
Hingga, gigitan gemas dan pilinan tersebut seketika terlepas. Karena Canda menjambak rambut Ghifar cukup kuat, membuat mood Ghifar memburuk dalam sekejap.
Ghifar memberi Canda tatapan malas, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Mas… Mas marah ya?" tanya Canda dengan membenarkan penampilannya yang setengah tela*jang tersebut.
"Udah-udah, sana kau balik!" ujar Ghifar, dengan melangkah menuju ruangan sebelah. Menyisakan Canda, yang tengah dilanda kebingungan tersebut.
Canda terkekeh kecil, dengan ujung matanya yang sedikit basah. Hal gila pertama dan terakhir yang ia lakukan bersama pujaannya, yang tak akan pernah terulang kembali.
"Menyoe jodoh, pasti jadeh. Menyoe hana jodoh, ya hana jadeh." ucap Canda dengan memeluk guling, kala dirinya mengingat kembali kalimat yang sering Ghifar lontarkan tersebut.
"Aku nyesel, Mas. Aku nyesel kenapa pagi itu main masuk aja ke rumah Mas." lanjut Canda, dengan tangis yang semakin menjadi.
Canda menekan mulutnya dengan guling dalam pelukannya, agar tangisnya tak terdengar oleh orang lain.
"Kita gak berjodoh, Mas." rintih Canda, di sela tangis pilunya.
Canda membiarkan air matanya meluap, kemudian meresap dalam guling tersebut. Menyesal pun sudah tiada guna, karena ini adalah pilihannya sendiri untuk meninggalkan Ghifar.
~
Malam hari itu, Adi masih sibuk mengutak-atik ponsel anak gadisnya di rumah pamannya. Ia ingin membuat situasi yang ia harapkan, tanpa sepengetahuan istrinya. Karena jika Adinda mengetahui segala persoalan yang Adi hadapi, maka Adinda akan segera memutuskan segalanya tanpa perasaan.
"Dinda tak diajak, Di?" tanya Sukma, dengan memberikan Adi secangkir teh manis hangat.
"Tak, lagi rewel." jawab Adi, dengan menoleh sekilas pada teman masa sekolah menengah atas tersebut.
"Rewel terus perasaan hari-hari dia. Kau tak becus keknya ngurus dia." sahut Sukma, yang membuat Adi terusik dari aktivitasnya.
"Becus lah, memang dia kadang suka rewel. Udah adem masalah uang. Sekarang ngamuk, gara-gara Giska yang mewek-mewek tak jelas. Yang jadi ibunya tak mahami, kalau itu anak lagi puber." balas Adi menceritakan drama sore tadi, saat Adinda meminta anak gadisnya untuk keluar membeli lauk pauk matang.
__ADS_1
"Dinda dari aku kenal tuh, memang tak punya perasaan. Pikirannya udah kerealistis terus, mikirin hal yang logis. Tentang perasaan, mungkin sama dia jarang dihirauin. Sama kau aja kan, dia begitu." ujar Sukma, yang membuat Adi sedikit tertarik untuk meladeni Sukma berbincang.
"Kenapa ya dia bisa gitu?" tanya Adi dengan berpangku dagu.
Sukma memperhatikan wajah Adi yang stay di usia 30 tahunan itu, "Dia kalau ngandelin perasaannya, dia kalah segala-galanya. Waktu baru-baru jadi janda aja kan, dia sebetulnya masih berat itu sama Mahendra. Beberapa kali nge-gap Mahendra, nginep di kontrakan Dinda dulu. Waktu bang Haris masih sama aku, aku kan akrab juga itu sama Dinda. Bang Haris kan, ada belajar juga masalah kejiwaan dan psikologis orang. Entah apa yang bang Haris tanamkan, Dinda jadinya berubah gitu. Jadinya lebih realistis, tak mikirin perasaan." ungkap Sukma, yang tiba-tiba membuat Adi teringat akan Ghifar.
Ghifar mulai berubah, saat anak itu lebih dekat dengan Haris. Ada sesuatu yang Haris tanamkan, yang tak diketahui oleh Adi.
"Kau dengar kan soal Icut? Icut pun jadi korban kekejamannya Dinda. Sebetulnya, Dinda cengeng-cengeng juga. Dia nangis, kalau udah menyangkut tentang perasaannya dia. Kau dengar tak, waktu aku anterin janda muda yang pakek cadar itu? Dinda kan udah lebay betul itu nangisnya, udah macam aku minta meukawen lagi aja. Dinda histeris betul, ada lucu, ada panik juga liat dia begitu." tutur Adi dengan tersenyum samar, karena teringat kembali cerita saat itu.
