
"Kak...." Ghifar khawatir Kinasya benar-benar menjauhinya, jika ia mengeluarkan kalimat yang tidak mengenakkan untuk Kinasya.
"Apa sih, Far?" bentakan kuat, membuat Ghifar tersentak dari posisinya.
"Maaf...... Maafin aku. Jangan marah lagi, aku tak bisa tengok kau marah sama aku." Ghifar kembali memohon pada Kinasya, dengan menggenggam tangan mulus itu.
"Tau ah!" Kinasya langsung pergi, menghempaskan tangan Ghifar yang masih menggenggam tangannya.
"Ish....." Ghifar geleng-geleng kepala, matanya melirik tubuh Kinasya yang pergi dari sampingnya.
"Gemes aku sama dia." ia mengusap tengah-tengah tubuhnya.
Ia tidak bisa dipermainkan seperti ini.
Ya, dirinya merasa dipermainkan oleh Kinasya. Karena hanya padanya, Ghifar merasa benar-benar intinya sembuh. Namun, jika bersama perempuan lain. Ia tidak bereaksi sama sekali.
"C*linya jangan di sini!" ujar seseorang di ambang pintu belakang.
Ghifar menoleh segera, mengikuti sumber suara itu berasal.
Ayahnya, tengah berdiri di sana sembari tersenyum mengejek.
Ghifar mengikuti arah pandangannya ayahnya, yaitu ke inti tubuhnya.
Secepat kilat, tangannya langsung berpindah tempat. Ia tak menyadari, bahwa ia masih mengusap-usap tengah-tengah tubuhnya itu.
"Itu, Pah...." Ghifar tak melanjutkan ucapannya, karena Adi kembali masuk ke rumah itu tanpa meladeninya.
"Pusing aku sama orang rumah." gerutunya dengan memperhatikan halaman belakang tersebut.
Ghifar memutuskan untuk mencari kesibukannya di rumah panggung. Sayangnya, ia malah teringat kejadian itu lagi.
Ia kembali ingin bertemu dengan Kinasya, jika seperti ini keadaannya.
'Heran aku... Padahal, bayangin orang yang sama. Tapi tak bereaksi, padahal kalau ketemu langsung turn on aja.' gumamnya dengan memperhatikan sprai tempat tidurnya yang begitu kusut.
Hari itu, Ghifar membiarkan dirinya bermandikan keringat untuk mengatur furnitur dan membersihkannya. Ia tak ingin kehidupannya tertarik pada wanita yang menjadi kakak angkatnya itu.
~
Malam yang dinanti Giska. Sayangnya ia malah kebelet buang air kecil, saat kuku-kukunya tengah dihias.
"Gimana dong?" Giska sudah tak tahan menahan rasa ingin buang air kecilnya.
"Sini-sini!" Kinasya bersedia untuk membantu adik angkatnya itu untuk ke kamar mandi.
"Tapi aku malu." Giska buru-buru menuju ke kamarnya.
__ADS_1
"Ya aku tak nyebokin kau." Kinasya kasihan pada gadis itu.
"Ayo-ayo, Kak. Cepet!" Giska sampai bermandikan keringat dingin.
"Kalau udah bersuami, beranak. Malah nanti kau sering nahan kencing." Kinasya hanya membagi ceritanya, dari yang ia tahu dari pekerjaannya.
"Liat nanti ajalah." Giska langsung nyelonong masuk, begitu pintu kamar mandi dibukakan oleh Kinasya.
Kinasya membuang pandangannya, saat Giska mulai menikmati rasa plongnya.
Dirinya malah melamuni masa-masanya di rumah ini. Akhir-akhir ini, ia merasa tidak nyaman berada di rumah orang tua angkatnya.
Masalahnya karena putra pertama dari ayah di rumah itu. Kinasya merasa risih, lantaran Ghifar sekarang sering kali mendekatinya terang-terangan. Tak jarang, Ghifar mengajaknya bersenda gurau dengan fisiknya. Ia khawatir orang tua di rumah itu, menaruh curiga padanya. Lalu memintanya kembali ke rumah orang tuanya, karena dituduh sebagai toxic di rumah yang mayoritas penghuninya adalah laki-laki tersebut.
"Kak.... Udah, Kak. Tolong tutup lagi pintunya." Kinasya sampai terhenyak keget, karena suara Giska begitu mengejutkannya.
"Yuk..." Kinasya mempersilahkan Giska untuk jalan lebih dulu.
"Kak... Bang Zuhdi ke sini tak ya?" Kinasya bisa melihat semburat bahagia dari wajah Giska.
"Tak tau. Lagian kemarin malam juga Zuhdi ke sini. Diminta jangan dulu main sampek hari H pun, Adi susah dibilangin. Ke sini terus kan dia? Padahal sama kau cuma say hai aja." Kinasya mengikuti langkah kaki Giska dari belakang.
