
"Jadi, lebih baik kita berteman wajar aja. Aku tak mau ambil resiko lebih, lagian kita masih sama-sama muda juga. Aku baru 20an, kau semester dua mungkin sekitar 19 tahunan juga kan?" putus Ghifar, yang langsung mendapat pelukan hangat di dalam pesawat yang terbang dalam ketinggian tersebut.
"Mas terlalu dini kasih aku keputusan. Biarin aku berjuang dapetin hati Mas, dengan cara aku sendiri." sahut Canda, dalam rasa keputus asaanya.
Ghifar mengusap punggung Canda, "Menyoe jodoh, ya pasti jadeh. Menyoe hana jodoh, ya hana jadeh." balas Ghifar dengan campuran bahasanya.
Tanpa kita sadari, sifat warisan Adinda yang selalu memberikan keputusan dengan cepat. Menurun pada kepribadian Ghifar. Juga berbicara lembut, pada lawan jenis. Ia dapatkan dari sifat warisan Adi Riyana, ayahnya. Namun, tentu berbanding terbalik jika ia tengah meluapkan amarahnya.
"Aku gak tau artinya, tapi mirip-mirip bahasa Indonesia." ujar Canda dengan melepaskan pelukannya.
Ghifar menunjukkan gigi berwarna kuning tulangnya, "Memang bahasa Indonesia kali. Artinya… kalau jodoh, ya pasti jadi. Kalau tak jodoh, ya tak jadi. Kek itulah kurang lebihnya. Sekali lagi, aku minta maaf ya Canda. Aku tak enak hati, kalau aku ngikat kau tapi aku tak punya uang buat jajanin kau." tutur Ghifar kemudian.
"Tapi aku gak papa, Mas. Aku mampu kok jajanin Mas. Tadi aja…"
"Sssssstttttttttttt!!" desisan Ghifar memangkas ucapan Canda.
"Simpan aja uang kau, buat aset kau. Buka usaha, perbanyak rumah, perbanyak tanah. Dari pada jajanin aku, dari pada ngeluarin modal buat laki-laki kau." ucapan lembut Ghifar, kini Canda terima lapang dada lewat telinganya.
"Terus… setelah ini Mas gimana? Kita gimana?" tanya Canda kemudian.
"Aku kerja, kau lanjutin kuliah yang bener. Cari kosan khusus putri, yang punya jam malam. Biar kau aman, asal kau taati aturannya." jawab Ghifar dengan menggenggam tangan Canda, sembari memberikan senyum terbaiknya.
Canda membalas senyum Ghifar, dengan menganggukkan kepalanya atas nasehat dari Ghifar. Namun, tanpa disangka. Gadis tersebut, malah memberikan hantaman kembali yang tertuju di pipi kanan Ghifar.
Dengan cepat ia menghapus bekas ciuman perempuan tersebut, dengan tangan yang ia gunakan untuk menggenggam tangan Canda. Lalu ia langsung memberikan Canda delikan tajam, yang begitu mematikan.
Ghifar mengatur nafasnya beberapa kali, dengan membuang wajahnya ke arah lain.
"Lepas ini kau jangan hubungin aku lagi! Kesel aku deket-deket kau!" tegas Ghifar dengan suara datar.
Canda terkekeh, dengan menggenggam tangan Ghifar.
"Maaf, Mas." sahut Canda kemudian.
"Baru juga tadi dibilangin, udah nyosor-nyosor aja kau." balas Ghifar dengan membiarkan tangannya digenggam erat oleh Canda.
"Udah lah, aku mau tidur bentar. Kau pun tidur, dari pada nanti mual-mual lagi." lanjut Ghifar, dengan mulai memejamkan matanya.
Canda menoleh ke arah Ghifar. Ia menyunggingkan senyum bahagianya, saat melihat Ghifar terlihat tenang dengan mata terpejam. Kekagumannya pada laki-laki kloningan Adi tersebut semakin kuat, saat mengetahui bahwa Ghifar adalah benar-benar seorang laki-laki baik.
~
~
"Assalamu'alaikum…." seruan dari beberapa muda-mudi, yang baru sampai di kediaman ibu Meutia tersebut.
Ceklek
__ADS_1
"Wa'alaikum salam." sahut ibu Meutia dengan tersenyum ramah, pada tamunya.
Ghifar langsung mencium tangan neneknya, lalu memberi neneknya pelukan kecil.
"Sehat Omah?" tanya Ghifar kemudian.
"Sehat, Nak. Saudara-saudara kau kumpul semua tuh, tangis Gibran juga udah menggema aja dari tadi." jawab ibu Meutia, dengan berlanjut bersalaman dengan yang lainnya.
Lalu mereka dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu, dengan Ghifar yang masuk untuk menghampiri keluarganya. Ia tak memperdulikan Canda, yang sedari tadi begitu ingin dikenalkan pada keluarganya.
"Ini anak Haris semua ini?" tanya ibu Meutia, dengan memperhatikan mereka semua.
"Aku sama ini aja, Omah. Ini calon aku, ini calonnya Ghifar." jawab Kenandra dengan menunjuk pada Riska, kemudian beralih pada Canda.
"Ohh… kan katanya anak Haris ada tiga." sahut ibu Meutia dengan memandang lekat Canda.
"Iya, satu masih SMP. Masih 15 tahun usianya, Omah." balas Kenandra dengan membenahi ranselnya.
