
"Bangun tak ini Key, Far. Kalau kita ngobrol." tanya Givan memperhatikan Mikheyla yang terlelap di atas tubuh Ghava.
Mereka semua telah sampai di kamar Ghava. Givan memutuskan untuk mengajak Ghava berdiskusi juga. Karena ia juga ingin membicarakan perihal masalah Ghava tempo hari.
"Gimana, Bang?" tanya Ghava, ia masih mengusap-usap punggung Mikheyla yang tak mengenakan pakaian. Gadis kecil itu hanya mengenakan diapers. Ghava sengaja melepaskan pakaian Mikheyla dan pakaiannya, agar panas dari tubuh Mikheyla menyerap ke tubuhnya.
Ia pernah melihat Gavin ditelan*angi oleh ayahnya, kemudian ayahnya memeluk anak itu tanpa memakai baju. Jawaban itulah yang Ghava dengar, saat dirinya menanyakan hal itu.
"Mau ngomongin tentang Giska. Kau juga baiknya kek mana ini?" ujar Givan dengan duduk bersandar pada ranjang.
Givan menjelaskan secara singkat pada tiga pemuda tersebut, tentang masalah yang menimpa Giska. Ia pun menyebutkan garis besar, yang membuat Giska berbuat hal yang tak disangka tersebut.
Ghifar mengernyit heran. Jika memang saling mencintai, kenapa mereka malah berpisah? Pertanyaan sederhana, yang muncul di benak Ghifar.
"Kau sih, Bang. Ngapain kau hari itu manas-manasin Papah? Udah tau Papah lagi kumat darah tingginya, ditambah tentang hasutan kau." ujar Ghavi, saat Givan selesai menceritakan tentang alasan di balik berubahnya Giska.
"Heh, bukan manas-manasin. Aku yang abangnya aja, aku tak terima Giska dibentak tunangannya. Apa lagi Papah yang jadi orang tuanya Giska, dia tak terima lah anaknya digituin." jelas Ghava dengan suara yang ditekan lirih. Ia tak mau gadis kecil seperti anak kangguru tersebut, terbangun dan merengek kembali.
"Tapi sebetulnya Papah tuh nyadarin, bahwa memang anaknya yang keterlaluan Va. Pas kau tambah-tambahin itu, Papah jadi marah betul sama Zuhdi." timpal Givan, yang ternyata juga menyudutkan seorang Ghava.
Pemuda berwatak keras dan gampang emosi itu, tak terima dengan adiknya yang dibentak oleh kekasihnya. Ia berpikir, belum sampai ke pernikahan. Tapi Zuhdi sudah berani membentak Giska, apa lagi jika sudah menikah. Pasti Zuhdi lebih semena-mena pada adiknya.
Tarikan kalimatnya memang tak salah. Tapi tak sepatutnya juga menghakimi suatu hubungan, sampai kedua pihak merasa dirugikan. Katakanlah Adi terpancing emosi, karena pendapat Ghava saat itu.
"Berantem dia, Pah." ungkap Givan, setelah dirinya berhasil menyeret Ghava untuk masuk ke dalam rumah.
Ghava berniat melarikan diri, ke rumah panggung milik Ghifar. Agar dirinya tak mendapat amukan dari ibunya. Ia amat takut membuat marah ibunya, itu bukan kehendaknya.
Adi memperhatikan Ghava yang tertunduk lesu. Adi mengetahui hobi tersembunyi Ghava, anaknya seorang tukang pukul amatiran. Bukan satu atau dua kali, Ghava terlibat baku tonjok.
"Sama siapa?" Adinda memperhatikan anaknya dengan pandangan lelah.
"Sama Zuhdi. Kena tonjok sekali dia, perutnya. Dia beberapa kali nonjok Zuhdi, sampek berdarah-darah Zuhdinya." jelas Givan, ia duduk di sofa. Ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, ia sempat berdebat dengan adiknya tersebut. Ia cukup lelah, mengatur kenakalan Ghava sejak dulu.
__ADS_1
"Pah... Bukan aku membela diri. Tapi... Zuhdinya sok berkuasa betul. Giska baru jadi tunangannya aja berani bentak-bentak depan Papah, apa lagi kalau Giska udah jadi istrinya. KDRT mungkin dilakuinnya. Diam-diam nampak alim kek gitu, dia kasar ternyata." ujar Ghava, ia masih berdiri di hadapan orang tuanya.
Adi seperti melamun, ia terdiam dengan pandangan kosong.
"Udah Pah, gagalin aja pertunangannya. Laki-lakinya songong kali. Belum apa-apa, udah berani bentak. Kalau Giska salah, ya dibilangin pelan-pelan. Bukan main bentak-bentak aja. Gimana coba kalau mereka lagi ada di luar, di jalan gitu. Udah Giska malu jadi tontonan, bisa ditinggal di tengah jalan juga adik aku." lanjut Ghava, kemudian ia ngeloyor pergi.
