Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS186. Diskusi tiga bersaudara


__ADS_3

"Ketahuan orang, bisa mati di tempat kau." Ghifar menakut-nakuti adiknya yang memiliki kelahiran di tahun yang sama tersebut.


"Maaflah, Bang. Jangan bilang mamah papah." ucap Ghava yang masih tertunduk lesu.


"Mau kau gimana sekarang?" tanya Givan, dengan membuka jendela kamar tersebut.


Angin menyeruak masuk menimpa wajah Givan, keringatnya begitu sejuk saat terkena hembusan angin.


"Katanya kau tinggal di pulau K, sama om Edo? Kalau kau nyaman di sana, udah aja kau di sana, balik pas lebaran aja. Dari pada di sini, ngerusak gadis sini." ungkap Ghifar, ia duduk di tepian ranjang tempat Ghava duduk dan bersandar.


"Perawannya bukan sama aku, Bang." bukan hal aneh, jika pada sesama laki-laki. Mulut laki-laki lebih frontal, jika menceritakan tentang aibnya sendiri.


"Perawannya bukan sama kau, atau sama kau. Kalau masanya dia ngandung, tetap lah kau yang ditarik, karena kau yang lagi sama dia, kau yang hamilin dia. Bukan yang ngambil keperawanannya buat nikahin dia itu, tapi kau Va." penuturan Ghifar ada benarnya juga. Ghava mengangguk samar, dengan masih memaandang lantai kamarnya.


Givan merasa tersindir dengan ucapan Ghifar. Ia merasa seperti itu pada Fira, lebih buruknya lagi Fira malah mengandung anak adiknya, selepas ia tinggalkan. Hal itulah, yang membuat ia terdiam karena perkataan Ghifar barusan.


"Aku tak mau nikahin dia." Givan dan Ghifar melempar pandangan, mereka tidak percaya dengan ucapan adiknya.


"Terus ngapain kau ajak main di kebun pisang? Kalau kau memang tak mau nikahin dia." tandas Givan dengan nada suara cukup mengagetkan.


"Dia minta aku jemput kuliah." jawab Ghava melirik kakaknya sekilas. Namun, ia cepat-cepat memalingkan wajahnya, saat melihat Givan memberinya tatapan tajam.


"Itu bukan alasan buat kau gauli dia. Macam Abang tak tau aja, kau bukan sekali ini bonceng itu betina." tambah Ghifar membuat nyali Ghava untuk membela dirinya sendiri, seketika menciut.


"Jangan jadi pengecut, Va." tambah Ghifar kembali.


Ghava meradang, ketika mendengar ucapan akhir dari Ghifar.


Ia menoleh pada Ghifar, dengan pandangan sadisnya.


"Kau aja gimana, Bang?" ujarnya dengan nada naik satu oktaf.


Ghifar mengerutkan keningnya, ia merasa dipojokkan balik. Ia berpikir sejenak, untuk mencari maksud dari ucapan adiknya tersebut.


"Abang pengecut? Dari mananya?" tanya Ghifar heran.

__ADS_1


"Abang mau, Abang ambil tiga-tiganya. Abang ambil resikonya, Abang tanggung biaya hidupnya. Pengecutnya Abang di mana?" lanjut Ghifar yang membuat Ghava bungkam.


"Jangan berbalik nuduh gimana-gimananya abang kau. Kau bermasalah tuh, kita-kita juga yang susah." Givan memberikan nasehat itu, semata-mata agar dirinya tak dipojokkan seperti Ghifar.


"Menurut Abang sih, biar tak berlarut-larut. Kau ambil opsi yang kata Abang baik aja ini. Jadi... Kau kan masih kuliah nih, kau kan cuti satu semester. Nah, kau lanjut kuliah kau sekarang. Tinggalin dulu belajar sawit sama om Edo, kau fokus sama gelar kau. Lepas kau diwisuda, kau lanjut belajar sawitnya." saran Givan, yang membuat Ghifar mengerutkan keningnya.


"Ya tak bisa gitu lah, Bang. Dia tetap pengecut, dia lari dari tanggung jawabnya. Masa habis dia nikmati anak gadis orang, dia kabur gitu aja?" sangkal Ghifar memperhatikan kakaknya yang masih berdiri di depan jendela.


"Winda tak hamil, Far. Ghava tak harus tanggung jawab untuk itu." tandas Givan kemudian.


Senyap beberapa saat, hanya hembusan angin yang memecahkan keheningan.


"Atau.... Kau nikahin dulu Winda secepatnya. Kau tinggal dia di sini, sama mamah. Kaunya lanjut kuliah, terus lepas wisuda kau baru ke om Edo. Kau lanjut belajar sawit, sambil kau boyong Winda ke sana." pilihan kedua yang Givan sarankan.


