
"Nih, gendong." Kinasya memberikan Hamerra pada Ghifar yang baru muncul.
Lalu ia kembali ke dalam pintu, tanpa menjelaskan apapun pada Ghifar.
"Heh, kau masih utuh Nak?" Ghifar menciumi keponakannya. Ia cukup khawatir pada anak seusia putri cantiknya di rumah.
"Mana Icut, Far?" Givan baru sampai, setelah dirinya memarkirkan motornya.
"Lagi diurus keknya. Ini aku dikasih Memei sama kak Kin." ungkap Ghifar kemudian.
Hamerra merengek, anak itu belum bisa berjalan. Namun, ia enggan jika yang menggendongnya hanya berdiam di satu tempat.
"Yuk, yuk. Sama Ayah." Givan mengambil alih Hamerra.
Terlihat jelas oleh mata, bahwa Ghifar seperti tidak siap menjadi ayah.
Givan membawa Hamerra untuk melihat kendaraan yang berlalu lalang. Ia berjalan ke sebuah toko, untuk membeli air mineral.
Ghifar menyaksikan gesitnya Kinasya. Saat pintu ruangan yang tertutup rapat tersebut terbuka lebar.
Kinasya keluar dengan langkah cepat, lalu dirinya memutar sebuah ranjang beroda dengan begitu mudahnya. Kinasya tak menghiraukan keberadaan Ghifar, ia begitu fokus membawa salah satu ranjang itu untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ya Allah, kak Kin, kak Kin. Kau makannya apa? Rupanya rutin kau konsumsi sop swike." ucap Ghifar seorang diri, setelah menyaksikan kecepatan Kinasya dalam bekerja.
Setengah jam berlalu, Kinasya membuka pintu tersebut. Mengajak Ghifar untuk masuk ke ruangan yang memanjang itu.
Terlihat Ghava, Icut, seorang laki-laki dan seorang anak perempuan berusia lima tahun tergolek di masing-masing ranjang. Ghifar tak bisa menyimpulkan apapun, sampai dirinya mendapat penjelasan dari salah satu pihak.
"Ada yang perlu dirujuk ke rumah sakit besar kah?" tanya Ghifar, pandangannya terarah pada seorang petugas di dalam ruangan tersebut.
Ternyata Kinasya menjaga ruang UGD puskesmas hanya dua orang saja. Mereka juga mampu mengobati pasien kecelakaan, yang berjumlah lebih dari satu orang tersebut.
Kinasya menggeleng, ia memperhatikan Ghava yang paling dekat dengan posisinya.
"Luka ringan aja. Mungkin kalau udah pulang, perlu tukang urut keknya. Tangan kiri Ghava keseleo keknya. Bisa aja sih dibalut aja, kasih obat. Tapi orang-orang kampung macam Ghava kan, biasanya lama sembuh kalau tak manggil dukun pijit." Ghifar terkekeh geli mendengar ucapan Kinasya barusan.
__ADS_1
"Dasar orang kota, taunya obat aja!" sarkas Ghava, ia tidak terima dikatai orang kampung.
Ghifar berjalan ke ranjang kedua, untuk melihat keadaan Icut.
"Mana Kak yang sakit?" Ghifar memberikan perhatian kecil.
Icut menoleh pada Ghifar. Matanya berair dan sembab, bertanda Icut tengah menangis.
"Siku, dahi lecet, sama tumit aja. Dia juga mesti pijet tuh." Kinasya menjawab pertanyaan untuk Icut.
"Terus dia kenapa?" Ghifar menunjuk laki-laki yang terbaring dengan membuang wajahnya ke arah lain.
"Itu, Bang. Dia menantunya pak Asmana. Si Sunarto itu. Bonceng-bonceng Icut dia, Bang. Macam keluarga bahagia, ketawa-ketiwi di atas motor sama anak-anak mereka. Dikira halal kah?"
"Diperhatikan dari belakang, nampaknya memang ada sesuatu. Udah aja tabrak dari belakang. Nyungsep mereka ke sawah bekas panen."
Ghifar seperti orang bodoh, saat mendengarkan cerita adiknya yang terkenal sebagai tukang pukul itu.
"Masalahnya ada anak-anak, Va. Kau tabraklah kuat-kuat, kalau di motor itu tak ada anak kecil." Ghifar berpikir Ghava terlalu ceroboh mengambil keputusan.
Apa ia tidak memahami, kecelakaan itu bisa berakibat fatal.
"Gimana, Far?" tanya Givan, yang menghampiri Ghifar di ruangan itu.
"Ya begitu, harus bayar Bang." jawab Ghifar begitu prihatin.
