Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS70. Ghifar berbeda


__ADS_3

"Kau tak berangkat?" tanya Adi, saat melihat Haris masih menggunakan pakaian santai.


"Nanti, jam sembilan." jawab Haris kemudian.


Lalu Adi berlalu masuk ke dalam rumah, dengan menenteng tas jinjing milik Icut. Adi merasa tak enak hati, pada keluarga Haris. Karena keluarganya begitu banyak dan harus menumpang di rumahnya.


Namun, apa daya. Rumah milik Adinda, masih diberi garis polisi. Meski tuntutan Haris pada Givan sudah dicabut, tetapi Givan tetap harus mengikuti prosedur formalitas kepolisian.


Hari ini, Givan sudah diperbolehkan untuk dijemput oleh pihak keluarga. Namun, ketentuan rehabilitasi tetap berlaku untuk Givan. Setelah akad dan resepsi sederhana dilakukan, Givan akan dijemput oleh pihak lembaga negara. Adi pun sudah menjamin Givan, atas nama dirinya sendiri. Bahwa Givan tak akan kabur, dari proses rehabilitasi yang akan dilaksanakan sesuai dengan keputusan tertulis tersebut.


"Dek… Abang ke aa dulu ya. Mau cerita, ambil mobil juga." ucap Adi, setelah dirinya berada di hadapan istrinya.


"Beresin rumah ibu juga, atau nyuruh orang aja. Buat omah atau Bena tempati sementara." sahut Adinda kemudian.


"Di sini aja, Din. Jaraknya jauh, kalau beberapa orang harus tinggal di sana. Lagian, lusa juga kita berangkat ke Jawa kan? Dimaklumi aja lah, kalau kamar di sini cuma ada satu yang kosong. Soalnya anak aku, tak sebanyak anak kau. Giska sama Icut kan, bisa bareng di kamar Kin. Ken juga mau berbagi tempat, bisa bareng sama Ghavi sama Ghava. Kalau Ghifar kan, memang minta sendiri tidur di ruang keluarga. Kamar tamu, tetap kau tempati sama Adi sama balita kau. Nanti kamar Langi, ditempati omah sama Bena. Langi biar tidur sama aku sama bang Haris. Edi kan laki-laki, tidur di ruang keluarga bareng Ghifar tak masalah kali. Kalau Givan udah dijemput, kan bareng sama Ghavi, Ghava, Ken di kamar Ken. Nanti tinggal ngembangin kasur angin aja." jelas Alvi, agar Adinda mengurungkan niatnya.


"Iya lah, Mah. Biar kumpul, aku kangen kumpul-kumpul begini." timpal Icut, dengan memperhatikan wajah ibunya yang tengah berpikir tersebut.


"Sebetulnya… Mamah takut Givan sama Ghifar berantem." ungkap Adinda kemudian.


"Tenang aja, Din. Lagian ada Adi, ada Edi, ada anak-anak kau yang lain juga." sahut Alvi, dengan mengambil alih kangkung yang sudah dipotong tersebut.


"Ya udah deh." balas Adinda dengan menghela nafas beratnya.


"Nanti ke pasar, Giska. Sama Kin atau bunda. Belanja bahan makanan, beli beras juga. Tak enak hati Mamah, beras stok sebulan, malah habis beberapa hari aja." lanjut Adinda, dengan menyentuh lengan anak gadisnya.


"Ya, Mah. Ditulis aja, nanti biar enak aku belinya." sahut Giska kemudian.


"Sana Cut, istirahat." pinta Adinda, dengan menoleh ke arah Icut yang tengah tersenyum dengan memainkan ponselnya.


"Ayo sama Mamah, aku pengen cerita-cerita." balas Icut, dengan bangkit dari posisinya.


Adinda mengangguk, "Jagain adik-adik kau, Giska. Mamah mau sekalian bikin list dulu." ucap Adinda sebelum berlalu pergi.


Giska hanya mengangguk, sembari memperhatikan adik-adiknya yang tengah berlarian ke sana ke mari.


"Huh… pasti mamah mumet betul. Semoga aja, bang Adi mau ngurungin niatnya." gerutu Giska seorang diri, dengan mata yang masih fokus pada adik-adiknya.


~

__ADS_1


Malam telah tiba, suasana di ruang keluarga tersebut begitu mencekam. Lantaran Givan kini sudah berada di tengah-tengah mereka, dengan menatap Ghifar dengan pandangan tak bisa diartikan.


"Kau lagi ngapain sih, Far?" suara khas dari sulung keluarga Adi tersebut.


"Baca novel karya Mak." sahut Ghifar, dengan pandangan yang masih fokus pada ponselnya.


Tak lama terdengar suara kekehan kecil dari mulutnya, lalu ia mendongakkan kepalanya karena tak tahan dengan kekehannya.


"Hedeh… ada-ada aja." Ghifar berucap seorang diri, dengan menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Season berapa, Bang?" tanya Giska, dengan dirinya berpindah duduk di sebelah Ghifar.


"Satu, baru mulai baca. Tapi udah sakit perut Abang, ketawa aja. Kemarin main toktok aja, tapi lama-lama bosen scrollnya." jawab Ghifar, dengan membagi layar ponselnya pada Giska.


