Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS178. Menggali informasi


__ADS_3

"Heh! Heh! Heh! Far... Ngapain kau? Mau coba-coba p*rkosa Ahya?" bentak ibu Handa, dengan bola mata yang nyaris menggelinding.


"Ck..." Ghifar bangkit dari ranjang, melepaskan Ahya yang tengah ia gurau.


"Ngapain p*rkosa dia. Yang di rumah pun, udah siap ngan*kang." celetuk Ghifar begitu tidak sopan.


Untungnya, telinga ibu Handa kurang berfungsi baik. Ia tidak mendengar ucapan Ghifar barusan.


Kenandra ternyata sudah berada di belakang ibu Handa, ia cekikikan melihat wajah masam Ghifar.


"Yang tau diri coba, Far. Istri tiga, yang lagi hamil satu, udah punya anak satu juga. Tapi masih kek gitu aja! Jaga perasaan istri kau, jaga perasaan Ahya. Nanti Ahya kegeeran, kalau kau macam itu." ungkap ibu Handa, saat Ghifar melewatinya.


"Aku tau diri, Masyik! Makanya aku gitu." tandas Ghifar, dengan kembali ke luar dari rumah itu.


Moodnya sudah hancur untuk bertamu, apa lagi bertukar cerita.


Ia berjalan ke luar dari halaman rumah itu, ia berniat menuju ke warung kopi kampung saja. Pasti teman sebaya dan anak muda berkumpul di sana.


Notifikasi chat masuk terdengar, saat Ghifar tengah memesan secangkir kopi. Ia merogoh ponselnya, kemudian memasukkan beberapa angka untuk membuka kunci pin ponselnya.


[Minuman di mobil Abang tolong pindahin, Far. Besok pagi Abang balik ke kota C.]


Pesan tersebut ternyata dari Kenandra. Ghifar hanya membaca tanpa membalasnya, seperti itulah kebiasaan anak itu. Namun, ia tetap akan melakukan perintah orang yang meminta bantuan padanya tersebut.


Ghifar bercakap-cakap dengan teman sebayanya, bertanya pekerjaan dan aktivitas masing-masing.


"Giska ada di rumah kah?" tanya Dafa. Dafa adalah teman Ghifar bermain sejak kecil.


"Na." jawab Ghifar dengan anggukan kepala.


"Mau apa memang? Perlu sama dia chat aja. Kau tak takut sama teungku haji?" tanya Farid, teman Ghava dan Ghavi. Ia pun ada di tempat itu, untuk bercengkrama dengan teman-temannya.


"Biasa, chip."


Deg...


Kata yang langsung mengarah tentang layar ponsel Giska. Ghifar langsung menoleh ke arah Dafa, dari raut wajahnya Ghifar terlihat ingin menanyakan sesuatu.


"Sedekah kah?" ucap Ghifar kemudian.


Dafa menghisap dalam-dalam benda pipih berbentuk persegi panjang. Lalu asap mengepul, keluar dari mulut dan hidungnya.

__ADS_1


"Biasa jual juga dia." informasi yang menarik.


Ghifar fokus pada Dafa, dari sorot matanya Ghifar begitu ingin mengetahui lebih tentang kalimat yang keluar dari mulut Dafa.


"Oh, aman kah?" pertanyaan singkat, tetapi mengandung makna bahwa Ghifar mengkhawatirkan adiknya yang melakukan bisnis haram tersebut.


Dafa mengangguk, "Aman, karena dia anak juragan sama perempuan juga. Ditutupin terus, kalau ada pihak yang nanya-nanya. Tapi memang dia udah pro di sini. Diam, tapi bergerak layaknya bede sabu." Dafa tertawa sumbang di akhir kalimat.


Ghifar ikut menarik sudut bibirnya teratas, agar Dafa tak curiga bahwa ia tengah mencari informasi itu padanya.


"Abang-abangnya juga udah pada tau, Bang. Pernah aku tengok Ghavi lagi marahin dia di kampus, diseret itu betina ke ruang kelas yang tak terpakek. Dimarahin, dikata-katain, ditoyor-toyor kepalanya. Bang Givan juga ngamuk dia, berapa kali itu dia hapus aplikasinya. Pas aku lagi main di situ kan, jadi tau aku." tambah Farid, pemuda yang sering keluar masuk rumah juragan.


"Papah gimana?" tanya Ghifar lirih. Ia memahami ini adalah masalah keluarga mereka sebenarnya, tapi sayangnya ia tak mengetahui apa pun.


"Papah awalnya nutup-nutupin Giska. Tapi karena Giska gagal tunangan, terus jadinya papah kek gimana gitu ke Giska. Kek tak peduli. Ehh, bukan tak peduli sih. Maksudnya... Kek, ya udahlah biarin aja. Gitu lah Bang kira-kira." jelas Farid. Ghifar hanya bisa manggut-manggut, sembari memainkan bulu halus di dagunya.


"Ghava-Ghava itu..." tunjuk Dafa, pada Ghava yang melintas dengan membonceng seorang wanita.


"Winda keknya ya?" tanya Farid pada Dafa.


Dafa mengangguk, "He'em. Siapa lagi kalau bukan Winda." tukasnya kemudian.


"Siapa memang Winda?" Ghifar sebenarnya malu. Ia kakaknya, tapi ia tidak tahu segalanya tentang adik-adiknya.


Pantaslah orang tuanya meminta bantuan dirinya, hanya untuk membantu mengurus adik-adiknya. Hal itulah yang terlintas di benak Ghifar.


