Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS176. Nasi goreng asin tanpa telor


__ADS_3

"Heh kau! Kok bisa bahasanya bunda?" tanya Kinasya dengan berbalik mengikuti Ghifar yang berjalan ke arah teras rumah.


"Bisalah, supir travel. Masa tak bisa bahasa daerah lain, nanti tak dapat tips." sahut Ghifar, Adi yang berada di halaman rumah bisa mendengar itu.


"Kok supir travel, mobil kau bisa P*jero?" celetuk Adi begitu heran. Adi berjalan menuju kedua orang tersebut.


Ghifar duduk di teras rumah, Kinasya langsung siap di hadapan Ghifar dengan membuka isi kantong plastik yang ia bawa.


"Bismillah..." Kinasya langsung membelokan sesendok makan, yang hendak masuk ke mulut Ghifar.


"Istrinya tiga, Kin." tandas Adi, dengan menghampiri Ghifar dan Kinasya.


"Aku belum makan dari dua jam yang lalu. Lapar sekali ya Allah, tolonglah aku." Kinasya kembali membelokkan suapan Ghifar ke mulutnya.


"Sialan kau!" Ghifar tersenyum samar, dengan menggelengkan kepalanya.


"Heh, kok bisa mobil kau P*jero?" ulang Adi, saat dirinya sudah menduduki kursi teras sembari memangku Mikheyla.


"Bisa, kan kredit. Tapi udah lunas, makanya berani dipakek perjalanan jauh." ujar Ghifar, dengan langsung melahap suapannya. Agar tak kembali dicuri oleh Kinasya.


"Gorengan apa itu?" tanya Ghifar, dengan menarik plastik yang tergeletak tersebut.


"DEK...." seru Adi menoleh ke arah pintu. Ia ingin istrinya ikut berkumpul dan mengobrol dengan Ghifar, tanpa para wanita yang mengikutinya.


"Uyun... Yun...." rengek Mikheyla dengan merosot ke bawah.


"Dilepas aja dia, Pah. Dia tak pernah digendong, tidur juga ngegletak di mana aja." ucap Ghifar saat Adi mencoba mempertahankan Mikheyla dalam gendongannya.


"Apa, Bang?" Adinda muncul dari dalam rumah.


"Sini duduk." pinta Adi, dengan menunjuk salah satu kursi yang terhalang oleh meja di antara mereka.


"Mah, makan. Nasi goreng asin, telornya pun tak ada." tawar Ghifar dengan menunjukkan sesendok nasi dalam sendoknya.


"Tak selera nengoknya pun." Ghifar terkekeh mendengar ucapan ibunya.


"Ghifar supir travel katanya, Dek." adu Adi dengan menunjuk Ghifar dengan dagunya.


"Supir? Yang nganterin orang?" Adinda terlihat syok.

__ADS_1


Ghifar mengangguk, "Ya, Mah. Trayek aku banyak, bang Ken juga sampek kadang ikutan." ucapnya kemudian.


"Berapa mobil kau punya, Far? Jual tujuh mobil, terus nikahin aku Far." celetuk Kinasya santai. Namun, ia tak menyangka malah mendapat ekspresi luar biasa dari Ghifar, Adi dan Adinda.


"Bergurau, Mah." Kinasya tertawa sumbang, saat melihat reaksi mereka semua.


"Udah coba, Kak. Lagi laper aku." ungkap Ghifar begitu memelas, karena kini Kinasya menyuapkan sendiri makanan Ghifar ke dalam mulutnya.


"Ada racunnya loh, Kak." lanjut Ghifar, saat Kinasya kembali melahap makanan miliknya.


"Ada racunnya pun, tetap aku makan. Asal yang buatinnya kau." bulu halus Ghifar meremang, ia mencoba menolak rasa yang menghangatkan hatinya.


"Aku baperan orangnya. Mohon pengertiannya." ujar Ghifar kemudian.


"Ok, ok. Silahkan habiskan, aku ikhlas kok. Lagian juga, aku udah kenyang." rasanya Ghifar ingin memasukkan Kinasya ke dalam karung, lalu menghanyutkannya ke sungai.


"Ghava Ghavi mana, Mah?" di punggungnya, gitar kesayangannya masih setia bertengger di sana.


"Di belakang, lagi main capsa sama Giska." sahut Adinda santai.


Kinasya nyelonong masuk ke dalam rumah, dengan menarik kerudung instannya. Kemudian menyampirkannya ke bahu kirinya. Wanita muda memang belum memiliki kemauan yang kuat untuk berkerudung, salah satunya seperti Kinasya.


"Kenapa sih tiap kali tengok Kin, kau nampak bodoh kek gitu? Melongo, kek nahan hasrat, tapi kek mengagumi." ucap Adi dengan menepuk pundak anaknya yang duduk di lantai teras.


