Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS188. Giska berubah


__ADS_3

"Aku tunggu di teras, Tik." Ghifar meninggalkan area dapur begitu saja.


Saat Canda mengeluarkan suaranya, tentang keberadaan kantong plastik. Itu malah membuat Ghifar merasa kacau. Ia masih ingat akan imbuhan mas, yang selalu terselip di depan namanya itu.


"Key..." Ghifar mencari keberadaan anak itu kembali.


Ia menoleh ke kiri dan kanan, ia menemukan keberadaan anak itu.


"Mau diajak pergi, Bang." ujar Ghifar, pada kakaknya yang tengah menggendong-gendong Mikheyla.


"Anak selucu ini, Far. Abang masukin ke KK Abang aja ya? Key pasti tak punya dokumen kan? Nanti bikin akte, biar dia bisa sekolah. Kau tetep papahnya, Abang juga tetep pak wa Key. Kita besarin bareng-bareng Key, Abang cuma orang tua buat aktenya aja." Ghifar terdiam, menyimak ucapan kakaknya tersebut.


"Liat nanti aja, Bang." Ghifar mengambil alih Mikheyla dari gendongan Givan.


"Mana, Tik?" seru Ghifar di teras rumah.


Tika muncul dengan kantong plastik berwarna putih bekas minimarket, "Nasi, lauk, minum." ujar Tika dengan memberikan plastik tersebut.


"Yoka suruh berjemur, atau regangin ototnya. Jangan tiduran aja gitu." Ghifar berpesan pada Tika, sembari mengenakan sendalnya.


"Itu, Bli. Kak Tika minta lanjut kuliah. Kesehatannya udah baik-baik aja katanya, Bli." Ghifar menyugar rambutnya ke belakang, kemudian ia menggaruk rambutnya yang sudah rapih. Ia pusing, dengan ini semua.


"Ya, nanti diatur." jawab Ghifar melangkah ke arah motornya yang sudah berada di halaman rumah.


Ia tak ingin mengecewakan salah satu dari kakak beradik tersebut. Ia ingin menolak hal itu, tapi ia menyadari pendidikan adalah hak setiap orang.


Ghifar membawa Mikheyla dengan motornya. Senyum Mikheyla mengembang, saat angin menerpa wajahnya. Hal kecil itu, membuat putri Fira amat bahagia.


"Ayan-ayan." celotehan Mikheyla terdengar lucu di telinga Ghifar.


"Iya lah. Tak pernah jalan-jalan ya?" suara Ghifar seperti mengejek.


Anak kecil itu mengangguk. Menoleh ke arah kiri dan kanan, memperhatikan rumah khas daerah tersebut. Di daerah kampung halaman Adi, rumah-rumah berdinding kayu masih berdiri kokoh. Namun, banyak juga yang sudah merehabnya dengan bangunan modern. Seperti kediaman keluarga Adi.


"Icut keknya itu." ucap Ghifar, saat melihat perawakan tubuh Icut dari belakang. Yang tengah mendorong sepeda roda tiga. Ghifar masih ingat, dengan baju yang Icut kenakan.


Icut berhenti di pertigaan jalan, menghampiri seseorang yang berdiri di sisi kiri jalan.


Tangan Icut terulur, menggapai pipi anak perempuan yang duduk di atas tangki depan motor seorang laki-laki.


Laki-laki tersebut menoleh ke arah Ghifar yang akan melewatinya. Mata Ghifar melebar, ia teramat ingin menendang orang tersebut.

__ADS_1


Bisikan kecil, membuat rusuh suasana antara Icut dan laki-laki tersebut.


"Ngapain kau?" Ghifar memarkirkan motornya, di depan motor dengan model tangki di depan.


Ia turun, kemudian menggendong Mikheyla. Ia berjalan menghampiri Icut dan laki-laki yang Ghifar kenali.


"Tak, Far. Nyapa aja." Icut terlihat gelagapan saat mengatakan hal itu.


"Kau mau ke mana, Kak?" lanjut Ghifar, matanya silih bergulir memperhatikan wajah Icut dan laki-laki tersebut.


"Ke... Ahya." jawabnya seperti berpikir.


"Ya udah sana! Jangan nemuin laki-laki di jalan." Ghifar berlagak seperti dirinya lebih tua dari Icut.


Tetapi ia begitu pun, agar kejadian buruk tak lagi menimpa Icut.


"Bek sampoe, aku bilangin ke mertua kau Bang!" ancam Ghifar dengan memberi lirikan tajam pada laki-laki tersebut.


"Kau tenang aja." sahut Ilman dengan wajah santainya.


Ghifar mengangguk, kemudian kembali ke motornya. Membenarkan posisi Mikheyla, lalu dirinya melajukan motornya dengan pelan.


