Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS80. Terungkap


__ADS_3

"Aku kira, Canda udah tak virgin. Dia kan, sering tidur sama Ghifar. Tak mungkin bareng satu tempat, tapi Ghifar tak ngapa-ngapain wanitanya." sahut Givan, tentang prasangkanya pada adiknya.


Adinda menoleh ke sampingnya, "Benar kau tidur sama Ghifar?" tanya Adinda yang langsung mendapat gelengan mantap dari Canda.


"Gak, Mah. Memang aku pernah nginep di rumah itu, tapi gak tidur bareng. Aku di kamar, mas Ghifar di ruang TV." aku Canda kemudian.


"Stop nyebutin Ghifar, pakek sebutan mas. Aku kesel denger kau nyebutin dia mas, dia itu adik ipar kau." tegas Givan dengan menunjuk pada Canda.


Canda tertunduk, dengan memberikan anggukan ringan pada suaminya.


"Ada apa sih ribut kek gitu? Suara sampek kedengaran di halaman belakang." ucap Mahendra, yang muncul dengan penampilan yang sudah terlihat lebih segar.


"Ya anak kau itu! Dia ikut kau, harusnya kau didik dia betul-betul. Macarin siapa, yang dinikahi siapa. Ngelak terus lagi kerjaannya, butuh revolusi akhlak anak kau itu." seru Adinda, dengan berdiri dan menatap tajam mantan suaminya.


"Kau yang terlalu bebasin anak! Kau tak tau kan kalau dia langganan club, jajan perempuan tiap malam, khamar udah macam air putih. Kau tak tau itu kan? Kau percaya aja, ngelepas anak kau gitu aja! Dia kuliah di Lh*ksmawe, hari-harinya ada di kota M*dan. Kau tak tau itu kan? Kalau dia tak aku bawa ke pulau K, dia bakal lebih tak terkendali. Pikiran kau cuma nambahin jumlah anak aja! Tapi tak ada kau berpikir, bahwa bagaimana cara didik anak yang udah dewasa." sahut Mahendra, yang membuat nafas Adinda memburu seketika.


Adinda melemparkan ponsel miliknya, yang tengah ia genggam ke arah Mahendra berdiri.


"Kurang ajar ya kau, Din!!!" bentak Mahendra, saat ponsel mahal itu mengenai dada bidangnya.

__ADS_1


"Kau urus itu istri kau, Bang! Kau nyantai aja, kelakuan istri kau macam itu!" lanjut Mahendra, dengan beralih menatap Adi yang masih bersandar pada sofa.


Adi menghela nafasnya, lalu ia bangkit dari duduknya dan merangkul pundak istrinya.


"Mesti kek mana aku, Bang? Gini?" sahut Adi, dengan mengeratkan rangkulan mesranya.


"Atau begini?" lanjut Adi, dengan memeluk tubuh istrinya dengan kedua tangannya.


Kemudian Adi melepas pelukannya, "Biarin dia ngeluapin amarahnya. Kau luka gara-gara dia, tinggal aku bawa kau ke rumah sakit aja. Aku mau dia panjang umur. Karena Dinda bakal sakit, kalau nahan amarahnya. Lagian juga… marahnya dia beralasan." ujar Adi dengan tersenyum samar.


"Gini ya, Bang. Masalah nambah jumlah anak, itu bukan kehendak aku. Sejauh ini, aku percaya sama keturunan kau. Dia bilang butuh buat bayar kuliah, aku kasih. Masalah dia pakek untuk pindah kota, atau foya-foya. Aku tak tau itu, Bang. Aku akui itu, aku memang tak tau apa-apa tentang dia. Sayangnya, keturunan kau itu. Tak bisa ngemban amanah, tak bisa jaga kepercayaan orang tuanya. Kau cakap macam itu, seolah aku gagal jadi orang tuanya. Tapi tak pernah kah, Abang pikirin. Bukannya keturunan Abang itu, yang gagal ngemban tanggung jawab untuk hidupnya sendiri, untuk dirinya sendiri? Saat dia mutusin, buat merantau buat pendidikan. Harusnya dia bisa bertanggung jawab, atas dirinya sendiri lah minimal. Terus kau salahin Dinda, salahin aku. Yang tak tau, bahwa anak kita ini kek gitu?" Adi mengambil nafasnya lebih banyak. Adi sengaja menyebutkan Givan sebagai keturunan Mahendra, karena ia sedikit kesal pada Mahendra. Karena sepengetahuan Adi, Givan tak terkendali sejak tinggal bersama ayah kandungnya.


