
"Ya, Omah. Aku buru-buru, soalnya ada kerjaan di kota C." aku Givan dengan tersenyum samar, lalu ia bangkit untuk menghampiri neneknya tersebut.
Tangannya terulur, dengan punggung yang sedikit ia bungkukkan. Ia mencium tangan, seseorang yang dituakan di keluarga besarnya tersebut.
"Istirahat dulu, Nak. Icut lagi buatkan teh manis." ucap ibu Meutia, setelah Givan mencium punggung tangannya.
"Ya, Omah." sahutnya dengan kembali duduk di sofa mewah tersebut.
"Omah bilang ke tante Bena dulu ya, biar masakin masakan kesukaan kau." balas ibu Meutia, dengan memutar tubuhnya menuju ke arah dapur.
"Tak usah, Omah. Aku cuma mau ambil mobil aja, mau langsung berangkat ke kota C." ujar Givan yang membuat langkah pelan ibu Meutia terhenti.
Ibu Meutia memutar tubuhnya kembali, "Tapi nanti sempetin nginep di sini ya." tuturnya yang diangguki Givan.
"Iya, Omah. Aku mau lurusin punggung bentar, terus langsung berangkat lagi." tukas Givan, dengan merebahkan tubuhnya di sofa empuk tersebut.
Givan mengutak-atik ponselnya, untuk melakukan panggilan pada adiknya.
"Far…" ucap Givan saat detik dalam panggilannya berjalan.
"Ya, Bang. Ada apa?" sahut Ghifar kemudian.
"Ada di mana? Abang mau ke rumah mamah yang di kota C." balas Givan dengan memperhatikan Icut, yang berjalan pelan dengan teh manis di nampan yang ia bawa.
"Masih kerja, nanti jam 4 pulang." ujar Ghifar yang membuat Givan mengerutkan keningnya.
"Kau kerja?" tanyanya heran.
"Ya, Bang. Udah sebulan lebih, jadi OB di rumah sakit dinesnya abi." jawabnya membuat Givan manggut-manggut.
__ADS_1
"Ya udah, bentar lagi Abang berangkat. Mungkin jam 5, atau jam 6 Abang sampek sana." ujar Givan yang diiyakan oleh Ghifar.
"Ya udah, ya? Assalamu'alaikum." lanjut Givan kemudian.
"Wa'alaikum salam." sahut Ghifar dengan langsung memutuskan panggilan telepon tersebut.
Ghifar menghela nafasnya, ia teringat akan janjinya pada Canda pagi tadi.
"Cepatlah balik, jam delapan aku harus udah di tempat kerja." pinta Ghifar, saat melihat Canda tengah membereskan kasur lipat yang ia pakai tidur di ruang TV semalam.
"Nanti, Mas. Aku beres-beres dulu. Kalau di pesantren, wajib beresin tempat kita tidur langsung pas kita baru bangun tidur." sahut Canda, dengan mengambil beberapa bantal yang Ghifar gunakan semalam.
"Ini rumah mak aku, bukan pesantren." balas Ghifar dengan menikmati rokok paginya.
Canda muncul kembali, setelah ia masuk dengan membawa bantal-bantal tersebut.
Ghifar menekan puntung rokoknya, "Terus gimana, Dek? Mas mesti kek mana? Adek ini dari kemarin mas-masan terus. Mas pening dengar suara Adek." suara lembut Ghifar yang membuat Canda terkekeh geli, dengan berjalan menghampiri Ghifar. Lalu ia duduk di samping Ghifar, dengan menghadiahi Ghifar pukulan manjanya.
Ghifar terkekeh geli, dengan menoleh ke arah Canda.
"Kesel sama kau. Ada aja yang kau mas-masin, ini itu, mas lagi." ujar Ghifar kemudian.
"Aku begini kan manja ke Mas, kodrat perempuan kan memang manja. Kalau perempuan kehilangan sifat manjanya, nanti gak butuh laki-laki lagi." tutur Canda dengan bersandar pada lengan Ghifar, yang terekspos jelas. Karena Ghifar tak mengenakan kaosnya.
"Aku belum mandi, jangan nemplok aja." tukas Ghifar dengan menggerak-gerakkan lengannya, yang menjadi sandaran Canda.
Canda menegakkan punggungnya, lalu menyerongkan posisi duduknya.
