
"Mah... Sini aku aja yang nyuapin Gavin sama Gibran." ucap Canda, saat melihat ibu mertuanya duduk di sebelah suaminya yang tengah melakukan panggilan video.
"Ya, Bi. Aku kan udah bilang, tak usah sambungin telepon gini-gini. Nanti aku pulang ke Mak." suara yang membuat hati Canda kebas.
"Far... Ghifar..." panggil Adi, tetapi sayangnya Ghifar langsung memutuskan panggilan teleponnya sepihak.
"Tuh, Di. Gimana aku harus jelasin ke kalian?" ucap Haris, yang masih tersambung dalam panggilan.
"Kurusan keknya Ghifar, Bang." kesimpulan kecil, saat Adinda melihat bayangan anaknya sekilas.
Tentu Adinda merasakan perubahan pada tubuh Ghifar, karena ia yang mengurus anak itu sejak bayi sampai ia berusia 20 tahun. Lalu Ghifar memutuskan untuk merantau ke pulau Dewata tersebut.
"Kurusan, tak ada yang ngurus." sahut Adi, yang terlihat begitu frustasi.
"Kita jemput aja yuk, Bang." balas Adinda dengan memeluk tubuh suaminya.
Ia begitu kacau, saat merasakan sesuatu tentang perasaannya.
Adi mengusap lengan istrinya, "Kasiin dulu makanan anak-anak ke Canda." ungkapan Adi yang membuyarkan lamunan Adinda.
"Ini, tolong suapin dulu ya." ujar Adinda, dengan mengulurkan semangkuk nasi dengan lauk pauk yang cukup banyak.
Canda menerima mangkuk tersebut, kemudian berlalu pergi menuju ke arah adik-adik iparnya.
"Tak lama lagi dia balik." ucap Haris, yang merasa risih melihat sahabatnya begitu lengket pada teman masa sekolahnya.
"Tak lama lagi tuh kapan?" sahut Adi, dengan memperhatikan gambar Haris di layar ponselnya.
"Yang penting kan dia baik-baik aja, sehat-sehat aja." ujar Haris, mencoba menenangkan orang tua yang memiliki koleksi anak tersebut.
"Terus Ken jadi nikah? Udah dua tahun sekarang kan?" tutur Adi, mencoba mengalihkan pikirannya yang merumit.
"Malah putus sama Riska. Ken tuh belum pengen rumah tangga, masih slengean. Riska nangis-nangis datang ke rumah, bilang katanya diputusin Ken. Pas aku telpon Ken, banyaknya suara perempuan. Ada suara bayi nangis juga, ramai betul. Pikiran aku langsung ke mana-mana, jangan-jangan kan Ken udah nikah dan punya anak di sana. Soalnya Ken dari hari itu, tak pernah pulang ke rumah juga." tukas Haris, sedikit menceritakan tentang anaknya.
__ADS_1
"Dijemput aja kah? Aku sama kau ke sana. Mungkin rumah sakit tempat kau sama Ken dinas kemarin, nyimpan alamat rumah sakit dinas Ken sekarang." usul Adi, karena ia pun sudah amat kacau memikirkan satu anaknya.
"Mereka bilang nanti balik, kita tunggu aja sampek lebaran. Lebaran mereka tak balik, syawal kita jemput mereka." ucap Haris kemudian.
"Ya udah, nanti gampang kabarin aja ya kalau ada apa-apa sama anak-anak." sahut Adi dengan masih merengkuh istrinya.
"Ya, Di. Assalamu'alaikum." balas Haris cepat, dengan Adi dan Adinda segera menyahutinya.
"Pah..." rengek Giska, dengan memunculkan kepalanya dari ruangan lain.
"Ya...." sahut Adi dengan menoleh ke arah pintu kamar Giska.
"Makan dulu, Dek. Jangan dimanja sakit haid tuh, normal kan sakitnya?" lanjut Adi, dengan Giska melangkah ke arahnya.
Giska mengangguk kecil, "Tapi memang malas ngapa-ngapain kalau haid tuh Pah." ucap Giska, dengan duduk di sebelah ayahnya. Adi diapit oleh dua perempuan, yang sangat ia sayangi tersebut.
"Zuhdi udah mau berangkat lagi kah?" tanya Adinda, dengan melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.
"He'em, ke kota M*dan. Aku tak mau di ke sana, di sana bebas betul Mah. Mamah kan tau sendiri, waktu kita liburan ke kota itu." jawab Giska, dengan wajah cemberut.
"Kan ada liburnya, dia tak full satu minggu kerja." ujar Giska, dengan pandangan kosongnya.
