Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS41. Door prize


__ADS_3

"Mas…. Aku rasanya mau muntah lagi." rengkuhan manja, kini Ghifar rasakan kembali.


Ghifar yang sudah amat tegang, dengan seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Bertambah kacau, saat Canda terlihat begitu pucat.


"Bang…" panggil Fira, membuat Ghifar menoleh kembali ke arahnya.


"Mas… tolongin aku dulu. Gak keluar-keluar, tapi mual banget." rengekan Canda, yang tengah berjongkok di samping kaki Ghifar.


Ghifar menoleh kembali ke arah Canda, dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hadeh…." hembusan nafas kasar, terdengar dari mulut Ghifar.


"Aku pamit dulu, Fir." ucap Ghifar, setelah menggendong Canda seperti pengantin baru.


Fira hanya mengangguk samar, dengan memperhatikan Ghifar yang semakin menjauh dengan perempuan bertubuh mungil di dekapannya.


"Siapa lagi itu? Kenapa bisa secepat itu Ghifar move on dari aku?" tanya Fira seorang diri.


Malam hari di mana mereka tengah menikmati malam minggu yang begitu membosankan, Ghifar kembali dikejutkan oleh seseorang yang mengajaknya untuk jalan-jalan.


"Is, ini nih Bi orangnya. Tiap kali ketemu, bikin aku kesel aja." ucap Ghifar dengan memandang ayah angkatnya.


"Apa sih, Mas? Aku mau ngajakin jalan-jalan, dapat door prize dari…" ungkap Canda, yang langsung duduk di sebelah Ghifar.


"Dari apa? Ya sana pergi sendiri! Aku tak beruang." ketus Ghifar dengan membuang wajahnya.


"Gak papa, gak beruang. Gajah, panda, ular, buaya, kadal sekalipun gak papa. Insyaa Allah, ada ayat penangkalnya." ujar Canda, yang membuat Haris dan Kenandra tertawa renyah.


"Dikira jin yang menyerupai binatang kau, Far." timpal Haris yang masih terdengar mentertawai wajah masam Ghifar.


"Ayo sih, Mas." ajak Canda kembali.


"Mas, mas, mas!!! Aku dari sebrang, panggil pakek sebutan bang! Tak ngeh aku di mas-mas." sahut Ghifar yang menatap malas, pada perempuan yang duduk di sebelahnya.


"Aku dari Jawa, diajarkan suruh nyebut mas ke laki-laki yang umurnya di atas kita. Aku gak mau bang-bangin Mas, aku gak biasa nyebut bang." balas Canda tak mau kalah.


"Serah kau lah! Pusing aku." terlihat Ghifar mengalah, dengan memperhatikan Canda yang tengah memamerkan gigi rapihnya.


"Pesantren kalau malam minggu bebas kah, Dek?" tanya Kenandra, yang baru dua kali ini melihat perempuan itu.

__ADS_1


"Aku dari Jum'at udah ngurus keluar dari pesantren, tapi belum dijemput sampai sekarang. Katanya sih dijemput Senin, ya jadi… gitu lah." jawab Canda, perempuan yang tiba-tiba menimbrung para laki-laki beda usia tersebut. Yang tengah menikmati kerang hijau, dengan cita rasa pedas itu.


"Sih malam minggu kemarin, kau ada di club?" sahut Kenandra, yang membuat Canda menoleh ke arah satu laki-laki yang ia kenal.


"Aku abis nyerahin tugas semesteran. Terus pas mau pulang, diajak teman. Katanya enak milkshake-nya, kan aku penyuka berbagai jenis milkshake. Ehh, gak taunya… malah dibawa ke tempat itu." jelas Canda yang mendapat anggukan dari Haris dan Kenandra.


"Tapi bener enak milkshake-nya?" ujar Haris, dengan memperhatikan gadis polos nan berisik tersebut.


"He'em, tapi mahal." tukas Canda, yang membuat mereka semua terkekeh geli.


"Coba tengok door prize kau punya." tutur Haris, dengan Canda langsung menyodorkan kertu yang cukup tebal di tangannya.


"Tiket sama hotelnya aja. Ini untuk keluarga, Dek. Maksudnya… bisa ramai-ramai berangkat." ucap Haris menjelaskan.


"Ya, makanya aku ajak Mas Ghifar." sahut Canda, dengan memandang Ghifar penuh harap.


"Kawan-kawan kau yang kemarin mana? Bisanya kau ajak laki-laki yang baru kau kenal?!" timpal Ghifar, dengan berpangku tangan sembari menolehkan kepalanya ke arah perempuan yang duduk di sampingnya.


