Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS111. Haikal berkunjung kembali


__ADS_3

"Mau ke mana?" tanya Adi, yang melihat anaknya mencari-cari keberadaan sendal karet.


Adi tengah menimang Gibran, dalam kain jarik yang terikat di pundaknya. Anak itu tengah diusahakan untuk tidur, karena Gibran tengah rewel. Adi menyadari bahwa anak itu memiliki sariawan di lidahnya, membuat anak bungsunya tidak mau makan dan selalu merengek ketika ingin tidur.


"Ke depan situ. Mau ngobrol-ngobrol bentar." sahut Givan, dengan menunjuk pertigaan jalan yang berada di sebelah rumah mewah kediaman keluarganya ini.


"Jangan malam-malam. Kasian istri kau nunggu." celetuk Adi yang mendapatkan senyum malu anaknya.


"Mamah kali yang nunggu Papah, masih melek mamah sambil liat TV." ujar Givan kemudian.


"Mamah kau nunggu salad buah, ini Papah lagi nungguin Haikal nganterin. Katanya Haikal udah tiga hari di sini, ke sini mau nganterin pesenan mamah kau, sambil mau ngobrol sama Papah." ungkap Adi, dengan memperhatikan anaknya yang berjalan ke arah pagar.


Givan tak menyahuti ucapan ayahnya, karena ia sudah melihat teman-temannya yang tengah duduk sembari menunggu kehadirannya tersebut.


"Jam sembilan keluar nongkrong, balik-balik setengah dua belas. Kakak ipar kau udah tidur duluan, tak jadi mereka penyaluran. Begitu terus siklusnya, sampek lahir anak kak Icut. Terus anaknya manggil kau pak cek, Nak." ucap Adi dengan membelai wajah anaknya, yang tengah terlelap dalam gendongan kain jarik tersebut.


Adi masuk ke dalam rumahnya, berniat merebahkan tubuh anaknya dalam ranjang milik anak bungsu tersebut.


"Assalamu'alaikom....." suara yang berada di ambang pintu utama rumah Adi.


"Wa'alaikum salam...." Adinda menyahuti sembari bergegas menuju sumber suara.


"Ini, Mah." ucap sang tamu, saat melihat wajah Adinda.


Haikal mencium tangan Adinda, kemudian memberi salad buah pesanan Adinda.


"Kok cuma satu sih, Mah?" tanya Haikal yang nyelonong masuk ke dalam rumah megah tersebut.


"Buat Giska aja. Mamah enek kalau makan putih-putih kental begitu." jawab Adinda, membuat Adi yang baru keluar langsung tersenyum mesum.


"Anti nelen dia." timpal Adi yang membuat dua laki-laki tersebut tertawa di atas ketidak pahaman Adinda.


"Mana Rashi? Pengantin baru kan?" ucap Adi, saat Haikal berjalan ke arahnya. Kemudian mencium tangannya.


"He'em, udah tidur dia. Ternyata... Tak biasa dia bangun pagi, bangun subuh kek gitu. Akhir-akhir ini, aku paksa dia bangun buat subuhan. Jadinya malamnya tidurnya cepet terus, Pah." sahut Haikal, yang masih berdiri di hadapan Adi.


"Sini duduk, Mamah nanti buatkan kopi." ajak Adi, lalu dirinya tersenyum penuh harap pada istrinya.


"Papah teh, teh manis gula sachet." ujar Adinda, yang membuat Adi membuang nafasnya kasar.

__ADS_1


"Ya udah deh. Sama cemilan juga, Dek." pinta Adi yang diangguki istrinya.


"Pah... Aku minta kerjaan. Aku udah resign, udah ngurus pindah alamat juga." ucap Haikal, yang mengalihkan perhatian Adi.


"Kau nikah tak undang-undang Papah sih? Diem-diem aja." sahut Adi dengan menoleh ke arah anak mantan tunangannya tersebut.


"Nikah KUA Pah, bunda aja tak datang. Cuma ayah, istri ayah, sama keluarga dari Rashi aja." balas Haikal kemudian.


"Mau di ladang, apa mau di pabrik?" tanya Adi, dengan meregangkan otot lehernya.


"Di pabrik pengolahan biji?" Haikal bertanya kembali, yang hanya mendapat anggukan kecil dari Adi.


"Aku di ladang aja, Pah. Kerja berat sedikit, tapi uangnya lebih nyata." sahutnya yang membuat Adi terkekeh geli. Adi sudah mengira hal itu, tentang Haikal yang meminta mengelola ladang milik salah satu anak Adi.


Adi mengangguk, "Nanti ketemu di ladang aja ya? Kita ngobrol, sambil bagi tugas kau." balas Adi kemudian.


"Ya, Pah. Yang sekiranya aku bisa nyukupin anak orang, yang suka nangis kalau dibangunin." ujarnya yang membuat Adi terkekeh kecil.