"Nanti biar Papah suruh dia ke pabrik aja, biar kau fokus kuliahnya. Zuhdi jauh, kau fokusnya mikirin dia terus." ungkap Adi, yang mengamati anaknya satu tahun belakangan.
"Ya masa, Pah? Dichat sama aku, dia balasnya kenapa sih dek ngechat abang terus. Lebih-lebih dia pernah bales, komunikasi tiap hari aja memang tak bosan. Apa coba Pah maksudnya kek gitu?" adu Giska, tentang hubungannya dengan kekasihnya.
"Berarti Zuhdi tipe orang cepat bosan. Untung-untungan, dia tak bosan sama janjinya. Nanti kelak, kau harus bisa bikin rumah tangga kau tak monoton." ucap Adinda, dengan melongok untuk melihat wajah anaknya.
"Ya.. ciptain drama tiap hari, kek Mamah kau ini. Biar rumah tangga tak monoton. Ada aja tiap hari yang diteriakinya, lebih-lebih pas hamil." sahut Adi, yang membuat kedua wanita tersebut tertawa geli.
"Abang, jangan duduk di kasur. Sprainya baru aku ganti, nanti kusut. Abang, itu kursi makan aku. Abang tak boleh nempatin tempat aku. Abang tak boleh lipat sajadah kek gitu. Abang harus lipat gorden macam ini. Harus tarik tirai kelambunya. Abang mesti taruh remote TV di sini. Pusingnya Papah, ikutin hidup perempuan hamil." lanjut Adi mengingat kembali tingkah istrinya yang menguras kesabarannya dulu.
Adinda tertawa puas, dengan memukuli tubuh suaminya.
__ADS_1
"Jangan cerita itu lah, malu aku." balas Adinda kemudian.
"Cepet, Dek. Sana sarapan dulu." pinta Adi dengan tersenyum dan menepuk punggung anaknya pelan.
Giska mengangguk, kemudian berjalan lunglai menuju ke dapur.
"Mah...." Givan muncul dari arah dapur, lalu menghampiri kedua orang tuanya.
"Apa?" sahut Adinda, dengan memperhatikan anaknya yang duduk di sofa lainnya.
"Jadwal cek up, pinjam uang lagi Mah." ujar Givan ragu-ragu, dengan menundukkan kepalanya.
"Pinjam, pinjam! Macam bisa bayar aja." celetuk Adinda yang membuat Adi ingin menjitak istrinya.
Adinda berlalu pergi menuju kamarnya, tak lama ia muncul dengan dompet miliknya yang berukuran cukup besar.
"Nih, pegang. Cari kerjaan lain, jangan ikut Zuhdi. Kerjaannya cukup berat, kau butuh pemulihan yang betul-betul." tutur Adinda dengan memberikan salah satu kartu pipih miliknya.
"Atur keuangan yang betul coba, Van. Istri satu, cuma makan-makan aja, jajan seribu dua ribu. Nampaknya boros betul keuangan kau." tambah Adi, dengan menyalakan televisi dengan suara kecil.
"Iya, Pah. Kemarin-kemarin kan memang rutin belanja online. Tengok kamar, Canda rubah kamar aku jadi pink pekat semua. Kalau dikasih paham, bilangnya pengen jadi diri sendiri. Untungnya masih mau ngerti, tak pakek logo kucing itu. Bisa-bisa aku yang tak bisa tidur, kamar nyala betul kek gitu catnya." tukas Givan, dengan wajah sebalnya.
"Belum online yang kau punya, merk luar negeri semua." ucap Adi yang terlihat tak acuh dengan aduan anaknya.
"Pantas aja, uang macam tak berasa masuk rekening." sahut Adinda, yang bersandar pada lengan suaminya.
"Aku lagi yang kena. Sarung Papah tiga juta sebiji, dua juta sebiji. Malah rutin dibelikan. ****** ***** Papah, tiga biji 200 ribu. Mamah no coment." balas Givan, yang menarik perhatian Adi.
"Nah... Itukan demi kenyamanan aset Mamah kau. Sarung juga Papah tak beli tiap bulan, kalau udah sobek satu terus tak bisa dijahit lagi. Baru lah beli beberapa biji sarung." jelas Adi, perihal koleksi sarung yang ia miliki.
"Aset apa lah." tukas Givan dengan wajah kesalnya. Kemudian ia berlalu ke dalam kamarnya, dengan mengantongi kartu pipih yang ibunya berikan.
......................
__ADS_1
Aset apa memangnya yang di dalam sarung? 🙄