Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS250. Kesehatan Zuhdi


__ADS_3

"Ekhmmmm...." Zuhdi merasa kerongkongannya begitu kering.


"Akhirnya...." Kinasya segera menghampiri Zuhdi, begitu mendengar suara laki-laki tersebut.


Kinasya mengatur selang infus tersebut, lalu menyuntikkan sesuatu di selang infus Zuhdi.


"Giska pulang belum, Kak?" Zuhdi tak mengetahui pasti usia Kinasya. Ia hanya mengikuti sebutan yang istrinya sematkan pada Kinasya.


"Belum, katanya pemeriksaannya empat puluh delapan jam. Tapi... Besok udah tiba masanya tueng dara baro. Harusnya sih Giska udah selesai." Zuhdi dibuat melongo, mendengar penjelasan Kinasya.


Yang artinya, dirinya tak sadarkan diri sudah dua hari.


Ia mengedarkan pandangannya ke arah kamar tersebut. Ini adalah kamar pengantinnya, dengan hiasan bunga-bunga dan sprai yang begitu halus. Ia meniduri kamar ini seorang diri, tanpa istrinya.


"Hb kau rendah betul." Kinasya kembali menyuntikkan sesuatu pada selang infus Zuhdi.


"Kenapa itu, Kak?" Zuhdi memperhatikan Kinasya yang fokus pada infusannya.


"Sel darah merah kau rendah. Nanti minum ini sehari sekali, satu sendok makan." Kinasya menunjukkan obat untuk Zuhdi.


"Aku mau lanjut ke puskesmas. Ada ma kau di luar. Ma Dinda sama papah lagi nemenin Giska." Kinasya meninggalkan kamar Giska.


"Kenapa ya?" Zuhdi memikirkan kesehatannya.


Ia yang tidak mengerti apa-apa, menjadi begitu khawatir saat Kinasya mengatakan bahwa Hb-nya begitu rendah.


Apa lagi sebelumnya ia tidak pernah ambruk, meski di jemur di bawah teriknya matahari seharian penuh.


"Udah mendingan, Di?" ibundanya muncul dengan senyum bahagianya.


Dua malam ia menunggu anaknya terbangun. Namun, Zuhdi masih tetap memejamkan matanya.


Ia sempat merasa khawatir, karena keluarga besannya begitu sibuk memikirkan Giska saja. Membiarkan anaknya terbaring di kamar Giska seorang diri. Namun, prasangkanya salah. Karena rupanya Adinda telah memerintah dokter muda tersebut, untuk mengurus menantu laki-lakinya.


Zuhdi mengangkat tangan kanannya, ia mencium tangan ibunya.


"Haus, Ma." ungkapnya tentang yang ia rasakan.


"Katanya jangan dulu dikasih minum air putih. Kin nanti titipkan ke Ghifar, airnya nanti ambil di puskesmas." Zuhdi mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan air tersebut.


"Air apa itu?" tanyanya kemudian.


"Air apa gitu. Air putih, cuma kandungan apanya tinggi gitu." ibu Robiah tidak mengetahui pasti. Ia kurang mengerti dengan penjelasan Kinasya.


Zuhdi hanya mengangguk. Pikirannya berkelana pada istrinya.


Pemeriksaan apa, sampai memakan waktu begitu lamanya? Zuhdi bertanya-tanya seorang diri.


"Giska kapan balik, Ma?" Zuhdi tidak bisa tenang, kala memikirkan istrinya.


"Lagi diusahakan." ibu Robiah begitu prihatin pada anaknya.


Bukan karena anaknya masih perjaka, meski sudah memiliki istri. Hanya saja, ia amat kasihan akan kesehatan anaknya langsung menurun. Saat istrinya dibawa oleh pihak kepolisian. Yang menandakan, betapa berartinya Giska untuk putranya.


Zuhdi memejamkan matanya, ia teringat akan senyum manis Giska di hari pernikahannya. Ia amat khawatir pada istrinya sekarang, ia takut istrinya mendapat hukuman yang berat. Meski pihak berwajib hanya mengatakan untuk pemeriksaan dan untuk diminati keterangan saja.


Samar-samar, terdengar suara orang yang tengah berbicara. Zuhdi amat penasaran, ia ingin memastikan sendiri dengan suara yang ia dengar tersebut.

__ADS_1


"Bentar lah, aku belum mandi."


Kleb....


Giska begitu terkejut, melihat suaminya terbaring lemah dengan tiang infus berada di sebelah ranjangnya.


Kemudian matanya bergulir pada mertuanya, yang tengah duduk di tepian tempat tidur.


"Ma...." Giska berjalan cepat ke arah ranjangnya.


"Bang...." kilat khawatir tak bisa Giska sembunyikan.


Ia langsung menubruk suaminya, yang terbaring di atas tempat tidur. Pantas saja keluarganya selalu beralasan, kala dirinya menanyakan keberadaan suaminya.


"Jangan nangis, Dek. Abang tak apa." Zuhdi mengusap-usap punggung istrinya.


Ibu Robiah pun begitu terharu, melihat respon menantunya pada anaknya. Ia yakin, Giska akan mengurus Zuhdi sepenuh hati dan jiwanya.


"Pantesan Abang tak datang-datang." isakan masih Giska tumpahkan pada air matanya.


"Abang kenapa ini, Ma?" Giska menoleh ke arah ibu mertuanya.


Ia segera mencium tangan ibu mertuanya. Namun, ibu mertuanya langsung memeluk tubuh putri juragan tersebut.


