Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS205. Kedatangan yang ditunggu


__ADS_3

Dua minggu kemudian


"SAKIT SEKALI EVERYBODY." teriak kesakitan berasal dari halaman rumah mereka.


Mereka yang tengah mengaji di dalam rumah, langsung bubar untuk mencari keberadaan sumber suara.


Tangis menggelegar bersamaan dengan suara rintikan hujan. Mereka panik, mendengar suara itu.


"Eh, itu ada mobil papah." Kinasya menunjuk ke arah luar rumah, lewat jendela ruang tamu yang ia intip.


"Mana?" Givan mendahului untuk keluar dari rumah.


"Payung mana?" Givan kembali masuk untuk mencari payung, kala menyadari ternyata orang tuanya terjebak hujan.


"SAKIT PAPAH.... PUCUK AKU ABIS." teriakan yang menambah khawatir mereka yang menunggu di teras.


Givan membelah hujan bersama dengan Kinasya. Karena di rumah itu hanya tersedia dua payung.


"Mah...."


"Pah...."


Givan dan Kinasya mengetuk-ngetuk kaca jendela yang terlihat begitu gelap. Bahkan pantulan lampu dari dalam mobil, sampai tak terlihat dari luar jendela itu.


Adinda menurunkan jendela yang diketuk oleh Givan, "Di mundurin aja kah mobilnya? Deres ya hujannya?" tanyanya kemudian.


"Ya udah, Mah." Givan mengajak Kinasya untuk kembali ke teras rumah.


Lampu mobil milik orang tuanya menyala, mobil itu berjalan perlahan menuju ke teras rumah mereka.


Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka. Adinda keluar perlahan, dengan sigap Givan memayungi ibunya agar tidak terkena rintikan hujan. Mobil itu hanya mampu berhenti tepat di depan teras rumah mereka.


Karena lantai teras memiliki anak tangga yang cukup tinggi, mobil itu tidak bisa naik ke atas teras.


"Gibran dulu, Bang." pinta Adinda yang masih berdiri di depan pintu mobil itu.


"Aku dulu. Aku hampir mati kesakitan." rengekan Gavin begitu mengganggu.


Mereka semua terkekeh, karena samar terlihat kedua adik-adiknya mengenakan segitiga penutup yang memiliki batok. Adik-adiknya telah bersunat.


Ghifar maju, menyerahkan anaknya untuk diambil alih oleh Canda. Dirinya melepaskan baju kokoya, agar tidak terkena tetesan air hujan.


"Coba payungin, Vi. Abang mau ngeluarin Gavin dulu." ujar Ghifar dengan mengambil alih payung di tangan Kinasya.


"Sini, Mah." Ghifar mengajak ibunya, untuk berjalan menuju teras.


Setelahnya, Ghifar dan Givan membantu memindahkan Gavin dan Gibran.

__ADS_1


"Tolongin aku, Bang. Aku berdarah." ujar Gavin, saat berada di gendongan Givan.


Mereka semua terkekeh, mendengar ucapan anak itu.


"Sini, Pah. Biar aku yang urus mobilnya." Ghifar menghampiri pintu ruang kemudi, mangajak ayahnya untuk ikut dengannya.


"Nanti tolong oleh-oleh dipindahin, Far." Adi merangkul pundak putranya, saat mereka berjalan beriringan di bawah naungan payung tersebut.


Hal itu saja membuat Ghifar senang. Ia bahagia, ternyata ayahnya sudah tidak lagi marah padanya.


"Ihh, keteknya bau." Gibran meminta turun dari gendongan Kinasya, kemudian ia langsung menggodai Mikheyla.


"Dak au." Mikheyla menutupi ketiaknya, raut wajahnya terlihat seperti canggung.


"Bau, Adek Key belum mandi. Jangan deket-deket, Adek Key bau ketek." ucapan Gibran, membuat Mikheyla menyesapi bibirnya sendiri. Ia hampir menangis.


"Aduh, aduh, aduh... Tolong. Sakit." perhatian mereka tertuju pada Gavin, yang baru saja diturunkan Givan di sofa ruang keluarga.


"Lebay betul sih kau!" ketus Givan memperhatikan rengekan adiknya.


"Abang tak rasain sakitnya! Abang tak tau rasa yang aku rasain!" drama Gavin dengan memperhatikan ibunya yang mondar-mandir membawa uluran barang dari Canda.


"Abang kau udah sunat duluan. Dia tau rasanya, Van. Tapi tak lebay macam kau. Nyusahin aja kau dari rumah sakit tadi, padahal udah janji tak ngamuk." Adi duduk di sofa yang Gavin tiduri.


Anak-anak yang lain, terlihat membantu Adinda yang mengunjal barang yang Ghifar taruh di teras rumah.


