Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS27. Berbuat baik


__ADS_3

"Aku mau bareng sama mas, soalnya aku takut pulang larut malam." ucap Canda yang membuat Ghifar tersenyum mengejek.


"Kau takut pulang malam? Tapi kau berani ya masuk ke tempat macam ini?! Miris betul sama santri macam kau." sahut Ghifar dengan menyelipkan rokok hasil rampasan kakak sepupunya, yang ia ambil saat makan di kedai angkringan.


"Aku baru balik kuliah, terus diajak teman ke sini Mas." jelas Canda, dengan menyentuh lengan Ghifar.


Ghifar menggerakkan lengannya beberapa kali, "Aku bukan laki-laki kau! Tak butuh sama penjelasan kau." seru Ghifar yang membuat Canda terhenyak keget.


"Heh, ada di sini rupanya kau Far. Abang kira kamu lagi digang*ang betina random." suara seseorang yang berada di belakang tubuh Ghifar.


Ghifar berbalik badan, dengan langsung mendapati seseorang yang ia panggil abang tersebut dengan memperhatikannya.


"Dapat perempuan, Far? Coba ijin sama mak kau dulu, boleh gak malam ini nidurin perempuan." lanjut Kenandra, dengan tertawa kecil.


"Diijinkan pun, aku yang enggan." sahut Ghifar dengan berbalik ke arah Canda, dengan pandangan merendahkan.


Lalu dengan santainya, ia langsung meninggalkan Canda begitu saja tanpa sepatah katapun. Ia berjalan mengikuti langkah kaki Kenandra, tetapi pikirannya masih berkelana pada gadis semester dua tersebut. Banyak pertanyaan muncul, tentang keketatan pesantren yang berada tak jauh dari rumah keluarga ibunya tersebut.


"Tak mungkin!" ucap Ghifar bermonolog sendiri, tentang perkiraannya yang menyangka Canda keluar dari pesantren melewati pagar beton yang sengaja dirusak para santri.


Lalu ia duduk kembali, di sofa melingkar dengan orang-orang yang ia kenal. Ternyata teman-teman Anasya sudah duduk kembali, di sofa yang melingkar tersebut.


"Ada yang menarik gak, Bang?" tanya Kinasya, setelah Ghifar dan kakaknya mengapit posisi duduknya.


"Ada. Sepupunya Ghifar itu, tapi Abang segan. Takut malah baku hantam sama sepupu laki-lakinya, yang jumlahnya gak sedikit itu." bisik Kenandra, dengan Ghifar yang langsung menggeser kepalanya untuk berada di hadapan Kinasya. Agar bisa mendengar jelas, suara Kenandra barusan.


Kinasya langsung menoyor kepala Ghifar, "Kau ngapain coba?!" tanyanya dengan tatapan tajam.


"Mau dengar, mana tau mau bungkus perempuan. Kan aku mau tau juga, siapa yang mau dibawanya." sahut Ghifar dengan cengiran kuda.


"Mau bawa kau katanya. P*n*at kau runcing betul, katanya lumayan buat jepit-jepit mantap." balas Kinasya, yang membuat Ghifar sedikit menggeser posisi duduknya, dengan menatap was-was pada kakak beradik tersebut.


Kinasya dan Kenandra tertawa puas, dengan wajah jahilnya yang membuat Ghifar memahami bahwa ucapan itu hanyalah candaan.

__ADS_1


"Yang betul coba bercandaannya, Kak. Ngeri-ngeri bikin mati itu, dicongkel dari belakang macam itu." ujar Ghifar kemudian.


"Ya kamu nguping aja!" tutur Kenandra, dengan kembali menuang minumannya.


"Far… gimana caranya kita pulang?" tanya Anasya, dengan mencolek lengan Ghifar yang duduk di sebelahnya.


"Akak sanggup bawa motor tak? Kalau aku… rencananya mau ngeces sambil nyender di bahu aja setelah ini. Pengar betul kepala aku, heran aku sama mak aku. Kenapa tak turunkan ilmu kuat nenggaknya sama anaknya yang paling nurut ini." ungkap Ghifar dengan mendongak, memperhatikan lampu yang berkelap-kelip tersebut.


"Mamah kuat, karena sering minum. Gitu kata abi sih." sahut Kenandra, yang mendengar ucapan Ghifar.


"Kan lama tuh, Bang. Dari dia terakhir minum, terus setelah berapa tahun, dia balik nyobain lagi." balas Ghifar, yang ingin menemukan jawaban yang tepat.