"Tunggu dulu. Kenapa aku harus nikahin Winda? Dia khianati aku, dia tak setia." sahut Ghava dengan pandangan lurus ke depan.


"Tanyalah ke abang kau itu. Dia tau jawabannya." Givan melempar pertanyaan itu pada Ghifar.


Perhatian tertuju pada Ghifar, yang tengah mengusap tubuhnya dengan kemeja miliknya.


"Bilang aja kau mau tau kenapa aku bisa bikin Fira beranak! Alasan tanya abang kau. Nyindir-nyindir. Aku paham kali, maksudnya Fira berkhianat, tapi malah punya keturunan dari aku kan? Kek gitu kan?" wajah Givan merah padam, atas tuduhan dari Ghifar tersebut.


Ghifar menghirup oksigen lebih banyak, "Karena setiap orang pasti memiliki sifat jelek. Kalau memang kita bukan orang baik, ya lahirkan orang baik dari hasil perbuatan kita." singkat, tetapi cukup untuk menjelaskan segalanya.


"Terus aku mesti kek mana minta nikah ke papah mamah? Mereka dari awal tak suka sama Winda." samar-samar, sepertinya Ghava memutuskan untuk mengambil opsi kedua.


"Biar abang-abang kau yang bantu ngomong ke papah mamah. Yang penting etika baik kau dulu. Datangi orang tua Winda, ngobrol baik-baik sama mereka." ujar Ghifar dengan menepuk bahu adiknya.


Ghava mengangguk, "Ya udah, Bang. Aku usahain buat halalin Winda, tapi aku pengen tetap lanjut pendidikan dulu. Kek mana ya, Bang?" putusnya kemudian.


"Kau semester berapa sekarang?" tanya Ghifar kemudian.


"Harusnya nih, dia tuh lagi nyusun skripsi kek Ghavi. Tapi dia KKN aja belum" jawab Givan, dengan berjalan ke kursi gamer milik Ghava.


"Si Winda semester berapa?" lanjut Ghifar, dengan menepuk pundak adiknya kembali.

__ADS_1


"Semester lima, Winda satu tahun lebih muda di bawah Giska." ujar Ghava dengan berdiri, kemudian meraih bungkus rokoknya.


"Jadi kek gini aja. Abang bantuin masalah biaya pernikahan, tapi kau kira-kira bisa tak ngasih makan Winda? Menurut Abang lagi, abis nikah, kau bawa Winda ke pulau K. Pendidikan kau sama Winda pun pindah ke pulau K. Sambil kuliah, kau sambil kerja juga." ide terbaik, tetapi tidak tahu mampu untuk Ghava jalani atau tidak.


Ghava mengangguk, "Ya, Bang. Kek gitu pun tak apa. Aku tak enak, sering diomongin orang-orang." sahutnya sambil senyum samar.


"Ya udah sana selesaikan sama sabun, terus junub." ujar Givan membuat tawa mereka menggema di ruangan itu.


"Bisa-bisanya milih kebun pisang buat jadi tempat." Ghifar kembali menyindir Ghava dengan tawa gelinya.


"Udah lah, Abang sih apa kali." pias malu keluar dari semburat di wajah Ghava.


Givan bangun dari kursi gamer tersebut, kemudian ia mendekat Ghava yang tengah berdiri di dekat jendela sembari merokok.


"Jangan diulangi lagi, Ok?" ucapnya kemudian.


Ghava mengangguk, mengepulkan asap rokok dari mulutnya.


"Ya, Bang. Nanti cari tempat yang aman."


Tendangan di tulang keringnya ia dapatkan dari Givan, dengan lemparan bantal dihadiahkan oleh Ghifar.


"Jantan dong, macam abang kau itu." Givan menunjuk Ghifar dengan dagunya.


Ghifar tersenyum kecut, rasanya ia ingin menyangkal hal itu.


"Antara jantan dan kurang pengalaman." ungkap Ghifar dengan menggosok wajahnya.


"Kenapa kurang pengalaman, Bang?" tanya Ghava memperhatikan kakaknya yang menguap beberapa kali tersebut.


"Kalau berpengalaman, tak mungkin ada Key." jawabnya dengan kekehan kecil.


Givan merasa tidak enak hati, mendengar candaan Ghifar. Ia merasa, dirinya dan Ghava terlalu berlebihan mengguraui Ghifar.


"Udah, Va. Abang kau keknya mau nangis itu." Givan sengaja mengucapkan hal itu, agar Ghifar mengerti bahwa semua tadi hanya gurauan semata.

__ADS_1


Ghifar memeluk bantal guling milik Ghava, "Canda.....


......................


__ADS_2