
"Macam mana, Dek?" tanya Adi, setelah Adinda dan Icut baru keluar dari ruangan dokter.
"Udah sepuluh minggu." jawab Adinda lirih, dengan menyerahkan resep dokter pada suaminya.
"Is, kau macam mana sih Cut? Udah besar kau baru bilang, macam mak kau aja." sahut Adi dengan memperhatikan wajah Icut yang tengah menunduk.
"Jadi… mamah aku dulu, hamil duluan juga ya Pah?" balas Icut dengan suara yang terdengar bergetar.
"Udah tak usah bahas. Kita cari sarapan dulu, lapar kali Mamah." tegas Adinda kemudian.
"Mah, Pah… maaf udah bikin malu." ungkap Icut begitu lirih, saat mereka berjalan bersama menuju parkiran.
"Coba nanti kau kirim foto hasil USG itu ke laki-laki kau." sahut Adinda dengan diangguki langsung oleh Icut.
"Pah… dulu Papah hamil duluan sama mamah kandung aku, udah punya Mamah Dinda ya?" Icut bertanya kembali, yang membuat Adi kesal.
"Papah tak suka, kau tanya-tanya masalah itu. Lebih baik, kau tanya hubungan Papah sama Mamah Dinda. Jangan sama mamah kandung kau, karena Papah sendiri tak bisa jelasin dari mana dulu harusnya." jelas Adi dengan penuh penekanan, membuat nyali Icut ciut seketika.
"Nyari nasi jamblang khas Cirebon sih, Bang. Perasaan aku pernah tengok, di deretan jalan itu." usul Adinda dengan menunjuk pada jalanan di depannya, setelah mereka semua berada di dalam mobil.
"Ya, Dek. Nanti sekalian bungkusin buat anak-anak di rumah." sahut Adi dengan menjalankan mobilnya.
"Mana Cut, hasil USG-nya? Difoto belum?" tanya Adinda dengan menoleh ke arah bangku belakang.
"Ya, Mah." jawab Icut dengan melakukan perintah ibunya. Lalu ia memainkan ponselnya, dengan sengaja mengirimkan hasil foto tersebut untuk kekasihnya.
"Kau bilang, orang tua kau udah tau. Ini aku dianterin mamah papah ke ke dokter gitu." pinta Adinda yang diangguki oleh Icut.
Tak lama kemudian. Icut menggigit bibir bawahnya, setelah mendapat jawaban dari kekasihnya.
Adi melihat perubahan wajah Icut dari spion tengah, "Dek…" ucap Adi dengan menunjuk dengan dagunya.
__ADS_1
Adinda mengerti, lalu ia menoleh ke belakang dengan langsung melompat ke bangku belakang.
"Mana? Mamah mau baca juga." ujar Adinda dengan menajamkan penglihatannya pada layar ponsel yang masih Icut genggam.
"Aku malu, Mah." sahut Icut yang sudah mulai terisak kembali.
"Mamah bakal marah betulan, kalau kau malah sembunyi-sembunyi dari Mamah. Apa lagi, kau tanpa izin temuin laki-laki kau lagi buat ngemis-ngemis tanggung jawab." tegas Adinda dengan Icut yang langsung menyodorkan ponselnya.
"Apa katanya, Dek?" tanya Adi yang melihat sekilas dari spion tengah.
"Katanya, kau hamil? Hamil anak siapa? Rasa-rasanya tak mungkin anak aku, kan aku selalu cabut kalau mau keluar." jawab Adinda dengan membaca pesan tersebut.
"Siapa sih, Dek? Anak siapa laki-laki Icut itu? Rasanya Abang mau hajar dia habis-habisan." sahut Adi dengan urat-urat yang menegang, karena emosi yang tertahan.
"Udahlah, Bang. Mending kita tak taunya." balas Adinda dengan mengetikkan pesan untuk kekasih Icut.
"Mamah balas apa?" tanya Icut, dengan memperhatikan layar ponsel yang Adinda genggam.
"Mamah balas… aku cuma ngasih tau, kau mau tanggung jawab atau tak, itu masalah kau. Yang jelas, aku udah ngasih tau kau bahwa itu anak kau. Jadi jangan salahin aku, kalau kelak nanti kau tak dikenal anak kau sendiri." jawab Adinda yang membuat Adi melongo.
"Memang mau Abang macam mana? Selalu jawab bingung, itu bukan solusi Bang." balas Adinda yang membuat Adi bungkam.