"Nanti ya, kamarnya masih dibersihkan. Ditinggal dulu ya, mau panggil yang lain sama bawa cemilan juga." pamit ibu Meutia, dengan berlalu pergi.
Mereka memandang satu sama lain, saat mendengar suara gumaman perempuan. Suara pun semakin mendekat, dengan serentak mereka semua menoleh ke arah pintu.
"Ehh, ada tamu." ujar seorang wanita, dengan tersenyum canggung pada mereka semua.
"Permisi ya…." lanjutnya dengan melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, ia langsung berpapasan dengan Ghifar yang tengah melangkah menuju ruang tamu. Dengan Giska yang tengah bergelayut manja pada punggungnya tersebut.
Ghifar melebarkan matanya, saat teman masa kecilnya memeluknya dengan begitu erat tersebut. Matanya pun, tertuju ke arah Canda yang sedari tadi tengah memperhatikannya.
Kejutan belum berakhir, ia malah mendapatkan kecupan ringan di pipinya. Sontak ia pun langsung menghapusnya, lalu melepaskan pelukan sahabat kecilnya.
"Ishhh, Ahya!!! Kau bilang b*bi itu haram, najis. Kau cium-cium pipi anak jejaka orang, memang dikiranya tak haram tak najis kah?" ketus Ghifar, dengan wajah kesalnya. Berbeda dengan Ahya, yang hanya cengengesan sembari mencoba menyentuh tubuh Ghifar untuk ia peluk kembali.
"Lebay Abang tuh. Tadi aku cium, Abang biasa aja." timpal Giska, yang masih berada di gendongan punggung Ghifar.
"Ya kau adik Abang, kita sedarah. Kita muhrim kali. Tak mungkin ada yang menyengat, sekalipun kau grepe-grepe Abang." balas Ghifar dengan menurunkan Giska dari punggungnya.
"Nih coba!" ujar Giska dengan menggelitik bagian bawah tulang rusuk Ghifar.
"Akhhhhhh… aduh…. Mak…. Giska nakal."
"Dasar! Aneuk tet!" maki Ghifar, setelah mencekal tangan Giska yang tengah terbahak-bahak tersebut.
"Apa sih, ribut aja? Kli*oris kau bawa-bawa!" tutur Adi, yang muncul dengan anak bungsunya.
"Eh, Ahya. Dicari mamah tuh, disuruh beli apa gitu…." lanjut Adi, saat melihat keberadaan Ahya yang tak jauh dari tempat anak-anak bergurau.
"Ya, Pah." sahut Ahya, dengan berlalu pergi dari hadapan mereka.
__ADS_1
Adi langsung mengedarkan pandangannya, pada empat orang muda-mudi yang duduk di sofa tamu.
"Papah…." sebut Kinasya, dengan berlari kecil ke arah Adi. Dengan langsung ia memeluk erat seseorang, yang pernah membelikannya sepeda roda tiga itu.
"Ehh… pangling Papah." sahut Adi, dengan mengusap kepala anak perempuan Haris tersebut.
"Papah… aku minta dibelikan tas dong. Harganya 4 jutaan, abi tak mampu belikannya." ungkap Kinasya yang membuat Adi tertawa geli.
"Yuk ke mamah, bilanglah ke mamah. Pasti dibelikannya." ajak Adi dengan merangkul Kinasya masuk ke dalam bagian rumah tersebut.
Gibran menatap kepergian ayahnya bersama Kinasya, dengan sudut bibir ke bawah. Lalu ia beralih menatap kedua kakaknya, yang sedari tadi tengah memperhatikannya tersebut.
"Bang….. papa…" rengek Gibran dengan air mata yang tak tertahankan.
"Haaaaa…. Papa…. Papa Adi……" seru Giska dengan memeluk Ghifar.
"Hu, hu, hu… papa Adi…" tambah Ghifar dengan menyuarakan tangis palsunya. Tak lupa ia memasang wajah sendu, dengan berbalik memeluk Giska dengan begitu erat.
Membuat tangis Gibran seketika pecah, karena ejekan kedua kakaknya tersebut. Giska dan Ghifar tertawa puas, melihat adik paling bungsunya menangis sesenggukan dengan berlari masuk menuju bagian rumah.
"GISKA!!! GHIFAR!!! DASAR! ANEUK BAJENG!" teriakan Adinda, yang membuat mereka bungkam seketika.
"DINDA!!!" bentakan yang ia dapat dari ibu mertuanya. Bukannya bungkam, Adinda malah menyuarakan tawa puasnya.
"Menantu apa macam itu?" gerutu Adi dengan berjalan santai melewati kedua anaknya.
Kemudian ia langsung bersalaman dengan para tamu di rumah tersebut.
"Siapa ini, Ken?" tanya Adi, setelah tangannya dicium oleh gadis yang paling muda tersebut.
"Riska, Pah. Pacar Ken." jawab Ken kemudian.
"Kon, yang ini. Siapa dia?" sahut Adi, dengan menunjuk Canda dengan dagunya.
"Barang bawaannya Ghifar, Pah." balas Kenandra, dengan langsung melemparkan pandangan matanya ke arah Ghifar.
Adi langsung memberikan delikan tajam, pada Ghifar yang tengah berjalan ke arahnya.
"Anu, Bang…..
......................
*Aneuk tet : Kli*oris. Sesuatu sensitif milik perempuan.
*Aneuk bajeng : Makian kasar, semacam anak haram.
*Kon : Bukan.
__ADS_1