"Season 2 nanti mewek aja, sesek bacanya." sahut Giska, dengan mulai fokus pada layar ponsel kakaknya.


"Itu tethering sama aku ya. Awas aja kalau kau mainan yang boros kuota!" peringatan yang muncul dari suara Kinasya.


Ghifar menoleh ke arah Kinasya, lalu ia memberikan senyum terbaiknya.


"Nanti habis, aku ganti." balasnya kemudian.


"Far…" panggil Givan kembali, karena Ghifar yang masih asik dengan ponselnya.


"Apa, Bang?" sahut Ghifar, dengan melirik sekilas pada Givan.


"Abang… Abang mau sama Canda. Mau nikah sama Canda. Kau tak apa kah?" ungkap Givan tiba-tiba. Yang membuat Ghifar langsung membalikkan layar ponselnya.


"Tak apa. Memang kenapa?" sahut Ghifar enteng. Haris tersenyum samar, saat mendengar jawaban dari Ghifar.


"Ya… kau kan pacarnya Canda." jelas Givan kemudian.


"Bekas. Cuma bekas." balas Ghifar, yang membuat semua orang menoleh ke arahnya dengan pandangan kagetnya.


"Tak usah berlebihan, Bang. Kau mau, kau ambil. Jangan dibikin pusing, jangan dibuat ribet. Tak usah buat drama, tak usah buat susah. Mau… ambil. Selesai." lanjut Ghifar, dengan dirinya bangkit dari posisinya.


Lalu ia melenggang pergi begitu saja, dengan mengantongi ponselnya kembali.


"Kenapa lagi itu benih Adi's bird?" tanya Adinda, dengan wajah herannya.

__ADS_1


Semua orang terkekeh geli, "Anak Mamah itu." sahut Icut menimpali.


Adinda mengusap dadanya beberapa kali, "Beda betul, lepas punya luka calon pitak di kepalanya." balas Adinda kemudian.


Haris, Alvi dan Adi tertawa renyah. Mereka masih teringat, akan pembahasan mereka tentang 'pitak' tersebut.


"Sana ajak ngobrol!" pinta Haris pada Adinda.


Adinda menoleh ke arah Haris, "Dia tak mau diperhatiin, tak mau dia ditanya-tanya. Dia minta jadi anak abi aja. Dia kira abinya warisannya banyak." ujar Adinda yang membuat Haris tertawa kecil.


"Ya udah, tinggal kau kirimin aja jatah Ghifar ke Abang." tutur Haris yang mendapat lemparan bantal dari Adinda.


"Ghifar kan sekarang jadi anak kau!" tukas Adinda dengan menggendong anak bungsunya.


"Perasaan waktu bayi aku minta Ghava, atau Ghavi. Bukan Ghifar deh, Dek." ucap Haris, yang tak dipedulikan oleh Adinda.


"Wah… kenapa tak jadi Abi minta aku? Kalau aku dulu diminta, tak bakal bonyok-bonyok aku kemarin." ungkap Ghavi yang menarik perhatian mereka semua.


Ghava menatap tajam adik kembarnya tersebut, "Ya kau tak jelas. Pembukuan keuangan yang jelas makanya! Tak tau, tak tau! Cuma tau segini, cuma ada segini. Kesel Abang!!!" ketus Ghava kemudian.


"Heran Papah. Lagian kau tempramen betul, tega bonyokin yang udah nemenin kau dari rahim." timpal Adi dengan melirik malas pada Ghava.


"Macam kau tak tempramen aja! Maya kau lempar-lempar barang juga. Kalau marahin Maya, tetangga sampek keluar dari rumah. Bikin satu RT heboh, karena kepo sama bentakan kau." ucap Haris, setelah dirinya mengingat kembali. Saat dirinya dulu berkunjung ke tempat Adi, sedangkan Adi tengah menumpahkan emosinya pada ibunda dari Icut.


Icut yang mengetahui siapa Maya, mendengar jelas semua yang Haris ucapkan. Ternyata, seorang ibu yang namanya tercantum sebagai ibu darinya tersebut. Memiliki cerita tersendiri, untuk mereka yang dulu mengetahui tentang Adi dan Maya.


"Ya…. Memang. Tapi aku tak pernah berantem sama saudara sendiri." sahut Adi, yang tak mengelak atas ucapan Haris.


"Berantem juga. Edi kau suruh kejar b*bi, Zuhra kau semprot pakek air selang." celetuk ibu Meutia, yang mengingatkan sikap kasar Adi dulu.


Adi terkekeh malu, "Tapi aku tak kek gitu ke Dinda." balas Adi kemudian.


"Tak kek gitu? Abang tunjuk-tunjuk muka aku, Abang maki-maki aku, ngomong kasar, ngelarang aku keluar rumah. Memang tak ingat, Abang?" seru Adinda, yang membuat Adi menjadi bahan tertawaan mereka semua.


"Lah… tapi kan. Yang ujung-ujungnya nangis, Abang juga." sahut Adi tanpa malu. Membuat tawa mereka semua, semakin terdengar menggemakan ruang keluarga tersebut.


......................


Jadi... pitak itu, bekas luka di kepala, yang gak tumbuh rambut lagi.. itu sebutan orang kota C 😅

__ADS_1


__ADS_2