
Canda menatap nanar beberapa telur yang terjatuh di lantai tersebut. Belum lagi susu kemasan kotak, yang pecah karena tersenggol tindakan Gavin yang tengah mencari kotak bolu di dalam lemari pendingin tersebut.
"Ya Allah… Ya Rabbi… sesambate kaya beli kuat, dunia wis kaya kiamat." ucap Canda dengan memeluk dirinya sendiri.
"Ya Allah, Vin… untung kamu anak mertua. Coba kalau anak sendiri, tek empal pisan sirah kuh." lanjut Canda lirih, dengan menghampiri adik iparnya yang masih memberantakan isi lemari pendingin.
"Yee, yeee ketemu." ujar anak tersebut begitu riang, saat menemukan kotak bolu yang ia cari.
"Yaya, yeye, yaya, yeye. Bahagia pisan, gawe isun susah." sahut Canda, dengan mulai membereskan kekacauan yang Gavin perbuat.
Canda begitu fasih, berbicara dengan bahasa daerah tempatnya menimba ilmu di pesantren kemarin. Jelas bahasanya tak dimengerti, oleh keturunan mertuanya yang pandai mengadu tersebut.
Gavin melarikan diri, dengan kotak bolu tersebut. Menyisakan Canda, dengan bau amis telur yang begitu dominan itu.
Hingga siang berlanjut, Canda dibuat geram oleh kedua adik iparnya yang masih begitu kecil tersebut. Belum lagi ia juga menghandle dapur, karena Giska dan Ghavi langsung terburu-buru berangkat kuliah. Setelah dirinya terbangun dari tidurnya.
Selepas dzuhur, Adi baru sampai di rumahnya. Ia tengah mengipas-ngipaskan telapak tangannya, ke arah wajahnya. Beberapa kali ia disusahkan dengan mobil kesayangannya, yang mogok sepanjang jalan. Membuat kesabaran dan tenaganya habis, hanya karena ulah mobil keluaran 90an tersebut.
"HEH… SINI KAU!" seru Adi, saat mendapati seorang laki-laki yang kembali mengantarkan anak gadisnya kembali.
Giska terlihat gugup, kemudian beradu pandang dengan seseorang yang mengantarkannya pulang tersebut.
Adi berjalan menuju bangku panjang, yang terdapat di bawah pohon mangga di halaman depan rumahnya. Terlihat laki-laki tersebut tengah meminggirkan motornya, kemudian mengajak Giska untuk melangkah bersamanya.
"Kau masuk, Nak." pinta Adi, dengan sorot mata tajam pada anak gadisnya.
"Aku, aku mau jelasin Pah." sahut Giska yang ditolak Adi dengan cepat.
"Cepat, masuk!!" tegas Adi, dengan menunjuk rumah megahnya dengan dagunya.
Giska mengangguk. Sebelum beranjak pergi, ia melirik sekilas pada seorang laki-laki yang mengantarnya tersebut.
Laki-laki yang masih berdiri di hadapan Adi tersebut, mengulurkan tangannya untuk mencium tangan juragan dermawan tersebut. Adi memperhatikannya begitu lekat dengan wajah seriusnya, ia pun membiarkan tangannya dicium oleh laki-laki yang mengantarkan anak gadisnya.
"Udah dua kali ini, kau ngantar balik Giska." ucap Adi, dengan menggeser posisi duduknya dan juga menepuk tempat di sebelahnya. Agar laki-laki tersebut duduk di sampingnya, untuk Adi tanyakan lebih lanjut.
"Ya, Teungku haji." sahut laki-laki tersebut dengan duduk menyerong di sebelah Adi.
__ADS_1
"Bukan berarti saya udah haji, terus kau harus manggil saya teungku haji. Dinda nongol, kau kena ceramah nanti." balas Adi, yang membuat laki-laki tersebut mengangguk dan tersenyum samar.
Ia tentu merasa tegang, saat ditegur langsung oleh ayah dari Giska.
"Siapa nama kau?" tanya Adi kemudian.
"Adi, Bang. Ehh…" jawab laki-laki tersebut, dengan langsung menutup mulutnya sendiri. Karena merasa bingung dengan panggilan untuk juragan tersebut.
"Itu nama saya." sahut Adi yang kembali diangguki oleh laki-laki itu.
"Kau kenal saya dipanggil siapa di sini?" lanjut Adi, yang masih memperhatikan laki-laki tersebut begitu lekat. Sejujurnya Adi hanya ingin mengetahui, gerak-gerik laki-laki tersebut saat diajak mengobrol dengannya. Tentu Adi pasti bisa membaca, mana laki-laki baik atau bukan dengan hanya mengajaknya berbincang.
"Bang, banyak juga yang manggil papah. Saya takut dibilang lancang, kalau manggil Anda papah." jelasnya dengan menundukkan kepalanya.
"Kau tengok apa? Nunduk terus kau!" tutur Adi, yang membuat laki-laki itu tersenyum canggung ke arah Adi.
"Ikut normal aja. Jadi, nama kau siapa?" lanjut Adi, dengan mengamati perubahan wajah pada laki-laki tersebut.
