
"Teuku Ghifar!" Kinasya menegaskan nama Ghifar, agar Ghifar tersadar dari tindakannya.
"Buas betul kau!" maki Kinasya, saat ia berhasil mencekal rahang Ghifar.
Ghifar tersenyum miring, bak iblis yang berhasil menakuti manusia.
Namun, Kinasya teringat akan trauma Ghifar. Harusnya Ghifar tak demikian, jika ia benar-benar trauma pada kejadian Canda dulu.
Ia harus memastikan sesuatu, tekadnya kemudian.
"Far..." Kinasya yang terpojokkan di balik pintu, mengalungkan kedua tangannya pada leher Ghifar.
Ia seperti tidak takut, dengan serangan tiba-tiba yang baru saja ia dapatkan. Dekapan dan ciuman bertubi-tubi, menuntut untuk Ghifar dapatkan.
"Apa?" Ghifar mengungkung posisi Kinasya, dengan kedua tangannya yang mengapit tubuh Kinasya.
"Aku cantik tak?" Kinasya menarik hijabnya begitu saja.
Lalu ia menarik cepolan hijabnya, membiarkan rambutnya tergerai indah.
"Cantik kali. Perempuan paling cantik, yang pernah aku jumpai. Miss Indonesia aja kalah cantiknya, Kak." entah itu rayuan, atau fakta. Nyatanya ucapan Ghifar, membuat kupu-kupu berterbangan di hati Kinasya.
"Kau pun manis kali." tangan Kinasya mulai menjelajahi rahang dan leher Ghifar.
"Turunan papah Adi yang paling menggoda. Rahang kau tegas, jakun kau menggoda." tanpa disangka, Kinasya menjejakkan lidahnya di jakun Ghifar.
Ghifar memejamkan matanya, menikmati benda kenyal itu begitu lihai.
Kinasya bukan tandingannya.
Kinasya melepaskan buah khuldi yang terjebak di leher tersebut. Kembali tangannya meraba titik rang*ang seorang pria.
Dada bidang Ghifar, tak lepas dari incarannya. Pucuknya yang berwarna coklat, menjadi bahan mainan Kinasya.
"Cukup, Kak! Pangkal hidung aku udah sakit betul." Ghifar menahan tangan Kinasya, yang sudah berada di pusarnya.
Kinasya menuruti Ghifar. Dekapan hangat ia berikan, agar Ghifar kembali tenang.
Namun, aroma tubuh Kinasya dan aroma shampo yang melekat di rambut Kinasya. Cukup membuat Ghifar bertambah kacau.
Pelukan Kinasya tak bisa membuatnya tenang akan hasratnya.
"Hah....." Kinasya terhenyak keget, saat tubuhnya terangkat tiba-tiba.
Mata mereka bertemu, Ghifar menundukkan kepalanya untuk bisa menggapai bibir Kinasya. Kakinya terus melangkah, untuk menuju tempat tidurnya tanpa ranjang. Yang belum sempat ia berdirikan kembali.
"Kau yang mulai, Kak. Tadi aku udah peringatkan, jangan masuk ke dalam." tegas Ghifar, dengan merebahkan Kinasya perlahan.
__ADS_1
Ghifar tak bisa menahan dirinya, dari pesona seorang Kinasya.
Kinasya membiarkan Ghifar menguasai tubuhnya. Satu hal yang akan membuatnya berpuas hati, yaitu....
Ghifar sembuh.
Ghifar memberi jarak kembali, karena ia merasa sakit pada kepalanya.
"Far..." Kinasya membingkai wajah Ghifar.
"Aku ingin, Kak. Amat sangat. Aku tak tahan." Ghifar memejamkan matanya, ia tak berani mengatakan hal itu dengan memandang wajah kakak angkatnya.
"Jangan dipaksakan. Aku nerima, kalau kau rileks. Jangan buru-buru, aku tak akan lari. Rileks, tenang, waktu kita banyak." Kinasya mencoba memberi pemahaman pada otak Ghifar.
Ghifar terdiam, ia mencerna baik-baik ucapan Kinasya.
"Apa aku terlalu buru-buru? Apa cara aku kasar?" kembali rasa itu mengerubungi diri Ghifar.
"Kau tak kasar, tapi kau terlalu buru-buru. Biar aku ajarkan. Atur nafas kau, jangan terlalu memburu. Rileks dan nikmati." bukan hal yang sulit untuk menggulingkan tubuh Ghifar yang berada di atasnya.
"Uhmm." Ghifar mengeluarkan sedikit suara, kala tubuhnya terbanting di kasur busa tersebut.
"Far, denger aku. Nikmati, jangan terlalu menuntut, jangan memaksa, rileks." Kinasya kembali memberi pesan pada Ghifar.
Ghifar mengatur nafasnya, mencoba menuruti seseorang yang ia tuakan tersebut.
Pergaulan yang Kinasya dapatkan, cukup memberinya pengetahuan akan titik kenik*atan laki-laki. Pendidikannya, cukup mengedukasi dengan pengetahuan basic yang ia miliki.