Bukan tanpa alasan, pasalnya masalah ini begitu sensitif menurut Adi. Keputusan Adinda yang seolah tak berperasaan, juga menurut Adi kurang tepat. Namun, ia pun tak menginginkan mengemis tanggung jawab pada kekasih Icut.
"Kau jangan berpikir lebih baik jadi janda, dari pada punya anak tak ada bapaknya. Itu nambah bikin malu keluarga aja. Udah nikah karena hamil, udah nikah malah diceraikan. Jangan sampek kek gitu." ungkap Adinda yang membuat Icut semakin tak bisa menahan suara tangisnya.
"Cut… dengerin Papah. Udah macam ini, mending kau nurut sama Mamah aja. Kau jangan sampai stres mikirin, kau masih tetap anak Mamah sama Papah. Setelah ini, kau lebih hati-hati sama laki-laki. Ilmu agama yang kau dapat, kau amalkan buat kehidupan kau sama anak kau." ujar Adi mencoba menenangkan anaknya.
"Nah, itu. Terus nanti ajarin anak kau manggil Mamah, mamah aja jangan nenek, omah, atau semacamnya. Panggil Papah kau juga papah, jangan kakek, opah apa lagi abah. Nanti masukin ke KK Papah, kalau memang laki-laki kau itu lepas tangan." tutur Adinda dengan langsung mendapat pelukan erat dari Icut.
"Makasih Mamah… Mamah udah baik kali sama aku, udah sayang betul sama aku, udah peduli sama aku." tukas Icut dengan suara yang tak jelas.
__ADS_1
"Tak juga sih, cuma karena kau tinggal bareng Mamah aja." ucap Adinda yang membuat Adi terkekeh geli.
"Kau ngomong macam itu ke Mamah, malah dadakan jadi pelawak Mamah kau itu." sahut Adi kemudian.
"Iya, apa kali Mamah tuh. Suka nyebelin, bikin aku nangis sambil ketawa aja." balas Icut yang membuat Adinda tertawa renyah.
"Mana ada kan Mamah sambung macam itu?" tanya Adi yang sebenarnya mencoba memuji istrinya.
"He'em, Mamah paling the best. Bisa jadi teman, bisa jadi orang tua juga." jawab Icut dengan memeluk Adinda kembali.
"Janji sama Mamah, jangan pernah temuin laki-laki di jalan lagi? Udah kejadian macam ini, tolong jagain Giska juga. Jangan sampek dia ngerasain hal yang sama, macam yang kau rasakan sekarang." pinta Adinda yang langsung disanggupi oleh Icut.
"Giska kan patuh betul sama Mamah Papah, tak mungkin dia macam ini." ucap Icut dengan melepaskan kembali pelukannya.
"Wawasan Giska lebih luas, karena dia salah satu fans beratnya mamahnya. Dia baca semua novel adek, sampek film yang diangkat dari novel Adek pun dia tonton balik Dek." timpal Adi mengatakan apa yang ia tahu tentang anaknya.
"Dari mana Abang tau?" tanya Adinda dengan meraih tas miliknya, yang berada di bangku depan.
"Giska hobi shubuhan jam enam itu, karena dia jam 12 malam masih baca novel. Sebelum dia bangun, Abang sering cek HP-nya. Banyak betul novel favoritnya-nya, belum lagi dia baca bukan di satu aplikasi aja. Terus juga dia kan suka betul anteng di perpustakaan pribadi kita, berapa kali Abang nge-gap Giska lagi baca novel cetak Adek punya." jawab Adi yang membuat Adinda mengingat kembali sesuatu.
"Hah… kalau dia baca Sang Pemuda, pasti dia tau kalau mamah papahnya dulu kena grebek." balas Adinda dengan mata terbuka.
"Hah??? Mamah sama Papah kena grebek?" seru Icut yang membuat Adinda dan Adi terhenyak mendengar suara Icut.
"Biasa aja dong, kaget Papah." ujar Adi yang membuat Icut tertawa terbahak-bahak.
"Jadi… laki-laki kau balas apa lagi?" tanya Adi kemudian, yang membuat tawa Icut lenyap seketika.
Adinda langsung mengambil kembali ponsel Icut yang tergeletak asal, dengan langsung membuka aplikasi chat kembali.
"Dia kata…..
__ADS_1
......................
Lebih bisa ditebak ya permasalahan kali ini? 😏