Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS123. Acara khitbah


__ADS_3

Hari ini, adalah hari pertunangan Giska dan Zuhdi. Perencanaan sudah amat matang, dengan persiapan Zuhdi dan Giska yang luar biasa.


Para bapak-bapak yang hadir untuk diminta menjadi saksi, atas dikhitbahnya putri keluarga Adi. Sangat antusias mengikuti, juga menikmati jamuan yang disediakan oleh keluarga Adi.


Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Giska. Ketidakhadiran Ahya, membuat Giska berpikir bahwa sepupunya tersebut tersakiti atas hari bahagianya ini.


Sekarang, Zuhdi dan Giska tengah mendengarkan petuah demi petuah. Yang didapat dari kyai dan ketua kampung setempat.


Adi beserta seluruh keluarganya, ikut menyimak nasehat orang yang dihormati tersebut. Tak luput, pihak dari Zuhdi terlihat begitu bahagia dan bersyukur atas juragannya yang mau menerima kekurangan dari Zuhdi.


Kyai dan ketua kampung mengangguk, kemudian melemparkan pandangannya pada Adi. Menandakan bahwa semua acara telah selesai dengan baik.


"Mak cek, langsung aja kotak nasinya dibagikan." pinta Adi dengan menepuk pundak orang yang ia tuakan tersebut. Ibu Handa yang memang sudah kurang dalam pendengarannya, memang harus ditepuk jika diajak berbicara pelan.


Para keluarga Adi, bahu membahu membagikan nasi kotak yang Adi pesan lewat catering langganan mereka. Kemudian, satu persatu orang keluar dari halaman rumah Adi setelah membawa bingkisan tersebut.


"Zuhdinya ditinggal aja, Pak. Soalnya mau video call sama keluarga jauh, mau dikenalkan." ujar Adi dengan tersenyum manis pada ayah Zuhdi.


"Oh, iya-iya Pah. Maaf ngerepotin, terima kasih atas semuanya." tutur pak Zuhri, yang teringat akan ucapan juragannya yang menolak dipanggil teungku haji.


Anak usai dua tahun tersebut merengek-rengek kembali dalam dekapan Adi, "Uyun! Papa Uyun!!" celotehan Gibran dengan memukuli ayahnya.


Adi trauma melepaskan anak balitanya, jika rumah tengah diadakan syukuran seperti ini. Luka yang Givan dapat saat syukuran empat bulanan ibunya, meninggalkan bekas yang tak hilang sampai sekarang.


Sedangkan Gavin, Gavin terlihat anteng setelah disuap bermain ponsel oleh ibunya. Anak itu, terlihat begitu alim duduk di pangkuan ibunya.


"Tak apa, Pak. Sama-sama, ati-ati pulangnya." tukas Adi pada keluarga Zuhdi.


Lalu, keluarga Zuhdi satu persatu meninggalkan kediaman rumah Adi.


"Balik dulu lah, Bang. Anter nyonya-nyonya rewel." ujar Safar, sembari menunjuk ibunya dengan dagunya.

__ADS_1


"Sama Sukma aja mak cek balik, kau bantu gulung tikar dulu lah." sahut Adi yang membuat Safar menghela nafasnya.


"Adek... Balik dulu aja, sama ibu tuh. Abang diminta gulung-gulung tikar dulu." seru Safar, pada istrinya yang tengah memasukan beberapa nasi kotak dalam plastik berukuran besar.


"Ya, Bang." balas Sukma, setelah menoleh ke arah suaminya sekilas.


"Papa! Uyun!!!! Dek uyun, Pa!" rengek Gibran yang Adi hafal di telinga kirinya.


"Adek tak boleh uyun! Nanti lagi diberesin dulu, baru boleh uyun." jelas Adi dengan memperhatikan wajah anaknya yang tengah rewel tersebut.


"Van... Cepat beresin itu piring-piring kosong sama gelasnya juga. Adek kau udah rewel aja dari tadi." ucap Adi pada Givan yang tengah menggulung tikar bersama pamannya.


Zuhdi yang mendengar perintah ayah kekasihnya, langsung reflek memunguti gelas dan piring-piring kosong.


"Biar aja, Di. Biar Givan sama Ghavi aja." ujar Adinda yang merasa tak enak hati pada Zuhdi.


"Tak apa, Mah." sahut Zuhdi dengan tersenyum meyakinkan pada Adinda.


Hingga beberapa saat kemudian, rumah itu telah rapih dan bersih kembali.


Mereka belum sempat memberitahu keluarga jauh mereka. Membuat Adi memutuskan untuk langsung mengenalkan Zuhdi pada mereka, melalui panggilan video.


