Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS92. Kenangan bersama pujaan


__ADS_3

"Is… udah ah. Jangan nginget-nginget terus." ungkap Canda, mencoba menepis kenangannya dengan adik suaminya.


Canda merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, menatap langit-langit kamarnya dengan warna putih yang mendominasi.


Tiba-tiba kenangan tentang adik dari suaminya, berputar kembali yang menyebabkan bulu kuduknya berdiri akan tingkah Ghifar.


"Dah dimatikan tuh. Sini ngedeket!" pinta Ghifar, dengan menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan scan saver jam dunia tersebut.


Canda langsung menggeser duduknya, lengannya menempel tepat di dada bidang pujaannya. Apa lagi sekarang Ghifar tak mengenakan kaosnya, membuat Canda sedikit gemas dengan pemandangan yang berada di sebelahnya.


"Apa, Mas?" tanya Canda, dengan menoleh ke arah Ghifar.


"Pengen mesum, dikit aja." jawab Ghifar dengan senyum nakalnya.


Canda reflek menggeser alas duduknya. Namum, sayangnya rangkulan tangan Ghifar membuat dirinya kembali bersentuhan dengan kulit Ghifar.


"Sebetulnya kau takut kan? Hmmm… waktu di Bali, ala-ala sok polos kau!" ujar Ghifar dengan kekehan kecil.


Canda merasa malu dengan ucapan Ghifar. Ia tak memungkiri, bahwa sekarang dirinya dilanda ketakutan atas kelemahan imannya. Namun, ia juga ingin mengelak atas tuduhan sok polos tersebut. Karena memang sebelumnya, Canda tak mengerti saat kejadian di Bali.


"Mau apa sih, Mas?" tanya Canda, saat Ghifar menarik dagunya.


"Kau belum pernah ciuman kan? Berarti bersih dong ya? Aku minta cium, dikit aja." ungkap Ghifar yang membuat jantung Canda berdegup kencang.


Canda menahan rahang Ghifar. Namun, Ghifar langsung menepis tangan Canda.


"Tenang, aku pasti kontrol. Sebelumnya pun, aku tak pernah macem-macem kalau pacaran." ujar Ghifar, berharap Canda tak menolak akan ajakannya.


"Aku harus gimana, Mas?" tanya Canda, saat bibir Ghifar baru menempel di bibirnya.


Ghifar menarik lagi kepalanya. Ia tertawa geli, dengan menggelengkan kepalanya.


"Diem aja, biar aku yang bimbing. Untuk masalah ciuman, insyaa Allah bisalah." jawab Ghifar setelah dirinya selesai tertawa.


"Deg-degan aku, Mas." aku Canda, dengan menempatkan tangannya di depan dadanya.


"Tak usah takut, tenang aja. Lagian aku tak mungkin ngerugiin kau." sahut Ghifar, dengan kembali merangkul mesra pundak wanita yang berada di sebelahnya.


"Mas…." suara Canda, saat wajah Ghifar begitu dekat dengan wajahnya.

__ADS_1


"Stttt……." desisan Ghifar, agar Canda terdiam.


Ghifar mulai menyalurkan rasa pias, yang begitu mengerubungi hatinya. Menyatukan organ yang tak bertulang, yang sering sekali menjadi bahan ejekan orang tuanya di masa ia kecil. Karena Ghifar kecil, yang tak bisa melafalkan huruf R.


"Mas…." Canda mengundurkan kepalanya. Tatkala telapak tangan Ghifar, menyentuh kulit perut Canda.


Canda mencekal tangan Ghifar, dengan pandangan memohon agar Ghifar tak bertindak lebih jauh.


"Apa sih, Dek? Orang cuma grepe aja. Cuma pegang aja, pengen liat yang sering nempel-nempel di lengan Mas." ucap Ghifar lembut, dengan mengunci pandangan mata Canda.


"Nanti kalau udah liat, malah pengen lain." sahut Canda yang diangguki Ghifar.


Ghifar tersenyum lebar, "Makanya sengaja nutup gorden. Biar tetangga tak liat." balas Ghifar yang tak memungkiri niat awalnya.


"Mas dulunya pernah pacaran? Pacarannya selalu gitu? Katanya kita gak pacaran, tapi Mas kaya gitu?" ungkap Canda, dengan merengut kesal.


Ghifar mengangguk, "Perempuan yang di resto, waktu kita di Bali itu. Itu mantan Mas, yang pertama dan terakhir. Itu juga yang bikin Mas tak mau buat status pacaran lagi. Soalnya nanti minta dijajanin terus, sedangkan Mas tak ada uang." ujar Ghifar dengan senyum yang ia pertahankan.