Givan menghidangkan teh manis di atas meja keluarga, ternyata beberapa saudaranya sudah duduk mengisi tempat di sofa.


"Papah..." Gavin berkaca-kaca, setiap kali melirik batok keras di tengah-tengah tubuhnya.


Tangan Adi terulur, memijat kaki anaknya.


"Tak apa. Nanti sembuh." suara santainya, menjadi pusat perhatian.


Bukan, bukan.


Saat mata mereka tertuju pada sumber suara, mereka menemukan beberapa tanda di leher dan jakun ayahnya.


Anak-anak yang sudah dewasa, mereka mengerti tanda merah pekat tersebut. Liburan dalam artian sebenarnya. Ayahnya membutuhkan privasi bersama istrinya.


Mereka mencoba memahami, bahwa hanya itu hiburan untuk ayahnya.


"Mau pipis, tapi takut." ungkap Gavin, dengan sudut bibir tertarik ke bawah.


Sang ayah terlihat tengah fokus pada ponselnya. Ia tengah membalas chat seseorang.


"Yuk, Papah bantuin." Adi menaruh ponselnya, kemudian berdiri dan mengajak anaknya untuk bangun.

__ADS_1


"Tapi kalau berdarah kek mana, Pah? Pucuk aku ngelupas." awalnya Adi dan Adinda tak mengerti, dengan sebutan pucuk yang Gavin sebutkan untuk menunjukkan inti tubuhnya.


"Tak berdarah." Adi sudah malas meyakinkan anaknya. Mulutnya seperti berbuih, berhari-hari membujuk untuk meyakinkan anak itu.


"Vi... Tolong geserin sofa, mejanya juga. Pompa kasur, taruh di ruangan itu. Mamah Papah mau tidur di situ sama Gavin Gibran." pinta Adi dengan menggendong Gavin ke arah toilet yang berada di sebelah dapur.


"Salin, Dek." lanjut Adi memberikan perintah pada istrinya.


"Ya, Bang." sahut Adinda segera bangkit.


"Gibran, jangan lari-larian." seru Adinda, saat melihat anaknya berlari mengejar Mikheyla.


Tangis Gavin menggema dari sudut belakang. Namun, beberapa dari mereka sibuk membereskan ruangan yang hendak ditempati oleh ayah dan ibunya.


Tangis wajar dari seorang anak laki-laki, yang selalu enggan untuk bersunat.


"Bang Ghava... Ini Gavin minta pucuknya dikipasin. Papah mau bersih-bersih dulu." seru Adi, saat melihat Ghava muncul dari pintu samping rumah, yang setengah terbuka. Karena Yoka tengah menyapu ruangan tersebut, sebelum ditempati tuan rumah rumah itu.


Ghava mengangguk, berjalan menghampiri ayahnya. Untuk mengambil alih adiknya yang digendong seperti bayi.


Brukkk...


"Adu.... A tek." Mikheyla terduduk di lantai dengan memeluk bola karet yang memiliki duri tumpul, setelah dirinya berlarian dan menabrak seseorang.


Adi seperti merasa dejavu. Ingatannya mengulang saat Givan kecil tengah bermain bola karet, di suatu sudut mall, tempat ibunya menggelar peluncuran novel karyanya. Saat di mana dirinya belum terlalu akrab dengan wanita yang sekarang menjadi istrinya itu.


Adi menunduk, membantu gadis kecil itu yang tengah mengusap dahinya. Mikheyla merasa sakit pada dahinya, karena menabrak tulang kokoh seseorang.


"Atek lagi? Kakek! Key yang nabrak Kakek." ujar Adi kemudian.


Mikheyla tak menghiraukan perkataan Adi. Ia berlari dengan kaki kecilnya kembali, menuju dapur untuk mengikuti seseorang yang berjalan ke arah sana.


Adi melepaskan kancing kemejanya perlahan, dengan berjalan menuju pintu kamarnya. Beberapa dari mereka, melirik pada gambaran dada bidang yang memiliki tatto alami.


"Mantap, ma kau." Kinasya mengacungkan jempol pada Ghifar.


Ghifar tertawa tertahan, dengan menggelengkan kepalanya. Ia pun melihat tanda itu, karya rahasia dari ibunya yang jarang terlihat di mata dewasa mereka.


Adi mencuri kecupan di bahu istrinya, yang tengah berganti pakaian di walk in closed mereka.


Adinda mendelik tajam, pada si tukang iseng tersebut.


"Masih kurang aja!" ketusnya membuat Adi tertawa lepas.


"Sering-sering ya, Sayang?" ujar Adi dengan melangkah masuk ke dalam kamar mandi pribadi mereka.


......................

__ADS_1


__ADS_2