Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS226. Mengantar Ghifar


__ADS_3

"Ayo. Mana uangnya? Katanya mau makan besar?" Kinasya memberi jarak di antara mereka, kemudian mengulurkan tangannya pada Ghifar.


Ghifar menghela nafas, ia hanya bisa geleng-geleng kepala.


Ia berbalik badan, lalu menuju ke nakas yang tadi jadi tempat incaran Kinasya. Kinasya mengikuti langkah Ghifar dalam diam, pikirannya masih semrawut. Ia tak menyangka, kejadian singkat tadi malah terjadi dengan seseorang yang ia anggap adik sejak kecil.


"Mau masak apa sih? Jangan ikan, aku malas makan yang berduri. Apa atau apa gitu, pengen masa otot kek dulu lagi." ternyata Ghifar menyadari perubahan tubuhnya.


Kinasya menerima beberapa lembar uang merah dari Ghifar, ia menghitung nilai uang tersebut dalam diam.


"Ok. Udah ada ngomong, aku usahakan yang terbaik buat badan kau dan benih kau." Kinasya berjalan meninggalkan Ghifar.


Namun, ia kembali menatap Ghifar saat akan menutup kembali pintu kamar Ghifar.


Ia mengangkat sebelah tangannya, "Semangat sehat!!!" lanjutnya dengan semangat pejuang.


Ghifar terkekeh geli, kemudian memasukkan kembali dompetnya ke dalam laci nakas.


Lalu ia duduk di tepian tempat tidur, bayangan tadi masih saja berputar di pikirannya. Andaikan, andaikan, andaikan. Ghifar semakin kacau, karena harapannya terlalu lebih.


Namun, satu yang ia sadari. Begitu mudahnya menaklukkan perempuan, apa lagi ditambah dengan iming-iming uang.


~

__ADS_1


Esok harinya, Adi telah menunggu anak laki-laki yang ia beri nama Teuku Ghifar itu di dalam mobilnya. Ia masih melihat kabut pagi, yang mewarnai pandangan matanya.


Rasa dingin yang menusuk kulitnya, ia tepis hanya untuk menemani anaknya untuk mencari jalan keluar. Ya.... Adi menginginkan anaknya untuk sembuh. Ia tak menginginkan anak yang pandai berzina, mudah menggauli lawan jenisnya. Tetapi, ia pun tak ingin anaknya tak menikah. Ia ingin Ghifar hidup normal, memiliki seorang istri dan anak.


Adi ingin, putranya merasakan hal itu. Merasakan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.


"Dingin betul, mana kena air lagi. Macam rasanya disilet-silet." Ghifar muncul dengan tubuh menggigil, ia cepat-cepat masuk dan membenahi sabuk pengamannya.


"Nampaknya... Kawan betina yang mau Papah temui, sampek bela-belain subuh-subuh gini berangkat dari rumah." Ghifar memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menciptakan rasa hangat untuk dirinya.


"Yaa.... Tengok aja nanti." Adi tak terlalu banyak berkomentar, ia khawatir keceplosan. Karena itu kebiasaannya.


"Pah... Kakak ipar itu kek mana sih? Berat sekali kah perutnya? Sampek tak bangun-bangun tidurnya? Padahal belum buncit dia punya perut. Tak tega aku tengok mamah, dikejar-kejar terus sama Key. Mana mamah harus urus Gavin sama Gibran sekolah. Untungnya... Memei masih bisa kehandle kak Icut, meski dirinya lagi repot juga." Ghifar sengaja membuka obrolan, agar giginya tak bergelemetukan tiada arti.


"Kamuflase! Biar dapat predikat." Ghifar mengatai Canda, dengan menoleh ke jendela mobil yang berjalan tersebut.


"Bener sih bener. Wajar, manusia pasti ada sisi jeleknya. Ya... Namanya juga manusia, bukan malaikat. Tapi tuh, ya penuhi dulu tanggung jawabnya sebelum main HP. Mamah juga sama, kalau lagi santai ya HP aja. Tapi tanggung jawabnya udah terpenuhi, jadi dia tak menciptakan masalah baru dengan asik-asikan main HP itu."


"Tadinya itu mau bikin rumah sendiri, di tanah belakang rumah yang udah di beli itu. Tapi... Abang kau mabok jam tangan mahal. Beberapa kali kebeli jam tangan mahal, barang-barang abis masa trend yang dia beli melulu. Sampek pabriknya bermasalah, baru sadar dia setelah tak ada pemasukan. Jangankan rumah, ini itu support orang tua terus. Pernah ada bilang lagi, mau tidur di ruko lepas kau balik. Tapi begitulah, mana betah abang kau tidur di ruangan tiga kali empat. Tidurnya kek baling-baling bambu, tak cuma muterin kasur, tapi pindah tempat juga kalau terbangun tengah malam." Adi tengah mengeluarkan unek-uneknya, tentang anak laki-laki yang dulu selalu menghidupkan suasana redam di hatinya.


