
"Sialan ini anak! Mana banyak lagi." Ghifar menggeleng tak percaya, dengan benda yang ia temukan di kamar adiknya.
"Bede kah dia?" Givan masih memperhatikan bentuk mirip rokok, tetapi dengan lintingan khas seperti barang yang pernah ia coba saat SMA dulu.
"Ya Allah, Giska. Papah tau bisa lebih kecewa sama kau." Givan terduduk lemas, ia tidak percaya dengan barang lain yang ia temukan.
"Mas.... Masku... Boh hate ka meuho." suara Canda mencari keberadaan suaminya.
"Han sia-sia lon mita. Mas di kamar Giska, Dek." sahut Givan, ia sedikit terhibur dengan panggilan manja dari istrinya.
Ceklek.....
Wajah ceria Canda, menyejukkan hati Givan yang rusuh.
"Mas... Tak kerja kah? Skincare tak bisa pakek BP*S, Sayang." Givan terkekeh geli, Canda selalu bisa membuatnya rileks kembali.
"Chat si Ituk. Bilang suruh buka toko dulu, suruh ambil kuncinya di sini." pinta Givan, saat Canda berjalan menghampirinya dengan memperhatikan isi kamar Canda.
"Memang Mas tak ke toko kah?"
"Barang-barang mahal semua ya, Mas. Lemarinya di sebelah mana Giska punya?"
Fokus Canda teralihkan, pada jam dinding yang memiliki merk ternama. Ia mengenal merk itu, saat suaminya bercerita tentang barang bermerk yang suaminya miliki.
"Walk in closed. Kamar mamah, kamar Giska, pakeknya walk in closed. Lemari di ruangan khusus, penghubung antara kamar sama kamar mandi. Coba buka pintu itu." jelas Givan, dengan menunjuk sebuah pintu yang terletak di sisi kanan dari pintu utama kamar tersebut.
Canda berbalik, kemudian ia mendorong gagang pintu tersebut. Namun, usahanya sia-sia. Pintu itu tidak bisa dibuka olehnya.
Givan geleng-geleng kepala, melihat tingkah istrinya.
"Digeser, Sayangku." ucapnya terdengar begitu kaku.
Canda merasa amat malu, kekehan kecilnya terdengar. Kemudian segera ia menutup mulutnya.
"Tak ada tulisannya pun." ujarnya kemudian.
"Kan bukan minimarket yang dikunjungi banyak orang. Ini kan kamar pribadi." Givan terlihat begitu amat lelah, menghadapi tingkah bodoh istrinya.
"Aku mau tengok walk in closed, Mas." rengek Canda kemudian.
"Tinggal tarik ke samping kiri pintunya, Canda sayang." Givan hampir mengeja kalimatnya, saat mengucapkan hal itu.
Canda nyengir kuda, lalu ia segera menarik pintu tersebut sesuai petunjuk suaminya.
__ADS_1
Mulutnya menganga, ia begitu takjub melihat rak yang berisikan pakaian yang memiliki pintu kaca. Canda bisa melihat isi di dalamnya, begitu rapih dan tersusun.
Bola matanya bergulir ke rak dekat pintu di ujung ruangan. Jejeran sepatu, terpajang sempurna dengan penutup pintu kaca.
Kakinya melangkah perlahan, menuntaskan rasa penasarannya.
"Wah... Fossil Satchel, Charles and Keith, Kate Spade, Webe, Celine, Furla." Canda membaca brand yang melekat pada tas yang terpajang di depan rak sepatu tersebut.
"Asli apa pasar malaman ini?" tanya Canda, tangannya terulur untuk menyentuh salah satu tas. Karena pintu rak kaca tersebut, tidak tertutup sempurna.
"Asli lah. Paket-paket yang datang, kadang pakek packing kayu itu, isinya tas-tas begini lah." Canda terhenyak keget, mendengar suara yang muncul dari belakang tubuhnya.
Ia menarik kembali tangannya yang sempat terulur, lalu mengusap-usap dadanya.
"Kaget aku." ia berbalik badan, kemudian memasang wajah kesalnya.
"Tak pernah beli tas branded menengah ya? Apa lagi yang ratusan juga, jangkauan jutaaan aja tak pernah beli ya?" suara Givan seperti tengah meledek istrinya.
Canda reflek meraup wajah suaminya, ia kesal melihat wajah suaminya.
"Mas lah yang belikan. Tak malu memang istrinya pakek tas flash sale?" ujarnya begitu menohok Givan.
Givan terdiam persekian detik, ia merasa malu karena hanya dirinya yang berbelanja barang mahal.