"Maklum, anak satu-satunya. Giska tak nangis kalau dibangunin, cuma keselnya ngaret terus kalau waktunya sholat." tutur Adi, dengan mengingat tingkah anak perempuan satu-satunya di rumah ini.


"Dengar-dengar katanya Giska mau nikah sama keponakannya cek Lhem ya, Pah?" tukas Haikal, yang membuat Adi garuk-garuk kepala.


"Belum diomongin lagi. Papah cuma kasian sama keponakannya cek Lhem, dia sampek minum racun serangga." ucap Adi kemudian.


"Nekat ya Pah?" sahut Haikal yang diangguki oleh Adi.


Tiba-tiba muncul Gavin yang berlari terburu-buru.


"Heh, malem-malem masih ada di luar aja." ujar Haikal, tanpa dihiraukan oleh anak itu.


"MAHHHH... AKU BUAT BERDARAH IKHSAN." teriak anak itu, dengan mencari keberadaan ibunya.


Adi bergegas menghampiri anaknya, "Di mana Ikhsannya?" tanya Adi dengan wajah paniknya.


"Di rumahnya, Pah. Udah aku anter balik dia, terus disayang-sayang sama mamahnya." jawab anak tersebut, dengan berbalik badan untuk menghadap ayahnya.


"Bawa uang nih, Bang. Sana dulu ke rumahnya Ikhsan, sama Abang aja." balas Adinda dari arah dapur, dengan mengeluarkan beberapa jumlah uang dari dalam dompet sakunya.


"Kau apakan Ikhsannya?" lanjut Adinda beralih pada anaknya.

__ADS_1


"Ada a*jing di sana, Mah. Yang punya om Dudung itu. Ngikut om Dudung ke warung, terus aku takut. Aku naik seperti kebut, kenceng betul. Tapi aku lupa Ikhsan bonceng sama aku, terus dia jatuh dari sepeda aku. Aku sih tak jatuh, aku kayuh kuat-kuat pedalnya. Soalnya aku takut kali, Mah."


"Ikhsannya nangis kuat kali, siku ini berdarah, dahinya juga berdarah. Kata om Dudung yang nolongin, Ikhsan jatuhnya siku dulu terus kepala. Om Dudung juga bilang, gogognya tak galak, tapi aku udah terlanjur takut kali."


Ungkap anak tersebut, dengan berbalik ke arah ibunya. Lalu ia berbicara dengan lancarnya, sembari memperhatikan wajah ibunya.


"Sana coba, Dek. Sama Adek aja. Sepele aja itu." ujar Adi kemudian.


"Aku takut dimarahin mamahnya Ikhsannya." balas Adinda yang Adi ketahui cuma alibi saja.


"Marahin balik. Keluarganya bergantung sama Abang, bisanya mereka marahin istri Abang?" ujar Adi yang membuat Adinda cengengesan.


"Males aku, Bang. Abang aja gih." tutur Adinda, yang membuat Adi menghela napas beratnya.


"Males Abang tuh... Nanti-nanti dipanggilnya teungku lagi. Ngerasa tua dan dituakan betul. Pengen tuh masih dipanggil abang sama orang-orang, hormatin sewajarnya." tukas Adi dengan duduk di sofa yang berada di dekatnya.


"Huh...." Adinda mendengus kesal, lalu menarik tangan anaknya.


"Ke mana, Mah?" tanya Gavin dengan mendongak menatap ibunya.


"Ke Ikhsan. Makanya kalau udah malem jangan berkeliaran terus. Segala masih main sepeda aja kau! Kesel Mamah." jawab Adinda yang melewati Haikal begitu saja.


"Drama lagi aja." ucap Adi, dengan menghampiri Haikal kembali.


"Kok boleh sih, Pah? Gavin malam-malam masih main sepeda." sahut Haikal, saat Adi duduk kembali di tempatnya.


"Tadi di luar sama Papah. Papah ayun-ayun Gibran, tapi Gavin berisik aja. Jadi Papah bolehin dia keluar pagar, tak tau sampek ke warung pak cek kau sana." jelas Adi yang diangguki oleh Haikal.


"Pah... Liat mas Givan gak?" tanya Canda, yang tiba-tiba muncul.


"Siapa dia, Pah?" Haikal menyuarakan suaranya, membuat Adi menoleh kembali ke arahnya. Tanpa menjawab pertanyaan dari Canda.


"Istri muda Papah." jawab Adi dengan tersenyum lebar.


"Masa?" tanya Haikal tidak percaya, dengan melongok wajah Canda.


"Bukan, aku istrinya mas Givan." jelas Canda yang membuat Adi terkekeh geli.


"Hah? Kok bisa? Givan tadi pergi bawa perempuan." celetuk Haikal, yang membuat tawa Adi lenyap seketika. Dengan Canda yang melebarkan matanya tak percaya.

__ADS_1


......................


__ADS_2