"Mas ikut aku pulang ke Jawa yuk. Kita jadi peternak sapi aja, nanti aku minta modal kecil dari keluarga aku. Aku udah males kuliah, pengen jadi istri Mas aja. Masakin Mas tiap hari, kaya waktu di rumah omah itu. Aku, tante Bena, sama mamah Dinda, abis sholat subuh udah repot ngurus makanan. Terus…" ungkap Canda yang tejeda. Karena bibir Canda langsung dibungkam oleh telapak tangan Ghifar.
__ADS_1
"Yakin mau jadi istri aku?" tanya Ghifar tiba-tiba.
Namun, tanpa pikir panjang. Canda langsung mengangguk mantap, atas pertanyaan Ghifar barusan.
"Aku tak mau pacaran, aku tak mau kau nemplok begini terus. Aku tak suka kau terang-terangan deketin aku begini, aku tak suka kau menyerahkan diri kek gini. Kalau jodoh, kita pasti jadeh. Kau tak perlu spam chat, ini itu, ngelakuin hal-hal gila, buat dapetin perhatian aku. Tak perlu kau kek gitu. Yang penting kau gampang dihubungi, setiap kali aku hubungi kau. Jaga mahkota kau baik-baik, jaga harga diri kau. Kalau udah waktunya, kalau ekonomi aku udah berkecukupan, aku udah punya penghasilan sendiri, aku udah punya kerjaan yang menjanjikan. Aku pasti langsung ajak kau nikah." Ghifar menjeda ucapannya sejenak.
"Bukan karena tak ada perempuan lain, terus aku nikahin kau. Karena sejujurnya pun aku tertarik sama kau, tapi aku sadar diri, aku pun tak mau bikin kau kesusahan kelak. Biarin aku berusaha dulu, buat masa depan aku, masa depan kita. Yang penting kau jaga diri kau baik-baik, jaga mahkota kau aja. Tak perlu sengaja pulang telat, biar nginep di rumah kek gini. Aku malah ilfeel, kalau kau berlebihan kek gini." lanjutnya membuat senyum Canda mekar seketika.
"Tapi Ahya??" tanya Canda menggantung.
"Ahya cuma sahabat, cuma temen. Sejauh ini pun, aku udah kenal kau jauh. Udah cukup buat aku, buat tau tentang asal-usul kau. Balik lagi ke permasalahan hidup aku, ini masalah ekonomi. Terus… lagian kalau kita sering ketemu, yang ada aku tak bisa nahan syahwat aku. Meski dada kau kecil, kau cebol, bantet kek bolu kurang pengembang gitu. Tapi cukup bikin aku turn on, cukup bikin Black Mamba bereaksi." jawab Ghifar yang mendapat tarikan di telinganya.
"Tapi kata mamah Dinda aku montok, aku…" ucapan Canda terpangkas oleh Ghifar.
"Ya… tapi kau cebol. Kau pendek betul, macam mak aku. Aku kan pengen punya perempuan yang semampai gitu, biar foto preweddingnya bagus. Ini sih kau kecil betul, kau ngumpet di belakang aku juga tak nampak dari depan. Tapi apa daya… Allah udah jatuhin perasaan aku sama kau." jelas Ghifar yang membuat Canda bercampur aduk. Ia merasa terhina, tetapi akhir ucapan Ghifar membuatnya merasa segala usahanya tak sia-sia.
"Serius aku, Mas." ungkap Canda dengan memeluk tubuh Ghifar.
"He'em, serius. Doain aja, tahun-tahun selanjutnya kita udah sah. Lepas coba, aku tak mau dipeluk-peluk kek gini." sahut Ghifar dengan mencoba melepaskan pelukan dari Canda.
"Jadi kita pacaran?" tanya Canda, setelah pelukannya terlepas.
"Tak… biasa aja. Kalau aku udah siap, aku lamar kau. Kita temenin aja, tak usah pacaran, tak usah lebih. Tapi… itu tak akan pernah terwujud, kalau kau tak bisa jaga marwah kau, tak bisa jaga harga diri kau, tak bisa jaga mahkota kau." jelas Ghifar yang diangguki Canda, dengan senyum bahagianya.
"Tak usah spam chat juga. Kalau aku sempat, biasanya pun aku balas chat dari kau kan?" ujar Ghifar yang diangguki oleh Canda.
"Ya udah sana siap-siap, terus kau pulang. Nanti balik kerja, aku bawain belanjaan kau ke tempat kos kau. Kirim aja alamatnya. Aku mau tau, betulan tak tempat kos itu punya jam malam. Atau semalam cuma akal-akalan kau aja." tutur Ghifar, yang membuat Canda membentuk huruf O di antara jempol dan telunjuknya.
......................
__ADS_1