
"Tanpa kau minta pun, Abi pasti jagain kau semampu Abi." sahut Haris dengan menyunggingkan senyum samar, meski tak diketahui oleh Ghifar.
"Aku mau muat lagi, Bi. Nanti selesai aku langsung ke rumah Abi." ujar Ghifar yang langsung diiyakan oleh Haris.
Kemudian, Ghifar langsung bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Karena ia berniat untuk membenahi rumah ibunya saja, yang lama tak ditempati tersebut. Untuk ia tinggali, selama ia berada di kota C ini.
~
Setelah Ghifar menunaikan sholat isya, Ghifar langsung bersiap-siap untuk menuju ke rumah Haris. Ia pun sudah diberitahukan, untuk naik beberapa kali angkutan umum atau ojek online saja. Namun, Ghifar yang mendapatkan upah 150 ribu dari pekerjaannya tersebut. Lebih memilih untuk menaiki angkutan umum saja, karena lebih terjangkau dibandingkan dengan ojek online.
"Makasih ya Pakde. Kalau butuh tenaga aku lagi, tinggal telpon aja. Aku malam ini di rumah abi Haris, mungkin besok baru beresin rumah mak." pamit Ghifar, sembari menunggu angkutan umum yang lewat.
"Ya, Far. Ati-ati, yang pandai jaga diri." sahut Arif dengan mengulurkan tangannya, untuk mengusap punggung tegap keponakannya.
"Ya, Pakde. Tuh elp-nya datang. Pergi dulu, Pakde. Assalamu'alaikum…" ujar Ghifar dengan menyetop kendaraan umum tersebut.
"Ya, wa'alaikum salam." sahut Arif, dengan memperhatikan Ghifar yang masuk ke dalam kendaraan umum tersebut.
Ghifar menoleh ke kiri dan kanan, karena kendaraan yang ia tumpangi tak kunjung berjalan. Namun, ia membulatkan matanya saat mengetahui bahwa kendaraan tersebut menunggu seorang wanita yang berjalan dengan terburu-buru.
'Langganan rupanya, tiap malam minggu dia pergi macam ini. Jangan-jangan, dia jualan barang basah lagi.' gumam Ghifar saat Canda masuk ke dalam kendaraan umum tersebut, lalu segera menduduki kursi kosong di sebelah Ghifar.
"Jangan-jangan kita jodoh." ucap Canda dengan nada riangnya.
Ghifar menolehkan kepalanya ke arah wanita berparas kearab-araban tersebut. Mata mereka bertemu, dengan senyum Canda yang semakin meningkatkan daya kecantikannya tersebut.
"Jodoh-jodoh, jidat kau trapesium! Menantu buat orang tua aku wajib khatam Al-Qur'an, pandai masak, berbakat buat ngasih cucu banyak juga." sahut Ghifar, dengan menatap jendela yang berada di samping kirinya.
"Setiap tiga bulan sekali, aku khataman Al-Qur'an. Aku hafal 30 juz, 114 surat, 6.236 ayat juga 77.845 kata. Jadi bagaimana? Masuk kriteria orang A*eh gak?" ungkap Canda, yang membuat Ghifar tak percaya.
"Bisa masak apa? Minimal ayam tangkap, untuk jadi orang sana. Aku delapan bersaudara, mana mirip semua macam bapak aku. Jadi… kau bisa ngasih berapa keturunan yang mirip sama bapaknya anak-anak?" balas Ghifar, yang tak kehabisan akal.
__ADS_1
Canda melongo sembari menoleh ke arah Ghifar, dengan menyeimbangkan tubuhnya karena laju kendaraan yang tak bisa ditebak tersebut.
"Banyak banget anaknya. Emang gak pakai KB?" tanya Canda kemudian.
"Pakek, itu udah diminimalisir. Kalau tak KB, mungkin nanti aku 20 bersaudara." jawab Ghifar enteng.
"Solot nemen." suara reflek Canda, saat mendengar penuturan Ghifar barusan.
"Apa tuh?" tanya Ghifar dengan menaikan sebelah alisnya.
"Gak. Mas mau ke mana? Kenapa dichat gak dibales?" ujar Canda, mengalihkan topik pembicaraannya.
'Memang santri agresif macam itu kah ke laki-laki?' gumam Ghifar, dengan memperhatikan jalanan yang ia lewati.
