Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS251. Mengadu


__ADS_3

Adi melangkah menghampiri Ghifar dan Kinasya. Sepertinya, anaknya dan putri angkatnya benar-benar tengah dimabuk cinta.


"Kau pulang, Kin! Zuhdi udah tak apa-apa."


Wajah Kinasya langsung kaku, saat menyadari suara ayah angkatnya yang berada di dekatnya.


Pengusiran dari Adi tersebut, cukup membuat Kinasya tersinggung. Karena sebelumnya, Adi selalu memintanya untuk tidur di rumah ini.


"Ya, Pah." Kinasya melengos pergi. Ia benar-benar tidak bisa menyamarkan rasa sedihnya, akan pengusiran yang ia dapatkan.


Wajah Ghifar langsung tegang, saat melihat ayahnya kini berada di hadapannya.


"Jangan bikin Papah jadi tak percaya sama pengakuan kau, Far!" ucapan Adi begitu dingin.


"Rapihnya cara main kau! Ngaku disfungsi e*eksi, tak taunya cuma buat nutupin skandal di rumah ini."


Tuduhan Adi tak pernah terlintas di kepala Ghifar. Ayahnya tak mempercayai kejujurannya saat itu sekarang.


"Bukannya kau pernah bilang sendiri. Kau mau, kau ambil kan? Bukannya ngarang cerita, biar dosa kau tetap aman ditutup kebohongan." tambah Adi kemudian.


"Jangan terlalu kotor, Far! Papah udah introspeksi diri kok."


Setelah mengucapkan itu, Adi berlalu pergi meninggalkan Ghifar.


Ghifar masih terdiam di tempatnya. Ia ingin menyangkal akan tuduhan ayahnya, itu terlalu menyakitkan untuknya.


Menjelaskan kebenaran pada ayahnya, tidak mungkin ia lakukan dengan situasi seperti ini. Apa lagi masalah Giska baru bisa diatasi siang tadi, ia memahami orang tuanya membutuhkan waktu istirahat.


"Adek... Jangan main!"


Karena seruan tersebut, Ghifar mendapat ide untuk membicarakan ini dengan ibunya.


Namun, kembali pada situasi saat ini. Apakah pantas, jika obrolan ini dibahas sekarang juga? Ditambah lagi, akan Adinda yang jelas akan menentang hubungannya dengan Kinasya.


Hati Ghifar dilanda kebimbangan.


~


Giska tengah diantar ke rumah kediaman orang tua Zuhdi. Ada pesta kecil-kecilan untuk menyambut menantu perempuan tersebut.


Di tengahnya keramaian pesta dan hangatnya keluarga ini, Ghifar merasa bersedih hati karena ayahnya tak pernah menjawab tegur sapanya.


"Far... Anter Mamah pulang. Mamah bosen, capek, pengen rebahan." terlihat dari wajahnya, Adinda begitu kelelahan.


"Bang... Balik dulu." Ghifar pamit pada saudara Zuhdi, yang tengah mengobrol dengannya.


"Oh, iya-iya. Ati-ati." ia tersenyum ramah pada Adinda dan Ghifar.

__ADS_1


"Ayo, Mah." tanpa malu, Ghifar menggandeng tangan ibunya.


"Papah tak apa ditinggal?" tanya Ghifar kemudian.


"Tadi udah Mamah ajak, katanya duluan aja. Papah lagi ngobrol tuh." Adinda menunjuk suaminya, yang berada di teras rumah Zuhdi yang dihias dengan tirai dekorasi berwarna kuning dan hijau.


Adi terlihat tengah berbincang dengan beberapa anggota keluarga besar Zuhdi. Ia tak membedakan derajatnya, ia bisa berbaur dengan mereka semua.


"Ya udah, Mah. Yuk." Ghifar telah bersiap di atas jok motornya.


"Ehh, Tika tadi lagi sama siapa Mah?" Ghifar membuat Adinda urung untuk duduk di jok motor itu.


"Sama Kin, sama Canda juga. Tiga orang itu, berburu makanan aja. Sampek bikin story di medsosnya, katanya kalau ada kenduri jangan lupa undang kami. Foto bertiga, sambil nyomot makanan. Malu-maluin betul mereka ini." Adinda dan Ghifar geleng-geleng kepala, dengan tertawa kecil.


Meski terlihat memalukan, tetapi mereka terlihat lucu saat berburu makanan. Adinda memaklumi hal itu, karena tiga wanita itu bukan berasal dari provinsi A ini. Wajar jika mereka begitu tertarik, dengan makanan khas daerah itu yang baru mereka coba.


Kemudian Ghifar melajukan motornya, mengendarainya dengan berhati-hati menuju ke kediamannya.


Setelah sampai di rumah yang sepi tersebut. Adinda langsung ngeloyor masuk ke dalam kamarnya.


Ghifar tak berniat untuk kembali ke keramaian. Ia cukup lelah dan mengantuk, karena malam tadi ia begadang di rumah kediaman Zuhdi.


Ia melepaskan kemejanya, kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang di ruang keluarga. Ia ingin tertidur sejenak, jika ia bisa melakukannya. Karena, pikirannya masih berkelana untuk mencari cara agar ayahnya tidak lagi mendiamkannya. Ia tidak bisa tertidur pulas, karena masalahnya dengan ayahnya belum selesai.


"Far..."


Ghifar mendongak, untuk melihat keberadaan ibunya.


"Kerokin Mamah." pinta ibunya dengan meregangkan otot lehernya.


