
Ting.......
Cincin emas yang Ghava bawa dari rumah, beradu dengan lantai rumah Zuhdi.
"TAK USAH KAU NIKAHIN ADIK AKU. SIMPAN CINCIN KHITBAH KAU! KAU KIRA AKU TERIMA, ADIK AKU KAU BUAT NANGIS MACAM ITU? AKU DIAM, BUKAN BERARTI AKU TAK TAU APA-APA TENTANG KAU SAMA GISKA. NYEPELEHIN KAU???!!! KAU KIRA GISKA TAK LAKU, KALAU TAK KAU NIKAHIN? TAK USAH REPOT-REPOT KAU AMBIL HATI KELUARGA AKU, NYATANYA HARI INI KAU BUAT KELUARGA AKU NYESEL UDAH TERIMA AJAKAN KHITBAH KAU KE GISKA." frekuensi pendengaran mereka terganggu, dengan suara yang Ghava hasilkan.
Beberapa cekalan tangan mereka terlepas, Ghava menantang kembali calon adik iparnya.
Kaos yang Zuhdi kenakan ditarik kembali oleh Ghava, laki-laki tersebut terlihat begitu menyeramkan dengan mata merahnya.
"Bukan aku kemarin ambil hati mereka. Aku udah usaha, aku kumpulkan apa yang mereka tuntut. Kau laki-laki, aku laki-laki. Saat usaha kau tak dihargai, malah kembali dituntut lebih kau bisa apa, sedangkan keadaan kau susah? Aku coba kulitin, aku kupas pelan-pelan nasehat dari orang terdekat aku. Coba mengerti tentang permintaan dari pihak perempuan, adalah ujian kesanggupan buat kita. Nyatanya... Aku udah berusaha siang malam pun, hasil kerja aku tetap tak bisa menuhin segalanya. Malah begini hasilnya, cincin khitbah dikembalikan secara tidak sopan, hanya karena model ranjang." sahut Zuhdi lirih, tetapi cukup tegas terdengar. Dengan ia melirik sekilas cincin yang Giska pakai, tergolek di dekat pintu kamar utama rumah tersebut.
"Kalau memang tak sudi, dengan isi kamar yang aku mampu belikan. Ya tolong, pengertiannya. Kalau memang adik Anda punya rasa, punya hati terhadap laki-laki yang diminta menikahi." Zuhdi menjeda ucapannya sejenak, dengan menundukkan kepalanya.
"Tapi kalau memang, udah tak punya hati, belas kasih, juga mati rasa. Ya tolong, jangan kau lempar cincin yang aku pasangkan ke jari adik kau!" di akhir kalimat bentakan Zuhdi cukup mewakili harga dirinya.
Bugh....
Satu balasan dari Zuhdi, mendarat di bawah tulang rusuk Ghava.
"JANGAN SOMBONG! KAU DATANG, SEOLAH AKU BIANG MASALAH DI RUMAH KAU."
"BIAR GISKA PAHAM, BIAR GISKA NGERTI."
"KARENA CUMA MEMANG DIRINYA, YANG AKU NIATKAN UNTUK AKU HALALKAN."
"AKU KERJA KEK ORANG GILA, YANG TAK KENAL CAPEK! BUAT SIAPA COBA? BUAT MENUHIN MAHAR ADIK KAU!!!"
"UANG HANGUS, AKU MASIH HARUS NGEJAR 97 JUTA LAGI. JEULAME, AKU MASIH HARUS NGUMPULIN 23 MAYAM LAGI. BELUM LAINNYA, HANTARAN, MAKANAN ADAT. DITAMBAH ADIK KAU MINTA RANJANG SEHARGA 30 JUTA, BELUM LEMARI DAN MEJA RIAS. JUAL GINJAL? JUAL GINJAL BUAT MAHARIN ADIK KAU? JADI JANDA ADIK KAU KELAK." beberapa orang yang terhenyak kaget, melihat Zuhdi yang awalnya diam tanpa perlawanan. Kini berbalik menunjuk tepat di depan wajah Ghava, yang tengah memegangi bagian perutnya.
__ADS_1
Zuhdi meraih cincin pujaannya yang tergeletak, "Jangan sampai!!! Jangan sampai aku apa-apa kan adik kau, dengan kau balikin cincinnya dengan cara kek gini."
Zuhdi meraih tangan Ghava, kemudian menaruh cincin tersebut di atas telapak tangan Ghava.
"Aku yakin juragan tak kurang-kurangnya didik anak. Anaknya aja, yang memang kurang ajar!!" Zuhdi menutup paksa telapak tangan Ghava, dengan cincin berada di dalamnya.
"Balik kau sana! Ini urusan aku sama ayah kau! Bukan urusan aku sama kau!" tambah Zuhdi, saat mata Ghava kembali memandangnya dengan bengis.
"Di dalam, Bang." riuh suara anak-anak tanggung, yang penasaran dengan adegan di dalam rumah tersebut.
