
"Siapa itu, Bang?" tanya pegawai butik, yang mengenal Givan.
"Istri." jawab Givan dengan tersenyum ramah.
"Dijodohkan teungku haji kah, Bang?" ujarnya dengan berjalan menghampiri Givan dan Canda, yang tengah memilih pakaian.
"Tak lah, dapat sendiri." sahut Givan dengan memilihkan satu set pakaian untuk Canda.
"Terlalu formal, kaya mau kerja aja." ungkap Canda, mengomentari pakaian yang Givan pilihkan.
"Ini bukan buat kerja aja, Kak. Selebgram, mamah Dinda, sama kak Icut juga kalau ada setelan begini yang terbaru, langsung cepet-cepetan keep dulu. Ini pantas buat dipakek nongkrong, jalan-jalan ke Mall." jelas pegawai butik dengan tersenyum ramah.
"Ada yang terbaru tak? Mamah tau belum? Kalau belum, biar aku ambil itu Kak." ujar Givan dengan menoleh ke arah pegawai toko.
Dia mengangguk, "Mamah Dinda udah keep ini, cuma males ngambil katanya Bang." tutur pegawai butik dengan menunjuk beberapa koleksi baju yang disembunyikan.
"Samain modelnya kek punya mamah. Ukurannya aja carikan yang pas." tukas Givan yang diangguki oleh pegawai toko.
"Coba aku liat dulu, Kak." pinta Canda, saat pegawai toko mulai memilih baju untuknya.
"Mas... Aku gak cocok sama modelnya." ucap Canda, dengan menoleh ke arah suaminya.
Givan menghela nafas beratnya, "Ya udah sana cari!" ketusnya dengan delikan tajam.
"Cancel aja, Kak. Bungkus yang punya mamah Dinda aja." ujar Givan, pada pegawai toko yang tengah melipat beberapa pakaian milik Adinda.
"Ya, Bang. Pilih aja modelnya, nanti ukuran sama warnanya aku carikan." sahut pegawai toko tersebut.
Canda memilih beberapa pakaian, yang membuat Givan geleng-geleng kepala. Selera Canda seperti selera Giska, yang masih ingin mengenakan berbahan jeans.
"Kemarin kau nyamperin Ghifar ke rumah, style kau dewasa betul. Sekarang sama suaminya, asal masuk di badan aja." gerutu Givan pelan, dari arah belakang tempat Canda berdiri.
Canda berbalik badan, "Stop ngomongin Ghifar terus! Kemarin yang pilihin pakaian aku itu Ghifar, baju-baju kemarin aku beli di Bali sama dia. Aku udah kasiin semua baju-baju itu ke tetangga kos, biar aku gak inget-inget Ghifar terus. Tapi suami sendiri malah, yang ngingetin aku sama kenangan aku. Aku pengen jadi diri sendiri, sama suami aku. Jadi stop ngomongin Ghifar!" tegas Canda, dengan mengunci netra suaminya.
'Pantas aja, nampaknya dewasa betul kemarin. Tak taunya pilihan Ghifar. Anak itu kan sukanya sama yang tua-tua.' gumam Givan, dengan membuang wajahnya ke arah lain.
"Ya udah sok pilih! Mas mau liat-liat yang di sana, nanti kau ke sana juga" ujar Givan, dengan menunjuk gaun malam yang berjejer rapi.
"Mas aja kau-kauin aku." tutur Canda lirih, yang membuat Givan mengurungkan langkahnya.
__ADS_1
"Iya, maaf. Nanti Adek ke sana aja." tukas Givan, dengan menekankan kata adek dalam kalimatnya.
"Adek-adek, gak ngeuh aku." sahut Canda, yang membuat Givan ingin mencubit pipi Canda.
"Ya udah, jadi minta dipanggil apa?" balas Givan dengan meremas part belakang istrinya.
Canda melebarkan matanya, lalu mengusir tangan nakal itu.
"Rese banget jadi orang tuh!!" Canda mendelik ke arah suaminya, dengan lirikan tajamnya.
Givan memasang senyum tak berdosanya, "Kan sama istri sendiri. Udah cepat, sana pilih." ucap Givan, dengan Canda yang langsung beralih dari tempatnya.
Canda selesai dengan lima pasang pakaian yang menarik perhatiannya, juga tiga gaun tidur yang tidak terlalu terbuka menurutnya.
"Tambah ini." ujar Givan, dengan memberikan dua gaun tidur pilihannya.
"Astaghfirullah hal' adzim." Canda mengusap dadanya, saat melihat pilihan yang Givan berikan.
"Nanti mau jemur di mana? Papah nyucinya juga pasti malu." lanjutnya dengan memperhatikan lebih jelas model gaun malam tersebut.
