
"Ghifar lagi tidur itu, Mah. Dia ngelindur, karena pikirannya belum tenang." sahut Kinasya, dengan menghampiri Adinda yang tengah duduk di tepian ranjang. Tempat Ghifar tengah terlelap, dengan infus yang terpasang di punggung tangannya.
"Kau udah ke kamar Canda? Dia udah bisa diajak ngobrol sama orang luar belum?" tanya Adinda, saat Kin duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang.
"Udah bisa diajak ngobrol, Mah. Tadi sore aku ke sana, dia udah bisa ketawa tipis. Bang Ken juga lagi cek ke sana, sama temen dokternya." jawab Kinasya dengan fokus pada ponselnya.
"Enaknya kek mana ya, Kin? Mamah bingung, Mamah kasian sama Canda." ujar Adinda dengan wajah kacaunya.
"Enaknya… coba tanya Canda langsung, ngobrol juga sama keluarnya. Tadi Canda ada nanya gimana mas Ghifar katanya, dia dengar kabar Ghifar drop." tutur Kinasya bercerita.
"Nanti lah tunggu papah Adi aja, Mamah bingung mau ngapain nanti di sana." tukas Adinda dengan mengusap wajah anaknya, yang penuh dengan keringat.
Adinda amat terkejut, sampai ia terhenyak keget. Karena secara tiba-tiba, tangan yang tengah mengusap peluh anaknya tersebut. Dicekal begitu kuat, oleh sang pemilik tubuh.
"Kan udah pernah dibilangin. Jangan berani pegang-pegang Mas, Mas laki-laki normal." ucap Ghifar dengan mata yang masih terpejam sempurna.
"Mas-mas!! Mamah kau sendiri, tak mungkin manggil kau Mas!" sahut Adinda dengan menarik tangannya.
Ghifar yang mendengar suara yang ia kenal dengan baik tersebut, langsung membuka matanya dengan terkejut. Ia mengira, bahwa seseorang yang selalu meneriakinya mas tengah mengusap dahinya. Namun, ternyata prasangkanya salah besar.
"Mak." ucapnya dengan pandangan kagetnya.
"Ya, lah. Siapa lagi?! Bangun! Makan! Biar tak sakit. Orang tuh, suka betul nyiksa badan. Masa otot kau hilang nanti, baru tau rasa." sewot Adinda yang membuat senyum malu Ghifar, menghiasi wajah pucatnya.
"Minta cium, Mak." ungkap Ghifar, yang membuat suasana terharu menyelimuti hati Adinda.
Adinda langsung mendaratkan ciuman sayangnya pada dahi, kedua pipi Ghifar, dagu dengan rambut tiga helai, terakhir pada hidung besar hasil warisan dari ayahnya tersebut.
"Cepat sembuh, anak bayi Mamah." ujar Adinda dengan suara bergetar.
"Aku sembuh, Mak. Aku tak apa, jangan ditangisi terus." sahut Ghifar, dengan mengusap air mata ibunya yang jatuh tak tertahan tersebut.
"Makan ya?" tanya Adinda yang langsung diangguki oleh Ghifar.
__ADS_1
Ghifar dibantu oleh Kinasya, untuk bisa duduk bersandar. Kemudian ia mengunyah makanan, yang ibunya suapkan ke mulutnya.
"Beli bubur di mana, Mak?" tanya Ghifar setelah merasakan makanan yang masuk ke mulutnya tersebut.
"Di depan sana, enak kah?" sahut Adinda yang diangguki oleh Ghifar.
"Minta teh manis, Mak. Tapi pakek teh tubruk." pinta Ghifar, yang membuat Adinda mengerutkan keningnya.
Sejak kapan anaknya suka dengan teh tubruk? Selama ini dia menghidupi anaknya, mengurus anaknya sedari ia masih merah. Adinda tak pernah melihat Ghifar meminum teh tubruk milik suaminya, meskipun anak-anaknya yang lain berebut teh tubruk buatannya tersebut.
Kopi
Ghifar penyuka kopi. Apa lagi, sejak dirinya merasakan cita rasa kopi dari kebun milik orang tuanya.
Adinda mengangguk, "Ya nanti, Mamah buatkan. Kau habisin dulu makanan kau." ujar Adinda kemudian.
Beberapa menit kemudian, Ghifar sudah menghabiskan semangkuk bubur ayam kampung tersebut. Lalu Adinda segera keluar dari kamar inap Ghifar, untuk membeli teh dan gula.