"Ya." Ghifar langsung bangkit, kemudian menuju ke arah ibunya.


Adinda kembali lagi ke kamar, dengan langsung menarik kaos milik suaminya yang ia kenakan.


Ghifar langsung menuruti ibunya, untuk membuat bekas merah dengan koin di punggung ibunya.


"Pelan-pelan, Far." Adinda tak akan pernah minta dikerok, jika kondisi tubuhnya hanya kurang enak badan saja. Kali ini, ia benar-benar merasa akan tumbang. Ia terlalu lelah, dengan kesibukan akhir-akhir ini.


"Mah...." Ghifar berpikir, ini adalah waktu yang pas untuk mengobrol dengan ibunya.


"Mah...." ulang Ghifar mengharapkan sahutan dari ibunya.


"Hmm." Adinda menyahuti panggilan anaknya.


"Mah, aku lagi berantem sama papah."


Adinda langsung menoleh ke arah Ghifar. Dahinya mengkerut, dengan tatapan mata heran.

__ADS_1


"Dari kapan?" pantas saja suaminya banyak berdiam diri akhir-akhir ini.


"Dari semalam puncaknya. Mamah, jangan marah ya? Aku tak bisa cerita ke siapa-siapa, aku butuh jalan keluar. Aku butuh saran." Ghifar masih menggosokkan koin di punggung ibunya, agar meninggalkan bekas merah.


"Apa itu?" suara Adinda terdengar tenang.


"Mah... Aku ada hubungan sama Kin." pengakuan Ghifar cukup mengejutkan Adinda.


Ia tidak mempedulikan minyak sereh yang baru dituangkan di atas punggungnya. Adinda segera bangkit dengan menurunkan bagian depan kaosnya kembali. Membuat minyak sereh tersebut turun ke bawah punggungnya, lalu meresap pada kaos yang langsung menutupi tubuhnya itu.


Adinda memutar posisinya, agar bisa berhadapan dengan anaknya.


Adinda menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.


"Sejak kapan? Kek mana ceritanya?" ia tidak ingin membuat anaknya berhenti bercerita.


"Kalau hubungan aku sama Kin, baru pas Giska nikah. Tapi sebelumnya... Aku beberapa kali ada kontak fisik sama Kin. Terus..." Ghifar menjeda-jeda kalimatnya, ia sebenarnya tengah dilanda ketakutan.


"Terus aku sembuh dari disfungsi itu. Tapi, punya aku sembuh cuma kalau berhadapan sama Kin aja. Sama perempuan lain, aku tetap tak bisa bangun meski na*su juga." ia sebenarnya ragu untuk mengungkapkan hal ini.


"Pas hari Giska nikah, aku sama Kin lagi nemenin Key tidur. Aku sama Kin.... Aku sama Kin lagi...." Ghifar menelan ludahnya kasar. Ia sempat menimbang-nimbang, apa sebaiknya ia mengatakan tentang ini?


"Terus?" Adinda terlihat tertarik dengan cerita anaknya.


Jelas ia tertarik, karena anaknya dan suaminya tengah bertikai dalam diam. Penyebabnya yang mungkin cerita dari anaknya ini.


"Aku lagi berduaan di kamar, sama Kin. Aku lagi mesum. Tapi sejauh ini, Kin masih perawan. Aku tak pernah diijinkannya buat masuk." Ghifar perlahan menceritakan rahasianya itu.


Adinda mencoba tegar, untuk mendengar setiap kata dari anaknya.


"Terus ketahuan papah hari itu. Aku lupa, kalau aku tak sempat tutup rapat pintu kamar aku." jelas Ghifar kemudian.


"Aku tengok, ekspresi papah kacau betul. Tapi aku sama papah masih ngobrol, papah tak diamkan aku kek sekarang ini." tandas anak yang memiliki bagian warisan dari kakek buyutnya itu.


Ghifar terdiam sejenak, lalu ia membuang nafasnya gusar.


"Nah... Lepas maghrib kemarin, rumah sepi. Aku biasa, aku gurauin Kin di dapur. Bergurau biasa, terus kita berdua mau ke halaman belakang. Tapi..." Adinda gemas, lantaran mulut anaknya tak segera menuntaskan kalimatnya.


"Tapi apa, Far?" Adinda tidak sabar untuk mendengar lanjutan cerita dari anaknya.


"Tapi ketahuan papah lagi. Papah minta Kin pulang, terus ngomong sama aku. Kata papah, aku ini bohong tentang disfungsi yang aku alami kemarin hari." anak-anak mereka, memang pandai mengadu tanpa menambah imbuhan cerita.


"Mah... Kalau aku bohong, dari kemarin perempuan-perempuan yang nempel sama aku udah pada hamil semua. Nyatanya mereka utuh, aku yang tersiksa seorang diri. Pernah terlintas di pikiran aku... Ahh, jadi buaya jantan ah. Biar rasa sakit hati aku puas. Sayangnya, aku tak bisa karena keadaan aku sendiri." Ghifar malah menceritakan akan niatan buruknya saat di perantauan orang.


"Papah nuduh aku bohong, masalah disfungsi itu. Papah kira, aku sengaja ngarang cerita biar skandal aku aman."


Ghifar menyugar rambutnya ke belakang, "Aku harus gimana, Mah? Aku.....

__ADS_1


......................


Tukang ngadu, kalau kata orang kota C sebutannya wadulan.. Aku dulu kecil, kalau dinakalin temen langsung lapor mamah bapak.. Sampai temen-temen aku bully aku, bahwa aku ini tukang wadul 😆


__ADS_2