Adi mengerti arah pembicaraan anaknya. Ia hanya melepaskan tawanya, dengan geleng-geleng kepala saja.


"Mah... Nitip Key ya. Aku mau nyusulin bang Ken di rumah om Safar. Mau keluar juga, mau main sama temen. Key biasa tidur pindah-pindah. Biarin aja kalau dia tidur di sembarang tempat, kalau tempatnya aman tak usah pindahin Key." ungkap Ghifar, menjeda sesi makannya sejenak.


"Bawa aja, sana kenalin ke saudara-saudara kau. Udah jadi anak, kau tak mungkin terus ngumpetin Key." Ghifar ingin mengatakan hal itu tidaklah benar, tapi ia tak bisa menyangkal pernyataan ibunya barusan.


"Nanti aja, Mah. Udah malam, Key belum biasa sama hawa dingin di sini. Biarin dia di dalam rumah aja, Yoka sama Tika pasti urus juga kok." ujar Ghifar sembari berniat menaruh piring kotornya.


"Yoka sama Tika tuh dipisah, barang kali kau mau gilir ke salah satu di antara mereka." celetuk Adi, saat Ghifar sudah sampai di ambang pintu.


Ghifar menoleh ke arah ayahnya, yang tengah memandang lurus ke depan.


"Gilir apa?" Ghifar benar-benar tidak mengerti maksud ayahnya, raut wajahnya pun terlihat begitu jelas bahwa ia tengah kebingungan.


"Pura-pura dia." tukas Adinda berbarengan dengan kekehan Adi.

__ADS_1


Ghifar mengedikan bahunya, dirinya tak begitu penasaran dengan ucapan orang tuanya barusan.


Ghifar melirik sekilas pada Canda yang sudah pulas di sofa ruang keluarga. Icut tengah menyusui anaknya. Yoka fokus pada ponselnya, sedangkan Tika asik mengunyah isi toples dalam pelukannya.


"Ke mana si Key." Ghifar mengerutkan keningnya dengan menoleh ke kiri dan kanan.


"Cipluk.... Empluk...." Ghifar menyerukan panggilan ejekan Mikheyla.


Gelak tawa dan suara orang mengobrol, terdengar dari halaman belakang rumah itu. Ghifar cepat-cepat mencuci piring kotor dan tangannya. Kemudian ia berjalan cepat ke halaman belakang rumah tersebut.


Terlihat Mikheyla tengah kejar-kejaran dengan Gavin dan juga Gibran. Kinasya begitu asyik memainkan kepulan asap, yang bersumber dari mulutnya. Ia pun ikut serta dalam permainan kartu, yang tengah Giska mainkan.


Sedangkan Giska, Ghava dan Ghavi fokus pada kartu-kartu di tangannya.


"Ke mana bang Givan?" tanya Ghifar lirih, karena hanya Givan yang tak berada di lingkungan rumah.


"Key... Papah mau main ya. Key bobo ya di rumah." ucap Ghifar dengan mendekati Mikheyla yang bermandikan keringat.


Mata bulat tersebut, terlihat amat bahagia berlarian dengan paman-pamannya.


Mikheyla mengangguk mantap, kemudian kembali mengejar Gibran.


Kaki Ghifar terayun, membawanya untuk menilik kartu yang tengah Giska resapi dalam diam.


Giska kembali menyalakan layar ponselnya, membuat Ghifar bisa melihat jelas apa yang menjadi perhatian adiknya sekarang.


Ghifar geleng-geleng kepala, saat sebuah aplikasi berjalan dengan bar notifikasi yang penuh dari game tersebut.


'Chip?' satu kata, yang Ghifar simpan di benaknya.


Ghifar mundur perlahan, saat Ghava meliriknya dan seolah memberikan kode agar Ghifar menjauh karena Giska menyadari kehadirannya.


"Vi... Abang nitip Key, awas dia suka nabrak-nabrak. Diawasin aja, mau tengkurap, telentang, nu*gging, dibiarkan aja. Kalau tak nangis sih." ujar Ghifar yang malah mendekati Ghavi dan menepuk pundaknya. Untuk mengelabuhi Giska, bahwa dirinya tak berdiri dan mengamatinya tadi.


"Ya, Bang. Mau ke mana?" tanya Ghavi menoleh ke arah kakaknya yang dulu selalu membuatnya menangis tersebut.


"Ke luar, ke Ahya. Belum nikah kan dia?" jawab Ghifar berbalik memperhatikan ketiga anak-anak yang saling memeluk tersebut.


Tak disangka, empat pasang mata menatapnya berbarengan. Sayangnya Ghifar tak menyadari itu, ia tak melihat tatapan mata mereka semua.

__ADS_1


"Belum, tapi dia......


......................


__ADS_2