"Gak mau aku, nanti dimasukin lagi ke club. Kan Mas laki-laki baik-baik." balas Canda, yang membuat Haris dan Kenandra terpingkal-pingkal garing.


"Kenapa kau sebut dia laki-laki baik-baik?" tanya Kenandra kemudian.


"A*eh kan daerahnya. Sifat, sikap, watak, kelakuan orang tak bisa disamaratakan." ungkap Haris yang membuat Canda menarik sudut bibirnya ke bawah.


"Tapi aku yakin, Pak. Dari ilmu yang aku pelajari, laki-laki itu keliatan dari sorot matanya. Karena dari penampilan kadang suka palsu, pinter ngaji, mana tau hobinya misahin bagian tubuh orang." jelas Canda yang membuat mereka semua bungkam.


"Dinda kedua ini. Dinda cuma ngandelin insting kek yang di sebelah kau, Far. Kau bikin list aja dulu, buat nama anak-anak kau yang huruf depannya sama." ucap Haris, dengan memperhatikan Ghifar yang moodnya sedang buruk tersebut.


"Mahesa, Mahira, Maharani, Maharina, Maladewa, Maladewi. Udah, tuh Bi." sahut Ghifar yang mengundang tawa Haris kembali.


"Nanti besok kau dijemput macam mana? Kalau waktu pemberangkatannya nanti malam?" tanya Ghifar pada Canda, setelah mengambil alih tiket milik Canda yang Haris pegang.


"Gak taulah. Aku cuma asal ngomong aja, keluarga jemput senin. Mereka gak ada yang peduli, gak ada yang ngurus aku. Aku dipondokin, karena itu alasannya. Soalnya, nenek udah gak ada sejak aku SD." ungkap Canda yang malah membuat Ghifar merasa tersentuh.


"Kau hampir dipondokin, gara-gara apa Far?" tanya Kenandra, dengan sesekali menghisap rokoknya.


"Gara-gara nonton b*kep." bukan Ghifar yang menjawab, melainkan Haris. Ia terlihat begitu puas, saat melihat pandangan kaget dari Ghifar.


Canda menahan tawanya, tatkala Ghifar masih terlihat syok dengan jawaban Haris barusan.

__ADS_1


"Jadi, Mas Ghifar, kau, sama siapa lagi ini Dek?" tanya Kenandra, yang mengambil alih tiket milik Canda yang berada di tangan Ghifar.


"Terserah. Yang penting Mas Ghifar ikut, buat jagain aku." jawab Canda yang mengundang kekehan dari Haris kembali.


"Boleh kali ya aku masuk list, tak pernah ke Bali soalnya." ujar Kenandra kembali, yang mendapat anggukan dari Canda.


"Lima orang ya, Bang? Si Adek, Ghifar, kau, Kin, Abi. Pas tuh kan?" tutur Haris dengan suara pelan, pada anak sulungnya.


Kenandra menoleh ke arah ayahnya, "Istri Abi mau dikemanakan?" tukas Kenandra, yang membuat Haris tertawa renyah.


"Ya udah sana sama betina kau, tinggal jajanin aja. Soalnya ini cuma tiket pulang pergi, sama hotel aja." putus Haris, yang mendapat anggukan dari semua pihak.


"Tapi Kin jagain betul-betul." ucap Haris, yang langsung diangguki kembali oleh Kenandra.


"Kau jangan mati di tempat orang, nanti aku disangka pelakunya lagi sama polisi setempat." ucap Ghifar, setelah membantu Canda berjalan ke tempat tidur.


"Telinga aku rasanya masih budek aja, mualnya gak habis-habis." ungkap Canda, tanpa memperdulikan ucapan Ghifar.


"Baru ya naik pesawat?" tanya Ghifar dengan wajah mengejek.


Canda menarik telinga Ghifar, dengan Ghifar yang langsung menoleh ke arahnya dengan senyum yang tertahan.


"Ngejekin terus! Dari kampungan, nyusahin, ini itu, tapi ditolongi juga." balas Canda, saat Ghifar membantunya untuk naik ke atas tempat tidur.


Posisi mereka sangat dekat, Ghifar junior pun mulai aktif bergerak dalam celana. Namun, Ghifar tak menyadari itu. Ia tak mengerti, kenapa sensor motoriknya tak seperti yang ia inginkan dalam otaknya.


"Mas… mau ngapain?" tanya Canda, saat Ghifar menempatkan kedua tangan Canda di atas kepalanya.


......................


Purnama mengambang (mereka) cuma berteman


Bintang berkelipan dan juga awan


Siapa tahu rindu yang mencengkam


Di hati (mereka) ku


😂🤣😝

__ADS_1


__ADS_2