"Iya, maaf ya? Doain rejeki Mas banyak, biar mampu belikan tas branded menengah macam Giska punya. Mas yang ngalah, janji tak beli barang branded lagi. Sekarang giliran Adek Canda seorang." usapan lembut, Canda dapatkan di kedua bahunya.
Wanita yang tak pernah makan janji palsu pria hidung belang tersebut, merasa tersentuh dengan ucapan suaminya barusan.
Dengan cepat ia menghadiahkan pelukan erat pada tubuh suaminya, rasa syukurnya bertambah karena memiliki laki-laki tersebut.
"Aku baperan. Aku malah sedih dengernya." Givan terkekeh renyah, ia mengusap punggung istrinya dalam dekapannya.
Drama Canda tak hanya mewarnai hidupnya. Karena hal kecil dari istrinya tersebut, cukup menghibur dirinya setiap waktu.
"Udah liat tasnya?" Givan menarik dagu istrinya.
Canda mengangguk samar, "Giska tak mau hibahkan tas-tas, atau sepatunya kah? Keknya ukuran aku sama." Canda mendongak, memasang wajahnya dengan penuh harap.
Givan terkekeh geli, kemudian langsung memangsa bibir istrinya yang mengenakan lipstik berwarna nude.
Canda dengan cepat mendorong tubuh suaminya, ia memberontak atas pelukan suaminya yang semakin posesif.
"Apa sih?" Givan tertawa hebat, setelah melepaskan bibir yang menurutnya paling seksi tersebut.
__ADS_1
Canda memukuli dada suaminya, lalu ia berlalu pergi dengan bibir mengerucut. Canda tidak menyukai serangan tiba-tiba, itu mengingatkannya pada kejadian itu.
Meski dirinya sudah ikhlas menerima yang sudah terlewati dan sudah bisa mencintai suaminya. Tetapi bekas lara masih membekas di batinnya. Ia tidak suka dipaksa, ia tidak bisa dibentak dan diperlakukan dengan kasar.
Tiba-tiba, Givan mendapat sekelebat bayangan dari pelupuk matanya. Gambaran Giska, yang tengah menaruh sesuatu di rak paling atas susunan pakaiannya.
Givan memandang telapak tangannya yang kosong, ia tidak percaya masih bisa merasakan hal yang dulu pernah ia kuasai.
"Buka praktek dukun aja kah? Buat beli tas branded Canda." kekehannya keluar kembali, ia hanya bergurau akan hal itu.
Tangannya terulur, untuk mencari sesuatu yang dirinya dapatkan dari penglihatannya.
"Sialan!" makinya, ia merasa amat tidak percaya dengan barang yang ia temukan kembali.
Givan fokus untuk mencari bukti lain. Ia tidak ingin rumahnya digeledah orang, lebih baik dirinya sendiri yang mengumpulkan dan memusnahkan bukti tersebut. Karena, jika memang Giska benar-benar seperti yang Givan sangkakan. Maka hukuman mati yang akan Giska dapatkan. Membayangkan hal itu saja, Givan sudah bergidikan. Ia bermunajat dalam hatinya, semoga bisa ia atasi, sebelum pihak berwajib mengetahui akan hal ini.
"Cuma segini kah?" Givan kembali ke tempat tidur Giska, dengan mengumpulkan barang-barang yang ia dapatkan.
"Tapi... Bodoh betul Giska ini. Kenapa malah dikumpulkan di kamar?" Givan menggaruk kepalanya, ia pusing dengan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab sendiri.
"DEK... CANDA... HP Mas mana?" Givan berteriak dari dalam kamar Giska.
Teriakan itu, terdengar lamat-lamat bagi Canda yang tengah berada di dapur.
"Ya, Mas." sahut Canda sedikit berseru.
Ia berjalan ke kamarnya, untuk mengambilkan benda pipih yang ia charger sejak subuh.
"Oh iya lupa, suruh chat bang Ituk aku tadi." ia menepuk jidatnya sendiri, ia mudah sekali lupa dengan perintah kecil dari suaminya.
"Mas..." Canda masuk kembali, ke dalam kamar adik iparnya.
"Sini HP-nya, Dek." Givan menyodorkan tangannya ke arah istrinya.
Namun, ia mengerutkan keningnya. Saat mendapati istrinya begitu kaget melihat layar ponselnya.
"Kenapa kau?" tanya Givan, ia menyadari keterkejutan istrinya. Tetapi ia tidak bisa memastikan, Canda terkejut karena apa.
"Mas..." Canda menatap suaminya dengan penuh tanya.
......................
Naik pelan-pelan ya... sabar ☺️
__ADS_1