"Orang-orang juga pada tau jadinya, Bang. Kalau kak Icut itu hamil tanpa suami. Keluarga besarnya papah sih, pada bilang itu anak angkatnya mamah Dinda. Tapi orang-orang tuh narik kesimpulan sendiri, karena liat kak Icut terus yang sering bawa-bawa Hamerra." bisik Farid lirih, agar ucapannya tak terdengar oleh Dafa.


Farid bisa menutupi hal itu, karena ia sudah menganggap bahwa sang juragan adalah orang tuanya sendiri.


"Menurut aku sih mustahil rasanya teungku haji sama ma Dinda ini tau tentang anak-anaknya. Omongan orang tuh, tak bakal tembus ke telinganya. Kepala, pundak, lutut, kaki, semua kepercayaan teungku pun, tak berani nembusin langsung ke teungku haji. Waktu cek Lhem aja kan, dia tak pernah bilang ke teungku haji kalau Giska dulu mabok Adi." Ghifar menoleh kaget ke arah Dafa. Benarkah Giska menggilai mantan kekasih Ahya? Batin Ghifar berperang dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari pikirannya.


"Kau tak tau kan, Far? Tinggal enam bulan lagi buat nikah, keluarga kau nganterin balik cincin tunangan ke Adi. Si Adi sampek sekarang tak balik-balik merantaunya, mungkin dia malu karena tunangan gagal itu." lanjut Dafa, membuat lubang hidung Ghifar semakin melebar.


Ghifar hanya terdiam, ia cukup terpukul mendengar itu semua.


"Heh! Muncul juga kau." Farid menyapa seseorang yang datang dengan menunggangi motor.


Ghifar menoleh ke suara motor yang berhenti.


Ghavi turun dari motornya, berjalan menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Bekerja sekedar saja, Kawan." ucap Farid dengan menepuk pundak Ghavi.


"Pusing." Ghavi menggaruk kepalanya, rambutnya terlihat sudah begitu gondrong.


"Heh, Bang. Key tuh sendirian aja di teras, diajak tak mau." lanjut Ghavi dengan menoleh ke arah kakaknya.


Ghifar menyeruput kopinya, lalu dirinya berdiri. Merogoh selembar uang berwarna biru dari dalam dompetnya.


"Nih, bayarin kopi Abang. Key tuh drama kalau mau tidur." Ghifar amat peduli pada gadis kecil itu.


Ia berjalan pulang ke rumah orang tuanya. Membayangkan Mikheyla duduk sendirian di teras rumah sembari menunggunya pulang seperti biasa, itu cukup mengiris batin Ghifar. Ia tak tega jika selalu menyaksikan Mikheyla menunggunya.


Ghifar menyunggingkan senyumnya, kala melihat Mikheyla tengah duduk beriringan bersama Adinda. Anak hiper aktif, yang belum jelas berbicara tersebut, terlihat begitu bahagia dikelilingi oleh banyak orang yang ramah padanya.


"Paaaa... Pa biiiii..." panggil Mikheyla dengan berlari menuju Ghifar yang tengah melangkah masuk ke dalam halaman rumah.


Terlihat Adinda cekikikan, melihat Mikheyla yang berlari cepat tersebut.


Ghifar menggendong tubuh Mikheyla, dengan si gadis kecil tersebut yang langsung mengalungkan tangannya melewati tengkuk Ghifar.


"Apa sih pa bi tuh? Kalau manggil kau gitu terus." tanya Adinda, saat Ghifar berjalan mendekat.


"Papah bli. Bli itu panggilan orang Bali, macam nyebut abang gitu nah Mah. Fira ngajarin Key manggil aku papah, tapi dia selalu denger Yoka sama Tika manggil aku bli. Jadinya papah bli." jelas Ghifar membuat Mikheyla tersipu malu.


"Yuk, masuk. Kalau kau tidur di atas, dikunci aja pintunya, biar Key tak turun tangga sendirian." ujar Adinda mendahului Ghifar untuk masuk.


"Ya, Mah." Ghifar fokus mengusap ingus yang keluar dari hidung kecil nan bertulang ramping tersebut.


Ghifar mencuci wajah, kaki dan tangan Mikheyla, sebelum mengajak anak itu tidur. Diapers anak itu pun, ia cek kembali. Kemudian Ghifar baru membuatkan susu dalam dot untuk Mikheyla.


"Nini... Ni.. ni...." Mikheyla meminta turun dari gendongan Ghifar, saat mereka berada di ruang keluarga.


"Bobo di sini? Di kamar aja yuk, sama Papah, apa mau sama tante Yoka?" Ghifar merasa tidak enak, jika selalu tidur di ruangan itu. Apa lagi, Canda terlihat pulas di salah satu sofa ruang keluarga tersebut.


"Biarin dulu di sini, Bang. Nanti gampang dipindah." Ghifar mengangguki usulan Giska. Ia tak mau putri kecil yang ingusan tersebut, menyuarakan tangis berisiknya.


Hingga beberapa waktu terlewat, Ghifar begitu lelap sembari memeluk Mikheyla. Lampu ruangan tersebut pun telah padam, menunjukkan manusia-manusia telah terlelap di selimut masing-masing.


Dengusan seseorang cukup mengusik tidur lelap Ghifar. Kepalanya tersenggol, dengan seseorang yang lewat di tempatnya berbaring.


Ghifar membuka matanya, untuk melihat pelaku penyenggolan yang sangat tidak sopan tersebut.

__ADS_1


......................


*Na : Ada


__ADS_2