"Mana? Mana?" suara yang Zuhdi dan Ghava kenal.
Givan menggelengkan kepalanya berulang, matanya bergulir menatap satu persatu orang yang berebut oksigen dalam ruang tamu rumah pak Zuhri tersebut.
"Tak pernah belajar kau memang!!!" ucap Givan, dengan memandang wajah adiknya.
"Balik cepat!!! Papah di rumah lagi drop, malah bikin masalah kau!" lanjutnya dengan merangkul paksa adiknya.
"Minta maaf, semuanya. Maaf udah bikin keributan." Givan sedikit berseru, dengan membawa adiknya untuk pulang.
Zuhdi mengusap kembali ujung bibirnya yang berdarah, ia sedikit meringis kala merasakan perih di sudut bibirnya.
"Sini Ma obatin." tarikan lembut, Zuhdi dapatkan di lengannya.
Zuhdi mengangguk, kemudian mengikuti langkah kaki ibunya. Sedangkan, pak Zuhri masih tidak percaya dengan masalah yang datang pada anaknya.
Pak Zuhri meminta orang-orang yang berdatangan, untuk segera kembali ke rumah. Kemudian dirinya menilik anaknya, yang mendapat lima pukulan di wajah dan tubuhnya.
"Kita yang ke sana, atau pak mantri yang suruh ke sini?" tanya pak Zuhri, dengan memperhatikan istrinya yang tengah melihat bagian perut anaknya.
__ADS_1
Zuhdi menggeleng, "Tak usah, Bu. Aku udah pernah disunat. Masal juga, tapi banyak dapat duit waktu itu." jawab Zuhdi yang membuat orang tuanya tercengang.
"Buat meriksa luka kau, bukan buat nyunatin kau lagi." sahut pak Zuhri sembari terkekeh renyah.
"Merah betul bagian matanya ini, Bu." ujar ibu Robiah, dengan mengompres bagian pelipis kanan anaknya.
Ia sedikit menarik kelopak bagian bawah mata anaknya, "Ya Allah...." nada turun disertai isakan khawatir dari ibu Robiah.
Pak Zuhri bergegas keluar dari rumah, untuk memanggilkan pelayanan kesehatan yang mau dipanggil untuk datang ke rumah.
Ibu Robiah tak menyangka, anaknya yang berdiri kokoh mesti hantaman tiada hentinya. Membuat bagian bawah kelopak mata Zuhdi terluka, dengan memiliki noda darah yang terjebak di antara lapisan kulitnya.
"Ma udah bilang, jangan main-main sama keluarga juragan Di. Kau nekat betul, mau nikahin Giska. Abangnya aja, tak sudi jadikan kau adik ipar. Capek, Nak. Udah... Mundur aja. Tak apa kau dicap pecundang, Ma masih pengen punya anak kau. Ma tak mau nukerin kau dengan beras, hanya karena kau ambil resiko sama keluarga juragan." ungkap ibu Robiah dengan tersedu.
"Kita miskin, Ma. Tapi kita punya harga diri. Laki-laki.. yang dipercaya itu omongannya. Aku tak mau nambahin makian yang pantas buat aku. Kalau sampek aku tak bisa halalin Giska juga. Aku udah berucap, Ma. Aku udah janjiin Giska, buat aku nikahin tiga tahun sejak pertunangan itu. Doain aku biar bisa menuhin segalanya, Ma. Ridhoin aku, Ma. Doain aku, Ma. Anak Ma bukan pecundang, bukan pengecut. Kita udah miskin, setidaknya jangan sampek cap jelek nambah-nambahin beban hidup kita." sahut Zuhdi, dengan menunduk untuk mencium kedua tangan ibunya.
Ibu Robiah tersedu-sedu, dengan mengusap kepala anaknya.
"Yang mulia, Nak. Yang beruntung kau, Nak. Hidup kau jangan sampek diinjak-injak orang terus." balas ibu Robiah kemudian.
Zuhdi menegakkan punggungnya kembali, ia mengangguk untuk meyakinkan ibunya.
"Percaya sama aku, Ma. Aku mutusin Giska sementara, karena aku takut. Aku takut, kalau dia hubungi aku terus-terusan. Bakal dituntutnya rumah dan seisinya, bukan lagi ranjang mewah dengan harga puluhan juta. Aku tak bisa menuhin itu semua, kalau tuntutan-tuntutan lainnya terus dia tambahkan." ujar Zuhdi, dengan memandang wajah ibunya yang bermandikan air mata.
Ibu Robiah mengangguk, "Ma tau. Mau tau seberapa gila, kau sama anak juragan itu. Yang berhasil, Nak. Jangankan perihal dunia, surga pun mampu kau bawa Giska masuk ke dalamnya." tutur ibu Robiah, yang membuat Zuhdi menangis terharu.
"Aamiin, Ma. Aamiin." tukas Zuhdi, dengan kembali menciumi kedua punggung tangan ibunya.
......................
__ADS_1