Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS113. Tamu tak diundang


__ADS_3

"Kenapa, Canda?" tanya Adinda yang masuk ke dalam kamar anak dan menantunya tersebut. Sedangkan Adi pergi untuk mengurus anak bungsunya, yang sudah terbangun pukul lima pagi tadi.


Givan masuk ke dalam kamarnya, kemudian menutup pintunya.


"Itu, Mah. Katanya sakit buat jalannya, sakit buat aktivitasnya juga." ungkap Givan dengan berjalan ke arah ibunya, yang tengah duduk di tepian tempat tidur.


"Kenapa memang? Apa yang sakit?" tanya Adinda yang dilanda kebingungan.


"Semalam aku diapa-apain sama mas Givan. Bangun tidur tadi, aku ngerasa sakit banget. " jawab Canda malu-malu, membuat Adinda menyimpulkan sesuatu.


"Hmmm." Adinda bergumam, lalu dirinya keluar dari kamar anaknya tersebut.


"Kenapa itu mamah, Dek?" tanya Givan bingung, yang melihat ibunya berlalu pergi.


Canda menggeleng, "Aku gak tau, Mas." jawab Canda kemudian.


Hingga beberapa saat kemudian, pintu kamar Givan diketuk pelan oleh seseorang.


"Van..." panggil Adi dari luar kamar.


Givan bergegas menyelimuti bagian bawah istrinya lagi, yang baru saja ia cek keadaannya.


"Ya, Pah." sahut Givan, dengan terburu-buru berjalan ke arah pintu kamarnya.


Ceklek.


"Nih, diolesin. Yang ini, kau pakek dengan bijak. Banyak pengalaman, tapi bodoh betul kau!" ucap Adi, dengan urat wajah masam.


Givan menerima barang yang ayah sambungnya berikan, "Apa ini, Pah?" tanyanya kemudian.


"Salep, diolesin ke bagian luar yang lecetnya. Jangan ke dalam-dalamnya juga, nanti perih. Ini, buat besok-besok kau pakek. Biar jangan pakek ludah." jawab Adi frontal, membuat Givan menggaruk kepalanya dengan cengengesan.


"Makasih, Pah." sahutnya kemudian.


"Hmm, libur dulu tiga sampek satu minggu. Itu pun kalau kau sayang istri kau, kau kasian sama istri kau." balas Adi dengan melirik sekilas, pada Canda yang tengah memperhatikannya dan anaknya.


"Lagian, heran juga Papah. Bukannya... Perawannya udah kau ambil, kenapa baru sekarang dia ngerasain lecet?" lanjut Adi yang membuat Givan bertambah malu.


"Waktu itu kan, cuma satu celupan. Aku tak habisi dia, cuma memang dasarnya tukang drama aja dia." jelas Givan dengan senyum canggungnya.


"Siapa tukang drama?" seru Canda, yang membuat Givan menoleh kaget ke arahnya.

__ADS_1


Givan memamerkan giginya, "Tak ada, Dek." tutur Givan dengan menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, Papah mau urus adik-adik kau dulu." ucap Adi, yang mengalihkan perhatian Givan kembali.


"Iya, Pah. Makasih ininya." sahutnya dengan menunjukkan obat yang ayahnya berikan.


Adi mengangguk, kemudian berlalu pergi menuju ke kamar balitanya kembali.


Givan berjalan ke arah ranjang mereka, "Sini diolesin dulu. Adek menantu di sini, jangan males. Lepas ini, sana masak buat kita." ucap Givan kemudian.


Lalu ia menyibakkan kembali selimut yang menutupi bagian bawah tubuh Canda, ia sedikit merentangkan kedua kaki istrinya. Kemudian mengoles tipis, salep yang ayahnya berikan. Di bagian luar, yang memiliki luka lecet.


"Baru juga dikawinin, udah drama aja! Bikin malu Mas aja!" ujar Givan di tengah aktivitasnya.


"Masnya aja yang gak tau aturan. Aku udah pengen pipis, gak berhenti-henti juga." tutur Canda, yang teringat akan waktu dirinya memenuhi kewajiban sebagai istri dari Givan.


Givan menghela nafas beratnya, lalu beralih menatap wajah istrinya yang kearab-araban tersebut.


"Kan Mas udah bilang, jangan ditahan, kalau mau pipis tinggal pipisin aja. Kan Adek udah pipis, sebelum Mas ajakin begituan. Kandung kemih Adek juga kosong, pas Mas teken sedikit. Itu bukan mau pipis, tapi mau kl*maks. Kalau di tahan, badan Adek jadinya ngerasa pada capek semua. Dibilangin tak mau paham betul." tukas Givan dengan wajah kesalnya.