Ia merasa takut dengan diamnya ibunya. Ia takut mendapat lemparan barang, yang membuat luka di tubuhnya. Ia tak mau mendengar makian ibunya padanya, hatinya tak selapang seperti saudara yang lain. Ia takut menggerutui ibunya dalam batin, Ghava lebih baik menghindari itu semua.
Adi masih terdiam, pikirannya berkelana. Ia belum bisa memutuskan apa pun saat itu. Ia masih amat kacau dengan kejadian itu.
Namun, perkataan anaknya. Membuatnya menimbang balik tentang calon mantu pilihan anaknya tersebut.
'Benar yang Ghava bilang. Belum apa-apa aja, Zuhdi berani bentak Giska. Gimana nanti dia memperlakukan anak aku kelak? Jangan-jangan, dia tak macam aku yang memperlakukan wanita dengan sepenuh jiwa.' Adi termakan ucapan anaknya. Laki-laki matang itu, menelan bulat-bulat tutur kata anaknya, tanpa ia pilah letak kesalahannya putrinya yang membuat Zuhdi murka. Adi terlalu menyayangi putrinya.
Ghifar hanya terdiam, menyimak lontaran kalimat yang saling berganti. Ia tak mengetahui fakta, juga apa saja yang sudah terjadi sebelum dirinya pulang.
"Ya udah, terus mau kek mana? Kenapa aku disalahkan?" putus Ghava dengan raut wajah kesalnya.
"Nikahin Giska sama Zuhdi, suruh Zuhdi bawa Giska ke pedalaman." Ghavi bersuara dengan memakan permen kopi, ia paling tidak bisa menahan rasa ingin merokok setelah makan.
Semua pandangan terarah padanya, Ghavi menjadi pusat perhatian mereka.
"Ada benarnya juga. Tapi Abang dilangkahi beberapa kali dong namanya." Ghifar berpendapat untuk pertama kalinya.
Mereka semua saling memandang, merasa bingung dengan ucapan Ghifar.
"Hey, Brother. Bukannya kau udah nikah 3 kali?" tangan Ghava berganti menepuk punggung kakaknya, mengistirahatkan untuk mengusap punggung Mikheyla.
Ghifar tertunduk, ia frustasi harus menjawab apa. Tarikan nafasnya begitu dalam, lalu ia menghembuskannya perlahan.
"Abang belum nikah." aku Ghifar dengan memandang telapak tangannya sendiri.
"APAAAAA??????" seruan serentak mengangetkan Ghifar dan putri cantik itu.
__ADS_1
Tangis Mikheyla menggema kembali, ia langsung terduduk dengan merapihkan rambutnya yang masuk ke mulutnya.
"Apa... A pa... A pa..." tangisnya berirama.
Mereka semua terkekeh, mentertawakan Mikheyla yang malah menyebut apa di sela tangisnya. Mikheyla seperti latah.
Tangis Mikheyla berhenti, ia menatap bingung orang-orang yang mengerubunginya.
"Ya yah." ucapnya sembari menunjuk Givan.
"Pa pa bi." ia beralih menunjuk Ghifar.
"Cik.." telunjuknya menunjuk wajah Ghavi.
"Terus siapa yang apa? Macam orang Korea aja kau." Mikheyla menoleh, pada laki-laki seukuran Ghifar yang merebahkan tubuhnya di belakangnya.
Ghava menjadi pusat perhatian Mikheyla, raut wajah Mikheyla terlihat begitu polos.
Kekehan renyah Mikheyla terdengar, sepertinya anak itu baru saja menyadari bahwa dirinya salah menyebut seseorang.
Mereka semua berebut Mikheyla, mereka amat gemas pada tingkah absurd anak hasil perbuatan seseorang di antara mereka tersebut.
"Key bobo. Papah bikin susu ya?" Mikheyla langsung mengangguk menyetujui.
Ghifar segera keluar dari kamar itu, untuk membuat susu formula dalam dot untuk Mikheyla.
"Aduh, Fir. Kalau anak sakit kek gini, aku malah inget kau. Cuma ibu yang ngelahirin dan ngurus anaknya, yang tau cara nangani anak sakit." Ghifar berucap seorang diri di sela aktivitasnya. Ia membutuhkan sosok ibu dari Mikheyla, untuk mengurusi anak itu.
Ia pun merasa, dirinya tak bisa bekerja karena mengambil alih Mikheyla. Andai saja Ghifar tak pernah berjanji pada Fira, maka dirinya tak harus berbuat sedemikian rupa. Ia tak tega setega yang orang-orang kira.
"Jangan lakuin lagi, Fir! Aku janji, tak......
......................
__ADS_1