"Dia begitu, karena jadi anak kau. Bukan karena lepas dari pengawasan aku. Aku ajak dia, karena pengen dia terarah, jadi lebih baik. Saat dia lepas dari pengawasan aku, dia kata, dia ke tempat kau, ke tempat ayah sambungnya." jelas Mahendra, yang membuat Adi bingung.


"Kenapa jadi anak aku? Memang aku bawa pengaruh buruk, buat kehidupannya? Darah itu kental, Bang. Darah lebih kental dari pada air. Bisa jadi dia ngebentuk kek sekarang, karena sumber darah dagingnya. Sejauh ini, aku ngerasa udah baik ngedidik dia, adil, waktu aku luangkan, ngobrol apa macam biasa. Kau seolah permasalahkan aku yang tiba-tiba muncul, buat jadi ayah sambungnya. Ini yang kau masalahkan, aku yang nikahin mantan istri kau, atau bagaimana? Aku tak bisa ya, Bang. Kau tuduh-tuduh tak jelas macam ini, aku tersinggung!!!" ujar Adi, yang sudah tersulut emosi.


"Dia ngerasa……


"Aku ngerasa dianak tirikan, Pah. Ghifar dijemputnya balik, aku dibiarkannya di rantau orang." ungkap Givan, saat alkohol masih menguasai dirinya.

__ADS_1


"Mungkin ada alasan di balik itu, Nak." sahut Mahendra, dengan membilas wajah anaknya dengan air hangat. Karena Givan sudah beberapa kali memuntahkan isi perutnya, membuat dirinya terlihat sangat kacau dengan bau tidak sedap.


"Apa? Alasannya karena dia anak kandungnya, sedangkan aku cuma anaknya janda yang dinikahinya."


"Dulu, sebelum punya anak. Diurusnya aku baik-baik, ditelateni aku ke mana aja. Tapi setelah hadir Ghifar, papah Adi lebih berat ke Ghifar. Aku itu sama tante Zuhra terus, nyuapin, nyebokin, nemenin main ya tante Zuhra. Udah itu… mana mamah hamil si kembar. Aku tak diurus mamah sama sekali, mamah fokus sama karier dan perutnya aja." ungkap anak itu, dengan beberapa kali menjeda ucapannya.


"Waktu mamah kau hamil kau pun, dia ngurusin perutnya aja. Tak pernah megang kerjaan rumah, atau yang lainnya. Hamil itu berat, beresiko, ada rasa yang cuma dimengerti oleh dirinya sendiri. Itu wajar, Van. Banyak anak, udah mana masih pada kecil, itu pasti repot Van. Untungnya tante kau mau bantu ngurus kan?" tutur Mahendra, dengan melepaskan pakaian anaknya.


"Aku pengen dijemput papah Adi buat pulang. Aku tak sepenuh hati, pengen merantau buat pendidikan. Aku begini… biar aku dijemput paksa." tukas Givan lirih, dengan air mata yang membasahi ujung matanya.


Adi dan Adinda menatap Givan dengan begitu lekat, "Ghifar waktu itu dijemput karena sakit flek, dia harus berobat rutin 6 bulan." ucap Adi yang membuat Givan melebarkan matanya.


"Kau cuma tau garis besarnya, tapi kau tak tau alasannya." ujar Adinda kemudian.


Givan menundukkan kepalanya, menatap kedua kakinya sendiri. Selama ini, ia sudah salah mengira. Ghifar dijemput kembali, karena sakit yang dideritanya. Bukan karena ia anak kandung ayah sambungnya.


"Kau mau pulang, tinggal pulang. Kita orang tua kau, tempat kau pulang dalam keadaan apapun. Jangan iri hati, sama adik-adik kau sendiri Van! Tanya ke mereka, kalau kau merasa iri. Perlu kau ingat juga, Ghifar sampek sekarang manggil Papah pakek sebutan abang. Karena dia terbiasa denger tante kau manggil Papah, dengan sebutan abang. Dari lepas ASI, umur dia tiga bulan, dia udah dipegang tante kau. Kau tetap Papah sama Mamah kau yang urus. Untuk masalah itu pun, kau iri Van?" ungkap Adi, saat Givan hanya terdiam tak menyahuti.


"Fira." satu kata dari Givan, yang membuat Adinda kembali naik pitam.

__ADS_1


......................


__ADS_2