"Tak taulah, mungkin udah kebal kadar alkohol juga." ujar Kenandra terdengar malas menanggapi ucapan Ghifar.


"Mentang-mentang dari kampung, kamu comel betul. Ngoceh aja, ada aja yang jadi bahan obrolan. Risih kali, rasanya mau Akak tinggal kau. Malu Far, diperhatikan orang yang lagi cari hiburan di sini." ungkap Kinasya, yang tak diduga langsung mendapat kecupan kecil di pipi kirinya.


Sang pelaku memasang senyum 10 centinya, dengan wajah tak berdosanya.


"Abang… aku dicium makhluk hitam ini!!!" ucap Kinasya, dengan memegangi bekas kecupan laki-laki yang berjarak dua tahun lebih muda darinya tersebut.


"Kenapa sih kau, Far? Ada aja yang dijadikan bahan. Segala cium-cium intan payong Abang. Sini kamu, Abang balas ciuman kamu buat Kinasya tadi." ujar Kenandra dengan mengulurkan tangannya, untuk mencekal kepala Ghifar.


Ghifar langsung bergerak cepat, membuatnya tersungkur di atas paha teman-teman Anasya. Yang tengah menikmati rasa rileks, pada pikiran dan tubuhnya tersebut.


"Hayo-hayo, sukurin!" ucap Kinasya, yang merasa puas karena Ghifar mendapat akibatnya.


Ghifar segera bangkit, dari atas paha yang berlapis celana jeans ketat tersebut.


"Maaf-maaf." ujar Ghifar dengan bangkit dari posisinya.


"Hmmmm." ia hanya mendapatkan gumaman saja, dari permintaan maafnya.


"Far… Far… tuh perempuan kenalan kau tadi." panggil Kenandra, dengan menunjukkan perempuan yang terlihat bingung tersebut dengan dagunya.

__ADS_1


Ghifar menyipitkan matanya, untuk melihat wanita yang persis berada di bawah lampu yang bersinar terang itu.


"Lah, iya. Belum pulang juga dia. Dia santri loh, Bang. Katanya takut balik malam." jujur Ghifar, dengan mata yang masih fokus pada Canda.


"Cek in aja, nih pake kartu Abang." saran Kenandra, dengan mengeluarkan kartu pipihnya dari dalam dompet miliknya.


"Sama aku? Bisa lepas perjaka aku malam ini." ucap Ghifar, dengan menoleh sekilas pada Kenandra.


"Kau sama Aca tidur di tempat abi, pulang bareng kita. Kau sama Aca tak mungkin balik, jalanan kabupaten lebih rawan begal ketimbang di kota." sahut Kenandra yang memberikan kartunya pada Kinasya, karena Ghifar tak kunjung menerimanya.


"Tapi aku ragu… jangan-jangan dia sengaja jual di….." ungkap Ghifar yang dipangkas oleh Kenandra.


"Berbuat baik, bukan cuma ke orang baik aja. Mau dia l*nte kek, mau dia non muslim kek. Kalau dia butuh bantuan kita, ya tolong mereka. Apa mamah ngajarin harus berbuat baik, ke orang baik aja?" pangkas Kenandra, yang langsung membuat Ghifar mengangguk beberapa kali.


Lalu Ghifar bangkit dari duduknya, dengan langsung mengambil kartu debit yang berada di tangan Kinasya. Terlihat langkah kakinya tak beraturan, karena rasa pengar di kepalanya kian terasa.


"Dek… Canda…" panggil Ghifar, yang membuat Canda langsung menoleh ke arahnya.


"Yuk ikut. Aku ambil kamar buat kau." ucap Ghifar dengan menarik tangan Canda.


Canda mogok melangkah, membuat Ghifar melongok ke arah tubuh Canda yang diam mematung tersebut.


"Katanya takut balik? Ayo kau ikut aku." ajak Ghifar berulang.


"Sama… sama Mas?" pertanyaan yang keluar dari mulut Canda, terdengar begitu ragu-ragu.


"Tak lah, nanti kau malah beranak sembilan bulan kemudian. Aku ambilkan kamar buat kau aja. Aku sih balik ke rumah abi angkat aku." jelas Ghifar, yang langsung mendapat anggukan setuju dari Canda.


Mereka melangkah beriringan, menyusuri jalan yang dilalui banyak orang. Dengan Canda yang sesekali mendongak, untuk melihat wajah kacau Ghifar karena pengaruh alkohol.


"Mas, aku……


......................

__ADS_1


Minta dukungannya 😭 tap favorit belum kak? malu aku liatnya 😔


__ADS_2