"Omah sama keluarga om Edi datang besok ya, Kak? Abi juga kah?" Giska kembali melontarkan pertanyaan, sebelum dirinya kembali duduk di tempatnya.
"Tak bisa datang abi. Langi kemarin kecelakaan motor." Giska hanya mengangguk, kemudian dirinya kembali menuruti perintah dari yang menghias kukunya.
"Aku belanjain emas buat kau, mau tak?" Ghifar langsung merangkul pundak perempuan tersebut, lalu menyeretnya pergi dari keramaian ruangan tersebut.
"Buat apa?" Kinasya mencoba melepaskan tarikan laki-laki, yang menjepit lehernya tersebut.
"Buat hadiah nikahan Giska. Buat kau pakek di hari nikahan Giska juga." Ghifar tetap menjepit lehernya, membawa perempuan tersebut ke dalam kamarnya.
Ghifar mengunci pintu kamarnya, lalu mengantongi kunci tersebut di saku belakangnya.
"Huh." Kinasya menggerakkan kepalanya, kala jepitan di lehernya terlepas.
Ghifar berjalan ke arah lemari kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Ini...." senyum Ghifar begitu lebar.
Ghifar menghampiri Kinasya yang tengah duduk di tepian tempat tidurnya.
Layaknya tengah melamar seorang wanita. Ghifar berlutut di depan Kinasya, kemudian ia segera memasang sesuatu di jemari Kinasya.
"Bagus kan?" Ghifar langsung bangkit, kemudian duduk di sebelah Kinasya.
"Mana buat hadiah nikahan Giska?" Kinasya sedikit memutar tubuhnya, untuk bisa berhadapan dengan Ghifar.
__ADS_1
"Ini." Ghifar memberikan kotak transparan berbahan akrilik, dengan bentuk diamond seukuran genggaman tangan.
"Dua puluh gram." lanjut Ghifar, kala Kinasya mengambil alih kotak tersebut.
Kinasya membuka kotak tersebut, lalu memperhatikan isi di dalamnya.
"Ok, makasih." ucapnya kemudian.
"Kak... Aku mau curhat. Tapi tolong jangan marah, cuma kau yang paham tentang aku Kak." Ghifar menggenggam tangan Kinasya, yang tengah menggenggam kotak tersebut.
"Tentang apa?" Kinasya sudah lelah, untuk menghindar dari laki-laki yang lebih muda darinya tersebut.
"Tentang rencana aku dan diri aku sendiri. Aku tak bisa cerita sama papah, ini hal yang sensitif." terang Ghifar, ia menunduk dengan memperhatikan celana jeans-nya yang memiliki sobekan variasi di lutut.
"Rencana apa?" Kinasya malah berpindah tempat.
Ia merebahkan tubuhnya, dengan langsung memeluk guling.
Ghifar memerhatikan gerakan Kinasya, dengan cepat ia pun mengikuti tindakan Kinasya.
Wajah mereka berhadapan, mereka saling memeluk guling.
"Rencananya... Aku liburan kemarin, mau tes sama Ahya. Kalau kejadian aku renggut Ahya, aku bakal nikahin dia. Tapi... Aku cuma bisa berdiri sama kau Kak."
Hati Kinasya mencelos, Ghifar salah memilih orang untuk membicarakan hal ini. Dari kontak fisik yang pernah mereka lakukan, ada yang hal membekas di hati Kinasya.
'Aku hampir terenggut buat nyembuhin kau. Tapi kau malah berniat nikah sama Ahya.' Kinasya hanya bisa membatin dalam hati.
"Terus?" Kinasya adalah orang yang paling bisa untuk menyembunyikan perasaannya.
"Terus aku berpikir.... Gimana kalau kita nikah aja?"
Dirinya membenci Ghifar saat itu juga, karena dirinya dijadikan pilihan yang kedua.
Baru saja Kinasya ingin menjawab ucapan Ghifar, tetapi Ghifar malah melanjutkan ucapannya kembali.
"Tapi aku tak berani ngomong ke mamah papah, lebih-lebih ke mamah. Kau tau kan Kak? Tentang mamah yang tak mau anak-anak angkatnya memiliki hubungan khusus atau nikah." Ghifar seperti menarik ulur keputusan yang akan Kinasya ambil.
"Ya udah, berarti tak usah kau ambil opsi itu." jawaban Kinasya begitu ketus.
"Tapi Kak.... Aku cinta sama kau."
Kinasya berencana besok akan mengolah daging Ghifar, untuk membuat masakan yang lezat.
Ghifar tak bisa menarik ulur dirinya seperti ini. Ghifar terlihat tak memiliki pendirian dan keinginan yang kuat.
......................
__ADS_1