
Mereka semua sudah sampai di rumah, dengan Adinda yang langsung disambut tangis heboh dari kedua anaknya yang masih balita. Gavin mengadu pada ayahnya, bahwa kepalanya dipukul dengan sapu oleh adiknya.
"Betul Gibran macam itu ke Abang? Adek Gibran pukul-pukul Abang?" tanya Adinda dengan memangku anak bungsunya, dengan Gavin yang tengah bergelayut manja di leher ayahnya.
Gibran mengangguk, "Tuk, ntu. Bang angis." jawab Gibran dengan polosnya. Bukannya marah, Adinda malah menahan tawanya.
"Ohh… dipukul pakek sapu, bunyinya tuk macam itu Dek?" tanya Adi dengan duduk di sebelah istrinya.
Gibran mengangguk kembali, "Yus, bang angis Pa." sahut Gibran terdengar lucu di telinga Adi.
"Hmm, jangan lagi-lagi ya. Coba nih Adek Papah pukul, sakit tak?" balas Adi dengan memukul pelan kaki anaknya, dengan sapu yang digunakan Gibran untuk memukul Gavin tadi.
Sudut bibir Gibran tertarik ke bawah, "Atit, Pa." ujarnya yang hampir terisak.
"Tuh, sakit kan? Makanya jangan pukul-pukul ya?" tutur Adinda dengan membelai surai anaknya.
Gibran mengangguk, "Aap Bang, atit ya? Aapin atu." ungkap Gibran dengan mengulurkan tangannya pada kakaknya.
Gavin mengangguk, "Jangan lagi-lagi, Dek. Kalau tak mau Abang balas." sahut Gavin dengan menerima uluran tangan Gibran, lalu Gibran mencium tangan kakaknya sembari mengangguk samar.
"Mam belum? Mamah suapin ya, pakek sate telur puyuh." tanya Adinda, saat anak-anak turun dari pangkuannya dan pangkuan suaminya.
"Udah mam, Mah. Pakek nasi goreng asin." jawab Gavin dengan kembali berlarian.
"Tuh… begitu tuh Giska kalau masak. Pasti aja keasinan, mana papahnya punya darah tinggi. Cepet dia nganter papahnya ke kuburan nanti." gerutu Adinda sembari berjalan menuju kamarnya.
"Ya nampaknya itu harapan kau!" seru Adi, yang langsung mendapat tawa keras dari istrinya.
"Masuk, Nak. Main di tempat main aja, Papah mau ada urusan." ajak Adi, pada anak-anaknya yang berada di teras rumah.
Kemudian dua anak balita itu berlarian menuju ke tempat bermainnya, dengan Giska yang dipanggil untuk minta mengawasi mereka.
"Pah… aku abis dzuhur ada mata kuliah." ucap Giska yang melangkah masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan karpet angka dan huruf.
"Kan sekarang masih jam setengah sepuluh, Cut Giska." sahut Adi dengan begitu jelas dalam menyebutkan nama anaknya.
__ADS_1
"Ya maksudnya aku mau istirahat dulu, Papah Adi Riyana." balas Giska tak mau kalah dengan ayahnya.
"Biar Icut aja yang jagain Gavin sama Gibran, Pah." timpal Icut yang sudah mengenakan pakaian santai.
"Tak ada! Icut istirahat! Udah diminum belum obatnya?" tegas Adi dengan menunjuk pintu kamar Icut, yang berada di seberang ruangan bermain tersebut. Icut langsung berbalik badan, kemudian menuruti perintah ayahnya.
"Kak Icut tak sakit pun, dienakin betul sama Papah. Aku coba… Giska jaga adik-adiknya. Giska… nyapu belum. Giska… ngepel lantai…" ujar Giska dengan urat wajah masam.
"Icut lagi ngandung, Giska!! Kau mau disamakan macam orang hamil?!" sahut Adinda yang muncul dengan minuman hangat yang ia bawa dengan nampan.
"AAAPPPPPAAAA??????" pekikan semua anak-anak Adi yang sudah baligh.
Prang…..
"Abang…. Panas kali, kecipratan airnya." rengek Adinda dengan menunjukkan kakinya yang memerah.
Adi langsung menghampiri istrinya, kemudian langsung membawa istrinya dalam gendongannya.
"Kecipratan air, udah macam kena kram kaki. Romantis kali papah ke istrinya." gumam Ghava yang mengundang tawa saudara-saudaranya.
"Udah, Pah?" tanya Givan, saat ayahnya muncul dari dalam kamarnya.
Adi menganggukkan kepalanya, "Kau anter Icut ke kota J. Tapi bantu Papah dulu, buat urus pindahin pendidikan Icut." pinta Adi dengan berjalan sembari mengecek ponselnya.
