Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS153. Ingin meluruskan


__ADS_3

Pagi harinya, Zuhdi bertandang kembali ke rumah kekasihnya. Ia ingin meluruskan segalanya, tanpa ada kekerasan kembali.


Ia tak mau salah satu anak-anak dari calon mertuanya, datang dengan hantaman punggung tangan dan makian.


"Nekat." ucap Givan, saat melihat Zuhdi berjalan ke arahnya.


"Jelek betul kau, Di. Mata kau, ka lage jambu air jatuh. Merah, bonyok lagi." ledek Givan, saat tiba-tiba Zuhdi duduk di sebelahnya.


"Tak jadi kau berangkat?" lanjut Givan kembali, dengan memperhatikan Zuhdi yang menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya yang sedikit tertarik ke belakang.


Zuhdi menggeleng, "Belum rejeki buat berangkat keknya. Mandor juga keknya cari yang baru, kalau pagi tadi aku tak hadir di terminal." jawab Zuhdi dengan memandang kosong halaman rumah yang cukup luas dan asri tersebut.


Givan menghela nafasnya, "Kau balik aja lah. Papah drop, kita semua diminta jangan bahas hal yang sensitif dulu. Mamah juga udah galau aja, takut ikut drop." pinta Givan yang cukup menarik perhatian Zuhdi.


Raut wajahnya, menyiratkan kekhawatirannya.


"Papah kenapa?" satu pertanyaan, yang sedikit berlebihan untuk orang lain pada keluarga Givan.


"Darah tingginya kambuh. Ayah Jefri juga ada di dalam, nginap dari semalaman. Buat jagain papah, buat ngontrol papah. Mamah pikirannya udah jelek aja, ketimbang bolak-balik dapur aja, suaminya diciumin terus. Abang sehat, dong. Ayo dong sehat. Gitu terus kata-kata yang aku denger. Kalau nampak di mata, memang kek tak apa-apa. Papah sehat, bisa jalan, bisa aktivitas ringan. Tapi katanya kaku betul lehernya, lemes juga. Takutnya struk ringan, soalnya kalau syok gitu kan, perubahan tekanan darah itu mendadak. Semalam sempat 180, lepas tau Ghava kesakitan rusuknya. Dihibur lagi sama mamah, ayah Jefri, entah bahas apa mereka. Masih ngobrol aja sampek setengah dua malam, tidur di ruang keluarga semua." ungkap Givan kemudian.


"Terus baiknya kek mana aku jelasinnya?" sahut Zuhdi dengan menggaruk kepalanya.


"Tak tau. Lewat HP aja, kau kontek Giska lagi." saran Givan, kemudian dirinya bangkit untuk meraih sapu lantai.


"Giska udah blokir nomor aku." balas Zuhdi dengan nada suaranya yang menurun. Ia merasa menyesal, kemarin telah memutuskan hubungannya dengan Giska sementara.


"Memang kau mau ngomong apa?" tutur Givan, dengan menggiring beberapa dedaunan kering ke sudut teras rumahnya.


"Aku mau ngasih tau, aku mau jelasin. Kenapa semalam aku mutusin dia sementara, biar dia tetap pertahankan pertunangan kita." tukas Zuhdi dengan bangkit dari duduknya. Lalu ia mengusap beberapa kali, alas duduknya yang kotor.


"Nanti aja lah, nunggu Giska tenang dulu. Dia masih kekeh pengen putus sama kau. Tapi di satu sisi, dia berat sama perasaannya." ungkap Givan, dengan menaruh kembali sapu lantai rumah tersebut.


Lalu ia berjalan ke arah Zuhdi, yang tengah bersandar pada tiang beton.

__ADS_1


Givan menepuk Zuhdi yang tengah melamun tersebut, membuat Zuhdi sedikit terhenyak dari posisinya.


"Balik sana, sore apa nanti malam aja." ujar Givan kemudian.


"Bang, anterin sampek angkot." pinta seseorang yang masih berdiri di ambang pintu, ia melemparkan sepatunya ke arah teras rumah. Kemudian dirinya kembali memasuki rumah tersebut, untuk mengambil perlengkapannya yang tertinggal.


"Tuh... Kau mau kah anterin? Nanti sekalian ngobrol di jalan. Pakek motor aku aja, nih kuncinya." ucap Givan, dengan menunjuk motor miliknya, yang memiliki nama mirip dengan kata sexy.


"Tak bisa aku bawa moge." sahut Zuhdi dengan melirik Givan dan motornya sekilas.


"Hmmm... Ngeledek. Itu matic kali, tinggal ngerrrr aja." balas Givan yang membuat Zuhdi terkekeh kecil.


Givan memberikan kunci yang memiliki sensitivitas tinggi tersebut, kemudian Zuhdi berjalan menuju ke motor Givan.


Giska muncul kembali dengan tas laptop di pelukannya, sedangkan dirinya menjinjing tas model tote bag.


