Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS76. Tempat tidur


__ADS_3

"Betul capek?" tanya Haris kembali, dengan memijat tengkuk leher Ghifar.


"He'em, capek. Perasaan gampang betul aku tidur, nyender tidur, kenyang ya tidur." jawab Ghifar, dengan menikmati pijatan seseorang yang ia tuakan tersebut.


"Ya udah, tidur." balas Haris, dengan memberikan pijatan nyaman untuk Ghifar.


Adinda saling beradu pandang dengan suaminya, ia merasa Ghifar tak menganggapnya seperti orang tuanya. Tetapi Haris dan Alvi, seperti orang tua baru untuk Ghifar. Ghifar tak pernah meneriaki ibunya, untuk menyiapkan makanannya sejak Givan sampai di kediaman Haris kemarin.


Bahkan, ia menyaksikan sendiri. Ghifar meneriaki Alvi, untuk mengambilkannya makanan dan minumannya. Sekarang pun, Ghifar yang selalu manja padanya dan Adi. Malah tengah bermanja pada Haris, dengan Haris yang malah memberikan itu semua pada Ghifar.


"Udah siap kamarnya, Bu. Silahkan yang mau berisitirahat, ada tiga kamar di dalam." ujar seseorang begitu ramah.


"Oh, makasih Budhe." sahut Canda, yang mendapat anggukan kecil dari wanita paruh baya tersebut.


"Ayo, Mah. Barangkali mau istirahat, aku antar." ajak Canda, dengan menyentuh lengan Adinda.


"Kau… kau tak boleh campur sama Givan." sahut Adinda, yang membuat mereka semua menoleh ke arahnya. Namun, tidak dengan Kinasya dan Ghifar yang sudah terlelap tersebut.


"Ya, Mah. Aku tau, dokter juga udah bilang sebelum aku pulang." jelas Canda kemudian.


"Itu, Bang. Angkatin Gibran, pindah ke kamar lain." pinta Adinda, yang diangguki oleh Adi.


"Kau, Alvi, Bena, ipar kau, Umi. Masuk ke satu kamar. Tuh, nyuruh Ghava apa Ghavi buat ambil kasur tambahan di mobil. Tadi Alvi nyiapin beberapa kasur angin, di mobil aku. Tinggal dikembangin aja, bawa pompa elektriknya juga. Nanti para gadis, di kamar lainnya. Biar kamar satunya, buat keluarga di sini. Kita laki-laki di sini aja. Kau pun tak boleh campur dulu sama Adi, Din. Nanti kita malah sang* berjamaah, karena denger suara kau." ungkap Haris, yang mendapatkan lemparan kulit pisang dari Adinda.


Ia terkekeh geli, "Biar Gibran di sana dulu aja. Suruh nemenin pengantin baru, biar tak campur." lanjut Haris kemudian.


"Vin… tidur, Nak. Udah jam berapa ini loh." ujar Adi, dengan mencekal tangan anaknya. Yang sudah bolak-balik beberapa kali, dengan nafas yang tersengal-sengal tersebut.


"Masih main sama kak Aca, Pah." sahut Gavin mencoba melepaskan cekalan tangannya.


"Kak Aca juga suruh tidur, Vin." timpal Arif, yang membuat Gavin manyun seketika.


"Ghava… Ghavi… kembangin kasur angin dulu katanya, Nak. Ambil di mobil Abi." pinta Adi, saat mendengar suara tawa dari kedua anak kembarnya yang tengah duduk di teras rumah.

__ADS_1


"Ya, Pah." sahut salah satu dari mereka.


"Awas, Bi." ucap Kenandra, dengan merebahkan tubuhnya di samping Ghifar.


"Nanti kalau Ghifar agak geser, kau pindah di sebelah Kin." sahut Haris, dengan menggeser posisi duduknya.


"Ya, Bi. Aku ngerti." balas Kenandra, dengan masih memainkan ponselnya.


"Kin tak dipindahkan aja kah, Bang?" tutur Alvi, ia muncul dengan membawa beberapa gelas kopi di nampan.


"Tak usah, nanti malah kebangun." tukas Haris, yang mengipasi kepala tiga orang dewasa yang memanggilnya abi tersebut.


Beberapa kali Ghava dan Ghavi mondar-mandir, dengan membawa barang-barang dari mobil Haris. Kemudian, Adinda menuju ke kamar yang sudah ditunjukkan.


"Abang… temenin dulu." panggil Adinda, yang membuat Adi menjadi bahan lelucon para laki-laki matang tersebut.


"Ada umi, Bena sama kak May juga kan Dek? Masa mau dikelonin Abang juga?" sahut Adi, karena merasa malu dengan ledekan mereka. Terlebih Mahendra, yang selalu mentertawainya. Kala Adinda memanggilnya, dengan suaranya yang begitu manja.