"Tak dinikahkan kah, Bang?" tanya Ghifar dengan sepiring nasi goreng di tangannya.
Lalu ia menyalakan televisi, dengan duduk di atas karpet sembari menyantap makanannya.
"Tak, masa laki-lakinya malah bilang itu anak siapa. Tak mungkin anak aku, kan aku selalu keluarin di luar. Yang paling bikin Papah tak habis pikir. Dia kata udah aja digugurkan, kalau kau tak mau gugurin lebih baik kita putus aja. Langsung lah dibalas sama mamah kau, ya udah mulai hari ini kita putus. Langsung lah laki-lakinya nelpon, malah kartu sim Icut diambil sama mamah. Biar laki-lakinya tak bisa hubungi Icut lagi." jawab Adi dengan duduk di sofa, tepat di belakang Ghifar.
"Siapa laki-lakinya, Pah? Orang mana?" timpal Givan, dengan duduk di sofa single, yang tak jauh dari tempat mereka.
"Heh, Vi. Itu buangin kresek, ada belingnya. Satuin sama kardus yang isinya beling semua itu, nanti biar dibuangnya sekalian. Biar tak kena orang." lanjut Givan menyuruh Ghavi yang berjalan untuk menaruh piring kosongnya.
"Tak tau, tapi kata mamah mending tak taunya. Mak kau tak mau, kalau ada yang nikah gara-gara hamil duluan." balas Adi dengan memperhatikan siaran ulang sepak bola, yang semalam terlewat untuk ditontonnya.
__ADS_1
"Mamah tega betul ya, Pah?" timpal Givan dengan pandangan kosongnya. Ia malah teringat saat adiknya diserahkan pada Adi, setelah ibunya memukul pelipis Adi dengan botol. Saat mengetahui, bahwa ternyata Adi memiliki istri lain.
"Salah Icutnya juga. Mamah tak mungkin macam itu, kalau Icut tak bodoh." sahut Adi kemudian.
"Biar Ghava aja yang nikahin Icut. Kita tak saboh ayah juga kan, Pah?" sahut Ghava yang langsung mendapat pelototan tajam dari semua orang.
"Siapa bilang kalian tak saboh ayah? Icut ada di sini, karena dia anak Papah." balas Adinda yang muncul dengan kaki yang dibalut dengan obat berwarna putih.
"Ada yang bilang, katanya Icut tak satu ayah tak satu ibu." jelas Ghava santai.
"Siapa yang bilang?" tegas Adi membuat Ghava terhenyak kaget.
Ghava menoleh ke arah ayahnya, ia mendapati ayahnya tengah menyiratkan bahwa dirinya tengah dirundung emosi.
Namun, Adi mendapat rangkulan mesra lewat belakang sofa. Kemudian, kepala Adinda bergelayut di bahu kiri Adi.
"Jangan marah-marah terus. Ingat darah tingginya! Aku dulu tak jadi menjanda gara-gara perempuan lain, malah jadi janda karena Abang mati muda. Tak mau aku, aku mau Abang panjang umur selalu. Sehat-sehat terus, meski udah balik pakek diapers lagi. Aku mau duduk di kursi goyang, sebelahan sama Abang. Terus kita beradu, siapa yang kalah ngayunin kursi goyangnya nanti harus di atas." ungkap Adinda manja.
Adi yang awalnya terharu dengan ucapan Adinda, berujung ia malah menyuarakan gelak tawanya.
"Abang udah balik pakek diapers lagi, udah mana kuat Adi's bird buat bangun. Ngaco aja Adek ini! Segala yang kalah harus di atas lagi. Adek sekarang masih muda aja, udah emong-emongan kalau suruh di atas. Capek kali aku, susah kl*maks, dalam kali, pinggang aku capek, tak enak ini." sahut Adi dengan terkekeh geli.
Adinda terbahak-bahak, lalu ia pindah duduk di pegangan kursi.
"Aku sukanya dienakin." balas Adinda lirih, yang mungkin hanya didengar oleh Adi saja.
"Bang… aku minta dicarikan istri yang macam Mak. Cantik, humoris, mesum juga." ucap Ghifar yang menganggu ayah dan ibunya bersenda gurau.
"Jangan lupakan galaknya juga." timpal Givan, yang fokus pada siaran ulang sepak bola tersebut.
Semua orang tertawa puas, karena sahutan Givan barusan. Bukan hal yang aneh lagi, jika Adinda cukup keras pada anak-anaknya. Pada suaminya sekalipun, ia tak tanggung-tanggung untuk memarahinya.
......................
Turun lagi konfliknya... nanti naik lagi, turun lagi... belum aja nanti 😏
__ADS_1
*Emong-emongan : Ogah-ogahan gitu, masa gak mau-mauan kan kek gak pantes 🤭