Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS99. Obrolan ringan


__ADS_3

"Saya bingung, takut Giska tertekan kalau harus dilarang. Satu sisi, saya pengen Giska fokus kuliah. Di sisi lain, saya takut Giska ketahuan maknya." sahut Adi dengan masih menundukkan kepalanya.


Dua laki-laki yang mengenakan sarung tersebut, terlihat sama-sama bingung.


Zuhdi menyugar rambutnya ke belakang, "Memang ibu Dinda, ngelarang kah Pak?" balas Zuhdi kemudian.


"Maknya itu galak. Ya, memang sih galak bener. Tapi saya takut Giska malah jadi ngurung diri, tak mau buka suara sama saya lagi. Lebih-lebih, Giska jadi nutup masalah asmaranya." ujar Adi dengan memperhatikan wajah laki-laki tersebut dari samping.


Memiliki rahang yang kokoh, dengan hidung yang terlihat bertulang kuat. Wajah khas laki-laki asal provinsi itu, karena mereka satu nenek moyang yang sama.


"Jadi saya mesti gimana, Pak? Kalau Bapak tak ada bilang sama ibu, yang ada tetap Giska yang tertekan nanti. Dia ke rumah saya, main ke sana. Karena dia ngelarang saya buat main ke sini, Pak. Dia takut dilarang sama ibu dan Bapak. Pikir saya, dia kangen, saya kangen pengen ngobrol. Saya datang ke sini, jam delapan balik. Kan dia tetap terkontrol sama Bapak, meski saya ngapelin dia kek gitu kan?" tutur Zuhdi yang diangguki Adi.


"Masalahnya saya takut sama istri. Nanti, Giska juga yang bakal kena semprot maknya." tukas Adi, membuat Zuhri menahan tawanya sebisa mungkin. Ia tak ingin menyinggung perasaan orang tua kekasihnya, seperti kejadian malam itu.


"Apa macam ini aja, Pak? Saya akhir bulan nanti datang sama orang tua ke sini. Buat khitbah Giska, gitu Pak." usul Zuhdi dengan senyum semangatnya.


"Kan nanti di situ, kita main drama nih. Saya pura-puranya jadi laki-laki yang sebelumnya belum kenal sama Giska. Kek mana itu, Pak?" lanjut Zuhdi, yang membuat Adi terkekeh kecil.


"Tapi kelak yang keluar dari mulutnya, kau sama orang tua kau jangan tersinggung ya?" sahut Adi kemudian.


Zuhdi manggut-manggut, "Orang sini, saya sama keluarga pun udah tau tentang mulut bu Dinda yang ceplas-ceplos." balasnya dengan senyum yang terpatri di wajahnya.


Adi mengusap tengkuknya sendiri, "Bayanginnya aja aku udah merinding." gerutu Adi lirih.


Zuhdi mendengar jelas gumaman Adi tersebut, "Memang baiknya kek mana menurut Bapak?" tanya Zuhdi, dengan pandangannya tertuju pada Ghavi yang baru masuk ke dalam gerbang rumah tersebut. Dengan Al-Qur'an di pelukannya.

__ADS_1


Adi mengikuti arah pandangan Zuhdi, "Nanti abis maghrib, Papah anter ke dokter." ucap Adi pada anaknya yang berjalan ke arahnya.


"Tak mau aku, Pah. Udah minum T*lak Angin aja lah, sama nanti dikerik." sahut Ghavi dengan beralih menatap Zuhdi.


Zuhdi tersenyum ramah pada Ghavi, dengan Ghavi yang hanya menganggukkan kepalanya ramah. Kemudian dirinya berlalu masuk ke dalam rumah.


"Dia kakaknya Giska kan, Pak?" tanya Zuhdi, dengan beralih menatap Adi.


Adi mengangguk, "Ya, Giska yang ke enam. Umur kau berapa sih? Perasaan macam matang betul tampang kau." jawab Adi membuat Zuhdi tertawa geli.


"Aku 24, Pak. Pas kecil aku sering main sama Givan. Sampek SMA juga kita bareng satu kelas. Dia lanjut kuliah di L*oksmawe, saya mulai fokus kerja." jelas Zuhdi dengan membersihkan kaosnya yang kejatuhan dedaunan kering.


"Sering ke sini berarti?" ujar Adi yang digelengi Zuhdi.


Adi mengerutkan keningnya, "Berapa bersaudara? Terus kau udah ada apa?" tukas Adi yang membuat Zuhdi langsung menoleh cepat pada ayah kekasihnya.


Adi menutup mulutnya, kemudian tersenyum lebar.