Pandangan mata mereka mereka bertemu kembali, Kinasya langsung mengusap darah yang keluar dari hidung Ghifar.
"Caranya... Pejamin mata kau. Aku ingin, kau ingin, kita sama-sama ingin. Kita bebas, kau tak ada yang miliki, begitupun aku. Waktu kita banyak, tempat kita aman. Kau tak perlu khawatir kita ketahuan orang. Atur nafas kau, tarik dari hidung, tahan sebentar, keluarin dari mulut. Terus.... Nikmati ini." Kinasya kembali menurunkan kepalanya.
Sejenak ia ragu. Apakah ini adalah salah satu tindakannya melecehkan Ghifar?
Tapi bukan ini maksudnya, ia memiliki maksud tersendiri di balik tindakannya.
"Jangan!" Ghifar menahan tangan Kinasya yang membuka resleting celananya.
"Tak apa." Kinasya memberi anggukan, mencoba memberi pengertian pada Ghifar.
Cukup mengagetkan Kinasya. Bentuk kecilnya saja, cukup memberinya pengalaman baru. Daging yang menggantung, berwarna hitam dan memiliki bentuk yang unik. Ilalang yang melindungi daging tersebut, menandakan bahwa sang pemilik jarang mengurusnya.
Antara ibu jari dan telunjuknya melingkar di pangkal daging tersebut. Satu tangannya lagi, bergerak di tempat benih-benih anak Ghifar berasal.
Ujung telunjuknya terus mengukirkan sesuatu, ia bergerak di paling bawah kantong benih tersebut. Tempat di antara saluran pembuangan dan kantong yang memiliki garis itu.
Raungan Ghifar, menandakan bahwa hal yang Kinasya lakukan cukup hebat.
__ADS_1
Gadis kota, dengan segala pengalaman dan ilmunya. Ia memadukannya dengan rasa belas kasih yang begitu berarti.
Sekali lagi, ia ingin Ghifar sembuh.
Tangannya masih memberikan rang*an*an kecil. Lidahnya terjulur, menjejakkan di sepanjang garis bawah kantong tersebut. Ia mempertahankan lidahnya, disepanjang garis tersebut. Sampai mencapai di bawah kepala daging tersebut.
Suara Ghifar menandakan bahwa dirinya begitu tersiksa. Ia ingin ini segera terselesaikan. Ia ingin mendapat pelepasan dari kelakuan nakal Kinasya.
Kinasya kembali melirik wajah Ghifar. Darah yang mengucur dari hidung Ghifar, tak sebanyak seperti rabu pagi.
"Rileks, Far. Jangan ditahan, jangan dipaksa."
Namun, di ujung kalimatnya. Ia langsung melahap daging tersebut ke dalam mulutnya. Giginya dilindungi dengan bagian bibirnya. Daging menggantung itu aman dari goresan gigi Kinasya.
Tangan Kinasya tidak tinggal diam. Bergeliya menjelajahi titik-titik tertentu, yang semakin membuat Ghifar meraung-raung hebat.
Ia mengulangi hal itu secara terus menerus. Kembali ia mengunci pangkal daging tersebut, untuk merangsang aliran darah ke area itu.
Tak bosan-bosannya, ia mengulangi hal itu. Agar daging tersebut, membalas rang*angan yang ia berikan.
"ARGHHHHHHH..........." nyawa Ghifar seperti terlepas.
Kinasya menyadari kedutaan hebat tersebut, dengan daging yang sedikit berkembang. Namun, masih tetap lembek.
Matanya melebar, saat mendapat semprotan hebat di mulutnya. Ghifar sampai memegangi kepala Kinasya, dengan menghentakkan pinggulnya beberapa kali.
Ia mendapatkan yang ia inginkan, kl*maksnya.
Kinasya sudah terbiasa dengan rasa itu. Ini bukan pertama kalinya untuk menelan cairan kental itu.
Ghifar memejamkan matanya, nafasnya memburu hebat. Ia tak menyadari, bahwa Kinasya tengah memperhatikan wajahnya dengan membersihkan intinya.
Tulang-tulangnya serasa rontok. Keringat mengucur deras, mengalir di sekujur tubuhnya. Nafasnya mulai teratur, ia amat kelelahan. Sampai tak menyadari, keberadaan seseorang yang tengah berhasil melepaskan has*atnya.
Ia hampir merasakan titik ternyamannya, kala usapan lembut itu tak ia dapatkan.
Kinasya tengah membersihkan darah mimisannya. Membuat Ghifar membuka matanya.
"Aku mau mati, Kak." suara Ghifar terdengar serak.
"Udah mati, kita ada di alam baqa." sahut Kinasya dengan rambut acak-acakan.
Ulah Ghifar, yang membuat rambut lurus itu seperti tidak terawat. Karena beberapa kali Ghifar menarik kepala Kinasya, agar enyah dari intinya.
"Dongak! Tahan nafas." Kinasya meneteskan sesuatu, pada lubang hidung Ghifar.
"Dah. Silahkan bernafas lega." Kinasya kembali menyimpan obat tetes itu dalam tasnya.
__ADS_1
"Kak... Aku........
......................