"Awalnya kek mana ceritanya? Bisa-bisa kau anterin janda muda balik itu?" tukas Sukma, yang sebelumnya sempat mendengar Adi dan Adinda yang renggang karena masalah itu.
Adi menaruh ponselnya dan ponsel anaknya di meja yang tersedia, "Sederhana aja ceritanya, cuma karena dia dengernya dari orang jadi dia langsung naik pitam. Awalnya….
Berawal Adi tengah mengurus tentang KTPnya yang patah menjadi dua, karena ia jarang mengeceknya pada dompet yang sering ia duduki.
"Ngurus KTP juga, Dek Muti?" tanya Adi, saat mengenali salah seorang wanita yang duduk di sampingnya di ruang tunggu kecamatan tersebut.
Terlihat dari garis matanya, wanita itu tengah tersenyum ramah pada Adi meski dirinya mengenakan cadar.
"Teungku ngapain di sini? Ngurus KTP anak-anak kah?" lanjut Muti dengan memperhatikan juragan di tempatnya ia tinggal tersebut.
"Kon, ngurus KTP sendiri. Patah, lama-lama di dalam dompet, terus dompetnya kedudukan, jadi patah itu KTP." jelas Adi yang diangguki Muti.
"Teungku, silahkan." seru petugas kecamatan, dengan mempersilahkan Adi terlebih dahulu.
Adi tersenyum lebar pada petugas kecamatan tersebut, "Masih muda aku, masih pantas dipanggil abang. Teungku-teungku, Dinda malah kira suaminya tukang pijet nanti." celetuk Adi, yang membuat beberapa di antara mereka tertawa geli.
"Kak Dinda asli mana, Bang?" tanya salah seorang petugas, yang tengah melakukan pengecekan data pada layar di depannya.
"Dinda aja tetep eksis dipanggil kak, suaminya malah dipanggil teungku. Tak adil betul." balas Adi yang membuat suasana mencair di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Dinda asli kota C, makanya kadang dia tak paham sama sebutan di daerah sini." lanjut Adi, saat diminta data lainnya yang diperlukan.
"Oh, pantes. Udah siap nih, Bang. Nanti gampang dianterin ke rumah." balas petugas tersebut, dengan memberikan selembar kertas keterangan tentang e-KTP milik Adi.
Adi mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih pada petugas tersebut.
"Mari, Dek." pamit Adi, saat melewati Muti yang masih menunggu antrian tersebut.
"Iya, Teungku. Silahkan." sahut Muti, dengan garis mata yang tertarik karena senyumnya.
Adi langsung menuju ke parkiran kecamatan tersebut, kemudian melajukan kendaraannya menuju ke kedai kopi milik anaknya.
Adi mengecek pembukuan, yang aslinya tak dimengerti oleh dirinya. Tapi meskipun demikian, Adi tetap menyimak data yang begitu rapih tersebut.
Setelah ia melihat-lihat keadaan kedai. Adi langsung bergegas untuk pulang ke rumahnya.
Adi mengendarai motor matic berbody bongsor milik Ghifar tersebut dengan perlahan. Adi tersenyum samar, kala dirinya teringat akan penolakan Adinda setiap diajak mengendarai motor tersebut.
Namun, tiba-tiba lamunannya buyar. Saat melihat wanita dengan pakaian hitam, lengkap dengan cadarnya tengah berjalan seorang diri di tengah teriknya matahari.
"Dek Muti, ikut aja yuk. Dari para kepanasan." ajak Adi, setelah dirinya mengendorkan gas motor tersebut.
Muti menoleh ke arah Adi. Dengan tanpa penolakan, Muti langsung naik ke jok belakang motor tersebut. Mungkin karena dirinya yang sudah amat tak tahan, dengan teriknya matahari siang ini.
"Maaf ya, Teungku. Malah ngerepotin." ucap Muti, di sela perjalanannya menuju ke rumahnya.
"Ya, tak apa Dek Muti." sahut Adi pada wanita 10 tahun lebih muda darinya tersebut.
Hingga beberapa kali Adi berpapasan dengan warga, tak terbesit sedikitpun di pikirannya akan Adinda yang mengamuk atas tindakannya itu.
......................
__ADS_1