"Tadi Papah ngomong ke Giska tau tak? Tentang cucian yang dipisah juga masakan hasil uang suami?" tanya Givan yang dijawab dengan anggukan dari Canda.
Canda mengangguk di akhir kalimat, "Ya, Mas. Beli sembako juga, buat satu bulan ke depan." sahut Canda kemudian.
Givan mengangguk, "Ya udah, ayo bayar dulu pakaiannya. Terus cari swalayan besar." balas Givan dengan berjalan mendahului Canda.
Lalu Givan segera mengurus pembayaran yang jumlahnya jutaan tersebut. Kemudian mereka berdua keluar dari butik, dengan menenteng beberapa kantong plastik dengan cap nama butik langganan ibunya tersebut.
Canda menyebutkan bahan-bahan yang ia butuhkan, dalam perjalanan menuju ke swalayan terdekat.
Givan beberapa kali menimpali merk yang ia ketahui, tentang bahan yang dibutuhkan tersebut.
Hingga Canda merasa seperti dejavu. Saat Givan mendorong troli belanjaan, dengan dirinya yang memilih beberapa bahan makanan. Dadanya merasa sesak, dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya. Tatkala dirinya kembali mengenang pujaan hatinya, yang selalu ia kejar sebelumnya.
~
"Belanja apa aja sih? Banyak betul." ucap Adinda, saat melihat anak dan menantunya tengah memindahkan barang-barang belanjaannya.
"Banyak, Mah. Aku abis beli sembako juga, disuruh mas Givan. Aku diminta masak sendiri, Mamah jangan tersinggung ya?" ungkap Canda, dengan memberikan kantong plastik berisi pakaian. Yang ia beli di butik langganan ibunya.
__ADS_1
Adinda mengangguk, "Kalah mau masakan Mamah juga tinggal ambil. Dari sana juga? Ini punya Mamah nih?" balas Adinda, saat melihat isi dari kantong plastik tersebut.
"Iya, Mah. Bang Givan belanjain buat Mamah juga." sahut Canda dengan senyum manisnya.
"Berapa habisnya, Van?" tanya Adinda, saat melihat anaknya melintas dengan membawa keranjang baju kotor yang berwana pink.
"Udah, tinggal pakek. Berapa, berapa! Macam sama siapa aja!" jawab Givan yang membuat Adinda terkekeh.
"Kenapa tak ditambahin? Cuma yang Mamah pilih aja?" ujarnya kemudian, membuat Givan menepuk jidatnya sendiri.
"Salah lagi?" ujar Givan yang membuat ibunya dan istrinya tertawa puas.
Kemudian Adinda melanjutkan obrolannya, seputar pakaian yang berada di tangannya. Hingga Givan sudah kembali, dengan mengenakan pakaian santai. Terlihat Givan mengenakan celana Chino pendek, dengan kaos berwarna biru dongker.
"Power bank mana? Mas mau keluar dulu, mau ngobrol sama kawan-kawan." ujar Givan, yang membuat Adinda dan Canda diam sesaat.
Canda merogoh tasnya, kemudian memberikan benda persegi panjang tersebut pada suaminya.
Givan geleng-geleng kepala, "Warna pink? Nongkrong, sambil nyolok ke PB warna pink? Mas laki-laki tulen, gagah, berani, yang anti dengan warna pink. Ada apa denganmu, Canda Malam?" ungkap Givan kemudian.
Adinda terbahak-bahak, melihat wajah kesal anaknya.
"Canda Pagi aku, Mas. Canda Pagi Dinanti." jelas Canda tanpa memperdulikan tentang power bank tersebut.
"Sekarang udah malam, terus kau bergurau terus. Segala ngasih pinjem PB warna pink, kan gue malu!" tutur Givan dengan berlalu pergi.
"Giska.... Abang pinjem PB." seru Givan, saat berada di depan pintu kamar Giska.
"Ambil, Bang." sahut Giska dengan suara keras juga.
Givan segera masuk ke dalam kamar adiknya. Kemudian keluar dengan membawa power bank berwarna putih.
"Nih power bank, namanya power bank tak berpihak. Netral dia, pro dia." ucap Givan, dengan menunjukkan power bank milik adiknya ke arah istrinya.
"Iya-iya, terserah lah." sahut Canda dengan memonyongkan bibirnya.
"Curiga aku! Ini baru ketahuan PB sama keranjang baju kotor aja. Jangan-jangan besok lebih ekstrim." gerutu Givan, sembari melangkah ke luar. Suara Givan, masih bisa didengar oleh Canda dan Adinda. Membuat Canda bertambah kesal, pada suaminya yang rasis terhadap warna kesukaannya.
......................
__ADS_1