"Pakek ransel Abang tuh. Ada penyimpanan laptopnya." usul Givan, yang baru disadari oleh Giska. Bahwa kakaknya bukanlah laki-laki yang berdiri di sebelah motor.


"Ihh, Abang." Giska menatap sinis kakaknya, yang tengah memainkan ponselnya di kursi teras.


"Aku tak mau diantar dia." Giska menarik sudut bibirnya ke bawah, dengan hentakan kakinya yang sudah mengenakan sepatu sport berwarna putih.


"Mau ngomong katanya, Dek. Jangan sampek, keputusan asal dari mulut kau itu. Malah bikin kau nyesel di kemudian hari. Laki-laki memang lama sembuhnya, kalau masalah hati. Tapi sekalinya dia udah sembuh, dia bakal tak kenal lagi sama kau. Bukan Abang belain Zuhdi, karena dia kawan Abang. Kon, kon lage nyan. Abang kasian sama kau, takut kau nyesel udah ninggalin pasangan kau. Macam yang satu tempat tidur sama Abang, kalau ngomongin Ghifar. Ekspresi wajahnya udah remuk redam aja." ungkap Givan, yang membuat Giska kembali menoleh ke arah pujaannya.


"Tapi dia yang ninggalin aku. Udah aja sekalian tak usah nikah." jawab Giska yang terdengar ke telinga Zuhdi. Zuhdi menoleh ke arah Giska. Saat pandangan mata mereka bertemu, Zuhdi malah menundukkan kepalanya untuk melihat hal-hal yang tidak penting.


"Yaaaa... Mungkin, Zuhdi nyesel. Mimpi buruk mungkin dia semalam, atau udah dapat pencerahan. Dia mau jelasin katanya. Tapi Abang larang, karena papah masih belum begitu sehat. Takut nambah-nambahin beban pikirannya." jelas Givan, membuat Giska berpikir ulang.


"Ya udah deh. Jangan bilang-bilang papah dulu." ujar Giska, dengan berbalik arah ke arah Zuhdi.


Giska melirik Zuhdi, yang masih menundukkan kepalanya. Kemudian ia berjalan menghampiri Zuhdi.


"Ayo, cepet. Sampek kampus." ucap Giska, dengan menepuk pundak Zuhdi.

__ADS_1


Ia langsung naik saja ke atas motor Givan, tanpa memperdulikan Zuhdi yang masih berdiri dengan memperhatikan aktivitasnya.


"Nungguin apa? Aku udah naik." ujar Giska, membuat Zuhdi cepat-cepat membenahi sarungnya untuk naik ke motor tersebut.


"Santri bukan, ustad bukan. Kain sarung ngelilit pinggang terus, lebai betul orang tuh. Macam tak punya celana! Curiga bijinya korengan." gerutu Giska, saat Zuhdi baru saja menarik gas motor tersebut.


Zuhdi tersenyum tipis, dengan menggelengkan kepalanya di samping fokusnya mengendarai motor.


"Adek marah, sampek ngira ke biji korengan. Orang tuh suudzon tak kira-kira betul. Rasanya mau Abang kasih tengok biji Abang ke Adek. Dikira pakek sarung tak pakek kain penyangga biji kah?" sahut Zuhdi lembut.


Kepalanya goyah, karena mendapat toyoran yang cukup kuat dari arah belakang.


"Kita baru ribut segitu, abang aku udah maju. Abang mau coba-coba sama aku? Yakin mau ambil resiko?" balas Giska dengan sombongnya.


"Itu...." telunjuk Zuhdi terulur, menunjuk jalan setapak untuk masuk ke ladang kopi yang cukup rindang.


"Abang bawa Adek belok ke situ. Masuk ke sana satu kilo meter, udah aman buat ngasih cucu buat papah sama mamah. Adek kira Abang tak punya senjata kah? Sombong betul, tenaga kau seberapa sih?!" ujar Zuhdi pelan, tetapi begitu tegas dan menusuk.


Nyali Giska mengkerut, ia mengerti maksud ancaman pujaannya. Ini adalah kali pertamanya dirinya, merasa takut dengan laki-laki yang ia cintai tersebut.


"Perjalanan dari sini ke kampus berapa menit? Adek masih punya waktu berapa menit? Abang mau ngobrol." tutur Zuhdi, membuka percakapan kembali.


"Dari sini ke kampus paling 30 menit. Aku masih punya waktu setengah jam lagi, sebelum mulai kelas." tukas Giska, yang diangguki saja oleh Zuhdi.


Zuhdi menarik gagang gas tersebut, agar motor milik calon kakak iparnya. Sedikit cepat, untuk membawanya ke tempat tujuan.


Kedua tangan Giska melingkar di pinggang laki-laki yang memiliki lebam di bagian wajah tersebut.


Dagunya sedikit maju, untuk berpangku pada bahu kokoh yang selalu menjadi tempat bersandarnya.


"Ini tentang kita, Dek. Abang.....


......................

__ADS_1


*Ka lage : Sudah seperti


*Kon, kon lage nyan : Bukan, bukan seperti itu


__ADS_2