
Givan sudah kembali dari pengobatannya, ia terlihat menahan kesal terlihat dari ekspresi wajahnya.
"Ini yang terakhir lah. Mas udah tak mau berobat rutin lagi." ucap Givan, saat sampai di depan istrinya dan ibunya yang duduk di teras rumah.
Givan langsung berlalu pergi, melewati mereka begitu saja.
"Sana samperin, tenangin." pinta Adinda lirih, dengan menyenggol lengan menantunya.
Canda mengangguk, kemudian berlalu untuk menghampiri suaminya.
Saat Canda membuka pintu kamarnya. Terlihat Givan tengah duduk di tepian tempat tidur, dengan rambut yang basah. Sepertinya Givan sudah mencuci tangan dan membasuh wajahnya, itulah yang Canda kira.
Canda menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan dan duduk di sebelah suaminya.
"Mau bikin teh kah? Atau susu?" tanya Canda, sengaja tak membuka bahasan tentang rumah sakit. Biarlah Givan untuk bercerita sendiri, karena Canda takut malah dirinya yang menjadi pelampiasan amarah suaminya.
"Pengen dipeluk." jawab Givan lirih, dengan masih memperhatikan lantai kamarnya.
Canda langsung memberikan pelukan nyaman untuk suaminya. Masih tentang masalah keturunan, yang membuat Givan terpuruk seperti ini.
Pelukan Canda terbalas. Ia merasakan Givan mengusap punggungnya, dengan dagu bertumpu pada bahunya.
"Coba minta saran sama mamah aja. Tanyain jamu-jamuannya apa, tanyain cara lain selain berobat di rumah sakit. Mas tak mau lanjutin pengobatan di rumah sakit lagi. Mas tak bisa mas*ur*asi buat ngeluarin air Mas, itu susah buat Mas. Belum lagi biaya, obat-obatannya bikin Mas lemes. Kau tau sendiri kan? Mas lebih sudi nunggu kau selesai haid, dari pada harus main sama tangan." ungkap Givan, yang masih memeluk erat istrinya.
Canda mengangguk samar, ia berpikir memaksa Givan bukanlah opsi yang pantas ia ambil.
"Ya udah, Mas. Nanti aku sharing sama mamah lagi. Masnya yang sabar, jangan pengen cepet-cepet punya anak terus. Kita perlu waktu, kita belum dipercaya untuk itu." Canda berusaha membuat mood suaminya bagus kembali.
"Gimana kalau kita adopsi aja? Atau... Kita adopsi Memei?" lontaran tersebut, membuat gemuruh aneh untuk Canda.
Canda menginginkan keturunan dari dirinya sendiri. Canda tak menginginkan anak orang lain. Bukan, bukan. Tepatnya, Canda amat ingin melahirkan keturunan untuk suaminya.
__ADS_1
Canda melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap kedua telapak tangannya dengan pandangan berkaca-kaca.
"Masalah ini kan, sebelumnya udah pernah kita bahas." Canda amat takut, untuk menyuarakan keinginan tersebut. Ia takut suaminya memarahinya, karena tidak sependapat dengannya.
Givan membuang nafasnya gusar, ia merasa aliran darahnya memuncak di kepalanya.
"Kau mau gantian sama mamah buat asuh anak-anaknya, buat ngasih Gavin sama Gibran. Tapi... Giliran Mas minta kita adopsi anak, buat kau asuh sendiri. Kau nampak keberatan betul, kau tak pernah mau akan hal itu." suara Givan yang meninggi, disertai dengan bentakan. Membuat nyali Canda menciut, Canda tidak bisa dibentak.
"Mas... Jangan kuat-kuat ngomongnya. Tak enak, kalau sampek mamah denger." ucap Canda lirih, dengan masih menundukkan kepalanya.
"Mas... Anak orang lain, sekalipun kita didik dengan baik. Tapi tetap aja, itu tak akan merubah kenyataannya bahwa memang anak itu bukan anak kita. Mas yang sabar, tunggu sampek aku bisa lahirin keturunan dari Mas sendiri." lanjut Canda, dengan suara gemetar.
"Tunggu, tunggu, tunggu. Mas udah tak sabar, pengen punya bayi. Pengen dipanggil ayah, pengen jadi orang tua." sahut Givan dengan berlalu keluar kamar. Bantingan pintu pun tak terelakkan, suaranya cukup membuat jantung Canda berpindah tempat.
