kembali permasalahan tentang Fira.
"Bisa, Bang." tukas Fira, dengan menggoyangkan lengan Givan.
"Bisa apa?" ketus Givan, dengan menghempaskan tangan Fira.
"Dengan Abang punya keturunan sama aku. Aku yakin mamah Dinda, sama papah Adi luluh karena cucu yang kita kasih. Udah bukan rahasia lagi. Nenek sama kakek itu lebih sayang cucunya, ketimbang anaknya sendiri." ungkap Fira yang membuat Givan tertawa sumbang.
"Bodoh! Hal bodoh yang sia-sia aja kau lakuin." sahut Givan kemudian.
"Kenapa macam itu? Secara tidak langsung, kita memaksakan kehendak kita pada mereka. Dengan macam itu, mereka tak akan nolak cucu yang kita udah kasih." balas Fira dengan wajah penuh harap.
......................
Belum tau saja dia kekejaman mertuanya 😏
__ADS_1
😆😝🤭