
Para laki-laki baru sampai dari masjid. Mereka segera menghampiri istri mereka masing-masing.
"Yang... Ambilin air putih. Sama bikinin es apa gitu, pengen yang dingin-dingin. Asem atau manis terserah." Ghifar langsung memerintah istrinya, sesaat tangannya dicium oleh Kinasya.
Plak....
Kinasya memukul paha Ghifar, laki-laki itu masih berdiri di dekatnya.
"Nyuruh-nyuruh aja! Biasanya juga ambil minum sendiri!" ketusnya dengan lirikan tajam.
"Yang patuh, Kin!" Adi seolah tak terima, menantunya menolak perintah anaknya.
"Iya nih! Ketimbang ambilin minum aja, surga tau!" Ghifar langsung duduk di sebelah istrinya.
"Bau-bau calon babu nih." ejek Givan dengan nyelonong ke kamarnya.
Gelak tawa pun tak terhindarkan. Kinasya melirik tajam, mengikuti arah kakak iparnya itu.
"Tuh, bang Givan tak pernah nyuruh Canda." Kinasya berbicara dengan menoleh pada suaminya.
"Kau jarang tau, kalau bang Givan minta bikin teh atau kopi. Belum tau juga keknya, kalau bang Givan doyan bentak-bentak istrinya. Bersyukur coba, dapat suami yang nada ngomongnya lembut kek gini. Alim, rajin sholat." Kinasya segera bangkit dari duduknya.
"Alim-alimet! Alim tapi bikin mumet." gerutunya begitu jelas di telinga mereka semua.
"Tau alim-alimet, tapi mau aja kemarin hari ditelan*angin." sindir Adi kemudian.
"Kan aku udah ada bilang, aku kalau cinta itu bodoh." Kinasya mengakui hal itu kembali, sembari dirinya berlalu pergi.
"Sama kek Adek." Adi merangkul istrinya.
"Abang pun sama lah!" Adinda melirik tajam suaminya.
"Yaaa... Pantes aja, anak kita bodoh-bodoh." balas Adi dengan melepas pecinya.
"Siapin piring Ghifar sama Kinasya, suruh makan sepiring berdua dulu." pinta Adi kemudian, dengan melangkah menuju kamarnya.
Sudah biasa dalam keluarga mereka, jika baru menikah diwajibkan untuk makan sepiring berdua.
Beberapa saat kemudian, saat Adi keluar dari kamar. Ia sudah melihat banyak hidangan di ruang tamu, yang masih beralaskan karpet. Adi sengaja mengamankan sofa mewahnya, agar ruangan itu cukup untuk menampung banyak orang.
Terlihat Kinasya dan Ghifar tengah berebut nasi dalam piring. Ghifar menatap heran pada Kinasya, yang makan begitu rakusnya.
"Kau tak makan berapa jam, Yang?" tanya Ghifar terheran-heran.
Ghifar teringat akan tragedi nasi goreng asin tanpa telor buatannya. Kinasya makan begitu lahapnya, ia pun mengatakan bahwa dirinya tidak makan beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
"Aku baru nelen satu kepalan, kau udah ketiga kalinya aja." tambah Ghifar kemudian.
Haris tertawa lepas, "Memang makanannya cepet dia, Far. Tak macam Ken, yang ngunyahnya dihitung dulu. Kin sih dua tiga kunyahan, udah langsung masuk lambung. Udah dibilangin juga, memang udah terbiasa dari kecil."
"Yang romantis tuh, kek Giska sama Zuhdi. Sesekali Zuhdi nyuapin lauk yang lupa Giska masukin mulutnya." Adi mengomentari cara makan mereka berdua.
"Ini sih kek lomba makan." tandas Adinda, membuat mereka berdua jadi bahan tertawaan.
"Ragu saling mencinta tuh." Jefri pun menambahkan komentarnya.
"Iya ya, Jef. Kek kau sama yang sekarang." ucapan Adi berimbas kebas pada hati Jefri.
"Sok-sokan ambil anak. Ehh malah... Anak dipondokin semua, mentang-mentang gaji kau besar. Dirinya kaku sendirian di sini, besarin egonya aja kemarin. Nikah lagi, kek begitu macam istrinya." Haris tanpa belas kasih mengomentari kehidupan sahabatnya itu.
"Bentar lagi juga cerai itu. Terus mohon-mohon lagi sama aku, kek awal. Kalau tak ingat Givan kecil kau yang momong sih, udah aku PHK juga kau." Adi tertawa renyah bersama Haris.
"Contoh dong aku sama Dinda. Langgeng terus." tambah Adi dengan merangkul istrinya.
"Drama terus, lebih rumit. Sampek dinovelkan." ujar Jefri, dirinya berbalik mentertawakan Adi.
"Maklum lah, si jantannya pengennya perawan terus. Si betinanya pengennya bujang terus. Terjadilah di mana si jantan, ketemu janda anak satu. Terus si betina, ketemu bujang yang tak nampak perjakanya. Anak-anaknya banyak yang besar dalam lindungan karet kontrasepsi." Haris memperkeruh ledekan untuk Adi.