"Zuhdi, biasa dipanggil Adi Pak." jawabnya yang diangguki Adi.
"Anak RT sebelah bukan?" sahut Adi yang diangguki oleh Zuhdi.
Adi malah berpikir, bahwa Zuhdi adalah pekerja kasar. Karena urat tangannya yang terlihat begitu menonjol, seperti dirinya.
"Aneuk pak Zuhri, sama ibu Robiah. Bapak saya, kakaknya cek Lhem Pak." tutur Zuhdi, yang membuat Adi berpikir kembali bahwa mereka berkenalan lewat supir pribadinya.
"Kenapa itu cek Lhem tak berangkat-berangkat?" tukas Adi, mencoba membuat suasana sesantai mungkin. Karena ia menyadari ketegangan hebat pada diri Zuhdi.
"Sakit, Pak. Kena stroke ringan, setengah dari badannya udah tak bisa digerakkin." jelas Zuhdi, yang baru diketahui oleh Adi.
"Heh? Sejak kapan itu?" tanya Adi kemudian.
"Sejak Bapak berangkat ke kota C. Giska sama Ghavi, ada beberapa kali ke sana." jawab Zuhdi dengan sesekali memandang wajah ayah Giska tersebut.
"Oh… kau tau saya berangkat ke kota C? Berarti udah lama itu kau akrab sama Giska?" ucap Adi yang membuat suara Zuhdi tercekat di tenggorokan.
Zuhdi memandang wajah ayah Giska kembali, kemudian dia menundukkan pandangan.
__ADS_1
"Sebetulnya… saya sama Giska udah satu tahun lebih, Pak. Aku jalin hubungan sama Giska, sejak Giska masih SMA." aku Zuhdi, yang membuat Adi merasa tengkuknya mendadak kaku.
Tensi darahnya sudah pasti naik kembali, karena persoalan pagi tadi. Berlanjut dengan mobil kesayangannya, berakhir hingga pengakuan Zuhdi tersebut.
'Pantas aja isi chatnya ada yang diarsipkan. Ternyata dia nyembunyiin chatnya laki-laki ini. Sayang betul, aku tak tau cara buka chat yang diarsipkannya.' gumam Adi dalam hati, dengan memperhatikan kuku-kuku jarinya.
"Giska masih kuliah, biarin dia fokus kuliah." ujar Adi, setelah dirinya terdiam beberapa saat.
"Aku paham, Pak. Makanya aku tak pernah hubungi Giska lebih dulu. Aku biarkan dia hubungi aku, kalau dia perlu aku. Macam akhir-akhir ini aja. Dia berangkat kuliah sama abangnya, pulangnya dia kadang naik angkot. Cuma kan, dari turun angkot sampek ke rumah jalannya lumayan jauh. Aku dihubunginya buat jemput dia di jalan depan." ungkap Zuhdi, menceritakan hal yang semakin membuat tengkuk Adi kaku.
"Sebetulnya aku lagi kerja ini, Pak. Sekarang lagi waktunya istirahat, makanya aku bisa jemput dia. Kemarin juga aku baru balik kerja, terus nganterin dia balik ke sini." lanjut Zuhdi yang membuat Adi geleng-geleng kepala.
"Kerja apa memang?" tanya Adi kemudian.
"Kuli bangunan buat sekarang, Pak. Saya serabutan, seadanya kerjaan." jawab Zuhdi, yang membuat Adi ingin meneriaki anak gadisnya.
"Bagian apa? Maksudnya kan, ada tuh tukang pembesian, tukang profil." sahut Adi, mencoba tak menyinggung perasaan laki-laki yang memiliki hubungan dengan anaknya tersebut.
"Tukang batu, Pak. Masang batu bata, pondasi, sama cor-coran." jelas Zuhdi, yang diangguki tipis oleh Adi.
"Ya udah, gih lanjut kerja. Makasih udah nganterin Giska sampek rumah." ujar Adi, karena ia merasa tengkuknya semakin tak enak saja.
"Sama-sama, Pak. Giska sih mintanya diturunin di depan gang sana. Cuma saya tak enak hati, masa nurunin Giska di jalan." tutur Zuhdi yang mendapat senyum ramah dari Adi.
"Mari, Pak. Saya pamit dulu, Assalamualaikom…" lanjut Zuhdi, kembali mencium tangan juragan tersebut.
"Ya, ya. Wa'alaikum salam." sahut Adi dengan memperhatikan punggung laki-laki tersebut semakin menjauh.
Terdengar klakson motor Zuhdi berbunyi beberapa kali, membuat Adi menoleh ke arahnya. Zuhdi memasang senyum ramahnya, sebelum dirinya berlalu pergi dengan motor tersebut.
Adi membalas senyum ramah Zuhdi, kemudian dirinya melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Giska… Dek Giska…" panggil Adi, dengan menuju ke kamar anak gadisnya.
"Ya, Pah. Aku di dalam, masuk aja." sahut Giska. Sebenarnya ia tengah dilanda ketakutan, akan amarah ayahnya.
......................
__ADS_1
Assalamu'alaikumnya orang sana, kadang terdengar seperti Assalamualaikom. Bahasanya lebih banyak huruf O, menurutku sih begitu. 😅