Adinda tengah memperhatikan Canda, Givan dan Gibran tengah bersenda gurau. Dengan tangan Canda, yang selalu memeluk tubuh anak sulungnya tersebut. Adinda berpikir, cinta yang diharapkan di rumah tangga anak sulungnya. Sudah mereka rasakan dan nikmati sekarang. Terbukti dari drama kecil Canda dan Givan, yang sudah tak terlihat lagi di penglihatan dan pendengaran Adi dan Adinda.


"Hallo, Di." Arif menerima lebih dulu panggilan video dari adik iparnya.


"Ternak puyuh aman, Di. Ternak anak yang gak aman. Setelah sekian lama, masa iya Aca mau punya adik lagi." ungkap Arif yang langsung memberi kabar bahagianya.


"Alhamdulillah... Udah berapa bulan, A?" sahut Adi dengan tersenyum ramah ke layar ponsel.


"Baru, baru sebulan. Tapi mesti rajin cek up, kehamilan di usia lebih dari 36 tahun." balas Arif, yang memperhatikan orang-orang yang terlihat di layar ponselnya.

__ADS_1


"Beda berapa tahun kak May sama Dinda?" ujar Adi dengan menyambut Gavin yang baru datang, lalu duduk di pangkuannya.


"Beda satu tahun, tua Maylani satu tahun. Dia sekarang 44, Dinda 43 kan?" tutur Arif, dengan Adi yang langsung menyambungkan kembali panggilan video pada ibunya. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Iya betul, A. Dinda juga bentar lagi mau hamil lagi. Udah drama queen terus tiap pagi. Sarapan tak cocok, padahal masakannya sendiri. Bakso pedas hari-harinya, olahan nanas, cemilan yang dicarinya. Keliatannya dari nanas itu, kalau ngidam maboknya nanas. Untung anak-anaknya tak apa-apa." tukas Adi, yang mendapat cubitan ringan di pahanya.


Adi terkekeh geli, dengan mengusap-usap bekas cubitan istrinya.


"Ya aman-aman aja sih nanas tuh, Di. Yang penting makannya tau porsinya. Mereka yang keguguran karena nanas kan, nyarinya sengaja nanas muda. Mana makannya berbuah-buah sekali habis. Orang yang gak hamil aja panas makan nanas asem, apa lagi mereka yang hamil muda." ungkap Arif, laki-laki seumuran Adi yang menjadi kakak ipar Adi tersebut.


Adi mengangguk, sembari mengulangi kembali panggilan video pada ibunya.


"Kalau Dinda, nyarinya nanas yang manis. Nanas madu, ramai dikenal di sini. Kecil, mahal, mana susah dicarinya kalau tak musimnya." ucap Adi kemudian.


"Oh, iya-iya. Di sini juga ada nanas kecil begitu. Tapi waktu hamil Givan, yang dicari es kelapa sama seblak pedes terus. Segala es dicarinya, es anggun, es kruwed Bali, es campur, es buah, es jeli, jadi buruannya semua." sahut Arif, yang masih lancar bercerita. Karena belum mengetahui tujuan Adi melakukan panggilan video.


"Assalamu'alaikum..." panggilan video pada ibunda Adi tersambung. Arif dan Adi langsung menyahuti salam dari ibu Meutia.


"Sehat, Umi?" tanya Adi dengan memperhatikan wajah ibunya, yang berada di pojok kanan layar.


"Sehat, Bang. Kau sehat Rif?" ujar ibu Meutia, lalu melemparkan pertanyaan pada kakak kandung menantu tertuanya tersebut.


"Alhamdulillah, sehat Umi. Aca mau punya adik, Mi. Doain kehamilan Maylani lancar ya, Mi." ungkap Arif yang membuat ibu Meutia cukup terkejut.


"Aamiin, aamiin... Sehat-sehat terus ibu sama janinnya. Kenapa tua-tua pada ramai hamil, yang muda tak ada kabar-kabar menikah kah? Terus kasih Umi cicit." sahut ibu Meutia yang membuat Arif terkekeh kecil.


"Ya ini, Abang bawa kabar buat Umi sama Pakdhe Arif." ucap Adi, yang membuat Arif dan ibu Meutia bertanya serentak.


"Kabar apa?" suara Arif dan ibu Meutia berbarengan.


"Ini....

__ADS_1


......................


Gimana ya reaksinya ibu Meutia, kalau tau ternyata calon suami cucunya cuma kuli bangunan? 🤔


__ADS_2