Canda menoleh sekilas ke arah pintu kamarnya, kemudian ia dengan cepat menghapus air matanya yang jatuh tak tertahankan.
"Aku tak pernah bilang, bahwa masalah ada sama dia. Tapi... Setidaknya ngerti tentang aku, tentang aku yang cuma mau lahirin keturunan kita sendiri. Ngadopsi anak, bukan hal yang mudah. Ada tanggung jawab besar, karena ada orang tua kandungnya, yang kelak nanti bakal campur tangan sama pertumbuhan anak itu. Aku tak bisa ngomong banyak sama kau, Mas. Aku takut, aku takut mau jelasin segala yang aku maksud tentang keinginan aku." ucap Canda seorang diri, dengan menutupi wajahnya yang basah kembali karena air mata.
Ada yang kesulitan ekonomi. Ada yang cintanya dibagi, dengan istri lain suaminya. Ada yang sulit mendapat keturunan, bahkan ada juga yang tidak bisa memiliki keturunan.
Faktor yang membuat rumah tangga semakin kacau pun, terkadang ikut serta dalam masalah yang sudah kita hadapi.
Mertua galak, ipar iri, saudara yang seperti musuh, bahkan anak sendiri yang mendzolimi orang tuanya.
Hal itu pasti ada saja, meski tak semua orang rasakan. Tetapi, masing-masing rumah tangga tentu memiliki banyak ujiannya sendiri.
~
~
Icut begitu bahagia, ia berfoto ria dengan orang tuanya dan juga anaknya. Untungnya anak-anak Adi pandai membidik angle, untuk ia foto. Jadi Ghava bertugas untuk memfoto hari bahagia Icut tersebut.
__ADS_1
"2,5 juta loh bayaran aku ini." ucap Ghava, dengan menunjukkan hasil jepretannya pada Icut yang masih memakai toga.
"Ya, bayarin ongkos pesawat Mamah sama Papah." sahut Adinda ketus.
Adi terkekeh geli, dengan masih menggendong cucunya.
"Tunggu sebentar ya Mah, Pah. Aku nyelesaiin acara dulu nih. Mau foto sama temen dan beberapa dosen, terus balik kita." ujar Icut, saat melihat satu temannya melambai ke arahnya.
"Kak, memang nanti tak urus lain-lain? Kan tak langsung jadi gelar kau, Kak." timpal Ghava, dengan mengambil satu jepretan saat ayahnya mencium pipi cucunya.
"Biar nanti ayah Yoseph yang urus. Akak udah pengen istirahat, pengen Hamerra ada yang gantiin ngajak." balas Icut, dengan terburu-buru berjalan ke arah teman-temannya.
"Tuh... ma kau masih pengen main, Nak. Lepas ini kau masuk ke KK Papah, jadi anak Papah." ujar Adi, dengan masih menciumi bau khas bayi pada leher cucunya.
"Ekhmmmm...." dekheman seseorang, yang mengalihkan perhatian mereka semua.
Adinda tersenyum mengejek, dengan menggulirkan pandangannya ke arah lain.
"Hebatnya pasangan ini. Anaknya udah sarjana, udah dapat gelar." celetuk Maya, seperti tengah menyindir mereka.
"Tapi sayang, orang tua hebat, ternyata tak bisa jagain anaknya. Atau memang... Karena Naya bukan anak kalian?" tuduhan Maya, sangat tidaklah benar.
"Buah jatuh... Tak jauh dari pohonnya. Sekian dan terima kasih." balas Adinda, kemudian menarik kemeja suaminya.
Adi, Adinda dan Ghava berlalu pergi. Mereka memilih untuk tidak meladeni mantan istri Adi tersebut.
Maya menajamkan rahangnya, ujung bibirnya seperti tengah menirukan Adinda yang tengah memaki.
"Sombong kebangetan. Itu cucu aku, anak aku, keluarga aku. Dasar, gak tau malu!" maki Maya lirih, dengan memandang Adinda yang tengah bergelayut pada lengan kekar Adi. Sedangkan cucunya, tengah mendongak untuk mencari keberadaan Adinda yang mengisenginya tersebut.
"Aku harus ngomong sama Yoseph. Naya anak Yoseph, Naya harus bisa ikut aku sama Yoseph." gerutu Maya lirih, dengan berjalan menuju ke ruangan Yoseph.
__ADS_1
......................