"Kau tak dijatuhi hukuman kan, Nak?"


Syukur mereka ucapkan terus menerus. Giska menggeleng, untuk menjawab pertanyaan ibu mertuanya.


Giska kembali memperhatikan wajah suaminya. Zuhdi terlihat lemah dengan wajah pucat, meski berkulit hitam manis.


"Mana yang sakit, Bang?" tangannya terulur, membelai wajah Zuhdi.


Ghifar nyelonong masuk, dengan membawa air mineral botol transparan berwarna biru.


"Nih..." ia berjalan mendekati tiga manusia itu.


Giska langsung mengambil botol tersebut, kemudian segera membuka tutupnya.


Glek, glek, glek...


"Heh!" Ghifar langsung merebut botol yang diteguk oleh adiknya tersebut.


"Buat suami kau, Bodoh!"


Giska seperti orang linglung, dengan mendongak untuk menatap wajah kakaknya. Sejurus kemudian, ia langsung terkekeh. Kala menyadari kebodohannya.


"Sehat-sehat kau. Malam nanti unboxing." Ghifar memberikan botol air mineral itu pada Zuhdi.


"Apanya yang mau diunboxing? Kado-kado aku, udah diunboxing pak pol." humor sederhana dari Giska.


Adi dan Adinda masuk ke kamar Giska, saat mendengar beberapa suara yang tembus dari tembok kamar Giska.


"Jadi gimana besok? Lanjut tueng dara baro kah?" tanya Adi.


Tadinya ia ragu-ragu, untuk masuk ke kamar anak perempuannya. Ia khawatir mengganggu anak dan menantunya.


"Abang..." Adinda menggandeng tangan suaminya kembali.

__ADS_1


Ia teringat akan Adi saat kemarin hari, untungnya suaminya itu tidak ambruk dengan kabar mengejutkan tersebut.


Alhasil, akhirnya Adinda selalu menggandeng-gandeng tangan suaminya di manapun mereka berada.


Adi menoleh, saat tangannya ditarik. Kemudian dirinya kembali melangkah, setelah istrinya berhasil menyeimbangkan langkah kakinya.


"Udah lagi pasang tenda. Tadi pagi aku sempat cek, Pah."


Ghifar begitu sibuk. Mesti dirinya hanya mengurus keadaan di rumah saja. Beberapa kali ia ditelepon pihak WO, juga pihak terkait dengan pesta pernikahan Giska yang akan dilakukan sekali lagi.


"Tak mungkin dibatalkan, Bang. Pihak catering udah lagi ngolah masakan." tambah Adinda kemudian.


"Tapi Zuhdi belum baikan." Adi sebenarnya amat peduli, dengan menantunya yang lemah tak berdaya. Hanya saja, ia memiliki tanggung jawab pada Giska. Saat suami anaknya tak mampu untuk menyelamatkannya.


"Sore nanti Kin tes balik Hb Zuhdi."


Adi malah salah fokus pada Ghifar, yang menyebut Kinasya tanpa imbuhan kak. Ia memahami, bahwa antara anaknya dan anak angkatnya memiliki hubungan khusus.


"Masakin sayur bayam, Dek." pinta Adinda pada anak perempuannya.


"Kasih tomat, biar tak hijau warna airnya." Ghifar mengetahui hal itu. Karena hanya itu yang selalu ia buatkan untuk Mikheyla.


"Ya, Bang." Giska berlalu menuju ke kamar mandinya.


Kemudian ia keluar, dengan pakaian yang lebih santai. Ia akan mulai memasak untuk suaminya.


~


Petang hari telah tiba. Zuhdi tengah duduk di ruang keluarga seorang diri, ia kini sudah terbebas dari selang infus.


"Ck.... Ayolah." Zuhdi menoleh ke arah dapur.


Ia bisa melihat Kinasya yang baru keluar dari area dapur menuju ke halaman belakang, diikuti dengan Ghifar berjalan di belakangnya.


"Yang...."


Zuhdi mengerutkan keningnya. Ghifar memanggil Kinasya dengan sebutan sayang? Zuhdi terheran-heran seorang diri. Apa lagi yang ia ketahui, bahwa istri Ghifar adalah Tika.


"Gemes aku."


Zuhdi semakin terheran-heran, melihat pemandangan Ghifar yang memeluk Kinasya dari belakang.


Tawa renyah Kinasya terdengar sampai telinganya.


"Awas..." pandangan mata Kinasya tak biasa, ia terlihat begitu bahagia memandang wajah Ghifar. Itu pun menarik perhatian Zuhdi, benaknya penuh dengan tanda tanya sekarang.


"Udah enakan, Di?" mata Zuhdi bergulir pada ayah mertuanya, yang baru keluar dari dalam kamar.


"Udah, Pah." Zuhdi menurunkan kakinya yang naik ke atas meja.


Bukannya ia tidak sopan, meluruskan kakinya di atas meja saat tidak ada orang. Hanya saja, kakinya lemasnya, terasa rileks saat diluruskan dengan posisi seperti itu.


Suara cekikikan dua sejoli tersebut, membuat Zuhdi kembali menoleh ke arah pintu belakang tersebut.


"Ada apa, Di?" Adi menyadari gelagat aneh dari menantunya.


Adi berjalan cepat ke arah sofa. Lalu dirinya mengikuti arah pandangan Zuhdi.

__ADS_1


......................


__ADS_2