Kinasya terbahak-bahak bersama rekannya. Ada saja gurauan sederhana, dalam kondisi seperti ini.
"Nih... Abang kau juga yang ngurus! Apa kan Abang kata? jangan berulah." ketus Givan, dengan melirik tajam pada Ghava.
Ghava membela dirinya, ia mengulang kembali ceritanya pada Givan.
Pandangan Givan langsung mengarah pada laki-laki tersebut, kemudian bola matanya bergulir ke arah Icut.
"Cut... Abang udah peringatkan kan? Ghifar udah peringatkan kan?" Givan berjalan ke arah Icut.
__ADS_1
Icut tak berani memandang kakaknya, tetapi ia memberi anggukan kecil.
"Aku anggapnya cuma kawan, Bang. Nyapa, negur biasa. Aku tak tau, kalau dia nganggap lebih dari itu." ungkap Icut kemudian.
Givan memperhatikan laki-laki yang tengah memperhatikan kondisi anaknya tersebut.
"Bang... Bukannya aku sombong. Ini di luar kendali aku sebagai orang tua kedua buat adik-adik aku. Tapi... Kau harusnya tau ada konsekuensinya kalau kau main-main sama keluarga aku. Itu baru tukang pukul yang maju. Kau belum pernah ngerasain santet dari tanah kelahiran aku kah, Bang? Tulang kering terikat kulit bambu, muntah paku, sampek penyakit kiriman kau belum pernah ngerasain kan? Mau coba kah, Bang?" anak-anak Adi pernah mendengar cerita akan ayahnya yang pernah terkena santet, saat merantau di kota C. Itu menjadi pembelajaran mereka semua.
Sunarto menggeleng, "Aku cuma iseng aja, Bang. Anak aku soalnya akrab sama dek Cut." jelasnya kemudian.
"Bukan berarti kalau udah akrab. Kau mau nikahin Icut, buat momong anak kau. Aku tanam juga pala kau di dasar sungai." ancam Kinasya tak main-main.
Mereka semua menahan tawa, harusnya Kinasya tak perlu buka suara.
"Ini peringatan buat kau di kemudian hari, Bang. Kau udah beristri, kasian istri kau di sana jadi asisten rumah tangga. Kau di sini tinggal nerima kiriman, malah isengin perempuan." perkataan Ghava terdengar begitu bijak.
Sunarto mengangguk, ia cukup trauma untuk kembali bermain-main dengan keluarga juragan.
"Mana yang sakit, Dek?" Givan mendekati anak Sunarto, yang berada di ranjang paling ujung.
"Dia yang paling lumayan. Tiga jahitan di pucuk kepalanya. Dia yang bonceng depan katanya sih, Bang. Makanya kehantam pucuk kepalanya dulu." Kinasya berjalan mengikuti Givan.
"Sakit, Dek?" Givan bertanya kembali, saat dirinya sudah berada di samping ranjang anak itu.
Anak itu mengangguk, ia seperti tertekan.
"Main-main ya ke rumah Memei nanti. Tapi main sendiri aja, jangan sama ayah. Ayah suruh kerja, suruh kerja di ladangnya teungku haji. Biar tak motor-motoran aja, kasian ma kau di sana kerja, buat belikan bensin motor yang ayah kau pakek jalan-jalan." Givan memberi pengertian pada anak tersebut, agar anak itu tak melupakan figur ibunya yang menjadi pahlawan devisa.
"Di sana juga ada Key, anak yang suka angon bebek itu. Adek tau tak?" tambah Ghifar, ia mencoba menghibur anak tersebut. Agar ia melupakan rasa sakitnya mencium sawah kering, yang baru saja panen.
"Tau... Dia nakal, tapi lucu. Cek Sanija pernah marah sama Key, dia nyekik bebek. Pas main tak sama Om, Key main sama tante Canda." ungkap gadis itu, membuat mereka semua membayangkan kelucuan Mikheyla.
"Iya, Key anaknya memang agak-agak anarkis. Tapi baik kok, suka berbagi mainan, suka ngasih jajanan." Ghifar mencoba membuat anak itu, tak menganggap Mikheyla nakal lagi.
"Ya, nanti Adek main ya? Nanti Om gali kubangan bebek di rumah, beli bebek juga. Biar kalian anteng pada main sama Key, sama bebek." tutur Givan, dengan mengusap rambut anak tersebut.
__ADS_1
Anak tersebut tersenyum lebar, ia terlihat seperti ibunya. Tapi ayahnya malah melupakan ibu dari anaknya, padahal wajah anaknya selalu mengingatkannya pada istrinya.
......................