"Jadi?" Ghifar masih menyimak cerita ayahnya.


"Ya kan, mamah ambil bagian di saham Givan dulu. Dipisahkan itu rekening, karena ma kau tipe orang yang tak gila harta. Niat emak kau, mau dibuatkan rumah dari hasil saham yang udah terkumpul itu. Tapi, abang kau sering minjem duit. Orang tua ke anak, tak bisa Far minjemin. Papah ke kau aja, memang Papah bilang modal produksi kebun kau pakek uang Papah dan harus kau ganti. Nyatanya... Uang yang Papah ambil dari hasil panen kau itu, tak bisa nutupin uang produksi selama empat tahun itu. Uang yang Papah ambil, itu itung-itung buat tabungan kau nikah aja. Karena, meski anaknya mampu. Anak nikahan itu, orang tua pasti ngeluarin uang. Bukan Papah tak mau ngeluarin uang pribadi, dengan cara nyimpen uang hasil panen kau. Tapi kan itu bagus, kalau anaknya punya tabungan juga. Ghavi aja nih... Dia kerja, berhasil dia. Foya-foya kah dia? Tak! Ada uang, serahin ke ma kau. Kadang, udah jadi emas, dia kasihkan ke ma kau. Dia bilang, simpan mah buat nanti aku menikah." pembicaraan Adi merambat ke mana-mana.

__ADS_1


"Jadi uang saham yang mamah simpan, masih utuh itu?" Ghifar tertarik untuk menyimak tentang cerita kakaknya.


Adi menoleh sekilas pada anaknya, "Udah habis. Sisa satu M, kasihkan itu rekening. Dihabiskan entah buat apa. Mamah rencananya mau buatin rumah mewah, kan harus banyak itu dananya. Macam rumah yang kita tempati aja itu udah empat miliar dulunya, sekarang entah berapa tinggi harganya karena banyak renovasi." Ghifar geleng-geleng kepala.


Dirinya yang puluhan juta saja, mampu untuk menghidupi beberapa wanita dan menyenangkan hati keluarganya. Belum lagi materi yang ia miliki. Mobil travel elf, maupun mobil pribadi, tentu memiliki harga yang harus Ghifar raih untuk memilikinya.


Bukannya ia membandingkan dirinya dan kakaknya. Hanya saja, ia merasa heran dengan nilai tinggi tetapi tak memiliki aset apapun. Bahkan, dirinya pun tak pernah memiliki uang sebesar satu miliar.


Uang hasil panen besarnya pun, sudah dikelola oleh pihak bank. Untuk membayar gaji pekerjanya setiap bulan, di bulan-bulan berikutnya. Sampai tiba di masa panen kembali.


"Mungkin karena buat gemukin kakak ipar. Bentuk badan gitu kan, tak cuma usaha. Tapi asupan juga penting." Ghifar mengutarakan kesimpulannya.


"Awal-awal aja masak sendiri, beli beras sendiri. Pas beberapa bulan, mogok juga, tetep orang tua. Bukannya Papah pelit. Uang itu berkah, kalau dipakek makan loh Far. misal nih, Papah punya lima puluh ribu. Papah kasih ke mamah kau semua. Dipakeknya beli beras, beli sayur, terus dimakan Papah dan anak-anak Papah. Hasil kerja keras Papah itu berkah, ada mudorotnya. Perut anak-anak Papah kenyang, perut mamah kau juga kenang. Mereka bisa tetap hidup, karena asupan makanan yang sumber uangnya Papah usahakan." Ghifar manggut-manggut. Ia mencoba memahami nasehat ayahnya, karena orang tua tidak akan mengelabui anaknya sendiri.


Ia malah teringat lembaran uang berwarna merah kemarin. Ia berikan pada seseorang, yang bukan istrinya.


Terukir senyum piasnya. Entah apa yang ia rasakan. Ghifar hanya menunduk, dengan senyum manis yang begitu lepas. ia terlihat amat bahagia. Oh, bukan. Lebih tepatnya, ia amat bangga. Karena hasil jerih payahnya, ia berikan pada orang tersebut. Lalu orang tersebut mengolahnya, membelikan banyak makanan, untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarganya.


Secuil kebahagiaan. Ia merasa senang, bisa membuat perut keluarga kenyang. Ia bersyukur, dengan rezeki yang ia terima.


......................


Nasehat-nasehat papah Adi tuh, jangan dilupakan loh pas nanti tamat 🤭

__ADS_1


__ADS_2