Adi melotot, kemudian melemparkan beberapa kulit kacang ke arah Haris dan Jefri.
"Tak ada betulnya kalian berdua!" kesal Adi kemudian.
"Boleh-boleh." Adinda segera menyajikan sepiring makanan untuk suaminya.
"Dua puluh lima ribu ini, Bang. Pakek rendang, tapi memang tak pakek telor. Sayurnya pun ada, sambal hijau pun hadir." Adinda memberikan piring tersebut pada istrinya.
Adi mendelik lelah, ada saja gurauan istrinya.
"Lain kali jadi pelayan restoran yang Abang mintain sendok aja, Dek." tiba-tiba Adi teringat akan kejadian di mana dirinya mengajak Givan kecil ke restoran yang tidak menyediakan sendok, melainkan hanya sumpit.
Adinda hanya terkekeh, sembari menuangkan minuman dalam gelas milik suaminya.
"Dimakan dong. Silahkan pada makan." Adinda meminta mereka semua untuk makan, dari pada hanya diam menyaksikan Ghifar dan Kinasya yang tengah lomba makan tersebut.
"Buka mulutnya, Dek. Nih Abang suapin." Adi teringat, akan istrinya yang selalu melupakan jadwal makannya. Karena begitu repot dengan hajat mereka.
"Hmm... Kalah romantisnya kau sama mertua kau, Kin. Dari pagi mereka suap-suapan terus." Haris menunjuk Adi dengan dagunya.
Adinda tanpa sungkan membuka mulutnya, saat dapat perhatian kecil dari suaminya. Seperti apapun badai dan ujian yang menerjang rumah tangganya, mereka bersyukur masih bersama di titik ini. Mempertahankan rumah tangga lebih sulit, ketimbang mendapatkan pasangan menurut Adi.
Perjuangannya untuk menikahi Adinda dulu, tidak ada apa-apanya dengan keteguhannya mengayomi rumah tangga bersama Adinda.
__ADS_1
Badai akan berlalu. Bila sepasang suami istri saling berpegangan dan saling melindungi.
Ujian rumah tangga terus bergulir, untuk memperkokoh keharmonisan mereka.
Walau meski demikian, pasti ada saja yang tersakiti atas hadirnya badai dan ujian tersebut.
Hingga nasi terakhir, sudah mereka habiskan dengan beberapa tambahan centong nasi. Kinasya begitu lahap makan, karena wanita itu jarang sekali jajan. Namun, sekalinya mengisi perut. Kinasya tak tanggung-tanggung, untuk melahap habis hidangan yang tersedia.
"Udah tak enak ini dih*sapnya, Yang." Kinasya membersihkan rokok elektriknya.
"Dua hari aku dikurung, tak bisa ke mana-mana." lanjutnya dengan fokus pada barang di tangannya.
"Ini aja nih." Ghifar menyodorkan rokok miliknya, yang tengah ia nikmati.
Beberapa orang dari mereka, memperhatikan Kinasya yang tengah menikmati tembakau tersebut. Untungnya dari mereka semua adalah keluarga, tidak ada orang lain yang akan mencoreng nama baik Kinasya sebagai dokter.
"Kamu larang istrimu itu ngerokok." tegur ayah kandung Kinasya, Muhammad Aziz.
"Biarin aja dulu. Aku ngerasain sendiri, kek mana rasanya abis makan tak ada rokok. Pelan-pelan aku sama Kin nanti coba berhenti ngerokok." Ghifar teringat akan pesan orang tuanya. Ia diizinkan merokok, tetapi harus berhenti ketika sudah memiliki istri.
"Bikinin es dulu, Yang." Ghifar menyenggol Kinasya yang tengah memperhatikan api dalam ujung rokoknya.
Kinasya menoleh pada Ghifar, "Bisanya kau merem, Yang?"
Bukan hal aneh, tentang Ghifar yang mudah tertidur. Apa lagi dengan keadaan perutnya yang sudah kenyang.
"Kau masih mabok?" lanjutnya menghakimi suaminya.
"Mana ada! Masa iya tiga teguk aja mabuk?!" Ghifar menyangkal tuduhan istrinya.
"Sini rokoknya, sana bikinin es!" pinta Ghifar ulang.
"Iya, iya!" Kinasya memberikan rokoknya, kemudian dirinya melangkah menuju dapur.
"Far... Kau udah ini belum sih?" tanya Givan, yang duduk tak jauh dari anaknya.
"Udah apa?" Ghifar tidak mengerti maksud kakaknya.
"Udah digituin belum si Kin?" jelas Givan kemudian.
Zuhdi terkekeh kecil, ia yang duduk di samping Givan jelas mendengar hal itu.
"Belum masuk." jawab Ghifar lirih.
"Nanti...
__ADS_1
......................