Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS217. Kediaman pak Tarmidzi


__ADS_3

"Kain-kain, aku belum nambahin lagi Pah. Sovenir macam perlengkapan mandi, perlengkapan sholat, perawatan kecantikan, sprai, dal*man pakaian, insya Allah aku bisa ngejer dari hasil kerja akhir-akhir ini. Kalau pakaian Giska, memang udah ada beberapa setel. Buat seperangkat perhiasan... Aku belum punya, Pah. Aku fokus sama mahar, jadi untuk seperangkat perhiasan aku belum punya sama sekali." Zuhdi seperti ragu-ragu mengungkapkannya, sampai-sampai kalimatnya terpenggal-penggal.


"Ya udah, aku tambahin seperangkat perhiasan, sama satu ekor sapi sama kambing. Gimana?" atensi mereka terpusat pada Ghifar.


"Papah belum iyakan, Dodol!" Givan menoyor pelan kepala adiknya.


"Ma sama abu kau nanti minggu depan suruh ke sini." Adi menggantungkan usaha Zuhdi selama ini.


Pasti hidupnya tak tenang, sampai orang tuanya pulang bertandang dari rumah keluarga juragan tersebut.


"Jangan bikin deg-degan lah, Pah." Givan seperti merengek.


Mereka terkekeh geli, melihat tingkah Givan barusan.


"Tapi nih, Pah... Kemarin prewed, sewa baju, make up, foto-foto, satu setengah juta, Bang Adi yang bayarin." Ghifar menambahkan kebenaran itu, agar ayahnya bisa mempertimbangkan lagi.


"Prewed sama Ghava aja. Dua ratus ribu paling." ibu-ibu memang selalu ekonomis.


"Ghava ngajakin, katanya ayo prewed di ladang aja. Pakek kaos banteng sama beringin." tutur Givan kemudian. Memang di daerah tersebut, sudah ramai kampanye partai politik.


"Bang... Aku belum ngerasain prewed." Adinda merengek dengan menggenggam tangan suaminya. Tanpa malu ia merengek seperti itu, di depan calon menantunya.


"Ok, prewed kita nanti. Adek pakek pakaian gadis desa, yang kerudungnya pakek kain jarik, pakek kebaya nenek-nenek, bawahannya pakek sarung batik. Abang pakek pakaian pemuda kampung, yang ada ikat kain di kepalanya itu, terus Abang sambil mikul jagung hasil panen. Keren kan?" konsepnya perlu dicoba untuk the next pernikahan anaknya harusnya.


"Hmm..... Hmm... Anak prewed, maknya pengen prewed juga." sindir Ghifar, membuat mereka kembali tertawa.


"Ya, Di. Pokoknya ma abu kau nanti suruh ke sini. Bilang, mau ngobrol aja, tak usah bawa apa-apa." Adi mengingatkan perintahnya pada Zuhdi.


Zuhdi mengangguk, ia pun sudah merasa ini akan menginjak waktu maghrib.


"Ya, Pah. Nanti kau sampaikan. Aku pamit dulu, Pah Mah. Udah mau maghrib ini." pemuda tersebut dengan sopannya mencium tangan kedua orang tua tersebut, kemudian berlalu dengan sedikit menunduk.


Givan mengikuti Zuhdi, mengantar temannya ke arah depan rumah tersebut.

__ADS_1


~


~


Hari terus berlalu. Malam hari ini, ketegangan menyelimuti kediaman pak Tarmidzi. Raut wajah tegas Adi pasang, sejak dirinya menginjak halaman rumah itu. Wajah judes Adinda tanpa senyum manisnya, memberi kesan bahwa ia tidak suka dengan tuan rumah tersebut.


Pembahasan kian memanas, karena permintaan sang tuan rumah tak mengindahkan di hati mereka.


"Anak kami belum kerja. Jangan terlampau ditinggikan, karena anak kalian pun tak sedemikian mahalnya." nada suara yang terdengar lembut tersebut, tersimpan kata-kata yang menikam. Adinda memperlihatkan momok menakutkan tentang dirinya, yang sering dibicarakan oleh warga kampung.


Adi meremas tangan istrinya, ia memahami hinaan yang terkandung dalam kalimat istrinya.


Mata ibu Zubaidah hampir lepas dari tempatnya.


"Giliran jual anak perempuan, mahalnya selangit. Giliran beli anak perempuan buat jadi menantunya, maunya ditawar, macam beli pakaian di pasar." suara lantang ibu Zubaidah membuat rasa penasaran para tetangganya.


"Bukan masalah beli atau jual. Saya aja, minta mahar buat calonnya Giska, cuma 57 mayam. Masa... Giliran harus minta anak perempuan kalian, malah diminta mahar 100 mayam. Tak apa sebetulnya, kalau anak saya udah punya penghasilan, udah punya kerjaan sendiri. Masalahnya... Kelak anak kalian nikah sama anak saya pun, biaya pendidikan anak kalian, bakal saya yang tanggung. Yang tandanya, anak saya ini belum mampu untuk itu." Adi mencoba menjelaskan secara baik-baik.