"Mau ke mana, Mas?" ulang Canda, karena tak mendapat jawaban dari Ghifar.
"Ke tempat ayah angkat." nada suara Ghifar terdengar begitu acuh.
"Aku tak nyaranin kau buat kos. Itu sih memang kemauan kau sendiri, biar kau bebas keluyuran." sahut Ghifar yang tak terima, akan ucapan Canda barusan.
"Kan aku masih ngemban pendidikan di sini, Mas. Jadi keluar pondok, aku tetep tinggal di kota ini." jelas Canda, yang membuat batin Ghifar menggerutu, 'Siapa yang nanya? Aku tak butuh penjelasan juga.'
"Mas…." panggil Canda lirih, dengan mencolek lengan Ghifar.
"Apa lagi sih?!" sahut Ghifar kesal.
"Itu ongkosnya diminta kernet." terang Canda, yang membuat Ghifar amat malu. Karena dirinya menjadi perhatian beberapa penumpang, juga kernet kendaraan umum tersebut.
Ghifar langsung merogoh ongkos yang sebelumnya sudah ia siapkan, di kantong kemejanya. Setelah itu, ia memberikan uang pecahan sepuluh ribu tersebut pada seorang laki-laki yang berdiri di pintu kendaraan.
Ponsel Ghifar berbunyi, dengan segera ia mengambil ponsel dari saku celananya tersebut.
__ADS_1
'Mamah Dinda. Aduh… macam mana ini?' gumam Ghifar dengan masih memperhatikan nama yang tertera di layar ponselnya.
[Tak angkat telepon, sembilan bulan kemudian kau bakal punya adik lagi!] Pesan masuk, yang muncul di bar notifikasinya.
Ghifar langsung menelpon balik ibunya tersebut. Seketika rasa takut dimarahin, juga takut akan ancaman ibunya menyelubungi dirinya sekarang.
"Maaf, Mak. Aku lagi di elp, tak enak kalau telponan di kendaraan umum." ucap Ghifar mendahului, kala Adinda baru mengucapkan hallo saja.
"Mau ke mana, Nak?" suara lembut, yang membuat rasa was-was Ghifar hilang seketika.
"Ke Abi, Mak. Aku…. Mau malam mingguan sama Abi. Tadi udah janjian di chat, katanya mau makan kerang di tempat langganan." ungkap Ghifar jujur.
"Ohh… bungkusin buat Mamah, yang pedas." ujar Adinda, yang tanpa sadar langsung disanggupi oleh Ghifar.
"Tapi kira-kira sampek sini jangan sampek basi." timpal Adinda, yang membuat Ghifar menepuk jidatnya sendiri.
"Nanti aku masakan sendiri buat Mak, kalau aku balik kampung Mak. Aku kangen sama Mak, pengen dikirimin nasi sama lauk pakek rantang." ungkap Ghifar begitu saja, yang membuat suasana hatinya menjadi melow.
"Mamah mewek di sini. Jangan bikin Mamah nekat mau jemput kau. Belajarlah dari abang kau, coba tanya apa resepnya kuat di rantau orang." balas Adinda, yang membuat Ghifar berpikir bahwa dirinya kembali dibandingkan.
Sifat warisan dari ayahnya kembali menguasai dirinya, "Aku bukan bang Givan, Mak. Maaf aku tak bisa macam dia, yang selalu menjadi panutan adik-adiknya." ujar Ghifar dengan nada menurun.
"Tak bandingkan. Kau anak Mamah yang paling nurut, cuma sayang baperan aja. Setiap Mamah ngomong macam ini, kau jangan tersinggung. Karena harapan Mamah kau sama abang kau ini akur, apa lagi dengan basa basi nanya resep kuat di rantau orang. Karena cuma kau, yang dari dulu renggang sama abang kau. Apa lagi… gara-gara masalah Fira kemarin." jelas Adinda, yang membuat Ghifar teringat kembali permasalahannya kemarin.
"Aku udah biasa aja, Mak. Hati aku udah baik-baik aja. Aku pun udah biasa aja sama bang Givan. Ngeributin perempuan yang udah nampak tak bener dari segi manapun, buat apa masih dipendam di hati aja." tutur Ghifar, yang malah teringat akan nasehat dari ayahnya kembali.
"Yang ikhlas, Far. Logikanya……
......................
*Solot : Kuat/Lahap dari bahasa kota C.
__ADS_1