Canda melebarkan matanya, "Jadi, kalau kita jalin hubungan tanpa status. Mas tak perlu jajanin aku?" tutur Canda yang langsung diangguki Ghifar dengan wajah senangnya.


Canda mendengus kesal, "Ih, nyebelin banget sih." tukas Canda yang merasa kesal pada Ghifar.


"Yang penting kan Mas udah ngejanjiin buat nikah nanti. Masalah mesum kek gini, Mas juga tau batas kok. Kau tenang aja." ucap Ghifar, dengan mendaratkan kecupan ringan di pipi kiri Canda.


"Bagilah Mas cium, sama grepe sedikit. Biar dapat mimpi basah, Dek. Soalnya lama tak dikeluarkan, pening juga di kepala. Mana kan, Mas ini anti c*li." lanjut Ghifar jujur.


"Udah kan cuma cium sama grepe aja?" tanya Canda memastikan.


"Nyonnyon juga, terus udah." jawab Ghifar dengan menyangga wajahnya, dengan tangan yang bersandar pada sandaran kursi tersebut.


"Apa itu?" ujar Canda, dengan menatap wajah menyebalkan pujaannya tersebut.


"Mas hisap ini." jelas Ghifar, dengan menunjuk dada Canda.


Sontak Canda langsung menutup bagian dadanya, dengan kedua tangannya.


"Ihh, Mas kenapa sih?" sahut Canda, dengan kembali menggeser posisi duduknya.


Sejujurnya ia tak akan sanggup, untuk menolak permintaan Ghifar. Tapi ia merasa takut, dengan aksi yang pertama untuknya tersebut.

__ADS_1


"Mas tak kenapa-kenapa. Memang lagi pengen aja. Lagian cuma gitu-gitu aja, Dek. Mas tak mungkin merawanin kau. Sayang nanti perjaka Mas, kalau tau-tau kau nikahnya bukan sama Mas." balas Ghifar, yang membuat Canda langsung memeluk tubuhnya erat.


"Iya-iya aku nurut, yang penting jadi nikah." ujar Canda dalam pelukan Ghifar. Membuat Ghifar tertawa geli, atas sahutan wanita yang memeluknya erat tersebut.


"Dasar, bodoh! Nurut-nurutnya aja, nanti betulan Mas jebol juga perawan kau." tutur Ghifar, Canda langsung menggeleng dalam dekapan Ghifar.


"Janganlah Mas, nanti aku nangis." tukas Canda yang membuat tawa Ghifar pecah seketika.


"Mas nyebelin, ngetawain aku aja dari tadi." ucap Canda, dengan memukul pelan dada bidang yang begitu menggoda tersebut.


"Kau ngelawak aja. Dasar, prawan pesantren! Kalau laki-laki bukan Mas, udah habis kau keknya Dek." sahut Ghifar, dengan menarik dagu Canda. Agar mendongak ke arah wajahnya.


"Pelan-pelan, Mas." pinta Canda, saat menyadari tangan pujaannya sudah berada tepat di dadanya yang masih terbungkus kemejanya.


Ghifar mengangguk, kemudian menyatukan bibir mereka berdua. Dengan tangan Ghifar, yang aktif bergerak untuk membuka kancing kemeja wanita yang pasrah dalam rengkuhannya tersebut.


"Kalau Mas keterlaluan, tolong ingetin." ucap Ghifar, dengan menundukkan kepalanya dan langsung menuju pucuk yang ia cari.


Canda memejamkan matanya, mengusap rambut lebat Ghifar. Ia merasa aneh dengan rasa yang ia dapatkan, rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Ghifar mengempiskan pipinya, karena hisapan gemasnya semakin menguat.


"Mas… akuhhhh…." ucap Canda, dengan menahan rasa geli yang bercampur nikmat tersebut.


"Aku diapain?" lanjut Canda, karena ia semakin tak bisa menahan rasa gelinya.


Ghifar beralih ke dada sebelah kanan, dengan jarinya yang memilin dada sebelah kiri Canda.


"Mas… ampun, Mas. Aduh… ini geli. Aku geli gak karu-karuan." rengek Canda, yang malah membuat Ghifar semakin semangat menikmati buah yang membuatnya gemas tersebut.


Ghifar menancapkan giginya pelan, menimbulkan rasa yang semakin membuat Canda kelabakan.


"Mas… mending digelitikin aja aku, Mas. Aku gak tahan, ini gelinya gak karuan. Aku bingung, mau garuk yang mana." suara Canda kembali, yang membuat Ghifar tersenyum samar.


Hingga…


......................


Apa kalian lihat senyum author yang ikut bapernya aja 🤭

__ADS_1


__ADS_2