"Meme yap nyap." celoteh anak itu, mendongakan kepalanya ke wajah Ghifar.


"Pa... Pa pa..." Mikheyla menepuk-nepuk wajah Ghifar, dengan memutar kepalanya untuk mendongak menatap wajah Ghifar.


"Hmmm, apa?" Ghifar berusaha menepis tangan Mikheyla, sesekali ia melirik ke wajah Mikheyla.


"Yap nyap. Ke yap nyap." ujar anak tersebut meminta perhatian dari Ghifar.


Ghifar menepikan motornya sejenak, ia terganggu dengan Mikheyla yang menepuk-nepuk wajahnya.


"Apa, Key?" Ghifar bertanya dengan wajah kesalnya.


"Meme yap nyap. Ke yap nyap." ungkap Mikheyla, dengan isyarat tangan yang ia masukkan ke dalam mulutnya.


"Ohhh... Iya. Memei makan, Key nanti makan juga. Kalau udah nyampek di rumah om Lilik, Key Papah suapin." jelas Ghifar. Ia baru mengerti, ternyata putri cantik itu sudah minta untuk makan.


Mikheyla mengangguk, seolah benar mengerti ucapan Ghifar.


Akhirnya, Ghifar melanjutkan perjalanannya untuk menuju ke rumah temannya.

__ADS_1


Pengeluaran terus berjalan, apa lagi ia menjanjikan Ghava untuk membantu uang pernikahannya. Belum lagi Yoka sudah minta untuk melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda, Ghifar harus memikirkan itu karena biaya kuliah tidaklah murah. Biaya persalinan Tika pun, harus Ghifar pikirkan juga.


Di rumah keluarga Adi. Givan menatap bengis pada adik perempuannya. Ia terlihat sudah tak bisa menahan amarahnya, pada putri satu-satunya dari keturunan Adi.


"BERAPA KALI HARUS ABANG PERINGATANKAN LAGI, GISKA!!!" bentak Givan, giginya saring beradu, seolah ingin menghancurkan Giska dalam kunyahannya.


Giska tersentak kaget, ia tak menyadari keberadaan kakaknya di belakang tubuhnya yang sedang bermain ponsel.


"Slot lagi! chip lagi! Jangan-jangan tabungan kau yang masuk ke rekening Zuhdi, buat bekal nikah itu. Itu hasil judi online kau itu?" tuduh Givan, saat Giska menoleh ke arahnya.


"Tak." sahutnya padat dan jelas.


"Abang dari kemarin udah curiga sama kau, Giska! Ada apa di kamar kau yang selalu dikunci itu? Terus... Kenapa kau suka menyendiri di kamar? Bertapa kah kau? Pengen pelet Zuhdi kah kau?" tuduhan Givan semakin menjadi-jadi.


"Tak ada apa-apa, Bang." sahut Giska menundukkan kepalanya.


"Udahin drama kau! Atau... Abang tak main-main buat laporin kau ke WH." ancam Givan kemudian.


Giska membuang nafasnya, "Aku tak berdrama. Laporin ya silahkan, Bang." Giska seolah tak perduli tentang hal itu.


"Ayo berangkat, Abang anter." Givan berniat untuk menyelediki adiknya lebih lanjut.


"Tak usah. Aku bisa berangkat sendiri ke tempat KKN." tolak Giska cepat.


Givan menaikkan sebelah alisnya, ia sedikit heran dengan penolakan adiknya yang manja tersebut.


"Minta jemput Adi kau?" Givan mengikuti langkah adiknya yang keluar dari rumah tersebut.


"Tak, aku naik angkot." jawabnya berlalu pergi begitu saja.


Givan merasa, adiknya seperti bukan adiknya. Giska benar-benar berubah, sejak cincinnya dikembalikan ke keluarga Zuhdi. Giska sudah tidak lagi manja, ia pembangkang dan misterius.


Givan memejamkan matanya, berharap sesuatu bisa ia lihat dari pandangan yang tak pernah ia rasakan lagi sejak pertama kali berhubungan se*s.


"Ma nglarang sebetulnya, tapi jadi dukun keluarga boleh juga keknya." Givan masuk kembali ke dalam rumah dengan gumaman omong kosongnya.


Ia merasa tidak nyaman saat melihat makhluk berbagai jenis dan rupa. Tapi, ia membutuhkan penglihatan itu saat merasa ada sesuatu yang tak ia ketahui. Sebegitu besarnya rasa ingin tahu Givan, pada adiknya yang sering mengurung diri tersebut.


Givan berhenti, saat dirinya berada di depan pintu kamar Giska. Ia menimbang-nimbang, untuk masuk tanpa izin, atau membiarkan pintu kamar tersebut tetap tertutup.


......................

__ADS_1


Yang baca season 1, pasti tau kelebihan Givan.


__ADS_2