
Tangan Haris melingkar di pinggang istrinya, dagunya bertumpu pada bahu istrinya.
"Abi minta maaf ya, Mi. Tak sakit kan? Berbekas tak? Coba Abi cek, Abi khawatir sama Umi, kepikiran Umi terus." ucap Haris begitu lembut.
Adinda yang menyusul ke arah dapur, cepat-cepat kembali ke ruang depan. Ia merasa malu, melihat romansa sang pemilik rumah.
Awalnya ia berniat untuk membantu Sukma membawakan makanan, tetapi ia malah menyaksikan Haris yang tengah memeluk mesra sang istri.
Hingga beberapa jam terlewati, Adinda terbangun dari tidurnya. Ia menepuk jidatnya sendiri, ia berulang kali tertidur di rumah dokter yang mendonorkan darah untuknya itu.
"Janda, nyelip aja di rumah orang. Bisa-bisa jadi yang kedua aku." ucapnya seorang diri, dengan mengucek matanya.
"Untungnya aku tak gampang bersyahwat. Godaan di depan mata, daging disajikan. Untungnya, untungnya..." ujar Haris menaruh kopinya di meja ruang keluarga, kemudian duduk di sofa dengan menyalakan televisi.
Adinda yang berada di ruangan yang sama, langsung sadar diri dan membenahi pakaiannya. Ia bangkit, kemudian duduk dengan menutupi bagian dadanya dengan kerudung yang ia kenakan.
"Mana anak aku, Bang?" tanyanya berbasa-basi.
"Di kamar lah, sama uminya. Tidur dia, dari tadi ngerengek bikin susu, eh ibunya udah mati duluan." ketus Haris dengan lirikan malasnya.
Adinda terkekeh geli, kemudian bangkit dari posisinya. Ia berjalan ke arah kamar mandi, berniat untuk mencuci muka.
"Dek...." panggil Haris, yang mengurungkan niat Adinda.
"Apa, Bang?" sahut Adinda, dengan kembali duduk di sofa yang sempat menjadi tempat tidurnya.
__ADS_1
"Shalwa hamil, bantu support ya. Maksudnya... Hibur dia gitu, anggap dia kawan kau. Keknya seumuran sama kau." ungkap Haris yang membingungkan Adinda.
"Siapa Shalwa itu? Pacar kau kah, Bang? Bisanya kau anggap dia seumuran sama aku? Nampaknya lebih matang aku deh, Bang." balasnya dengan memperhatikan Haris yang menyalakan ujung rokoknya, dengan exhaust fan yang sudah beroperasi.
"Adik kandung. Kelas dua SMA dia. Kau kalau lanjut SMA, kau kelas berapa kira-kira?" ujar Haris, yang mendapat lemparan bantal dari Adinda.
Adinda mendengus kasar, berbeda dengan Haris yang bingung dengan reaksi janda muda tersebut.
"Aku tersinggung! Kau kira aku keluar SD terus nikah? Aku udah matang kali ini, Bang. Dada aku mangkal, pinggul aku udah melar, stretch mark telah aku miliki juga. Kau samakan aku sama gadis SMA? Rupanya kau kira aku ini awet kecil kah?" Haris membungkam mulutnya sendiri, ia menahan tawanya agar anak-anaknya tidak terbangun.
"Berapa umur kau? Kecil-kecil kau udah beranak dua aja, mana jadi janda lagi." celetuk Haris begitu menyelebungi ulu hati Adinda.
"23 kalau tak salah. Tapi insya Allah, 24 tahun aku dapat suami lagi. Udah capek aku kerja, cuma buat beli susu formula aja ngeden betul. Mau jual diri, apalah daya? Aku tau diri, aku udah longgar. Suami aja ninggalin, apa lagi calon customer aku nanti." Adinda malah membatin, karena ia tengah berada di titik lelahnya bekerja.
"23 kau macam anak SMA sih. Lumayan lah dapat om-om mata sipit. Biasanya mereka cuma mau cium-cium kau aja, sama nemenin liburan. Kau udah dapat uang, buat penghidupan kau kelak tanpa suami. Nanti kau punya suami, malah jelek lagi. Mending janda aja, kau cantik, kau menarik, tapi berdosa buat aku." komentar Haris, yang mengundang tawa Adinda.