"Mas mana ngerti tentang aku. Orang nyatanya sampai lecet." sanggah Canda, yang membuat Givan merasa amat kesal pada istrinya tersebut.


"Cepet pulih, terus masak sana! Ini rumah mertua, jangan enak-enakan aja!" lanjutnya dengan berjalan menuju ke kamar mandi mereka.


Canda mengerucutkan bibirnya, kemudian menirukan bibir Givan yang berbicara cepat tadi.


"Ngapain kau?" tanya Givan, membuat Canda terhenyak keget.


Ia menoleh ke arah suaminya, lalu menggeleng dengan tersenyum canggung.


"Gak, Mas." jawabnya kemudian.


"Kesel betul aku, kek mana caranya mau belajar mencintai?" gerutu Givan lirih, yang hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri.


Lalu Givan berlanjut masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat subuh. Yang hampir habis batas waktunya tersebut.


~


~


Satu minggu berlalu, suasana rumah sudah membaik setelah drama dari anak dan menantu Adi tersebut. Kini, ia tengah memijat pelipisnya berulang. Karena Zuhdi sudah berada di hadapannya, dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Dinda... Dek, Dinda. Coba sini dulu, Dek." seru Adi memanggil istrinya, yang tidak mengetahui keberadaan tamunya tersebut.


"Dandan." sahut Adinda terdengar lamat-lamat di telinga Adi.


"Abis mandi, sholat kali ya bu Dindanya?" ucap ibu Robiah yang membuat Adi menoleh ke arahnya.


"He'em. Jam 4 gini kan, lagi pada mandi sholat." sahut Adi kemudian.


"Papa... Long ka...." seru Gibran sembari berlari ke arah ayahnya. Namun, ia menggantungkan ucapannya saat melihat beberapa tamu yang tersenyum ke arahnya.


"Ka apa?" tanya Adi, dengan menyambut anaknya untuk duduk di pangkuannya.


Gibran mendongak melihat wajah ayahnya, lalu tersenyum begitu lebar. Sampai terlihat giginya, yang menguning dan akan segera busuk.


"Siapa itu, Nak?" tanya Adi pada anaknya, dengan menunjuk Zuhdi dengan dagunya.


Gibran menoleh ke arah Zuhdi, lalu melambaikan tangannya pada Zuhdi.


"Bang." jawab Gibran, dengan tersenyum malu.


"Lama ya tak ke Abang ini?" ujar Adi pada anaknya.


"Kemarin dari tempat aku, Pah." sahut Zuhdi membuat Adi kaget. Ia kira anaknya sudah tak pernah mengunjungi laki-lakinya kembali. Namun, ternyata tebakannya salah.


"Kok Adek tak ngadu ke Papah?" tutur Adi, yang fokus pada wajah anaknya kembali.


Gibran menggeleng, "Kak ta, hana gi au Papa. Ati, yi es kim." tukas Gibran yang membuat Adi geleng-geleng kepala.


"Biarin aja, Teungku. Giska ke sana juga cuma sebentar. Marahin Adi aja, terus balik lagi dia." ucap ibu Robiah, yang membuat Zuhdi merasa malu karena ucapan ibunya.


Adi menoleh ke arah Zuhdi dan keluarganya, "Marahin kenapa lagi? Belum dinikahin aja berani marahin kau? Tak kau depak aja dia?" sahut Adi melontarkan ucapannya pada Zuhdi.


"Sepele aja, Pah. Aku dihubunginya lewat chat, aku lagi tak ada kuota data. Terus dia nelpon biasa, aku bilang lagi tak ada kuota. Terus aku bilang juga, konternya tutup, nanti tunggu buka konter. Sampek dia pulang kuliah, aku belum isi juga. Nyamperin lah dia ke rumah, ngamuk-ngamukin aku. Dikatanya nyepelehin ya? Memang tak niat cari konter buka ya? Macam itu dia marah, Pah. Sampek sekarang, kalau dichat masih cuek aja." jelas Zuhdi, hingga pada akhirnya mereka semua tertawa tipis.


"Maklum lah, masih muda. Dua puluh tahun aja belum, masih kekanak-kanakan betul Giska ini." balas Adi, yang merasa sedikit malu dengan tingkah Giska.


"Ada apa, Bang?" Adinda muncul dengan tatapan kagetnya, saat mengetahui ternyata Zuhdi datang bersama keluarganya.


"Gini Bu Dinda. Saya sama istri saya, mau.....


......................

__ADS_1


__ADS_2