"Maaf, maksudnya..." Adi mencoba menjelaskan, agar Zuhdi tidak tersinggung.


Namun Zuhdi malah tersenyum manis, "Saya paham, Pak. Saya ada ladang, 30 bata. Rencananya mau bangun rumah sedikit-sedikit, tapi keknya ngumpulin buat nikah aja dulu." aku Zuhdi jujur.


Ia mengerti pasti semua ayah di dunia ini, ingin yang terbaik buat anaknya. Zuhdi pun, selalu mencoba menyisihkan uang untuk niat baiknya pada Giska.


"Kira-kira... Mahar buat Giska berapa mayam, Pak?" tanya Zuhdi, yang membuat Adi garuk-garuk kepala.

__ADS_1


Adi menoleh ke arah Zuhdi. Ia ingin mengatakan, jika untuk bertunangan saja masih klise. Sekarang malah Zuhdi membahas mahar untuk anaknya.


"Mampu kau berapa?" Adi melemparkan pertanyaan kembali pada Zuhdi, agar ia bisa memberi patokan yang bisa dijangkau Zuhdi.


"Celengan kau ada berapa? Dengar-dengar, katanya jasa kau diminati banyak orang? Katanya sampek ke luar daerah juga?" lanjut Adi yang membuat Zuhdi tersenyum canggung.


Ia sudah merasa sangat akrab dengan juragan tersebut. Ia mencoba mengikuti ucapan kekasihnya, yang memintanya terbuka pada ayahnya setiap kali ditanya. Zuhdi diminta untuk jujur oleh Giska dalam chatnya, sebelum Zuhdi berkunjung ke sini.


"Emas udah terkumpul sembilan mayam, Pak. Kalau cincin tunangan, rencananya aku beli ukuran satu mayam aja buat Giska. Aku tak peureulee pakek cincin, Pak. Masalah kerjaan, aku sedisuruhnya orang aja Pak. Ada yang nyuruh ke luar daerah, ya aku sanggupi kalau memang aku tak ada kerjaan." Zuhdi menjawab jujur, atas pertanyaan ayah kekasihnya.


"Sembilan mayam, kau kumpulkan udah berapa lama?" tutur Adi kembali, ia merasa perlu menanyakan hal itu untuk kesanggupan Zuhdi.


"Satu tahun belakangan, Pak. Sejak mutusin buat ada hubungan sama Giska, saya udah mulai nabung emas. Karena sadar, kalau uang yang ditabung, pasti kemakan juga. Sebelum kenal Giska, aku punya tujuan bangun rumah dulu. 30 bata itu, alhamdulilah hasil tabungan aku sendiri Pak. Bukan bagian dari keluarga, bukan juga warisan dari ma abu." tukas Zuhdi yang diakhiri dengan tawa kecilnya.


Adi ikut menyuarakan tawanya, ia malah teringat akan Ghifar yang entah bagaimana kabarnya. Zuhdi yang berasal dari keluarga sederhana, mampu menghasilkan uang dan memiliki tabungan. Sedangkan anaknya??? Adi merasa frustasi jika memikirkan tentang anak-anaknya yang beraneka ragam, meski berasal dari satu benih yang sama.


"Berapa bersaudara tadi?" ucap Adi ulang, karena merasa pertanyaannya tersebut belum dijawab.


"Empat, Pak. Saya yang kedua. Pertama perempuan, udah berkeluarga, udah punya anak satu. Anak yang nomer tiga juga udah nikah, dia perempuan juga, sekarang lagi ngandung. Yang keempat laki-laki, kalau tak salah dia ikut kerja di ladang Bapak." sahut Zuhdi yang menjelaskan secara rinci, agar Adi tahu tentang keluarganya.


Adi mengangguk, "Kau nih, jasa kau dibayar berapa? Sampek kau bisa punya tanah, bisa punya celengan emas gitu. Bisa ngasih jajan Giska, tapi bisa nyisihin juga buat beli cincin tunangan. Memang kau tak kasih berapa gitu ke ma kau? Maaf kalau lancang nanyanya, soalnya kek aneh aja. Ghava, Ghavi cuma bisa bayar pegawai, sama buat beli rokoknya mereka aja. Lebih-lebih berapa juta, kasiin ke maknya, mereka bilang buat tabungan mereka nanti nikah." balas Adi yang merasa sedikit heran. Pasalnya satu mayam emas saja, sudah senilai 3 juta rupiah. Belum lagi harga tanah, yang tiap tahunnya pasti naik.


......................


Seenak ini Adi diajak ngobrol.

__ADS_1


__ADS_2