"Temenin dulu." tegas Adinda yang tak terbantahkan.


"Gavin suruh tidur dulu itu, Van." pinta Adi dengan menoleh ke arah Givan sekilas.


"Ya, Pah." sahut Givan, dengan bangkit dari duduknya. Untuk mencari keberadaan adiknya, yang memiliki nama kembar sepertinya tersebut.


"Tak mau aku! Mau sama kak Aca aja, sama kak Veni juga. Tak mau bobo aku, Bang." tolak Gavin berulang, dengan memukuli tubuh kakaknya yang menggendongnya dengan paksa tersebut.


"Pipis, bikin susu. Terus bobo sama Abang, sama adek Gibran di dalam kamar itu tuh. Yang banyak kelopak bunganya." bujuk Givan, dengan menunjuk kamar pengantinnya.


"Macam kuburan. Tak mau aku, Bang! Sama bang Ghavi aja aku, mau di depan aku sama dia. Tak mau bobo aku, Bang." tolak Givan kembali. Anak itu memang begitu keras kepala dan susah diatur, hingga Adinda sendiri kadang membiarkan jam tidur Gavin yang tak beraturan tersebut.


"Ya udah pipis dulu aja, terus bikin susu sama Abang." ujar Givan, dengan berjalan ke arah belakang.


Terdengar celotehan Gavin masih berlanjut. Anak itu masih tak menyadari, bahwa tuan rumah sudah amat kelelahan menghadapi hari ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian, suasana mulai senyap. Karena para wanita dan anak-anak balita, sudah terlelap di alam mimpinya.


Adi yang merasa begitu sesak, dengan posisinya tersebut. Langsung berusaha melepaskan diri dari pelukan istrinya, yang begitu membelenggu tubuh kekarnya.


'Ya Allah, Dinda. Macam Abang suka kabur-kaburan aja. Kau peluk Abang kuat-kuat kali.' gumam Adi, dengan masih mencoba melepaskan pelukan istrinya dengan berhati-hati. Agar Adinda tak terusik, dalam tidurnya.


"Kenapa, Di?" Adi terhenyak keget mendengar suara perempuan yang asing di telinganya tersebut.


"Eh, Kak. Ini mau keluar. Gerah betul, dapat tempatnya sedikit juga." jawab Adi, dengan menoleh ke arah Maylani. Yang tidur tepat di sebelah kiri istrinya, sedangkan dirinya berada di ujung ranjang dengan Adinda di sebelahnya.


"Nanti Dinda nyariin gimana?" sahut Maylani, saat Adi hendak bangkit dari tepian tempat tidur.


"Ya udah gampang nanti, Kak." balas Adi, dengan merindik-rindik. Untuk keluar dari kamar tersebut, agar istrinya tak terbangun.


Karena mau bagaimana pun, ia merasa malu tidur bersama dengan para wanita. Meski dirinya tentu di samping istrinya.


Adi memperhatikan anak-anaknya yang tertidur di ruang tamu, dengan saling memeluk satu sama lain. Karena mereka semua, biasa tertidur dengan memeluk guling. Saat tidak adanya guling, seseorang yang berada di dekatnya pasti akan dipergunakan sebagai guling tidurnya.


"Mana Gavin sama Gibran?" tanya Adi seorang diri, dengan menajamkan penglihatannya pada manusia yang tidur berjejer tersebut.


Terdengar gelak tawa, yang berasal dari teras rumahnya. Adi langsung mengalihkan perhatiannya. Kemudian berjalan ke arah teras rumah tersebut.


"Ehh, Di. Please, cobain." ucap Haris, yang melihat Adi baru keluar dari dalam rumah.


"Jatah mantannya, Cinnn…" lanjut Adi yang membuat mereka semua tertawa geli.


"Sini gabung, Bang." ajak Mahendra, menepuk lantai di sebelahnya.


Terlihat Givan merasa canggung, saat melihat ayah sambungnya memperhatikannya begitu lekat.


"Gavin sama Gibran mana, Van? Kau tak tidur bareng Canda?" tanya Adi kemudian.


"Sempit, Pah. Gibran sama Gavin di dalam sama Canda." jawab Givan, dengan menerima gelas kecil tersebut. Dari keluarga Canda, yang ikut bergabung bersama mereka.

__ADS_1


Adi mengedarkan pandangannya kembali. Mahendra, Haris, Edi, Givan, juga dua pihak anak muda dan satu laki-laki matang dari keluarga Canda. Tengah silih berganti memutar gelas, yang dipakai bersama tersebut.


......................


__ADS_2