"Ya itu sih terserah kalian, terserah Ghava. Ghava yang mohon-mohon kok, buat minang anak kami. Berani segitu silahkan, aku tak rugi juga kalau Winda tak nikah sama Ghava." timpal pak Tarmidzi tersebut.


"Mahar seratus mayam. Uang hangus seratus juta. Isi kamar, furniture dari bahan jati. Isi rumah juga. Buah-buahan dua belas macam. Kambing dua, sapi satu, ayam satu kandang. Sovenir lengkap, Al-Qur'an juga diusahakan tulis tangan." lanjutan kalimat pak Tarmidzi, tetap tak mengundang minat mereka.


"Tak usah dinikahin, Pak. Biar aja suruh zina di kebun pisang. Kalau memang udah hamil anak Ghava, tolong kabarin ya Pak." Adinda langsung menarik tangan suaminya, untuk keluar dari rumah itu.


"Heh....." mereka tertegun hebat, kemudian dengan cepat memanggil juragan dan istrinya yang pamit tidak sopan tersebut.


Adi segera menarik gas motornya, untuk kembali ke rumah mereka.


"Kalau anaknya pandai ngaji. Hafidz Qur'an, pandai bahasa Arab sih. Kita sanggupi itu permintaan mereka. Baik Budi juga tak anaknya, minta mahal kali dibelinya. Udah macam barter barang rijekan pabrik." Adi menggerutu sepanjang perjalanan mereka.


Adinda terkekeh kecil, karena ia jarang mendengar suaminya menggerutu.


Adinda mencubit perut suaminya, yang ia dekap. Agar Adi tak melanjutkan pembahasan tentang hal itu.

__ADS_1


"Ke mana dulu nih, Dek?" tanya Adi dengan memelankan laju kendaraannya.


"Ke mak cek yuk. Ngobrol, sekalian tengok barangkali ada pecri nenas." Adi geleng-geleng kepala, mendengar istrinya yang menginginkan sesuatu dari bibinya itu.


Mereka menikmati perjalanan dengan perlahan, mencoba melupakan perdebatan di kediaman pak Tarmidzi tadi. Pilihan anaknya, bukan yang terbaik menurut mereka. Adi dan Adinda tidak cocok dengan calon menantunya dan keluarganya.


"Ya udah! Kita sendiri-sendiri aja. Pikirin strategi terbaik buat dapetin Zuhdi! Kau yang menyerahkan diri ke Zuhdi, kelak ada apa-apa sama kau, pasti yang ditariknya aku."


Adi dan Adinda tertarik untuk memperhatikan muda-mudi, yang duduk di bangku panjang di depan gerbang rumah milik bibinya. Mereka mengenali sepasang kekasih itu, Ahya dan Ikram. Mereka tengah bertengkar dengan menyebut nama calon menantu mereka.


Adinda pura-pura tak melihat mereka. Ia turun untuk membukakan pintu pagar, agar motor yang mereka naiki bisa masuk ke halaman rumah.


Terdengar suara Ahya begitu lamat-lamat, hanya seperti gumaman yang sampai ke telinga Adi dan Adinda.


"Udahlah, Ya! Aku malu, punya pacar yang bucin ke mantannya. Udah aja, kita selesai. Aku pamit, kau masuklah ke dalam." isakan kecil terdengar, saat Ikram tetap menginginkan berpisah dari Ahya.


Anak laki-laki yang sejak kecil mengidap asma dari garis keturunan tersebut. Memutuskan untuk pergi begitu saja, tanpa menyapa kakak dari ibunya. Ia mengetahui adanya Adi dan Adinda, hanya saja ia tengah dirundung emosi sekarang.


Adi dan Adinda ngeloyor masuk, mencoba tidak melihat Ahya yang tengah menangis. Kesimpulan kecil sudah mereka tangkap, mereka akan menanyakan hal itu pada orang bersangkutan nantinya. Mereka tak mau, permasalahan Zuhdi yang menjadi orang ketiga pada hubungan Ahya dan Ikram, malah berpengaruh pada rumah tangga Giska dan Zuhdi kelak. Setidaknya, Adi belajar dari pengalamannya bersama Maya dulu. Ia tak mau ada Adinda-Adinda lain, yang dimadu diam-diam dengan mantan pacar suaminya.


"Ada nenas, Mak cek?" seru Adinda, begitu memasuki rumah.


"Assalamualaikum dong...." ternyata Sukma yang berada di dalam ruang tamu tersebut.


Adinda cengengesan, kemudian masuk begitu saja untuk mencari keberadaan bibi suaminya.


"Heh..." Adi memperhatikan Sukma yang enteng dengan ponselnya.


"Apa?" Sukma menoleh ke ambang pintu.


"Sini......


......................

__ADS_1


__ADS_2