"Makanya aku sih... Lebih baik ternak burung, dari pada ternak betina. Satu aja pusing, bikin kebas hati." tambah Haris, saat mengingat pertengkaran kecil dirinya dengan istrinya barusan.
Adinda menghela nafasnya, kemudian bersedekap tangan. Lalu telunjuknya terulur ke arah Haris, "Curcol! Berantem sama kak Sukma lagi ya? Aduh... Anda ini tidak bersyukur. Jangan sampek, dia jadi benci laki-laki dan sukanya sama janda-janda macam uwehhh. Kasian loh, agamanya bagus dia Bang." ujar Adinda kemudian.
"Itulah... Aku tak suka, pas denger jawabannya tentang Shalwa yang tinggal di sini. Dia kata... Aku tak punya hati lah. Dia kata... Shalwa bakal tambah stress kalau hidup sama aku. Aku abangnya, aku tau bikin adik nyaman di lingkungan aku. Segala nyaranin buat nikahin aja si Shalwa, dia kira orang tua Abang tak malu kah? Ini aja, udah pusing tujuh keliling nutupin aib keluarga." Adinda melongo seperti orang bodoh, saat mendengar bahwa Shalwa hamil tanpa suami.
"Ya iyalah... Kau tak punya hati. Mereka berusaha hamil itu, agar bisa bersama. Kau malah boyong adik kau ke sini, Bang. Ya tak bisa urus buah cinta mereka sama-sama dong di Shalwa sama pacarnya itu." urat wajah Haris tak bersahabat, saat mendengar pendapat yang Adinda lontarkan.
"Itu kau nanti! Yang bakal dihamili pacar kau nanti, biar bisa hidup bersama! Shalwa masih terlalu kecil untuk berumah tangga, 17 tahun aja dia belum keknya." ucap Haris, dengan menghitung tahun lahir adiknya dengan jari tangannya.
__ADS_1
Adinda menempatkan telunjuknya di dagunya, ia terlihat seperti berpikir.
"Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi? Itu shalwa udah di sini juga. Kalau kak Sukma macam keberatan, aku tak masalah jadi ibunya anak Shalwa. Asal diapers, susu formula, pakaian, gaji pun aku dapat. Tak usah aku pansos, endorse, pulang pergi pulau orang, cuma buat hadirin pesta sama undangan aja. Belum jadi sales biji kopi, berbusa mulut aku rayu owner coffe shop." sahut Adinda yang membuat Haris tersenyum masam.
"Itu bukan jadi ibunya, tapi jadi baby sitter." balas Haris yang menciptakan tawa mereka.
"Ya, apalah itu. Anak kau, anak aku juga. Asal, masalah uang, anggap aja kita satu kandung." ujar Adinda membuat tawa mereka menggema.
"Singkatnya begitu, Kin. Tapi, masalah bayi kau pun udah dirundingkan balik. Coba baca balik Sang Pemuda season 1, episode 13 kalau tak salah." ucap Adinda, setelah menceritakan singkat tentang Shalwa.
Kinasya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, badannya terguncang dalam tangisnya.
Tiba-tiba, Haris mendekati Kinasya. Dengan anak itu, langsung memeluk pinggang ayahnya.
Tangan Haris terulur, membelai rambut anaknya yang diikat seperti ekor kuda.
"Anak siapapun Kin, Abi tetap ayah Kin. Sejak hari itu, bayi Kin yang masih di dalam kandungan. Udah Abi anggap macam anak sendiri. Abi sayang sama Kin, Abi peduli sama Kin." ungkap Haris lembut.
"Abi kasian sama aku, bukan peduli semata." sangkal Kinasya, padahal ia sendiri tak mengetahui kebenaran hati Haris.
Kinasya mendapat usapan di bahunya, ia menoleh ke arah seseorang yang menenangkannya.
"Umi pun sama! Umi pasti pergi dari rumah, karena Abi ambil keputusan buat asuh aku kan? Umi tak setuju itu kan? Umi tak sudi asuh aku kan?" tuduh Kinasya semakin meradang.
Sukma menggeleng cepat, tetapi mulutnya seolah tak bisa mengatakan alasannya meninggalkan rumah. Itu adalah aib mantan suaminya, yang tidak baik jika diceritakan di depan orang lain.
__ADS_1
"Itu karena Abi......
......................