Adi mengangguk, "Adek mau ke mana?" sahut Adi dengan memperhatikan istrinya.
"Ke minimarket, beli teh sama gula. Abang butuh sesuatu tak?" tanya Adinda dengan mengecek isi dompet genggamnya.
"Gibran sakit, Dek. Minta mamahnya, siang malem nangis terus kata Giska." jawab Adi yang membuat Adinda mengerutkan keningnya.
Adinda menghela nafasnya, "Ya udah atur aja, Bang." balas Adinda kemudian. Lalu ia berlalu pergi, menuju ke minimarket rumah sakit.
Adi menggaruk kepalanya, ia merasa bingung harus memutuskan apa. Ia di sini tengah merasa amat sibuk, juga ia melihat istrinya yang tak kalah repotnya. Belum lagi permasalahan, yang belum menemukan titik tengah ini.
Keluarga Canda, yang hanya fokus pada keadaan Canda. Tak memutuskan apa pun, untuk pelaku yang telah membuat Canda berbaring di rumah sakit seperti ini. Belum lagi kondisi kesehatan Ghifar yang menurun, atas segala sesuatu yang menghantam hati dan batinnya tersebut. Membuat Givan terkatung-katung, karena kasusnya mangkrak yang disebabkan keterangan yang belum lengkap.
Adi membuka pintu ruangan tersebut, memperhatikan pemandangan Kinasya tengah mengatur laju alat infus Ghifar. Dengan Ghifar yang masih duduk bersandar, dengan memperhatikan aktivitas Kinasya tersebut.
"Mendingan, Nak?" tanya Adi dengan menghampiri tempat anaknya.
__ADS_1
Ghifar mengangguk dan tersenyum samar, "Aku… aku dapat mimpi. Buat tetap pertahankan Canda, Pah. Mungkin itu yang terbaik, buat masa depannya kelak." ungkap Ghifar tiba-tiba, yang membuat Adi memejamkan matanya sejenak. Karena sakit yang menyerang tengkuk lehernya, semakin terasa membebani bagian belakang kepalanya tersebut.
Kemudian Adi duduk di tepian ranjang, lalu tangannya terulur untuk memijat bagian tengkuk lehernya sendiri.
"Ya udah, besok kita ngomong ke keluarganya Canda." sahut Adi dengan memandang lantai rumah sakit tersebut.
Helaan nafas Adi terdengar begitu berat. Ia sejujurnya tak menginginkan keputusan Ghifar barusan. Karena ia paham, begitu berat jika harus memilih hal itu. Ia merasa Canda tak mungkin akan siap, jika tetap harus menjadi bagian dari keluarga si pelaku.
"Aku pengen ketemu sama dia, Pah." ujar Ghifar lirih.
Adi menoleh ke arah anaknya, karena feeling-nya mengatakan. Ghifar tengah dirundung rasa cengengnya kembali.
Jelas saja, Ghifar tengah menekan kelopak matanya dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Nangis tak apa, Nak. Biar kau plong." tutur Adi dengan menepuk pundak anaknya.
"Aku kasian sama Canda. Ngejar aku dia ke sana ke mari. Giliran aku udah di genggamannya, dia malah dapat nasib buruk. Coba malam itu aku kasih tau dia, kalau aku nginep di rumah abi. Mungkin dia tak bakal datang ke rumah itu, buat nganterin sarapan buat aku." ungkap Ghifar, yang langsung terekam jelas di kepala Adi.
Sebelumnya, beberapa kali pihak polisi menanyakan kenapa Canda bisa berada di kediaman pelaku. Namun, sebanyak apa dia bertanya ke pada Haris ataupun Givan sendiri. Ia tak mendapatkan jawaban, atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
"Terus… Canda ke rumah?" tanya Adi perlahan, mencoba menggali informasi terkait.
Ghifar mengangguk, dengan kepala tertunduk.
"Canda ke rumah, dia ajak aku car free day. Dia kata… dia sekalian mau bawakan aku sarapan."
"Tak lama dari pesan itu. Canda chat aku, katanya dia udah di depan rumah. Dia juga ada nanya, katanya kenapa pintunya tak dibuka-buka."
"Kalau waktu itu aku udah bangun, aku bakal langsung larang dia ke rumah. Feeling aku udah jelek sama bang Givan. Karena dia sebelumnya……
......................
Coba baca sinopsis ya 😅 tapi sebelumnya mohon maklum ya, alurnya memang lambat.
__ADS_1